Sukacita Dalam Tuhan


BERNYANYI BE 115:1. “Tuhan Debata”
Tuhan Debata sai ramoti ma Daging dohot tondinami, ido pangidoannami Sai pahipas be, hami on sude

PEMBACAAN FIRMAN
Pagi: Daniel 2:1-19
Malam: Matius 2:1-12

RENUNGAN
Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram. Mazmur 16:9

Sukacita Dalam Tuhan
Ada banyak alasan seseorang untuk bersukacita dalam hidupnya, misalnya di saat mendapatkan keberuntungan, saat mendapat promosi jabatan, saat memperoleh pekerjaan, saat menikah dengan orang yang dicintai, saat memiliki uang banyak, saat lulus ujian, saat memperoleh kejuaraan, saat panen dengan hasil melimpah, saat gajian, saat liburan dan lain-lain. Bersukacita hanya pada saat memperoleh kebahagiaan, merupakan hal yang biasa kita lakukan dan sukacita yang demikian sifatnya sesaat, kesenangan sesaat yang tidak bertahan lama dan pada akhirnya hanya mampu memuaskan secara sementara. Namun bersukacita dalam segala situasi, hal yang sangat sulit dilakukan, karena bagaimana kita dapat bersukacita jika kita sedang dalam menghadapi pergumulan dan masalah-masalah?

Mazmur hari ini mengajarkan dan menggambarkan dengan jelas bahwa Daud mampu bersukacita dalam situasi apapun, dalam masa kelam maupun dalam masa senang. Di saat dia mengalami pergumulan yang berat karena pengkhianatan dari teman dan orang-orang terdekatnya, saat pedih dengan ancaman dari musuh-musuhnya, Daud tidak memilih untuk mengeluh dan berputus asa. Daud memiliki cara sendiri untuk tetap bersyukur kepada Tuhan karena Daud yakin bahwa Tuhanlah sebagai penyelamat dan penjaganya yang selalu bersamanya di tengah-tengah pasang surut kehidupan yang ia jalani. Itulah sukacita yang sejati yang melimpah yang dialami Daud yang tidak tergantung pada situasi dan kondisi. Bagaimana dengan kita? Bagaimanapun keadaan kita hari ini sekalipun kita harus berhadapan dengan pergumulan yang berat, tetaplah bersukacita di dalam Tuhan karena Dia selalu bersama sama kita dan menjaga kita serta memberikan kebahagiaan sempurna bagi kita. Kasih setia Tuhan tidak habis habisnya dan rahmat-Nya selalu baru untuk kita. Serahkanlah kehidupanmu hanya kepada Dia, karena Ia yang memelihara kita.

BERDOA

BERNYANYI KJ-40:2 – Ajaib benar Anugerah
Ketika insaf ‘ku cemas. Sekarang ‘ku lega
Syukur bebanku t’lah lepas, berkat anugerah.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Cinta Kasih di Hati Manusia


Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena. Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon. Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya. Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.

Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel. Maka Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.

Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan. Simon ketakutan, “Siapakah dia? Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja”. Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.

Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata,
“Hai Simon, tidak malukah kau? Kau punya mantel meskipun sudah berlubang-lubang, sedangkan orang itu telanjang. Pantaskah orang meninggalkan sesamanya begitu saja?”

Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel baru dan membawa seorang pria asing.
“Simon, siapa ini? Mana mantel barunya?” Simon mencoba menyabarkan Matrena,
“Sabar, Matrena…. dengar dulu penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang”.
“Bohong!! Aku tak percaya….sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!! Usir saja dia!!”
“Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?” Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat.
“Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?”

Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya.
“Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini.”
“Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu”, demikian Simon menjawab.
“Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur.”
“Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja”.

Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya.
“Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu? Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?” Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon. Simon menjawab,
“Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia”.

Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.

Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini. Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.

Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam.
“Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dip enjarakan!! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!”
Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum. Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu. Simon berkata,
“Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara.”

Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon.
“Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar? Celaka, kita bisa masuk penjara karena….” Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya.
“Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja”.
“Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon”, Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.

Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.

Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu. Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu,
“Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?” Ibu itu menjelaskan, “Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri.”

“Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya”, kata Matrena. Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya. Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata,
“Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit.” Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut,
“Nanti dulu Mikhail, tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?”

Mikhail menjawab sambil terus tersenyum,
“Sebenarnya aku adalah adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, “Mikhail, turunlah ke bumi dan pelajarilah ketiga kebenaran ini hingga kau mengerti:
Pertama, Apakah yang hidup dalam hati manusia?
Kedua, Apa yang tidak diijinkan pada manusia?
Ketiga, Apa yang paling diperlukan manusia?”

“Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu. Tapi Simon berkata, “Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?” Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama:
“YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH”
“Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua:
“MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN”
“Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan aku melihat si kembar dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga:
“MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA.”

Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup.” Mikhail kembali ke surga.

Yesus Sumber Kehidupan


BERNYANYI BE-826:2 Gohi au Tuhan
Gohi au Tuhan marhite HataMi
Gohi au Tuhan marhite HataMi
Na mauas do tondingku O Tuhan di HataMi. Gohi au Tuhan marhite HataMi.

PEMBACAAN FIRMAN
Pagi: Efesus 3:1-12
Malam: Yesaya 60:1-6

RENUNGAN
Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Kolose 1:16

Yesus Sumber Kehidupan
Manusia hidup di dalam realitas yang kelihatan dan tidak kelihatan, yang natural dan supernatural. Dalam suatu perjalanan di atas sebuah perahu untuk melihat ikan paus di lepas pantai. Seekor paus biasanya beristirahat sebentar di permukaan laut, mengambil napas dalam-dalam untuk beberapa kali, lalu mengeluarkan hembusan napas yang menciptakan semburan yang menakjubkan, kemudian menyelam kembali ke dalam lautan untuk memangsa cumi-cumi. Meski memiliki habitatnya sendiri yang penuh dengan tumbuhan dalam air dan makhluk laut, paus harus muncul ke permukaan laut untuk menghirup oksigen dari waktu ke waktu atau ia akan mati. Meskipun paus tidak tahu banyak tentang dunia di atas laut, ia perlu terus berhubungan dengan dunia itu agar dapat bertahan hidup.

Allah yang menciptakan dunia yang kelihatan ini selalu aktif menopang ciptaan-Nya dan membuka jalan bagi kita untuk menghampiri Dia yang tidak kelihatan. Paulus menulis, “Kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya” (Kol. 1:21-22). Firman Allah mengatakan kepada kita bahwa segala sesuatu diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus. Dan jika segala sesuatu diciptakan bagi-Nya, maka itu berarti bahwa Yesus berada di tengah-tengah itu semua! Sebagai orang percaya, penting bagi kita kemudian untuk membuat Yesus Pusat dalam setiap bidang kehidupan kita. Hidup menjadi penuh dengan rasa tujuan yg dalam dan hidup menjadi mudah karena mengalir bersama Kristus. Berdoalah bahwa Yesus menjadi pusat dalam kehidupan keluarga kita. Amin.

BERDOA

BERNYANYI – KJ-467:1 Tuhanku bila hati Kawanku
Tuhanku bila hati kawanku, terluka oleh tingkah ujarku,
dan kehendakku jadi panduku, ampunilah.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Doa Memohon Belas Kasihan


BERNYANYI BE. 369:1. O’ Jesus Panondang
Na marhahaanggi, hita sasude. Ndang mardia imbar manang ise pe. Asing be hatanta, nang luat ta pe. Sada do Amanta i taingot be.

PEMBACAAN FIRMAN
Pagi: Yeremia 31:7-14
Malam: Yohanes 1:10-18

RENUNGAN
Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami. Mazmur 90:14

Doa Memohon Belas Kasihan
Merill Douglas mengatakan perihal hidup: “Anda tidak bisa membelinya, menyewakannya, menyimpannya, membuatnya atau menabungnya. Anda hanya bisa menghabiskannya.” Pemazmur menyaksikan bahwa hidup manusia di dunia ini terasa singkat dan pendek, dibandingkan dengan sesudah kematian yang sifatnya kekal. Dalam doanya, Pemazmur memohon belas kasihan Allah supaya diberi pemahaman yang memadai tentang singkatnya hidup ini, supaya kita mempersembahkan hati yang bijaksana kepada Tuhan dalam memanfaatkan setiap hari yang diberikannya kepada kita.

Pemazmur menyadari bahwa keselamatan hanya ada pada Allah. Tuhanlah yang membuat keputusan dan keputusannya mutlak. Maka, Pemazmur memohon supaya murka Tuhan disingkirkan dari mereka dan kiranya Tuhan mau berbalik dengan bermurah hati dan berbelas kasih, sehingga mereka beroleh keselamatan yang menjadi suka cita dan penghiburan. Kita memang tidak layak untuk menerima pertolongan ilahi, tetapi kita tidak mampu melaksanakan apapun tanpa pertolongan-Nya.

Waktu adalah anugerah Tuhan kepada manusia. Kita hendaknya menerima dan mensyukuri setiap detik yang diberikan-Nya, sebagai suatu mujizat, yang tidak dapat diulangi. Ketika waktu kita di dunia ini sudah habis Tuhan akan menilai hidup kita. Pergunakanlah waktu yang diberikan Tuhan dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh hidup yang kekal, janganlah kita menggunakan hidup yang singkat ini hanya untuk memperoleh kesenangan duniawi. Mohonlah belas kasihan Tuhan supaya diberi hati yang bijaksana sehingga setiap detik yang diberikan dapat kita nikmati sebagai anugerah dan tanda kesetiaan kepada kita. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-419:1 “Yesus Pimpinlah”
Yesus pimpinlah kami s’lamanya
Hanya di Kau kami ikut, di sepanjang jalan hidup
Tuntun umatMu, masuk rumah-Mu.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Hidup ini Pemberian Tuhan


BERNYANYI BE 66:1 Debata Baen Donganmi
Debata baen donganmi. Lao mangula ulaonmu. Baen Ibana haposanmu. Sai paserep rohami. Debata baen dongami. Debata baen donganmi.

PEMBACAAN FIRMAN
Pagi: Lukas 8:16-21
Malam: Ayub 42:10-17

RENUNGAN
Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya. Efesus 3:7

Hidup ini Pemberian Tuhan
Selamat Tahun Baru bagi kita semua. Biarlah tahun baru ini, membawa hati dan pikiran yang baru, semangat, dan harapan yang baru dalam kehidupan kita. kita bersyukur atas penyertaan Tuhan selama tahun 2018, walau ada pergumulan yang kita alami. Untuk menjalani tahun baru 2019, kita harus yakin kepada Tuhan. Untuk menguatkan kita menjalani tahun ini, kita perlu belajar dari pengalaman hidup rasul Paulus. Dalam pelayanan dan perjalanan hidupnya ia tetap berpegang teguh kepada Tuhan sekalipun ia harus menderita. Ia telah melupakan masa lalunya, sebelum bertobat ia pernah mengejar, menyiksa bahkan membunuh orang yang percaya kepada Yesus. Tetapi setelah ia bertobat dan mengalami hidup baru ia mengakui segala dosa-dosanya (Kisah 9:1-10). Pertobatan dan hidup baru yang dialami Paulus bukanlah karena kebaikan atau jasanya, tetapi semuanya hanya karena kuasa pemberian kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepadanya, sehingga Paulus bersyukur atas kasih anugrah itu, dan menjadikan dia seorang rasul sebagai penginjil dan pemberita firman Tuhan bagi semua orang. Paulus berkata bahwa anugrah Allah yang cuma-cuma itu telah menjadikan dia seorang pelayan. Karena itulah bagi kita orang percaya dalam menjalani hidup kita di tahun ini, janganlah kita sesekali mengandalkan akan kuasa, pengetahuan, kepintaran, pikiran, jabatan yang kita miliki, tetapi marilah kita selalu mengandalkan akan kuasa Allah, menyerahkan diri kepada Allah, terutama dalam menjalani hidup kita di tahun ini, marilah kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, karena hidup kita ini adalah pemberian kasih karunia Allah. Amen.

BERDOA

BERNYANYI KJ No. 363:1 Bagi Yesus Kuserahkan
Bagi Yesus kuserahkan, hidupku seluruhnya
Hati dan perbuatanku, pun waktuku milik-Nya
Bagi Yesus semuanya, pun waktuku milik-Nya
Bagi Yesus semuanya, pun waktuku milik-Nya

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Tahun Baru


Tahukah kita bahwa tahun baru dimulai pada hari ke delapan terhitung dari 25 Desember sebagai Natal hari Pertama. Setiap tahunnya kita akan merasakan suasana tema yang sama sekalipun topik yang dibicarakan akan berbeda-beda. Karena itu, setiap tahun akan ditutup pada Natal hari ke tujuh, hal ini mengingatkan kita kepada angka kesempurnaan yaitu “7” sesuai dengan penuturan Alkitab (secara khusus Kejadian pada penciptaan dan wahyu yang menggunakan angka tujuh). Hari ke delapan adalah hari baru, dimana awal hari dimulai kembali. Melalui gambaran ini, sesungguhnya Tahun Liturgi telah menuntun kita kepada ucapan syukur yang begitu besar, bahwa tahun sebelumnya kita telah disempurnakan oleh Allah, baik secara hidup maupun rohani. Maka kita telah siap untuk melangkah pada hari yang baru, bahkan tahun yang baru.

Perjanjian baru sendiri menekankan bahwa anak yang baru lahir harus disunat pada hari yang ke delapan. Sesuai dengan tradisi Yahudi (bnd. Lukas 2:21 dan Filipi 3:5). Ini adalah pembersihan diri dan penetapan sebagai umat percaya pada perjanjian lama. Karena itu pada “Tahun Baru” kita diingatkan kembali sebagai umat Allah yang telah ditetapkan dan memutuskan hubungan dengan keduniawian. Seperti tahun yang lama telah berakhir, demikian juga kehidupan lama akan berakhir, maka perjuangan pada kehidupan yang beru telah dimulai. Menarik jika pada natal hari ke delapan ini diwarnai dengan tema “delapan ASI (Air Susu Ibu) sebagai gambaran permulaan kehidupan. Gambaran ini juga Nampak pada Gorga Batak, delapan ASI yang berhadapan dengan “Dua Boras Pati”.

TUNTUTAN TUHAN PADAKU


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-68:1 Masilelean Angka Taon
Marsilelean angka taon, ro di ujung na sogot.
O Jesus lehon parrohaon, na naeng tongtong marningot
Dihalalao ni aringki, huhut manimbang ujung ni.

PEMBACAAN FIRMAN
Gal. 3:15-18 (Pagi)
Why. 3:20-22 (Malam)

RENUNGAN
Yohanes 12:48
Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.

TUNTUTAN TUHAN PADAKU
Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia akan datang untuk keduakalinya dengan memberikan penghakiman. Dia akan menghakimi perbuatan yang kita lakukan kepadaTuhan, sesama dan diri sendiri. Dia tahu apa yang ada di dalam hati, jiwa dan akal budi kita. Tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan semuanya terang benderang.

Tuhan Yesus mengajak kita semua untuk bisa menikmati kehidupan yang kekal. Syarat yang diminta adalah mengikuti dan melakukan apa yang yang diperintahkan-Nya. Kita ambil saja yang mudah, namun sebenarnya sulit yaitu hukum kasih. Mengasihi Allah yang tidak kelihatan melalui mengasihi sesama yang kasat mata. Mungkin kita masing-masing bisa menjabarkan sendiri menurut kemampuan kita. Mengasihi tanpa syarat dan embel-embel, tidak menghitung untung dan ruginya, mengasihi bukan karena kewajiban namun kebutuhan hidup rohani kita.

Nas ini sungguh-sungguh ingin mengingatkan kita bahwa ada masa akhir zaman itu pasti akan datang dan kita semua akan mendapat pengadilan dari-Nya. Setiap orang akan mempertanggungjawabkan semua yang telah diperbuatnya selama dia hidup di dunia ini. Barangsiapa yang percaya kepada Tuhan maka dia termasuk pada kelompok yang menerima Yesus. Sebaliknya, mereka yang berbuat dosa tanpa mau bertobat maka mereka termasuk kelompok yang menolak Yesus. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-110:1 Di Betlehem T’lah Lahir Seorang Putera
Di Betlehem t’lah lahir, seorang Putera
Semoga ‘ku menjadi, abadi milik-Nya
Sungguh, sungguh, abadi milik-Nya.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin