IMAN DALAM PERBUATAN


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-6:1 Puji Jahowa na Sangap
Puji Jahowa na sangap huhut marmulia./ Hamu sude na parroha na ringgas na ria./ Marpungu be, marolopolop sude, hamu sude manisia

PEMBACAAN FIRMAN
Kisah 13:39-41 (Pagi)
Maz. 102:13-23 (Malam)

RENUNGAN
Yesaya 58: 6
“Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuku, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk.”

IMAN DALAM PERBUATAN
Ritual keagamaan tanpa aksi adalah suatu kebohongan. Ritual keagamaan haruslah dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, namun bukan ingin mengesampingkan ritual atau ingin mengatakan ritual itu tidak penting. Seperti apa yang dirasakan oleh bangsa Israel pada teks ini, dimana mereka merasakan Tuhan jauh dari kehidupan mereka, sedangkan mereka telah berusaha untuk mematuhi seluruh aturan keagamaan ke-Yahudian termasuk berpuasa. Namun salahnya apa yang mereka lakukan hanyalah sebagai ritual semata, tanpa mereka aplikasikan dalam kehidupan nyata.

Pada hari ini, Nabi Yesaya mengajak untuk hidup di dalam ritual keagamaan dan melakukannya dalam kehidupan nyata. Ritual keagamaan adalah gambaran atas pendamaian yang dilakukan oleh Yesus sebagai penebusan dari dosa, dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari adalah respon atas pendamaian itu, yang ditunjukkan dengan menjadi berkat kepada orang lain. Terbebas dari kemunafikan, penindasan dan perbuatan yang merugikan sesama. Ibadah dan ritual dalam ibadah diberikan Tuhan sebagai kemerdekaan bagi kita (bnd. Kebebasan bangsa Israel dari Mesir; Kel.7:16; 8:1 dsb), sehingga orang yang beribadah atau mengikuti suatu ritual keagamaan haruslah juga membawa kemerdekaan kepada orang lain atau pun ciptaan lainnya. Selamat berkarya!

BERDOA

BERNYANYI KJ-17:4 Tuhan Allah Hadir
Raja yang mulia biarlah hambaMu mengagungkanMu selalu, hingga aku ini sungguh beribadat sama seperti malaikat, dan benar mendengar firman-Mu ya Tuhan agar kulakukan!

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Dua Mimbar Gambaran Salib


Dalam sebuah ibadah selalu ada dua pemberitaan utama, yaitu pemberitaan Surgawi dan pemberitaan Duniawi. Sebab keduanya satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisah. Marilah kita melihat susunan ibadah! Susunan ibadah HKBP terdiri atas dua bahagian. Bahagian keimaman dan bahagian Pemberitaan. Dari Votum sampai dengan menyatakan iman adalah bahagian dari keimaman di mana seluruh umat datang kepada Allah melalui Liturgis (paragenda), setelah itu masuklah ibadah kepada pemberitaan. Pemberitaan ini sendiri terdiri atas dua bahagian, yaitu: Pemberitaan Peristiwa dalam gereja dan lingkungan (disebut dengan warta atau Pemberitaan Dunia) dan Pemberitaan Surgawi yaitu kabar baik yang datang dari Allah (disebut dengan khotbah). Itulah sebabnya dalam kedua pemberitaan tersebut terdapat respon seluruh jemaat untuk berbuat dalam bentuk “pengumpulan persembahan”.

Dalam istilah gerejawi mimbar warta disebut dengan Lectern. Lectern artinya adalah tempat pembacaan. Karena itulah Epistel (yang dahulunya hanya terbatas pada surat-surat rasul) masuk ke dalam kategori berita dunia. Mimbar khotbah disebut dengan Pulpit. Kata pulpit sendiri memiliki arti “naik ke atas” atau dapat juga disebut dengan “mimbar”. Itu sebabnya pada pulpitlah diberitakan “berita surgawi”. Dari kedua hal ini kita melihat makna salib yang sesungguhnya, yaitu berita surgawi (dari atas ke bawah) dan berita lingkungan (dari kiri ke kanan). Dan semua itu adalah satu kesatuan yang utuh. Seperti salib yang tidak dapat dipisah antara fertikal dan horizontal, demikian juga dalam ibadah, tidak dapat dipisah antara mengasihi Allah dan mengasihi sesama.

PIKIRKANLAH HAL – HAL YANG PATUT DIPIKIRKAN


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-24:5 Tatap Hami on Na Pungu Dison
Sai ajari be hami on sude./ Asa lam huboto hami dalan sidalanannami./ Sai ajari be hami on sude.

PEMBACAAN FIRMAN
Mat. 19:16- 26 (Pagi)
Ams. 28:19-25 (Malam)

RENUNGAN
Roma 12: 3
“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”

PIKIRKANLAH HAL – HAL YANG PATUT DIPIKIRKAN
Kerinduan setiap orang untuk memiliki sesuatu yang lebih tinggi adalah hal yang wajar. Mulai dari makan enak, baju yang bagus, pendidikan yang tinggi, sampai mobil mewah, rumah mewah, jabatan yang tinggi dan berbagai sarana pra sarana yang lebih baik. Namun kemampuan setiap orang berbeda-beda. Kalau apa yang dipikirkan itu dapat dijangkau dengan kemampuan tidak masalah, tetapi kalau yang dipikirkan tidak terjangkau akan membuat masalah secara psikologis maupun sosial.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan mengaruniakan ukuran iman yang berbeda-beda kepada umat-Nya. Paulus berkata bahwa agar kita jangan memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada apa yang patut kita pikirkan. Tetapi hendaklah kita berpikir begitu rupa, sehingga kita menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kita masing-masing. Jika kita memikirkan hal yang lebih tinggi maka hal itu akan memaksakan di luar kemampuan kita. Pikiran kita terganggu karena memikirkan terus menerus, sedangkan kemampuan kita tidak sampai disitu. Kita bisa mengorbankan suatu kepentingan lain yang lebih utama untuk mengejar hal-hal yang diluar kemampuan kita. Marilah kita memikirkan hal-hal yang patut kita pikirkan, dan jangan yang lebih tinggi.

BERDOA

BERNYANYI KJ-410 1 Tenanglah Kini Hatiku
Tenanglah kini hatiku: Tuhan memimpin langkahku. Ditiap saat dan kerja tetap kurasa tanganNya. Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh. Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

HIDUP DALAM DOA


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-487:1 Tung Halak na Margogo
Tung halak na margogo si partangiang i. Dokdok pe sitaonon ndang olo talu i. Pos situtu rohana di Debata na i. Tuhan na manaluhon sude pangalo i.

PEMBACAAN FIRMAN
Gal. 5: 22 – 26 (Pagi)
Mika 6: 9 – 13 (Malam)

RENUNGAN
1Petrus 4: 7
“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”

HIDUP DALAM DOA
Mengapa harus berdoa? Orang percaya diperintahkan Allah untuk berdoa; yang disampaikan oleh pemazmur (Maz: 105:4), nabi (Yes 55:6), rasul (Ef 6: 17-18) dan oleh Tuhan Yesus sendiri (Mat 26: 41). Doa penting sebagai sarana untuk menerima berkat dan kuasa Allah, dan penggenapan janji-janji-Nya (bnd. Luk 11: 5-13).

Prinsip doa adalah harus dengan iman yang tulus dan sejati seperti apa yang diungkapkan oleh Yesus ”Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Mrk 11: 24). Doa harus dipanjatkan dalam nama Yesus (Bnd. Yoh 14: 13-14). Doa kita panjatkan sesuai dengan kehendak Allah yang sempurna. “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya”.(1 Yoh 5:14). Bukan hanya harus berdoa sesuai dengan kehendak Allah, juga harus berada dalam kehendak Allah, itu, jikalau kita mengharapkan Dia mendengar dan menanggapi kita. Allah akan memberikan hal-hal yang kita minta dari-Nya hanya jika kita mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Mat 6: 33). Perumpamaan janda yang gigih memohon (Luk 18: 1-7) dapat menjadi teladan kita. Maka marilah kita dapat menguasai diri dan tenang untuk tetap berdoa dengan tekun, sesuai perintah Yesus: meminta…. mencari…mengetuk…. Mat 7: 7-8. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-460: 1 “Jika Jiwaku berdoa”
Jika jiwaku berdoa kepadamu Tuhanku,
ajar aku terima saja pemeberian tangan-Mu dan mengaku s’perti Yesus di depan sengsara-Nya: Jangan kehendakku Bapa, kehendak-Mu jadilah

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Memeriksa Kehidupan Rohani atau Spiritualitas (Soul Check-up)


Dalam rangka Tahun Kesehatan & Kebersihan dalam Lingkungan Hidup

Soul check adalah salah satu kegiatan untuk menelusuri bagian-bagian rohani kita yang mengalami kekeringan, kekecewaan, kedangkalan atau apapun itu yang menghambat kita untuk dekat dengan Tuhan, menghambat mengasihi sesama dan menghambat hidup kita untuk berbuah. Jhonson dan Dreitcer, para teolog yang memberi perhatian terhadap pelayanan gereja terhadap jemaat, melihat bahwa pada kenyataan orang banyak mengalami kelaparan dan penyimpangan bentuk spritualitas yang membuat jiwa seseorang itu tidak sehat. Beberapa di antaranya adalah spritualitas munafik, spritualitas exhibitionistic yang ingin dipuji dan diperhatikan, spritualitas pelarian (escapist) dari tanggung jawab, spritualitas yang ditampilkan dengan kepura-puraan seperti yang ditunjukkan oleh para nabi-nabi palsu, spritualitas yang memilih tempat pekerjaan yang enak saja dan takut berkomitmen untuk kerja keras dalam pelayanan, spiritualitas yang lemah ketika menghadapi pergumulan dalam pekerjaan, keluarga dan sebagainya. Sehingga jika tidak dilakukan pemeriksaan maka dia bisa merasa benar sendiri, tidak ada yang salah bahkan dia akan terus bergerak ke arah yang semakin dalam membawanya ke tempat yang membahayakan jiwanya.

Belakangan ini banyak orang mengalami kedangkalan dan kekeringan spritual bahkan di antara mereka sudah ada yang meragukan pentingnya dan kekuatan hidup dalam berdoa, berefleksi, membaca bacaan rohani, retreat, dan kegiatan rohani lainnya karena kesibukan dan kebosanan untuk ikut terlibat di dalamnya. Gelombang post-modernis, pasca-denominasional, sekularis, dan pluralis juga turut berperan membuat keringnya spritualitas belakangan ini. Gelombang ini jika tidak disikapi dengan baik maka bisa menyebabkan lunturnya nilai-nilai kebenaran dan kepastian tentang Allah dalam hidupnya. Kehausan itu ditandai dengan gerakan meninggalkan semua kepastian tentang masa lampau, seperti kepastian religius, ilmiah, kultural, politik, dan historis. Begitu juga ketertarikan masyarakat kepada drakula, makhluk asing, magi, klenik, atau dunia paranormal. Semuanya ini mempesona dan memiliki daya tarik tersendiri mengalahkan pesona Gereja yang dipenuhi dengan berbagai skandal dan sikap yang ekslusif, memecah, dan opresif. Kekayaan dan kemajuan ilmiah yang semulanya diharapkan mensejahterakan masyarakat luas justru membuat merasa tidak aman atas kejadian peperangan, pembunuhan, kekerasan institusional, terorisme, dan perusakan lingkungan hidup. Kepastian budaya masa lalu yang menuntun dalam praktik kehidupan sehari-hari saat ini seolah-olah tenggelam dan beralih kepada berbagai praktik yang mereka anggap tepat dan baik seperti minuman, harta, olahraga, pertunjukkan, seks, dan sebagainya. Begitu juga praktik politik yang memanfaatkan fundamentalisme religius masa lalu untuk mengamankan kepentingan politis pribadi maupun kelompok sering menciptakan kekerasan di tengah masyarakat luas. Banyak bentuk kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat pengaruh fundamentaslime tersebut seperti terorisme, bom bunuh diri, kekerasan institusional dan sebagainya.
Tulisan ini bertujuan mengajak kita untuk melakukan soul check-up atau memeriksa kehidupan rohani atau spiritualitas kita. Kegiatan soul check-up diharapkan bisa memberi kesadaran dan meyakinkan langkahnya untuk datang ke Sumur Yang memancarkan kesegaran yaitu Tuhan Allah sendiri untuk mengisi kekeringan rohani kita dengan berdiam atau beristirahat dalam Allah dalam keheningan. Dialah dasar yang benar dan Sumber kehidupan yang sejati.

Manusia adalah makhluk rohani. Kata “rohani” berasal dari kata Ibrani yaitu ruah yang artinya nafas. Manusia hidup karena adanya nafas. Hidup manusia dianggap suci, karena berkaitan dengan Yang-Ilahi sebagai Pemberi Hidup. Tuhan sebagai sumber serta pendukung kehidupan di dalam tubuh dianggap berkarya di dalam diri manusia. Jadi, menyebut manusia sebagai makhluk rohani mengemukakan, bahwa manusia sanggup berhubungan dengan Sang Sumber hidupnya. Pepatah kuno mengatakan: “Bernafas adalah berdoa. Atau dengan kata lain, doa adalah nafas kehidupan.”

Spritualitas adalah istilah yang menandakan kerohanian atau hidup rohani atau kesalehan. Dasar hidup rohani dan semua bentuk spiritualitas sejati adalah Roh (bahasa Latin Spiritus) yaitu Roh Kristus. Spiritualitas berasal dari kata “Spirit” yang dalam Bahasa Ibrani memakai kata ruach, Yunani dengan kata pneuma dan kata Latin yaitu spirare, yang berarti “Roh Kudus”. Jadi spiritualitas dapat diartikan “kehidupan orang beriman yang didiami, disucikan dan dipimpin oleh Roh Kudus sehingga menghasilkan buah-buah Roh.” Orang yang peka akan mengalami buah kehadiran Roh dalam hatinya (bnd. Rom. 8, 16).

Belakangan ada kalangan yang mencoba memisahkan hidup berteologia dengan hidup kerohanian. Orang berteologia atau mahir mengetahui tentang tema-tema teologia tapi belum tentu hidup kerohaniannya baik karena teologia itu hanya dipandang sebagai ilmu pengetahuan saja. Di sisi lain, hidup kerohanian tanpa dasar teologia yang jelas itu pun lebih buruk daripada hidup tidak secara rohani. Ada juga hidup rohani hanya sekedar pemuasan kebutuhan manusia. Jadi tidak penting sibuk memahami isu-isu teologia yang penting mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Oleh karena itu, hidup kerohanian adalah hubungan kita dengan Tuhan yang menyadari kehadiran

Sang Ilahi dalam lingkungan hidup kita serta mendasarkan hubungan sebagai makhluk yang berakalbudi dan berkehendak bebas, sehingga dapat mengerti dan mencinta di dalam Tuhan.

Soul check-up yang pertama: mengenal kebutuhan kita. Kehidupan spritual dimulai dari kebutuhan, membutuhkan Tuhan dan ekspressi Tuhan dalam hidup kita seperti penyembuhan, belas kasih, keadilan, pengertian, dan kasih. Dengan mengenal apa yang menjadi kebutuhan kita yang terdalam maka kita dapat mengenal Tuhan. Mencari tahu apa yang menjadi kebutuhan akan mengarahkan jalan yang benar untuk mencapainya. Kesalahan mengenal kebutuhan kita, seperti perempuan Samaria yang selalu mengambil air dari sumur, ia tidak mengalami sebuah perubahan yang lebih baik. Setelah ia berjumpa dengan Yesus dan menemukan Tuhan, ia pun mendapat sebuah pemahaman yang baru dengan mengetahui apa yang menjadi kebutuhannya. Ia pun menemukan visi yang baru dalam hidupnya yang merubah paradigma dan hidupnya.

Soul check-up yang kedua, mengenal Allah. Pengenalan akan Allah menjadi hal penting karena Allah merupakan jawaban dari semua kebutuhan kita. Setelah mengenal kebutuhan dan Allah maka langkah selanjutnya yaitu mengenal hubungan kita dengan Allah. Melalui hubungan yang mendalam dengan Tuhan memberi kesadaran keagungan Allah dan kita semakin kecil tenggelam tidak ada apa-apanya bahkan semua kebutuhan kita melebur dan lenyap. Perjalanan spritual bersama Tuhan akan memberi kesadaran bahwa apa yang telah kita lakukan, pikirkan dan harapkan dari Tuhan lebih kecil dari apa yang dilakukan Tuhan kepada kita. Seperti pengalaman perempuan Samaria yang bertemu dengan Yesus di sebuah sumur itu, dia mengalami perjalanan spritual dan menemukan sebuah pengalaman baru yang lebih dalam bagaimana Yesus melewati pikirannya.

Soul check-up yang ketiga, menerima Tuhan dalam hidup kita. Sesudah itu kita bekerja melayani untuk menghasilkan buah. Tapi di tengah pekerjaan itu terkadang kita harus menunggu. Kita menunggu mengalami transformasi diri dan bagaimana hasil pekerjaan pelayanan kita, menunggu orang-orang yang dapat turut membantu pelayanan dan respon orang-orang yang dilayani, dan menunggu Tuhan memenuhi segalanya atas apa yang kita kerjakan dan harapkan seiring perjalanan spritual kita bersama-Nya.

Soul check yang keempat adalah rohani kita sehat ketika Roh Allah tetap berdiam di dalam diri kita sehingga kita dapat tekun dan gigih bersaksi, berdoa, melayani, bersekutu, menginjili, mengampuni dan sebagainya sebagai pekerjaan melakukan kehendak Allah Bapa. Jadi ini semua bukanlah sekedar pekerjaan kedagingan tapi pekerjaan rohani yang tubuh kita pun turut di dalamnya. Roh itu terus mengajak dan mendorong tubuh kita untuk melakukan kehendak Allah Bapa dengan setia. Jadi, jika dalam perjalanan rohani kita lemah, redup dan kendur maka perlu kita kembali datang kepada Allah Bapa agar rohani kita kembali disegarkan dan dikuatkan.

Soul check yang kelima adalah bagaimana kita seharusnya mau ikut Yesus. Poin yang diberikan Yesus sangat jelas yaitu: “menyangkal diri, pikul salib dan ikut Dia.” Boenhoeffer menyebut a cost of disciple bahwa kita untuk menjadi muird-Nya maka harus ada pengorbanan, komitment, kesetiaan dan menghasilkan buah. Kalau kita sudah menetapkan saya orang Kristen dan ikut Yesus maka poin kedua ini menjadi bagian dari dirinya. Seharusnya ini menjadi kewajiban setiap orang Kristen. Mengapa? Karena Dia telah terlebih dahulu telah menyelamatkan dan memberikan anugerah keselamatan itu. Roh Allah yang berdiam dalam diri kita pun akan secara otomatis melakukan poin kedua ini.
Ada beberapa ciri yang menandakan seseorang itu tidak bergairah lagi ikut Tuhan dan mengalami kekerdilan rohani. Seseorang dikatakan hidup dan sehat rohaninya ketika dia bergairah dan antusias mengikuti persekutuan dan secara personal pun dia mengalami pertumbuhan rohani. Dia sudah sadar bahwa membaca, mendengar, mendalami dan menginjili itu merupakan sebuah kebutuhan rohani dan pekerjaan Roh di dalam dirinya. Dia bergiat memerhatikan, merawat dan menjaga hidup persekutuan dan peribadahan. Mereka hidup saling memotivasi antara yang satu dengan yang lain. Sedangkan, hidup rohani seseorang disebut sakit atau mati ketika dia tidak bergairah, malas, menjauh dari persekutuan, tidak lagi mau mendengar dan melakukan firman Tuhan. Hidup beribadah dianggap hanya sebagai rutinitas. Kegiatan rohani menjadi beban yang mengganggu waktunya. Mereka tidak kreatif dan bersikap masa bodoh terhadap peribadahan dan persekutuan. Kegiatan kreatif dan keakraban jarang diadakan atau cenderung asal-asalan. Dia selalu bersikap cuek dan tidak mau peduli dengan anggota lainnya.

Kelima soul check-up di atas jika dilakukan dan ditemukan bagian yang tidak lagi berjalan semestinya maka bisa disebutkan bahwa kehidupan rohani kita sedang terganggu, mengalami spiritual yang kering atau bahkan sudah menyimpang, sederhananya apakah keadaan rohani kita sedang sakit atau sehat. Saran dari hasil soul check ini membuat kita sadar di mana kita, apa yang sudah saya lakukan, dan bagaimana seharusnya yang kita lakukan agar bisa sampai kepada tujuan. Sesudah itu, buatlah komitmen dan susunlah langkah-langkah yang akan dilakukan dan cobalah untuk melakukannya mulai dari yang terkecil terlebih dahulu. Rohani yang sehat maka dengan sendirinya, kita akan beroleh hikmat Tuhan yang sangat berguna dalam kehidupan kita. Dengan rohani yang sehat dan penuh hikmat Tuhan, kita dapat membangun hubungan dengan “yang lain”, yaitu sesama bahkan siapa saja. Di sisi lain, kita pun dapat menemukan siapa diri kita dan semakin orang mengenal dirinya maka dia pun akan mengenal tujuan hidupnya.

(Pdt. Rudi SM Pardede)

SUAP


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-275:2 O Jesus Tuhanki
Sai ro do setan i, manaiti rohangki dao sian Ho. Ipe ingani au, ai molo Ho di au, ingkon manigor lao, musu naung ro.

PEMBACAAN FIRMAN
Kis. 5:1-6 (Pagi)
Ams. 11:7-18 (Malam)

RENUNGAN
Keluaran 23:8
Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.

SUAP
Suap adalah momok bagi sistem pemerintahan yang bersih. Karena pemerintahan yang bersih menginginkan rakyatnya sejahtera, tapi suap membuat masyarakat miskin dan menderita. Allah sangat berpihak kepada orang miskin dan tertindas. Oleh sebab itu melalui nas renungan ini kita diingatkan melalui profesi kita untuk menolong orang miskin dan tertindas agar mereka mendapatkan kehidupan yang layak. Sesungguhnya apapun profesi kita, Tuhan menginginkan kita untuk tidak menerima suap. Karena suap akan membuat mata kita menjadi buta dan sesuatu peristiwa dapat saja kita putarbalikkan sehingga yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar.

Nas ini mengarah kepada orang berperkara yang apabila dikaitkan dengan pengadilan akan menunjuk kepada tiga pihak, yaitu Jaksa sebagai penuntut, Penasihat Hukum sebagai pembela, dan Hakim sebagai pemutus perkara. Berbagai argumen dan pendapat hukum disampaikan para pihak sesuai dengan kepentingannya. Baiklah setiap orang percaya menyampaikan argumen dan pendapat hukum yang benar tanpa dicemari oleh suap. Karena siapakah si terdakwa yang diadili dalam nas ini tidak lain adalah orang-orang benar yang siang malam selalu berseru kepada Tuhan yang memberi pembelaan sejati kepada perkara mereka. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-436:1 Lawanlah Godaan
Lawanlah godaan, s’lalu bertekun; tiap kemenangan
kau tambah teguh; nafsu kejahatan harus kautentang;
harap akan Yesus: pasti kau menang.
Mintalah pada Tuhan, agar kau dikuatkan;
Ia b’ri pertolongan: pastilah kau menang.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Cinta


Sekelompok profesional mengajukan pertanyaan ini kepada sekelompok anak-anak yang berusia 4-8 tahun, “Apa artinya cinta?” Jawaban yang mereka miliki lebih luas dan lebih dalam daripada yang dapat dibayangkan. Perhatikanlah, bagaimana menurutmu:

“Ketika Nenek saya mendapat penyakit arthritis, dia tidak bisa membungkuk dan mengecat kuku kakinya lagi. Jadi kakek saya melakukan itu semua untuknya bahkan walaupun tangannya terkena arthritis, juga. Itulah Cinta”
Rebecca – 8 tahun

“Ketika seseorang mencintai kamu, cara mereka menyebut namamu akan berbeda. Kamu akan tahu bahwa namamu aman di mulut mereka.”
Billy – 4 tahun

“Cinta adalah ketika kamu pergi keluar untuk makan dan memberikan seseorang sebagian besar French Fries kamu tanpa mau meminta mereka untuk memberikan makanannya juga.”
Chrissy – 6 tahun

“Cinta adalah apa yang membuatmu tersenyum walaupun kamu sedang lelah.”
Terri – 4 tahun

“Cinta adalah ketika ibu saya membuatkan kopi untuk papa dan dia menyicipnya sebelum memberikannya kepada papa, untuk memastikan bahwa rasanya OK.”
Danny – 7 tahun

“Jika kamu ingin belajar mencintai yang lebih lagi, kamu harus memulainya dengan seorang teman yang kamu benci.”
Nikka – 6 tahun

“Cinta adalah ketika kamu memberitahu seorang pria bahwa kamu menyukai kemejanya, lalu dia memakainya setiap hari.”
Noelle – 7 tahun

“Cinta itu seperti wanita tua dan seorang pria tua yang masih tetap berteman bahkan setelah mereka saling mengenal dengan baik.”
Tommy – 6 tahun

“Selama resital piano, saya berada di atas panggung dan takut. Saya melihat semua orang menonton saya dan melihat ayah melambaikan tangan dan tersenyum. Dia adalah satu-satunya melakukan itu. Saya tidak takut lagi.”
Cindy – 8 tahun

“Ibu saya mencintai saya lebih dari siapa pun. Anda tidak melihat orang lain lagi yang akan mencium saya saat terlelap di malam hari”
Clare – 6 tahun

“Cinta adalah ketika ibu memberikan papa potongan ayam yang terbaik.”
Elaine- 5 tahun

“Cinta adalah ketika Ibu melihat Ayah yang sedang bau dan berkeringat, dan masih mengatakan bahwa dia lebih tampan daripada Robert Redford.”
Chris – 7 tahun

“Cinta adalah ketika seekor anak anjing menjilati wajahmu bahkan setelah kamu meninggalkannya sendirian sepanjang hari.”
Mary Ann – 4 tahun

“Saya tahu kakakku mencintaiku karena dia memberikan semua pakaian lamanya dan pergi keluar untuk membeli yang baru.”
Lauren – 4 tahun

“Ketika kamu mencintai seseorang, bulu matamu naik dan turun lalu bintang-bintang kecil keluar dari kamu ”
Karen – 7 tahun

“Cinta adalah ketika Ibu melihat Ayah di toilet dan dia tidak menganggap itu kotor.”
Mark – 6 tahun

“Kamu benar-benar tidak perlu mengucapkan “Aku cinta kamu” jika kamu tidak serius. Tetapi jika memang kamu bersungguh-sungguh, kamu harus sering mengucapkannya. Karena manusia dapat lupa”
Jessica – 8 tahun

Dan yang terakhir – Penulis dan dosen Leo Buscaglia membicarakan tentang suatu kontes, dimana ia diminta untuk menilai (juri). Tujuan kontes ini adalah untuk menemukan anak yang paling paling memiliki kepedulian (ini akan meluluhkan hati Anda). Pemenangnya adalah seorang anak berusia empat tahun yang tetangga depannya adalah seorang pria tua yang baru saja kehilangan istrinya. Setelah melihat kakek itu menangis, anak kecil ini pergi ke halaman pria tua itu, naik ke pangkuannya, dan hanya duduk di sana. Ketika ibunya bertanya kepadanya apa yang ia katakan kepada sang kakek, anak kecil itu berkata, “tidak ada, aku hanya membantunya menangis.”