Arsip Kategori: Ibadah Minggu

Kembali kepada Firman Tuhan


​MINGGU XIII SETELAH TRINITATIS, 21 AGUSTUS 2016

Yesaya 58:9-14

Sungguh indah percakapan antara Tuhan dengan umat-Nya. Sebuah percakapan sejati tanpa ada yang ditutupi, karena bagi Tuhan segalanya terang benderang. Dia dapat melihat sebuah kesalehan apakah kesalehan itu palsu atau sejati. Jika selama ini umat Israel selalu berpaling dengan menyembah berhala dan menghidupi kesalehan yang palsu maka Tuhan pun berpaling menjauh dari mereka bahkan menghukum mereka. Tapi firman Tuhan kali ini menunjukkan sebuah percakapan yang mau memperbaiki hubungan yang terputus akibat dosa umat Israel. 

Dari pembuangan itu Tuhan menawarkan sebuah restorasi hubungan dan dimulai kepada hal yang sangat mendasar. Tuhan menginginkan agar umat Israel kembali kepada ibadah yang sejati. Ibadah yang tidak hanya tinggal di dalam ritus tapi juga nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah dengan tidak memenderitakan orang lain, memfitnah, merendahkan orang lain, tidak berpusat kepada diri sendiri dengan segala bentuk ke-egoan, dan berbagai bentuk kegiatan kejahatan yang Tuhan tidak sukai. Semuanya ini akan merusak hubungan antara Tuhan dengan umat Israel begitu juga dengan kita. Ibadah yang diinginkan Tuhan adalah ibadah yang menyembah Tuhan dengan jujur, tulus, sungguh-sungguh dan juga tampak dalam kehidupannya sehari-hari.

Tuhan mau mengembalikan umat Israel dari pembuangan dan segera membangun kembali umat Israel menjadi sebuah bangsa yang besar. Pembangunan itu dapat dengan mudah dilakukan. Kelak Nehemia, Ezra dan banyak lagi bersama-sama dipanggil dan diutus Tuhan untuk membangun Israel pasca-pembuangan. Hanya satu yang sangat mendasar yaitu hubungan religi umat Israel kepada Tuhan. Apakah Israel percaya kepada Tuhan? Apakah Israel tidak lagi berpaling dari-Ku? Apakah Israel beribadah dengan sejati? Apakah Israel menghormati Sabat-Ku? 

Saudara, siklus kehidupan umat Israel ini bisa juga kita alami pada masa kini baik secara pribadi, keluarga maupun persekutuan. Sebuah hubungan yang kering, tandus, saling menghujat, saling menghakimi, saling melukai dan sebagainya. Tuhan yang menawarkan sebuah hubungan yang baru dan mendasarkan hubungan agar kembali kepada firman Tuhan. Percayalah kepada-Ku! Jangan lagi lakukan yang tidak baik dan marilah saling mendoakan, mengasihi, dan tolong menolong dengan jujur, tulus dan sungguh-sungguh. Jika hubungan ini sudah terjadi maka engkau akan menjadi mata air yang tak mengecewakan. Sebuah persekutuan sejati, yang tercipta aliran-aliran air kehidupan (Pdt. RSM Pardede) 

Hayatilah Firman Tuhan


(Yes 43:16-21)
Tuhan adalah pusat kehidupan, sebab Dia setia dan Maha Pengasih. Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita sebagaimana Ia sendiri memelihara Israel. Sebagai umat pilihan Allah didalam Yesus Kristus, mari kita belajar dari masa lalu untuk menyongsong masa depan. Jika kita bisa makan dan minum, hidup tenang dan mendapat pekerjaan maka sekarang kita diutus menjadi saksi-saksi Kristus. Dalam kitab Yesaya 43:16-21 umat Israel diajak untuk belajar dari pengalaman hidup para leluhurnya, sebab apa yang mereka miliki sekarang adalah hasil dari sebuah proses yang panjang yang telah dilalui. Baca lebih lanjut

Berdirilah dengan Teguh di dalam Tuhan!


