Arsip Kategori: Ibadah Harian

TUHAN GEMBALA YANG BAIK


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-139:1 Sada siparmahan i
Sada siparmahan i, sapunguan dorbiaNa
Di na jumpang HataNa , longang situtu rohanta. Sai haposi Jesus i, ingkon saut HataNa i.

PEMBACAAN FIRMAN
Wahyu 6:9-7:8 (Pagi) Mikha4:1-5 (Malam)

RENUNGAN HARIAN, Rabu 6 Desember 2017
Yehezkiel 34:22
“Maka Aku akan menolong domba-domba-Ku, supaya mereka jangan lagi menjadi mangsa dan Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba”

TUHAN GEMBALA YANG BAIK
Alkitab mencatat bahwa kepemimpinan bangsa Israel silih berganti. Tidak sedikit di antara pemimpin bangsa Israel yang memberontak kepada TUHAN. Pemimpin tidak membawa sejahtera dan rasa aman di masyarakat, membawa bangsa Israel untuk beribadah kepada allah-allah lain. TUHAN berulang kali menghukum mereka karena tidak setia kepada-Nya, tetapi beberapa pemimpin yang kemudian juga melakukan kesalahan yang sama.

Pada dasarnya, kita dapat digolongkan sebagai gembala sekaligus sebagai domba. Gembala (pemimpin), yaitu pemimpin jemaat, seperti Pendeta atau Penatua. Mereka bertanggungjawab keberlangsungan hidup jemaat yang dipimpinnya. Pemimpin tidak boleh membiarkan jemaatnya tercerai berai (terpecah), apalagi menjadi sumber perpecahan. Mereka harus memimpin dengan hikmat TUHAN sehingga bertindak adil, membawa rasa aman, menolong dan menjadi teladan bagi jemaat yang dipimpinya. Lebih utama lagi, pemimpin harus membawa jemaat semakin taat dan setia kepada TUHAN. Domba, yaitu: jemaat. Kita diingatkan untuk saling menolong dan saling memperhatikan, namun tidak jarang di dalam jemaat terdapat sifat dan sikap saling menyakiti, menyingkirkan dan melemahkan. Sehingga hari ini kita diajak sebagai gembala atau domba untuk menjaga keutuhan hidup sebagai umat TUHAN, yang menjadi pertanggunganjawaban kita kepada TUHAN. Apakah kita sudah melakukan bagian dan tanggung jawab kita sebagaimana seharusnya di hadapan-Nya? Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-283:1 Gembalaku Tuhan
Gembalaku Tuhan! Domba-Nya senang: Di rumput yang subur kenyang ‘ku tertidur. Dibimbing-Nya ke air tenang

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin, Amin, Amin.

MENYAKSIKAN SANG TERANG


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-43:1 Padiri Rohamuna
Padiri rohamuna, hamu parroha i
Naung ro do tuamuna na pasaehon dosa i
Ro sian ginjang do, maningkir sidangolon
Nasa hajolmaon naeng buatonNa do

PEMBACAAN FIRMAN
Wahyu 7: 9–17 (Pagi) Mikha 4:6-13 (Malam)

RENUNGAN HARIAN, Selasa 5 Desember 2017
Yohanes 1: 6 – 8
“Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu”

MENYAKSIKAN SANG TERANG
Siapa yang tidak ingin disanjung, menjadi tenar dan terkenal? Yohanes punya kesempatan itu! Namun Kitab Suci tidak pernah mencatat Yohanes menggunakan kesempatan itu untuk kepentingannya sendiri. Ia sadar bahwa hidup dan kerjanya adalah untuk menyiapkan jalan bagi Sang Mesias, sebagai alat yang menunjuk kepada kebenaran yang hakiki, yakni Sang Terang yang sesungguhnya. Yohanes ingin agar orang melupakannya dan berharap semua manusia mengenal Mesias. Bahkan dalam kesempatannya menjadi tenar itu, ia berkata, “…di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang kamu tidak kenal…..Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak (ay. 26-27).” dia tidak dapat menyebutkan pekerjaan yang lebih kasar lagi dari pada membuka tali kasut dengan tujuan agar pendengar menyadari bahwa “Ada seseorang yang datang, yaitu Dia yang sangat mulia, sehingga menjadi budaknya saja pun tidak pantas.”

Yohanes sadar bahwa dirinya harus bertambah kecil dan Kristus semakin besar. Nas ini mengajak kita untuk bersedia “bertambah kecil” agar Tuhan dimuliakan, melalui kesaksian kita yang menceritakan bagaimana perbuatan Tuhan di dalam hidup kita. Meski banyak orang berusaha untuk melambungkan namanya tak terkecuali dalam pelayanan; alih-alih berfungsi sebagai jari yang menunjuk kepada Mesias, jari itu ditujukan pada diri sendiri. Namun dari kisah Yohanes mestinya kita menyadari bahwa yang terutama dalam kesaksian itu adalah orang melihat, mengenal dan mengarahkan diri bukan kepada si pemberita melainkan kepada yang ia beritakan, yakni Kristus itu sendiri, kiranya Kristus semakin dimuliakan dalam perbuatan kita. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-85:1 Kusongsong bagaimana
Kusongsong bagaimana, ya Yesus datang-Mu? Engkau terang buana, Kau surya hidupku! Kiranya Kau sendiri penyuluh jalanku. Supaya kuyakini tujuan janji-Mu.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin, Amin, Amin.

LANGIT DAN BUMI BARU


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-504:1 Ditogu Tuhan Jesus Au
Ditogu Tuhan Jesus au, ido na mangapuli au. Di ganup dalan nang tung maol tanganNa do tongtong huhaol. Ditogutogu Jesus au tanganNa sai maniop au. Tongotong ma siseanNa au, paima boi tu surgo lao.

PEMBACAAN FIRMAN
Wahyu 6:9-7:8 (Pagi) Mikha 4:1-5 (Malam)

RENUNGAN HARIAN, Senin 4 Desember 2017
Yesaya 65:17
“Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru ; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.

LANGIT DAN BUMI BARU
Ayat Renungan di atas merupakan bagian dari Jawaban Allah bagi orang saleh yang akan memperoleh keselamatan di akhir zaman. Suatu langit dan bumi yang baru yang untuk logika normal kita saat ini sangat sulit diterima akal dimana suasananya sangat berbeda sekali seperti serigala dan anak domba bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu, tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk. Suasana yang benar-benar damai dan bahagia. Dan yang pasti di langit dan bumi baru tersebut tidak akan ada lagi ingatan akan masa lalu, bahkan tidak timbul lagi dalam hati. Apapun yang terjadi dalam hidup kita baik senang maupun susah, sehat maupun sakit dan kaya maupun miskin kita harus tetap bersyukur kepada Tuhan yang maha kasih. Dan untuk mencoba merasakan suasana langit dan bumi baru tersebut, mampukah kita saat ini melupakan segala sakit hati dan benci serta dendam yang kita alami, mampukah kita melupakan segala kebaikan yang telah kita lakukan untuk sesama, mampukah kita memahami bahwa ketika kita mati maka tidak satupun harta yang kita miliki akan kita bawa, mampukah kita tabah menjalani penderitaan dan permasalahan hidup ini dengan tetap hidup benar seturut Firman Tuhan, mampukah kita berbagi dengan sesama tanpa merasa kehilangan sebagian yang kita miliki. Jika kita mampu maka berbahagialah kita saat ini, karena kita sudah bisa merasakan sebagian langit dan bumi baru tersebut. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-446:4 Setialah
Setialah kepada Yang Menang, meski maut kautempuh. Setialah sehabis berperang terima upahmu: mahkota hidup diberi-Nya, kaumasuk dalam t’rang ceria setialah!

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin, Amin, Amin.

RENDAH HATI


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-227:2- JESUS NGOLU NI TONDINGKU
Lam tangkas ma patuduhon tu au on panghophopMi. Asa i huhalungunhon, hot ma au di lambungMi

PEMBACAAN FIRMAN
Wahyu 4:9-5:10 (Pagi) Zakharia 14:1-9 (Malam)

RENUNGAN HARIAN, Jumat 01 Desember 2017
Amsal 16.18
“Kecongkakan mendahului kehancur-an, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.”

RENDAH HATI
“Takut akan Tuhan” adalah inti sari pengajaran yang diberikan oleh Raja Salomo di dalam kitab Amsal. Salah satu bentuk rasa “Takut akan Tuhan” adalah kerendahan hati. Ada beberapa hal positif yang dihasilkan oleh kerendahan hati, yaitu: menghargai segala sesuatu yang diberikan Tuhan di dalam hidupnya, disiplin dalam waktu dan pekerjaan, menerima pendapat orang lain. Kerendahan hati mampu menjadikan orang sukses, karena kerendahan hati memunculkan rasa yang mau belajar dari setiap keadaan. Sedangkan kecongkakan dan tinggi hati akan menjadikan seseorang tidak mampu untuk belajar dan pada akhirnya tidak berkembang.

Apa yang menjadikan seseorang menjadi congkak atau tinggi hati? Sebenarnya bukan karena harta, pengetahuan, kecantikan yang dimilikinya namun semata-mata hanya karena dia sudah lupa Tuhan. Lupa dari mana asal berkat yang diterima di dalam hidupnya. Lupa bahwa apa yang dimilikinya adalah fana, dan itulah yang menjadi awal kehancuran. Dengan demikian congkak atau tinggi hati adalah bukti bahwa seseorang tidak takut akan Tuhan, dan itu juga kekejian bagi Tuhan (ay.5) sehingga Tuhan sendiri yang akan merendahkan orang itu (Mat.23:12). Saudara marilah kita melihat bahwa setiap manusia lahir tanpa membawa apa-apa ke dunia ini, dan mati juga tidak akan membawa apa-apa; sehingga tidak ada yang kita miliki yang menjadikan kita congkak atau tinggi hati. Bagaimana pun kekayaan kita, kepintaran, atau kecantikan yang kita miliki jadikanlah itu untuk memuji Tuhan, bukan untuk memuji diri sendiri dengan membangga-banggakannya dalam kehidupan. Selamat berkarya. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-393:1- TUHAN, BETAPA BANYAKNYA
Setiap hari rahmat-Mu, tiada putusnya:
Hendak kupuji nama-Mu tetap selamanya
T’rima kasih ya, Tuhanku atas keselamatanku!
Padaku telah Kau beri hidup bahagia abadi!

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

KETAATAN MARIA


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-581: 1 Sangap Di Jahowa
Sangap di Jahowa na sun timbul i, Balga ni holongNa ndang tarasam i, Di lehon Anak-Na na sasada i, manobus hita jolma pardosa i. Puji ma Debata ale manisia, Las roham las roham somba ma Debata. Dapothon Jahowa na sun timbul i, Marhite Anak-Na Tuhan Jesus i.

PEMBACAAN FIRMAN
Wahyu 3: 19-4:8 (Pagi) Zakaria 13:1-9(Malam)

RENUNGAN HARIAN, Kamis 30 Nopember 2017
Lukas 1.28
Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.

KETAATAN MARIA
Kadang-kadang tugas yang dipercayakan Tuhan kepada kita terasa berat dan tidak menyenangkan sehingga kita suka mencari cara dan alasan untuk ‘meninggalkannya dengan diam-diam.’ Apakah orang yang benar-benar beriman boleh melarikan diri dari tugas yang sudah dipercayakan kepadanya? Tidak. Mereka adalah orang yang taat dan selalu terbuka terhadap kehendak Tuhan. Maria dengan taat dan penuh iman menerima tugas yang dipercayakan Allah kepadanya untuk mengandung, melahirkan dan menjadi ibu Yesus.

Allah telah merencanakan semuanya sejak semula. Allah telah mempersiapkan Maria sejak kelahirannya, di mana ia dikandung dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang takut akan Allah, sehingga pada saatnya Allah menyatakan kehendak-Nya melalui Malaikat Gabriel. Pemberitahuan malaikat bahwa ia akan melahirkan seorang anak laki-laki tentu saja membuatnya terkejut. Bagaimana mungkin melahirkan tanpa bersuami? Akan tetapi, tidak ada yang mustahil bagi Allah. Bila ia dipilih untuk melahirkan Mesias, itu merupakan kasih karunia Allah (ay. 28, 30). Maka meskipun peristiwa ini dapat menjatuhkan nama baiknya sebagai seorang gadis, tidak ada bantahan terlontar dari bibirnya. Maria dengan penuh iman menyatakan, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk. 1:38). Yang terucap adalah kalimat kepatuhan agar rencana Allah digenapi melalui dirinya. Ketaatan ini muncul karena kesadaran bahwa dirinya adalah hamba Tuhan. Kepatuhan dan keterbukaan Maria pada kehendak Allah menjadi teladan bagi kita. Namun bukan berarti bahwa ia harus diagungkan melebihi manusia lain dan disamakan seperti Tuhan. Ketaatan Maria menjadi pintu keselamatan manusia, melalui kelahiran Kristus, untuk itu marilah kita mencari kehendak Allah dalam hidup kita. Amin.

BERDOA

BERNYANYI – KJ-5 :1 – Tuhan Allah Nama-Mu
Tuhan Allah nama-Mu, kami puji dan masyhurkan; Isi dunia sujud, di hadapan-Mu ya Tuhan! Bala sorga menyembah. Dikau khalik semesta!

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

AKU MAU DIAM BERSAMAMU


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-10:4 Hupuji, Hupasangap Ho
Tongtong pasangaponku Ho saleleng au mangolu; Paratarataonku do barita ni goarMu. Pamatang dohot tondingki ingkon mamuji sangapMi. Pinuji ma goarMu.

PEMBACAAN FIRMAN
Wahyu 3: 7-18 (Pagi) Yehez. 34: 17-31 (Malam)

RENUNGAN HARIAN, Rabu 29 Nopember 2017
Yeremia 7.3
Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah lang-kahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini.

AKU MAU DIAM BERSAMAMU
Di masa Nabi Yeremia, bangsa Yehuda mempunyai kehidupan dua sisi yang bertolak belakang. Sisi pertama adalah hidup yang senantiasa beribadah. Sisi yang kedua adalah praktik hidup curang yang tidak adil, penindasan pada orang asing/anak yatim/janda bahkan kegiatan penyembahan berhala (Yer.7:3;5-10). Kegiatan beribadah di bait Allah berjalan rutin dalam sukacita, namun dalam keseharian umat hidup bebas mengikuti kehendak hatinya sendiri. Gaya hidup angkuh dan perbuatan tidak bermoral menjadi pemandangan sehari hari. Lewat ibadah, para Pelayan Tuhan memberi kekuatan dan penghiburan sehingga umat merasa terhibur dan bersukacita. Diluarnya umat terlihat bahagia dan baik-baik saja tapi dalam batinnya mereka tertekan dan menderita. Lambat laun arus hidup duniawi menyeret mereka sehinga tersesat dan semakin jauh dari Allah.Bahkan Allah, enggan hadir dalam ritual ibadah yang mereka selenggarakan.

Di kehidupan modern yang cepat dan serba gemerlap saat ini mungkin kitapun telah terjebak dalam hidup bergereja yang saleh dan kesehariannya kita hanya memikirkan keuntungan sendiri, tidak perduli orang lain bahkan melakukan apa-apa yang jahat pada sesama atau berlaku kompromi dengan praktek berhala. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita, bahwa Allah hanya berkenan dan mau hadir diam dalam sebuah Ibadah yang di selenggarakan oleh umat yang mempraktekan hidup yang adil dan berlaku kasih pada sesama. Kekudusan umatNya bukan hanya di ibadah tapi juga ditandai perbuatan adil dan kasih pada sesama. Mengasihi Allah, hidup berkeadilan dan tolong menolong adalah sikap dan perbuatan yang Tuhan inginkan dari tiap kita. Kiranya Tuhan senantiasa memberkati dan menguduskan Ibadah kita. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-406:1 – Ya Tuhan bimbing aku
Ya Tuhan bimbing aku di jalanku, sehingga ‘ku selalu bersama-Mu. Engganlah ‘ku melangkah setapak pun, ‘pabila Kau tak ada di sampingku.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

KEMERDEKAAN YANG SEJATI


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-462:1 Ale Tondi Parbadia
Ale Tondi Parbadia sai songgopi hami on. Rohanami ma paria lao mamuji Ho tongtong. Ho tongtong, Ho tongtong, lao mamuji Ho tongtong.

PEMBACAAN FIRMAN
Why. 2: 24-3:6 (Pagi) Yeh. 34: 11-16 (Malam)

RENUNGAN HARIAN, Selasa 28 Nopember 2017
Roma 6.18
Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.

KEMERDEKAAN YANG SEJATI
Pengertian kata ‘Merdeka’ identik dengan kebebasan. Akan tetapi kebebasan yang tidak disertai dengan tanggung jawab justru tidak baik. Kita yang telah lahir baru pasti telah mengalami kemerdekaan dari perhambaan dosa. Akal budi kita telah dibaharui oleh Roh Kudus. Dari yang tadinya berpikir dan berkehendak hanya untuk kesenangan daging, sekarang kita mengerti perbuatan sia-sia tersebut justru akan mendatangkan malapetaka. Kesadaran akan akibat dosa mendatangkan maut, telah membawa kita untuk menaklukkan diri kepada kebenaran.
Sebagian orang mungkin alergi dengan istilah ‘hamba’ meski terhadap kebenaran.. Sekalipun kita adalah hamba kebenaran, sesungguhnya tidaklah menawan kemerdekaan kita. Kemerdekaan kita dapat dibuktikan dengan kehendak bebas yang ada pada kita. Walau seharusnya kita tunduk dan taat untuk melakukan kebenaran, bukankah kita masih sanggup melawannya dengan berbuat sesuka hati kita. Sangat berbeda ketika kita masih hidup dalam belenggu dosa. Saat itu kehendak bebas kita tertawan sehingga kita buta akan kebenaran.

Hari ini, sebagai orang-orang yang telah mengalami kemerdekaan dari dosa, sebagai orang-orang yang telah lahir baru, pergunakan kemerdekaan hidup kita dengan bertanggung jawab. Sudah tentu, untuk menjadi hamba kebenaran bukanlah instan. Bukanlah sesuatu yang sekali dilakukan langsung jadi. Ini merupakan proses seumur hidup. Ada jatuh bangun, ada air mata, ada kesusahan, juga ada kejenuhan. Tetapi bila kita terus melangkah maju bersama dengan Tuhan, pada akhirnya kita akan menjadi hamba kebenaran yang berkenan di hati Tuhan. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-355:1 Yesus Memanggil
Yesus memanggil, ”Mari seg’ra!” Ikutlah jalan s’lamat baka; jangan sesat, dengar sabda-Nya, ”Hai marilah seg’ra!” Sungguh nanti kita ’kan senang, bebas dosa, hati pun ten’tram; bersama Yesus dalam terang di rumah yang kekal.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin