Arsip Kategori: Ibadah Minggu

KUATKANLAH HATIMU JANGAN TAKUT


MINGGU XIV SETELAH TRINITATIS, 05 SEPTEMBER 2021
KUATKANLAH HATIMU JANGAN TAKUT (YESAYA 35: 4-10)

Yesaya (Yesyayahu): “KESELAMATAN DARI TUHAN; pemberitaan atau nubuatan dan sekaligus untuk mengingatkan akan kasih Allah kepada umat-Nya. Bahwa oleh kasih-Nya bangsa Israel akan dipelihara dan akan mengalami perubahan yang luar biasa, serta keselamatan akan hadir apabila masih mau mempergunakan telinga dan setia kepada Tuhan.

Beberapa tahun yang lalu, ada terbit sebuah buku yang berjudul: “The God is Dead”. Buku ini dikarang oleh filsuf Fredrich Nietzsche. Dalam tulisannya dalam buku itu, eksistensi atau keberadaan kemahakuasaan dan kasih Allah untuk keselamatan manusia dipertanyakan. Dituliskan, jika Tuhan masih hidup, Dia tidak akan membiarkan terjadinya perang, kelaparan, penindasan dlsb. Dengan pengertian yang sama, kita telah diperhadapkan dengan situasi yang sangat sulit, situasi yang tidak menentu, termasuk dengan Pandemi Covid-19. Akibatnya: ada ketakutan yang luar biasa, ekonomi semakin sulit, terjadi kematian, kehilangan sukacita, menjadi tawar hati dan semakin pesimis (sebuah cara yang mengatakan bahwa manusia tidak lagi mampu mempercayai tatanan kosmis). Dasar-dasar dari nilai-nilai manusia harus dievaluasi. Ini adalah akibat rasa takut atau kecemasan yang luar biasa. Seakan-akan Tuhan tidak berpihak kepada kita, The God is Dead.

Dengan pesan nas ini, kita diberi pengharapan untuk tidak takut dan harus kuat. Catatan: Kata takut bermula dari Kejadian 3: 10; hal itu muncul karena berkaitan dengan dosa. Nas ini juga memberi rasa optimis dengan hadirnya TUHAN yang dapat mengubah segala sesuatu. Ingat, orang yang paling sial di dunia ini adalah orang yang tidak punya pengharapan. Kita sebaiknya tetap mempercayai janji keberpihakan Allah, sebab Dia sudah dan akan menunjukkan diri-Nya di dalam kepedulian-Nya di dalam diri Kristus.

Kita harus tetap memiliki harapan bahwa Yesus pasti datang dalam rangka pemulihan global. Sebuah pengharapan dalam penguatan iman. Sebagai orang yang beriman sebaiknya melakukan apa yang menjadi pesan Nabi Yesaya: bangkit dan aktif, serta saling menguatkan satu dengan yang lain. Tuhan memberkati. Amin.

ORANG BENAR DI MATA TUHAN (Mazmur 34:12-18)


MINGGU XII SETELAH TRINITATIS, 22 AGUSTUS 2021

Yesus merupakan satu-satunya manusia yang pernah hidup di dunia sebagai orang benar. Yesus juga satusatunya yang mendeklarasikan seperti dalam Yohanes 14: 6 “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Kita juga disebut sebagai orang benar, bukan karena perbuatan dan ketaatan kita, tapi karena kita dibenarkan oleh Allah di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Pembenaran oleh iman di dalam Yesus Kristus merupakan anugerah luar biasa yang tidak dapat disangkal oleh siapapun di dunia ini. Oleh sebab itu, sebagai orang percaya yang telah dibenarkan oleh Tuhan, kita harus benar-benar hidup di dalam kebenaran itu. Kita harus benar-benar
hidup di dalam Kristus.

Bagaimanakah hidup orang-orang yang telah dibenarkan? Ayat 12 nas ini menjadi dasarnya yaitu “takut akan Tuhan”, dalam hormat dan ketundukan sebagai orang yang telah ditebus. Tunduk itu dibuktikan melalui ketaatan melakukan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Maka sikap takut akan Tuhan akan menjadi prinsip yang sangat kita butuhkan dalam kehidupan ini. Kalau kita takut akan Tuhan maka kita akan melakukan segala pekerjaan kita dengan baik. Kita juga akan melayani dengan setulus hati dan menjauhi hidup cemar dalam keluarga. Epistel kita minggu juga ini jelas mengarahkan kita untuk mempraktikkan kasih dan mencintai perdamaian (Roma 12: 17-21), sebagai bukti sikap takut akan Tuhan dan buah dari pembenaran itu.

Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar. Ketika kita selalu berbuat benar dan melakukan kebenaran, Tuhan terlibat memperhatikan kita. Oleh sebab itu jangan takut berbuat benar meskipun di dunia ini tidak ada yang membela kita, sebab Allah tetap berpihak kepada orang-orang benar. Sedangkan kepada orang-orang jahat, Tuhan akan menentangnya dan melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi (17b). Maka bertobatlah, dan jangan berkutat kepada dosa dan kesalahanmu, sebab: “ yang merupakan pemisah antara kamu dan Allah-Mu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu” (Yes.59:2). Hiduplah sebagai orang benar di mata Tuhan.
Amin

Ibadah Minggu | 13 September 2020 | HKBP Serpong


Ibadah Minggu | 13 September 2020 | HKBP Serpong

https://www.youtube.com/watch?v=wJTVbhHneZI

INKARNASI YESUS


MINGGU MISERICORDIAS DOMINI
Gok asi ni roha ni Jahowa do tano on

Topik: Hasatiaon ni Debata
(Kesetiaan Allah)

Warna Tutup Altar : Na bontar (Putih)
Warna simbol: Kekudusan dan Kesucian

Ev. Roma 3:1-8
Ep. Bilangan 14:17-19

Kata inkarnasi berasal dari bahasa Latin “In Carne” yang dalam bahasa Yunaninya en sarki yang artinya “dalam daging”. Jadi inkarnasi bisa diartikan “masuk ke dalam daging”. Tentu saja yang dimaksud dengan “daging” bukan hanya tubuh, tetapi seluruh manusia. Inkarnasi Tuhan Yesus yakni pribadi kedua dari Allah Tritunggal yang mengambil bentuk kemanusiaan, atau dengan kata lain Anak Allah menjelma dan menjadi daging. Siapakah yang Berinkarnasi?
Bukan Allah Tritunggal yang berinkarnasi, tetapi pribadi kedua dalam Allah Tritunggal, yang mengambil natur manusia. Tetapi juga harus diingat bahwa setiap pribadi dalam Allah Tritunggal ikut aktif dalam inkarnasi (Mat 1:20 Luk 1:35 Yoh 1:14 Kis 2:30 Ro 8:3 Gal 4:4 Fil 2:5-7). Alkitab sendiri dengan tegas mengatakan bahwa Firmanlah yang menjadi manusia (Yoh 1:1,14). Allah menjadi manusia tidak salah mutlak karena Yesus adalah Allah. Tetapi mungkin sebaiknya kita berkata bahwa Allah Anak/Firman/Logos menjadi manusia. Allah mencakup ketiga pribadi tersebut.

TABUT PERJANJIAN


MINGGU QUASIMODOGENITI
Songon Posoposo na imbaru tubu

Topik: Mauas do tondingku tu Debata
(Jiwaku haus kepada Allah)

Warna Tutup Altar : Na Bontar (Putih)
Warna simbol: Kasih

Ev. Mazmur 42:1-6
Ep. 1 Petrus 2:1-5

TABUT PERJANJIAN
Tabut perjanjian adalah peti suci yang dibuat oleh orang Israel zaman dulu sesuai perintah Allah. Allah sendirilah yang merancang Tabut itu. Tabut ini berisi ”Kesaksian”, yaitu Sepuluh Perintah yang ditulis pada dua lempengan batu (Kel. 25:8-10, 16; 31:18). Bentuk dan rancangan. Tabut panjangnya 2,5 hasta, lebarnya 1,5 hasta, dan tingginya 1,5 hasta (111 x 67 x 67 sentimeter). Tabut ini terbuat dari kayu akasia. Bagian dalam dan luarnya dilapisi emas. Di sekeliling bagian atasnya terdapat bingkai yang cantik. Pada penutup Tabut, terdapat dua kerub emas di kedua ujungnya. Penutup itu terbuat dari emas. Kedua kerub itu saling berhadapan dan sedang membungkuk dengan muka menghadap penutup itu. Sayap-sayap mereka terbentang ke atas, menaungi penutup itu. Tabut ini memiliki empat gelang emas di atas keempat kakinya. Kayu akasia berlapis emas dimasukkan ke gelang-gelang itu dan dipakai untuk mengangkat Tabut itu.—Keluaran 25:10-21; 37:6-9.

Tempat. Tabut perjanjian awalnya disimpan di ruang Mahakudus di tabernakel. Tabernakel adalah kemah untuk ibadah yang dapat dipindah-pindahkan, yang dibuat bersamaan dengan tabut perjanjian. Ruang Mahakudus dibatasi dengan suatu tirai agar tidak terlihat oleh para imam dan orang-orang. (Kel 40:3, 21) Hanya imam besar yang bisa masuk ke ruangan ini. Dia melakukannya hanya pada Hari Pendamaian setiap tahun. Pada saat itulah dia melihat tabut perjanjian. (Imamat 16:2; Ibrani 9:7) Belakangan, Tabut dipindahkan ke ruang Mahakudus di bait Salomo (1 Raja 6:14, 19).

SEJARAH PASKAH


PASKAH KEDUA
(Perayaan Kebangkitan Tuhan Yesus)

Topik: Hehe laho Pahehehon
(Bangkit dan Membangkitkan)

Warna Tutup Altar : Na bontar (Putih)
Warna Kasih

Ev. 1 Korintus 15:20-28
Ep. 1 Petrus 1:3-12

SEJARAH PASKAH

Paskah, atau Easter, adalah saat untuk memperingati kematian, khususnya kebangkitan Kristus. Di Inggris orang hampir-hampir tidak akan lupa hari libur ini. Setiap tahun, sedikitnya sebulan sebelum Paskah, toko-toko dan pasar swalayan mengingatkan konsumen dengan memajang berbagai jenis coklat telur dan kelinci, kartu ucapan, dan banyak lagi barang Paskah lainnya. Kata “Paskah” berhubungan dengan dewi musim semi bangsa-bangsa Jermanik (Anglo-Saxon), yang dikenal juga dengan sebutan Eostre, Ostara, atau Eastre. Bangsa Jerman di Eropa Utara mengadakan perayaan tahunan bagi dewi musim semi ini sebagai rasa syukur atas pembaruan hidup setelah musim dingin. Sejarah juga menceritakan ketika para penginjil mula-mula mulai mengabarkan injil di Eropa Utara, mereka membiarkan orang-orang Jermanik untuk mempertahankan praktik penyembahan berhala mereka demi menghindari penolakan atas pengajaran Kristen, dan untuk memudahkan mereka menjadi Kristen4. Para penginjil berhasil memenangkan mereka (menjadi Kristen), dan pada abad ke-8, Orang-orang Jermanik yang telah menjadi Kristen mulai memperingati kebangkitan Kristus dengan perayaan yang mereka sebut Eastra, yang kemudian diubah namanya menjadi Easter (Paskah). Perubahan ini termasuk mengganti Sabat Sabtu menjadi kebaktian hari pertama minggu (Hari Minggu) sebagai perayaan Kebangkitan Kristus secara mingguan, yang juga dikenal dengan “Hari Tuhan”.