MINGGU REMINISCERE, 21 FEBRUARI 2016
Filipi 3:17-4:1

“Berdirilah dengan teguh di dalam Tuhan. Ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang juga percaya kepada Yesus Kristus.” Seperti itulah intisari nasihat Paulus kepada jemaat Filipi di perikop kita ini, saat mereka tengah menghadapi propaganda para penyesat, yang mengikuti jalan hidup yang mereka lakukan (Fil. 3:2). Mereka adalah seteru salib Kristus karena mereka tidak percaya kepada Kristus yang disalib dan kebangkitan Kristus. Mereka menaruh kepercayaan kepada daging, menyenangi kenikmatan duniawi, Tuhan mereka adalah perut mereka, kemuliaan mereka adalah aib mereka dan sebagainya (ayat 19). Nasihat Paulus ini menguatkan jemaat Filipi untuk terus hidup dalam sebuah persekutuan yang mengandalkan kuasa Tuhan, persekutuan yang saling berbagi dan saling mengasihi di dalam Tuhan.
Baca lebih lanjut

PERSEMBAHAN BUAH SULUNG


MINGGU INVOCAVIT, 14 FEBRUARI 2016
Ulangan 26:1-11
Persembahan sulung menjadi kewajiban bagi umat Israel, yakni: hasil pertama dari hasil bumi, misalnya gandum, buah anggur, buah jaitun, dan bulu domba. Dalam Yehezkiel 44:30 “dan yang terbaik dari buah sulung apapun dan segala pesembahan khusus dari apapun, dari segala persembahan khususmu adalah bagian imam-imam; juga yg terbaik dari tepung jelaimu harus kamu berikan kepada imam supaya rumah-rumahmu mendapat berkat”. Baca lebih lanjut

SETIALAH DALAM MENANTI


Minggu Akhir Tahun Gerejawi, 22 November 2015
Minggu Peringatan Orang Yang Telah Meninggal
LUKAS 12:35-43

Menunggu atau menanti adalah salah satu pekerjaan yang membosankan. Apalagi yang ditunggu atau yang dinanti-nantikan tidak jelas kapan datangnya. Satu jam serasa satu hari, sehari serasa seminggu, dan seterusnya. Namun demikian, kita tetap disuruh harus menunggu atau menanti. Bagaimana sikap kita dalam menunggu itu seharusnya? Di sini kita dituntut dalam menunggu itu harus berjaga-jaga. Yang dimaksudkan berjaga-jaga di sini, adalah dengan sebuah sikap yang aktif, siaga, peduli, tidak bisa tidur, bukan berpangku tangan, pasrah tidak menentu atau nrimo saja, supaya tidak kecolongan. Baca lebih lanjut

Bijaksana sampai Akhir Zaman


Daniel 12:1-13
Kitab Daniel merupakan kitab apokalitik yang menceritakan tentang akhir dari sejarah manusia. Pada masa itu Raja Antiokhus IV sedang berkuasa dan membawa kengerian bagi bangsa Israel, karena dia menyatakan dirinya sebagai keturunan ilahi dan secara terang-terangan, dia menyatakan dirinya sebagai “Epifanes” yang berarti, “Allah yang menampakkan diri”, yang tertera di mata uangnya. Penderitaan yang dialami bangsa Israel begitu hebat. Di tengah kondisi demikian, wahyu Tuhan datang kepada Daniel, yang memberitakan tentang apa yang akan terjadi pada akhir zaman. Pemberitaan ini diharapkan dapat memberikan kekuatan untuk tetap bertahan selama masa penganiayaan karena kelak Tuhan memberikan kehidupan yang kekal. Angka-angka yang diberikan Daniel pada ayat 11-12 sepertinya hendak menunjukkan berakhirnya masa penderitaan pada masa Raja Antiokhus IV. Sedangkan ayat 13 merupakan berakhirnya penderitaan pada masa akhir zaman. Baca lebih lanjut

Yesus Kristus Menjadi Korban Tebusan Bagi kita


Minggu XXIII Setelah Trinitatis, 08 November 2015
Ibrani 9:24-28
Adalah pemberian yang paling besar dan paling luhur bila seseorang rela berkorban bukan untuk dirinya, melainkan untuk orang lain. Demikian yang dilakukan Yesus Kristus bagi dunia ini, dan bagi kita semua. Yesus adalah korban yang sempurna yang melebihi dan melampaui segala korban yang dipersembahkan dalam Perjanjian Lama. Dengan kasih yang penuh pengorban, Ia rela membayar lunas segala hutang dosa kita. Inilah yang disampaikan penulis surat Ibrani kepada jemaat yang tengah mengalami penderitaan, tekanan, dan penganiayaan, dengan tujuan agar mereka tabah dan tetap setia kepada Yesus Kristus yang sudah mengaruniakan keselamatan itu. Di dalam Yesus ada keselamatan yang sempurna.
Baca lebih lanjut