Arsip Penulis: Parjuangan Radyarto Siregar

avatar Tidak diketahui

Tentang Parjuangan Radyarto Siregar

GSM

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan Diakonia


Diakonia di tanah Batak dimu¬lai dengan fokus Pendidikan oleh Gerrit van Asselt. Ia membeli tujuh orang anak-anak dari penjual anak-anak lalu mengajari mereka di Sipirok (Hutauruk 2011, 261). Penguasa Belanda di Padangsidempuan dan beberapa raja kemudian menyerahkan anak-anak untuk memperoleh pendidikan dari van Asselt. Jumlah anak yang pertama kali dididik oleh van Asselt sebanyak 20 orang (Hutauruk 2011, 262). Pada tahun 1891, dua orang suster bernama Liesette Niemann dan Thora von Wedell-Jarsberg tiba di Laguboti dengan tujuan khusus untuk memberikan pendidikan bagi kaum perempuan. Terdapat beberapa pengajaran yang diberikan pada waktu itu, antara lain penelaahan Alkitab, pengajaran katekisasi, menjahit, memasak, membersihkan kamar dan pekarangan. Pendidikan yang diberikan kepada perempuan pada tahun 1891 ini selanjutnya menjadi awal dari munculnya inspirasi untuk membuka pendidikan bagi kaum perempuan yang kemudian dikenal dengan jabatan gerejawi “bibelvrouw” (Hutauruk 2011, 268).

Diakonia di tanah Batak tidak hanya terbatas pada bidang pendidikan dan hukum. Pada tahun 1888, seorang penginjil bernama Hanstein melakukan tindakan diakonia untuk menolong orang-orang sakit, khususnya yang terkena penyakit kusta (na huliton) di Sipirok. Pada waktu itu, setiap orang yang terkena penyakit kusta akan dikucilkan, bahkan dikeluarkan dari desa. Masyarakat menganggap bahwa orang-orang yang menderita penyakit kusta merupakan orang-orang yang menjadi sumber penyakit dan mereka mendapatkan kutukan dari roh jahat (Hutauruk 2011, 271). Melihat hal tersebut, Hanstein kemudian mendirikan beberapa rumah untuk para penderita penyakit kusta serta menyediakan pengasuh untuk merawat mereka di Situmba (Hutauruk 2011, 267).

Selain itu, penginjil lain bernama Steinsik dari Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) menolong orang-orang yang sakit kusta di Laguboti. Orang-orang yang menderita penyakit kusta di Laguboti mendapatkan perlakuan yang sama seperti orang-orang yang ada di Sipirok. Tindakan diakonia yang dilakukan oleh Steinsik pada waktu itu adalah pendirian beberapa pondok untuk para penderita kusta di desa Sitalaktak (Hutauruk 2011, 270). Pada tahun 1900, para penderita penyakit kusta memiliki sebuah perkampungan yang lebih memadai serta jauh dari pemukiman masyarakat yang mengucilkan mereka. Tempat tersebut diberi nama Hutasalem. Pada waktu itu terdapat 30 orang yang tinggal di Hutasalem.

Perhatian para penginjil di tanah Batak pada waktu itu tidak hanya untuk orang-orang yang terkena penyakit kusta. Sekitar tahun 1899, mulai muncul pelayanan terhadap penyandang tunanetra dan tunarungu. Para penyandang tunanetra dan tunarungu memiliki pengalaman yang hampir mirip dengan penderita penyakit kusta. Mereka juga dijauhi oleh masyarakat serta hanya dapat mengharapkan belas kasihan dari orang lain bagi kelangsungan hidupnya. Perkembangan pelayanan bagi penyandang tunanetra dan tunarungu membuahkan hasil, yaitu dengan didirikannya perkampungan atau desa bagi yang diberi nama Hepatha bagi mereka pada tahun 1923 (Hutauruk 2011, 270).

Pelayanan diakonia di tanah Batak semakin berkembang, khususnya pada bidang kesehatan. Hal ini dapat terlihat dengan didirikannya rumah sakit pertama di Pearaja Tarutung pada tanggal 2 Juni 1900 (Hutauruk 2011, 276). Pendirian rumah sakit ini jelas membutuhkan tenaga medis yang jumlahnya cukup banyak. Oleh karena itu, badan zending yang ada di tanah Batak membantu untuk menyelenggarakan pendidikan keperawatan bagi masyarakat Batak yang dapat mengerti huruf dan memiliki pengetahuan umum yang memadai (Hutauruk 2011, 278). Tindakan yang dilakukan oleh badan zending ini memberikan suatu peluang untuk terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat Batak pada waktu itu. Pada tahun 1902, orang-orang Batak yang mengikuti pendidikan keperawatan telah bekerja di rumah sakit Pearaja. Mereka berjumlah tujuh orang, yang terdiri dari satu orang apoteker, dua orang perawat laki-laki, satu orang penjaga keamanan, dua orang buruh bangunan, dan satu orang pelayan (Hutauruk 2011, 278).

Berdasarkan Aturan (tata gereja) HKBP 2002 Dung Amandemen Paduahon, tidak ada secara eksplisit dipaparkan mengenai pengertian diakonia menurut HKBP. Dalam aturan dan peraturan HKBP tahun 2002, dijelaskan bahwa diakonia secara sinodal dipimpin oleh departemen diakonia yang merupakan organ umum yang melayankan segala kegiatan yang berkenaan dengan diakonia di segenap HKBP dan dipimpin oleh Kepala Departemen Diakonia (HKBP 2002, 96).

Sementara itu, dalam tingkat jemaat, diakonia dijalankan oleh dewan diakonia yang merupakan organ pelayanan di tingkat jemaat, yang memikirkan dan melaksanakan pelayanan diakonia, meningkatkan pengetahuan dan kesehatan, demikian juga melaksanakan percakapan dan komunikasi dengan masyarakat sekitar maupun pemerintah, yang mencakup seksi diakoni sosial, seksi pendidikan, seksi kesehatan, dan seksi kemasyarakatan (HKBP 2002, 94). Dengan demikian, dapat terlihat dengan jelas bahwa belum ada perumusan yang jelas mengenai pengertian diakonia menurut HKBP, namun pelaksanaan kegiatan diakonia tetap berjalan dan dilakukan oleh empat seksi yang ada dalam dewan diakonia.

Pada masa ini HKBP memiliki tugas untuk merumuskan panggilan diakonia. Dalam Renstra HKBP 2016-2020, HKBP memiliki visi untuk menjadi berkat bagi dunia dan diwujudkan dalam 8 misi:
1. Beribadah kepada Allah Tritunggal, Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan bersekutu dengan saudara-saudara seiman.
2. Mendidik jemaat supaya sungguh-sungguh menjadi anak Allah dan warga negara yang baik.
3. Mengabarkan Injil kepada yang belum mengenal Kristus dan yang sudah menjauh dari gereja.
4. Mendoakan dan menyampaikan pesan kenabian kepada masyarakat dan Negara.
5. Menggarami dan menerangi budaya Batak, Indonesia dan Global dengan Injil.
6. Memulihkan harkat dan martabat orang kecil dan tersisih melalui pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
7. Membangun dan mengembangkan kerjasama antar gereja dan dialog lintas agama.
8. Mengembangkan penatalayanan (pelayan, organisasi, administrasi, keuangan, dan aset) dan melaksanakan pembangunan gereja.

Poin 6 berkaitan erat dengan tugas gereja di poin 4 kalau kita mau fokus kepada perubahan sistem dan struktur, bukan hanya diakonia dalam bentuk karitatif.

Huria Kristen Batak Protestan adalah gereja yang mengaku memiliki pemahaman teologi Lutheran dan berbasis di Sumatera Utara. Pengakuan Iman yang kita gunakan untuk memahami pandangan teologis mengenai diakonia dan politik adalah Konfesi HKBP 1951 dan Konfesi HKBP 1996. HKBP melihat dirinya sebagai gereja yang harus terlibat dalam kehidupan berbangsa namun bukan sebagai gereja negara. Pengakuan Iman HKBP 1951, Pasal 8 poin A tentang Gereja menyatakan,

A. Kita percaya dan menyaksikan :
Gereja ialah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang dipanggil, dihimpun, dikuduskan dan ditetapkan Allah dengan Rohu’l Kudus (1Kor. 1:2; 1Ptr.2: 9; Ef. 1:2,22; 1Kor. 3).

Dalam penjelasan poin 3, dicantumkan,
Dengan ajaran ini kita menolak dan melawan:
3. Pemikiran bahwa Gereja harus menjadi Gereja Negara, sebab kewajiban dari Gereja dan kewajiban negara adalah berlainan.
Konfesi HKBP 1951 dipengaruhi oleh Deklarasi Barmen yang berusaha mengingatkan bahwa gereja tidak boleh menjadi Der Volkskirche (gereja bangsa), yang mementingkan suara bersama dalam persekutuan orang-orang percaya (lht. Barmen Declaration 1934 dalam Bradstock & Rowland 2002, 201-203). Tema penolakan ide Der Volkskirche ini kembali diulangi di Konfesi HKBP 1996 Pasal 7 C dengan kalimat yang kurang lebih serupa. Lebih lanjut, pemahaman HKBP mengenai relasi gereja dan pemerintah di atas diperkuat dalam pasal 12 tentang Pemerintah yang menyatakan,

Kita menyaksikan :
Pemerintah yang berkuasa adalah dari Allah datangnya. Ialah pemerintah yang melawan kejahatan, yang mempertahankan keadilan yang berusaha agar orang percaya dapat hidup sejahtera seperti tercantum pada Roma 13 dan 1 Timotius 2:2.
Pada lain pihak kita harus ingat yang tercantum pada Kisah Rasul 5:29: “Wajiblah orang menurut Allah lebih daripada manusia.”
Dengan ajaran ini kita menyaksikan: Gereja harus mendoakan Pemerintah agar berjalan di dalam keadilan. Sebaiknya Gereja pada saat-saat yang perlu harus memperdengarkan suaranya terhadap Pemerintah.

Dengan ajaran ini kita menolak paham yang mengatakan: Negara adalah negara keagamaan, sebab Negara dan Gereja mempunyai bidang-bidang tersendiri (Mat. 22:21b).

Jika perlu di hadapan hakim untuk menyaksikan kebenaran, orang Kristen boleh bersumpah, demikian pula waktu menerima jabatan atau pangkat. (Konfesi HKBP 1996 Pasal 12)

Dari pemahaman di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa HKBP melihat dirinya sebagai suara kritis terhadap pemerintahan. Dia tidak menentang pemerintah karena pemerintah berasal dari Allah, namun kepatuhan terhadap Allah tetap di atas kepatuhan terhadap pemerintah dunia. Karena sikap kritis ini, HKBP bukanlah gereja negara, namun juga bukan gereja yang tidak aktif dalam kehidupan berbangsa. Bahkan, gereja dili¬hat sebagai penyuara norma moral terhadap pemerintahan.

Pandangan tentang diakonia ditemukan dalam pasal 12 mengenai Perbuatan dan Iman, di mana gereja diminta untuk “menghasilkan buah bagi manusia dan bagi sekitarnya.” Dalam pasal 4 mengenai masyarakat, HKBP menuliskan

Kita menekankan pentingnya iman dan tanggung jawab kita dalam masyarakat Indonesia yang majemuk dalam melayani orang miskin, yang sakit, yang melarat, orang asing, yang terbelakang, yang bodoh, korban ketidakpastian hukum (penyelewengan hukum).

Kita menekankan kesamaan hidup dan hak azasi manusia bagi manusia yang hidup di kota dan di desa/ petani, dalam perencanaan, dalam mengambil keputusan dan pengawasan.

Dari pengamatan di atas kita bisa melihat bahwa HKBP berusaha menjaga untuk tidak terlibat aktif dalam pemerintahan sebagai agama negara, namun berperan serta dalam menolong mereka yang menjadi korban ketidakpastian hukum.
(Tim Redaksi disadur dari sajian Pdt. Dr. Binsar Pakpahan)

Air Hidup


BERNYANYI BE No. 179:1 Adong do sada mual
Adong do sada mual i di na mardosa i, mansai denggan do mual i, pasonang rohangki.

PEMBACAAN FIRMAN
Pagi: Mazmur 34:2-8
Malam: Yesaya 55:1-7

RENUNGAN
Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.
Yohanes 4:14a

Air Hidup
Yesus meminta air dari perempuan Samaria. Percakapannya dengan Yesus begitu akrab dan perempuan itu menunjukkan keramahtamahannya kepada Yesus. Sebaliknya Yesus juga menunjukkan keramahtamahan-Nya dengan menawarkan air hidup kepadanya. Pada awalnya perempuan itu salah memahaminya. Akhirnya perempuan itu percaya dan memberitakannya kepada orang lain perihal percakapan mereka dengan Yesus.

Yesus dengan tegas mengatakan bahwa Dia adalah air kehidupan. Di kitab Wahyu ada janji “Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan” (Why 21: 6). “Anak Domba itu akan menuntun mereka ke mata air kehidupan” (Wahyu 7: 17). Janji itu ialah, bahwa orang-orang yang terpilih akan dengan sukacita mengambil air dari sumur-sumur keselamatan (Yes 12:3). Bahwa orang yang meminum air dari sumur itu akan haus lagi sedangkan orang yang meminum air kehidupan tidak akan haus lagi. Pemazmur berkata “Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? (Mzm 42:3). Janji Allah ialah “Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus” (Yes 44:3a).

Panggilan yang disampaikan kepada setiap orang ialah, barangsiapa yang haus boleh datang dan minum air dengan cuma-cuma (Yes 55: 1). Untuk memperoleh air hidup ini, seseorang harus “meminumnya”. Dia harus percaya kepada Yesus sebagai Mesias. Meminum air hidup menuntut persekutuan terus-menerus dengan sumbernya, yaitu Yesus Kristus sendiri. Tidak bisa seorangpun meminum air hidup apabila hubungannya terputus dari sumber itu. Mari datanglah kepada Yesus Kristus Sang Sumber Air Hidup. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ 415:1 Gembala Baik Bersuling Nan Merdu.
Kepada domba haus dan lesu, Gembala baik memb’rikan air segar;
ke dalam hati haus dan sendu dib’ri-Nya air hidup yang benar.
O, gembalaku itu Tuhanku, membuat aku tent’ram hening.
Mengalir dalam sungai kasihku kuasa damai cerlang bening.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Tubuhmu Milik Tuhan


BERNYANYI BE 66:1 Debata Baen Donganmi
Debata baen donganmi. Lao mangula ulaonmu. Baen Ibana haposanmu. Sai paserep rohami. Debata baen dongami. Debata baen donganmi.

PEMBACAAN FIRMAN
Pagi: Mazmur 18:1-7
Malam: Efesus 4:17-24

RENUNGAN
Tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.
Roma 6:13b

Tubuhmu Milik Tuhan
Mengapa kita harus menyerahkan diri kita kepada Allah? Sebab orang-orang yang ada dalam Kristus, hidupnya seakan-akan telah bangkit dari antara orang mati. Kita telah mati dengan Kristus. Karena itu kita memandang kehidupan dari perspektif yang baru. Kita telah mengabdikan diri kita kepada Allah. Diri itu tentu saja mencakup setiap anggota atau bagian tubuh kita dan segala kegiatan yang kita lakukan. Semua bagian dari kepribadian manusia bisa aktif mengabdi kepada kelaliman atau aktif mengabdi kepada kebenaran. Mengapdi kepada siapakah anggota-anggota tubuh kita?

Apa yang di katakan dalam Pasal 6:12 adalah mengenai keberadaan kita sebagai manusia yang utuh, sedangkan apa yang di katakan dalam ayat ini adalah mengenai bagian-bagian tubuh kita. Anggota-anggota tubuh diperalat sebagai senjata oleh kerusakan sifat kita, yang dengannya keinginan-keinginan daging dipenuhi. Tetapi kita tidak boleh membiarkan penyalahgunaan itu. Anggota-anggota tubuh kita dijadikan secara dahsyat dan ajaib. Jadi sayang bila dipakai sebagai senjata Iblis untuk melakukan ketidakbenaran yang menuntun kepada dosa, sebagai senjata untuk perbuatan-perbuatan dosa, untuk menuruti kecenderungan-kecenderungan hati yang penuh dosa. Ketidakbenaran menuntun kepada dosa. Perbuatan-perbuatan dosa meneguhkan dan menguatkan kebiasaan-kebiasaan dosa. Satu dosa melahirkan dosa lain, seperti membuka keran air. Oleh karena itu, segera tinggalkanlah dosa, jangan sampai kita berurusan dengannya. Anggota-anggota tubuh bisa saja, bila sudah dikuasai oleh godaan, dipaksa menjadi senjata dosa. Tetapi janganlah menyerahkannya untuk dijadikan seperti itu, janganlah menyetujuinya. Mematikan dosa merupakan satu bagian dari pengudusan. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ No. 436:1 Lawanlah Godaan
Lawanlah godaan, s’lalu bertekun; tiap kemenangan kau tambah teguh; nafsu kejahatan harus kautentang, harap akan Yesus: pasti kau menang. Mintalah pada Tuhan, agar kau dikuatkan; Ia b’ri pertolongan: pastilah kau menang.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Karunia Dan Pemeliharaan Tuhan


BERNYANYI BE 211:1 Tuhan Jesus Siparmahan
Tuhan Jesus Siparmahan, au birubiruNa do. Jesus gok di Ho rohangku, sai ihuthononhu Ho. Sai ihuthononhu Ho, sai ihuthononhu Ho. Jesus gok di Ho rohangku, sai ihuthononhu Ho.

PEMBACAAN FIRMAN
Pagi: Ibrani 6:13-20
Malam: 1 Korintus 2:1-5

RENUNGAN
Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku.
Ayub 10:12

Karunia Dan Pemeliharaan Tuhan
Siapapun, baik mereka yang percaya maupun yang tidak percaya kepada Tuhan, bahkan orang jahat sekalipun masih mendapat kesempatan untuk menikmati karunia dan berkat Tuhan. Tuhan memberikan kehidupan, mengasihi dengan setia bahkan memelihara semua orang dan semua makhluk yang bernafas. Dalam konsep ekonomi ada yang disebut opportunity cost yang artinya suatu manfaat yang harus dikorbankan untuk mencapai sesuatu yang lain, contoh konkritnya, semua orang yang masuk ke mall akan menikmati udara yang sejuk, apakah orang itu akan beberbelanja atau tidak, dalam hal ini pihak mal yang harus mengeluarkan biaya. Sepertinya Ayub sedang menggunakan teori opportunity cost ini. Ia merasa bahwa karunia dan pemeliharaan Tuhan itu tidak layak dinikmati oleh orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Ayub bahkan geram ketika melihat bahwa banyak orang yang melawan dan menghina Tuhan, juga menikmati karunia dan pemeliharaan Tuhan. Nyatanya, karunia dan pemerihaan Tuhan tidak dibatasi dengan teori opportunity cost. Tuhan tidak tunduk oleh penilaian manusia termasuk Ayub, untuk memutuskan siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh menikmati karunia dan pemeliharaanNya.

Lalu apa gunanya kita capek-capek menjadi orang percaya, kalau nyatanya memperoleh karunia dan pemeliharaan yang sama dari Tuhan. Yakinlah Tuhan memberikan karunia dan jaminan kehidupan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Bukan hanya kehidupan di dunia ini tetapi kelak kehidupan kekal di Sorga. Bahwa di sekitar kita banyak orang yang tidak percaya, Tuhan ingin kita tetap mendoakan mereka. Bahkan kepada orang-orang yang membenci Tuhan atau yang membenci kita karena kita percaya kepada Tuhan kita, kita harus tetap mendoakan mereka. Adalah hak dan cara Tuhan sendiri untuk memberikan pertobatan ataupun hukuman, sebagaimana tertulis di dalam Roma 12:19. Saudara, janganlah kamu menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.

BERDOA

BERNYANYI KJ No. 410:1 Tenanglah Kini Hatiku
Tenanglah kini hatiku: Tuhan memimpin langkahku. Di tiap saat dan kerja tetap kurasa tangan-Nya. Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh. Hatiku berserah penuh tanganku dipegang teguh.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Tuhan Sumber Hikmat


1 Korintus 1:18-25
Paulus mengutip Yesaya 29:14 untuk menunjukkan bahwa sejak zaman Perjanjian Lama hikmat Allah selalu bertentangan dengan hikmat manusia. Manusia selalu berusaha mencari keselamatan melalui hikmatnya sendiri atau melalui hukum Taurat, karena Allah menyediakan jalan keselamatan yang mereka anggap tidak masuk akal dan dianggap bodoh, yaitu iman kepada Tuhan Yesus yang disalibkan. Pemberitaan tentang salib akan dipandang sebagai “kebodohan” oleh mereka yang kurang mengerti, sebab dalam penilaian manusia memang nampaknya bodoh kalau Anak Allah dibunuh oleh karena dosa manusia, seharusnya dosa itu bisa dibinasakan oleh-Nya. “Tanda” dan “Hikmat” merupakan ciri khas dari dua macam kebudayaan utama yang terdapat dalam jemaat Korintus. “Menghendaki Tanda” adalah cirri khas orang Yahudi yang selalu bettindak berdasarkan fakta atau realita, bukan berdasarkan pemikiran atau teori saja. Sejak zaman Perjanjian Lama orang Israel selalu meminta tanda dari Allah, sebagai bukti dari kehadiran dan penyertaanNya. Demikian juga mereka selalu meminta tanda dan mujizat dari Tuhan Yesus, sebagai bukti bahwa Ia adalah Mesias yang sejati (band. Yoh. 6:30). Mereka menilai kematian Yesus sebagai suatu kegagalan besar, sebab tidak sesuai dengan harapan mereka tentang seorang Mesias yang agung dan mulia. Namun anehnya, mereka juga tidak percaya pada tanda Kristus yang terbesar, yaitu kebangkitanNya. Hal ini semakin menunjukkan bahwa mereka kurang mengerti tentang begitu banyak nubutan tentang penderitaan Mesias yang terdapat dalam Perjanjian Lama (Yes. 53, Mzm. 22).

“Mencari hikmat” adalah cirri orang Yunani yang selalu menekankan bahwa kebenaran hanya dapat diperoleh melalui filsafat dan logika atau dengan memakai otak dan pikiran manusia sendiri. Bagi mereka, Injil dan salib Kristus adalah kebodohan, karena tidak masuk akal bahwa seorang yang sudah mati dapat menyelamatkan orang lain. Sehingga bagi kedua golongan kebudayaan besar itu, Injil merupakan berita yang sulit untuk diterima dan harus ditolak. Rasul Paulus menjelaskan bahwa pemberitaan tentang salib adalah kebodohan bagi dunia, tetapi bagi kita yang berada di dalam Kristus, pemberitaan itu adalah hikmat Allah. Jadi pada dasarnya, hikmat Allah menyatakan betapa terbaliknya pemikiran dunia! Dunia berpikir bahwa mereka penuh hikmat, dan menurut mereka, orang-orang Kristen hanya menyia-nyiakan waktu untuk pergi ke gereja dan membicarakan tentang “cara mendapatkan keselamatan”. Padahal itulah kebenaran yang akan membawa orang-orang yang terhilang ke dalam suatu hubungan yang menyelamatkan mereka.

Pdt. Rohara Panjaitan

SEPTUAGESIMA


Minggu Septuagesima
70 Hari Menjelang Kebangkitan

Saat ini kita masuk dalam Minggu Ordinary (Minggu Biasa) yang pertama dalam satu tahun liturgi. Perhitungan mundur sampai kepada Kebangkitan Yesus (Hari kemenangan) dimulai. Dua bilangan yang penting dalam Alkitab di angkat kembali. Angka yang pertama adalah angka 7 (tujuh-kesempurnaan). Angka 7 adalah angka yang paling menekankan mengenai kesempurnaan (hasisingkop). Perhitungan dari 70 hari ingin menekankan bahwa seluruh rencana dan rancangan Tuhan adalah sempurna adanya. Apa yang terjadi pada diri manusia juga bahagian dari rencana Allah, dan tidak ada bercela sedikitpun. Septuagesima sendiri berasal dari kata Septuaginta yang artinya 70, namun hal ini bukan sekedar menunjukkan 70 hari sebelum Paskah, tetapi lebih menekankan kepada “kasih Allah kepada seluruh bangsa-bangsa” yang sering disimbolkan kepada 70 bangsa, atau 70 tahun masa pembuangan di Babel. Seluruh topic pembicaraan dalam minggu ini adalah mengenai penderitaan umat manusia, namun dalam penderitaannya manusia tersebut dibungkus dengan cinta kasih Allah yang sempurna.

Septuagesima sendiri adalah minggu dimana kita mempersiapkan diri menuju Pra-Paskah. Dalam empat minggu, dimulai dari Minggu ini, kita akan dihantar untuk melihat bagaimana karya Allah kepada manusia yang hidup dalam penderitaannya akibat dosa yang dilakukannya. Tetapi perlu diingat, penekanan topiknya bukanlah dosa, tetapi rencana dan rancangan Allah untuk menyelamatkan umat manusia. Ini ditandai dengan angka 7 (kesempurnaan) tersebut, dimana hanya Allah saja yang sempurna

Keselamatan hanya dalam Tuhan


BERNYANYI BE 464:2 Huboan Ma Diringku
Ho Sipalua ahu, sun hinagogoMi. HataM do huhaposi, na so boi muba i. Pagalak ma rohangku dison managam au. TondiMi ma suru, na boi manggomgom au.

PEMBACAAN FIRMAN
Pagi: Mazmur 2:7-12
Malam: Lukas 10:38-42

RENUNGAN
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia.
Kisah Para Rasul 4:12a

Keselamatan hanya dalam Tuhan
Keselamatan menjadi sebuah kerinduan orang yang percaya bahwa ada kehidupan di hari esok sesudah kematian. Iman Kristen yang termuat juga di dalam Alkitab menyatakan bahwa keselamatan itu satu-satunya hanya ada di dalam dan melalui Yesus Kristus, Sang Mesias. Apakah kita hanya membicarakan keselamatan itu sesudah mati saja? Apakah pentingnya sekarang ini dibicarakan? Keselamatan itu tidak serta merta diberikan atau tidak, ketika tiba hari esok. Tapi semuanya dimulai dan ditentukan sejak hari ini, saat kita sudah menerima dan hidup bersama Tuhan Yesus di dunia ini. Hidup bersama-Nya tentu bagaimana iman dan perilaku kita sejalan dengan iman kita.

Pada masa sekarang ini, yang menjadi persoalan adalah, sebagian masih ada yang tidak percaya kepada Yesus Kristus. Ada yang percaya tapi masih tetap memberi hatinya kepada dunia atau si iblis. Sebagian lagi percaya tapi pertumbuhan imannya mengalami jatuh bangun. Di era digital ini ada kecenderungan bahwa segala sesuatu bisa menjadi serba lebih mudah lewat teknologi digital ini. Pekerjaan berat bisa menjadi ringan, waktu yang dibutuhkan banyak kini menjadi lebih cepat, hal-hal yang sulit menjadi mudah. Ketergantungan terhadap teknologi inipun tidak dapat dibendung. Bahkan gereja pun tidak terlepas pengaruh teknologi tersebut. Hanya saja, jika teknologi memasuki ruang iman yang mencoba menggeserkan posisi Tuhan Allah maka bisa berbahaya. Apalagi kehidupan orang beriman kepada Yesus diperbandingkan bukan lebih mudah, bukan menjadi bebas dari masalah, dan tidak ada jaminan bahwa hidup menjadi terberkati, damai sejahtera dan penuh kebahagiaan. Nas ini memberi sebuah kepastian bahwa keselamatan hari esok hanya di dalam dan melalui Yesus Kristus. Dan kita juga diundang agar kehidupan sehari-hari tetap bersama dan bersandar kepada Yesus.

BERDOA

BERNYANYI KJ No. 300:5 Andaikan Yesus Kau Bukan Milikku
Aku bersyukur dan memuji Tuhan, kar’na diriku ikut Kaumasukkan dalam kawanan domba tebusan-Mu oleh darah-Mu.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin