Memeriksa Kehidupan Rohani atau Spiritualitas (Soul Check-up)


Dalam rangka Tahun Kesehatan & Kebersihan dalam Lingkungan Hidup

Soul check adalah salah satu kegiatan untuk menelusuri bagian-bagian rohani kita yang mengalami kekeringan, kekecewaan, kedangkalan atau apapun itu yang menghambat kita untuk dekat dengan Tuhan, menghambat mengasihi sesama dan menghambat hidup kita untuk berbuah. Jhonson dan Dreitcer, para teolog yang memberi perhatian terhadap pelayanan gereja terhadap jemaat, melihat bahwa pada kenyataan orang banyak mengalami kelaparan dan penyimpangan bentuk spritualitas yang membuat jiwa seseorang itu tidak sehat. Beberapa di antaranya adalah spritualitas munafik, spritualitas exhibitionistic yang ingin dipuji dan diperhatikan, spritualitas pelarian (escapist) dari tanggung jawab, spritualitas yang ditampilkan dengan kepura-puraan seperti yang ditunjukkan oleh para nabi-nabi palsu, spritualitas yang memilih tempat pekerjaan yang enak saja dan takut berkomitmen untuk kerja keras dalam pelayanan, spiritualitas yang lemah ketika menghadapi pergumulan dalam pekerjaan, keluarga dan sebagainya. Sehingga jika tidak dilakukan pemeriksaan maka dia bisa merasa benar sendiri, tidak ada yang salah bahkan dia akan terus bergerak ke arah yang semakin dalam membawanya ke tempat yang membahayakan jiwanya.

Belakangan ini banyak orang mengalami kedangkalan dan kekeringan spritual bahkan di antara mereka sudah ada yang meragukan pentingnya dan kekuatan hidup dalam berdoa, berefleksi, membaca bacaan rohani, retreat, dan kegiatan rohani lainnya karena kesibukan dan kebosanan untuk ikut terlibat di dalamnya. Gelombang post-modernis, pasca-denominasional, sekularis, dan pluralis juga turut berperan membuat keringnya spritualitas belakangan ini. Gelombang ini jika tidak disikapi dengan baik maka bisa menyebabkan lunturnya nilai-nilai kebenaran dan kepastian tentang Allah dalam hidupnya. Kehausan itu ditandai dengan gerakan meninggalkan semua kepastian tentang masa lampau, seperti kepastian religius, ilmiah, kultural, politik, dan historis. Begitu juga ketertarikan masyarakat kepada drakula, makhluk asing, magi, klenik, atau dunia paranormal. Semuanya ini mempesona dan memiliki daya tarik tersendiri mengalahkan pesona Gereja yang dipenuhi dengan berbagai skandal dan sikap yang ekslusif, memecah, dan opresif. Kekayaan dan kemajuan ilmiah yang semulanya diharapkan mensejahterakan masyarakat luas justru membuat merasa tidak aman atas kejadian peperangan, pembunuhan, kekerasan institusional, terorisme, dan perusakan lingkungan hidup. Kepastian budaya masa lalu yang menuntun dalam praktik kehidupan sehari-hari saat ini seolah-olah tenggelam dan beralih kepada berbagai praktik yang mereka anggap tepat dan baik seperti minuman, harta, olahraga, pertunjukkan, seks, dan sebagainya. Begitu juga praktik politik yang memanfaatkan fundamentalisme religius masa lalu untuk mengamankan kepentingan politis pribadi maupun kelompok sering menciptakan kekerasan di tengah masyarakat luas. Banyak bentuk kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat pengaruh fundamentaslime tersebut seperti terorisme, bom bunuh diri, kekerasan institusional dan sebagainya.
Tulisan ini bertujuan mengajak kita untuk melakukan soul check-up atau memeriksa kehidupan rohani atau spiritualitas kita. Kegiatan soul check-up diharapkan bisa memberi kesadaran dan meyakinkan langkahnya untuk datang ke Sumur Yang memancarkan kesegaran yaitu Tuhan Allah sendiri untuk mengisi kekeringan rohani kita dengan berdiam atau beristirahat dalam Allah dalam keheningan. Dialah dasar yang benar dan Sumber kehidupan yang sejati.

Manusia adalah makhluk rohani. Kata “rohani” berasal dari kata Ibrani yaitu ruah yang artinya nafas. Manusia hidup karena adanya nafas. Hidup manusia dianggap suci, karena berkaitan dengan Yang-Ilahi sebagai Pemberi Hidup. Tuhan sebagai sumber serta pendukung kehidupan di dalam tubuh dianggap berkarya di dalam diri manusia. Jadi, menyebut manusia sebagai makhluk rohani mengemukakan, bahwa manusia sanggup berhubungan dengan Sang Sumber hidupnya. Pepatah kuno mengatakan: “Bernafas adalah berdoa. Atau dengan kata lain, doa adalah nafas kehidupan.”

Spritualitas adalah istilah yang menandakan kerohanian atau hidup rohani atau kesalehan. Dasar hidup rohani dan semua bentuk spiritualitas sejati adalah Roh (bahasa Latin Spiritus) yaitu Roh Kristus. Spiritualitas berasal dari kata “Spirit” yang dalam Bahasa Ibrani memakai kata ruach, Yunani dengan kata pneuma dan kata Latin yaitu spirare, yang berarti “Roh Kudus”. Jadi spiritualitas dapat diartikan “kehidupan orang beriman yang didiami, disucikan dan dipimpin oleh Roh Kudus sehingga menghasilkan buah-buah Roh.” Orang yang peka akan mengalami buah kehadiran Roh dalam hatinya (bnd. Rom. 8, 16).

Belakangan ada kalangan yang mencoba memisahkan hidup berteologia dengan hidup kerohanian. Orang berteologia atau mahir mengetahui tentang tema-tema teologia tapi belum tentu hidup kerohaniannya baik karena teologia itu hanya dipandang sebagai ilmu pengetahuan saja. Di sisi lain, hidup kerohanian tanpa dasar teologia yang jelas itu pun lebih buruk daripada hidup tidak secara rohani. Ada juga hidup rohani hanya sekedar pemuasan kebutuhan manusia. Jadi tidak penting sibuk memahami isu-isu teologia yang penting mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Oleh karena itu, hidup kerohanian adalah hubungan kita dengan Tuhan yang menyadari kehadiran

Sang Ilahi dalam lingkungan hidup kita serta mendasarkan hubungan sebagai makhluk yang berakalbudi dan berkehendak bebas, sehingga dapat mengerti dan mencinta di dalam Tuhan.

Soul check-up yang pertama: mengenal kebutuhan kita. Kehidupan spritual dimulai dari kebutuhan, membutuhkan Tuhan dan ekspressi Tuhan dalam hidup kita seperti penyembuhan, belas kasih, keadilan, pengertian, dan kasih. Dengan mengenal apa yang menjadi kebutuhan kita yang terdalam maka kita dapat mengenal Tuhan. Mencari tahu apa yang menjadi kebutuhan akan mengarahkan jalan yang benar untuk mencapainya. Kesalahan mengenal kebutuhan kita, seperti perempuan Samaria yang selalu mengambil air dari sumur, ia tidak mengalami sebuah perubahan yang lebih baik. Setelah ia berjumpa dengan Yesus dan menemukan Tuhan, ia pun mendapat sebuah pemahaman yang baru dengan mengetahui apa yang menjadi kebutuhannya. Ia pun menemukan visi yang baru dalam hidupnya yang merubah paradigma dan hidupnya.

Soul check-up yang kedua, mengenal Allah. Pengenalan akan Allah menjadi hal penting karena Allah merupakan jawaban dari semua kebutuhan kita. Setelah mengenal kebutuhan dan Allah maka langkah selanjutnya yaitu mengenal hubungan kita dengan Allah. Melalui hubungan yang mendalam dengan Tuhan memberi kesadaran keagungan Allah dan kita semakin kecil tenggelam tidak ada apa-apanya bahkan semua kebutuhan kita melebur dan lenyap. Perjalanan spritual bersama Tuhan akan memberi kesadaran bahwa apa yang telah kita lakukan, pikirkan dan harapkan dari Tuhan lebih kecil dari apa yang dilakukan Tuhan kepada kita. Seperti pengalaman perempuan Samaria yang bertemu dengan Yesus di sebuah sumur itu, dia mengalami perjalanan spritual dan menemukan sebuah pengalaman baru yang lebih dalam bagaimana Yesus melewati pikirannya.

Soul check-up yang ketiga, menerima Tuhan dalam hidup kita. Sesudah itu kita bekerja melayani untuk menghasilkan buah. Tapi di tengah pekerjaan itu terkadang kita harus menunggu. Kita menunggu mengalami transformasi diri dan bagaimana hasil pekerjaan pelayanan kita, menunggu orang-orang yang dapat turut membantu pelayanan dan respon orang-orang yang dilayani, dan menunggu Tuhan memenuhi segalanya atas apa yang kita kerjakan dan harapkan seiring perjalanan spritual kita bersama-Nya.

Soul check yang keempat adalah rohani kita sehat ketika Roh Allah tetap berdiam di dalam diri kita sehingga kita dapat tekun dan gigih bersaksi, berdoa, melayani, bersekutu, menginjili, mengampuni dan sebagainya sebagai pekerjaan melakukan kehendak Allah Bapa. Jadi ini semua bukanlah sekedar pekerjaan kedagingan tapi pekerjaan rohani yang tubuh kita pun turut di dalamnya. Roh itu terus mengajak dan mendorong tubuh kita untuk melakukan kehendak Allah Bapa dengan setia. Jadi, jika dalam perjalanan rohani kita lemah, redup dan kendur maka perlu kita kembali datang kepada Allah Bapa agar rohani kita kembali disegarkan dan dikuatkan.

Soul check yang kelima adalah bagaimana kita seharusnya mau ikut Yesus. Poin yang diberikan Yesus sangat jelas yaitu: “menyangkal diri, pikul salib dan ikut Dia.” Boenhoeffer menyebut a cost of disciple bahwa kita untuk menjadi muird-Nya maka harus ada pengorbanan, komitment, kesetiaan dan menghasilkan buah. Kalau kita sudah menetapkan saya orang Kristen dan ikut Yesus maka poin kedua ini menjadi bagian dari dirinya. Seharusnya ini menjadi kewajiban setiap orang Kristen. Mengapa? Karena Dia telah terlebih dahulu telah menyelamatkan dan memberikan anugerah keselamatan itu. Roh Allah yang berdiam dalam diri kita pun akan secara otomatis melakukan poin kedua ini.
Ada beberapa ciri yang menandakan seseorang itu tidak bergairah lagi ikut Tuhan dan mengalami kekerdilan rohani. Seseorang dikatakan hidup dan sehat rohaninya ketika dia bergairah dan antusias mengikuti persekutuan dan secara personal pun dia mengalami pertumbuhan rohani. Dia sudah sadar bahwa membaca, mendengar, mendalami dan menginjili itu merupakan sebuah kebutuhan rohani dan pekerjaan Roh di dalam dirinya. Dia bergiat memerhatikan, merawat dan menjaga hidup persekutuan dan peribadahan. Mereka hidup saling memotivasi antara yang satu dengan yang lain. Sedangkan, hidup rohani seseorang disebut sakit atau mati ketika dia tidak bergairah, malas, menjauh dari persekutuan, tidak lagi mau mendengar dan melakukan firman Tuhan. Hidup beribadah dianggap hanya sebagai rutinitas. Kegiatan rohani menjadi beban yang mengganggu waktunya. Mereka tidak kreatif dan bersikap masa bodoh terhadap peribadahan dan persekutuan. Kegiatan kreatif dan keakraban jarang diadakan atau cenderung asal-asalan. Dia selalu bersikap cuek dan tidak mau peduli dengan anggota lainnya.

Kelima soul check-up di atas jika dilakukan dan ditemukan bagian yang tidak lagi berjalan semestinya maka bisa disebutkan bahwa kehidupan rohani kita sedang terganggu, mengalami spiritual yang kering atau bahkan sudah menyimpang, sederhananya apakah keadaan rohani kita sedang sakit atau sehat. Saran dari hasil soul check ini membuat kita sadar di mana kita, apa yang sudah saya lakukan, dan bagaimana seharusnya yang kita lakukan agar bisa sampai kepada tujuan. Sesudah itu, buatlah komitmen dan susunlah langkah-langkah yang akan dilakukan dan cobalah untuk melakukannya mulai dari yang terkecil terlebih dahulu. Rohani yang sehat maka dengan sendirinya, kita akan beroleh hikmat Tuhan yang sangat berguna dalam kehidupan kita. Dengan rohani yang sehat dan penuh hikmat Tuhan, kita dapat membangun hubungan dengan “yang lain”, yaitu sesama bahkan siapa saja. Di sisi lain, kita pun dapat menemukan siapa diri kita dan semakin orang mengenal dirinya maka dia pun akan mengenal tujuan hidupnya.

(Pdt. Rudi SM Pardede)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s