Arsip Kategori: Ibadah Minggu

LITURGI HKBP: “Berita dari Surga”


Bahagian ini adalah bahagian Allah yang kedua. Berita sukacita yang disampaikan melalui Khotbah adalah bentuk berita dari Surga. Itu sebabnya mimbar khotbah jauh lebih tinggi dibanding dengan mimbar warta jemaat. Khotbah di mulai dengan “salam dari mimbar”. Kalimat “damai sejahtera Allah yang melampaui akal, itulah yang memelihara hati dan pikiranmu, di dalam Kristus Yesus Tuhan kita” (Filipi 4:7) bukanlah sebuah doa yang disampaikan, tetapi sebuah salam yang menjiwai seluruh pemberitaan. Dikatakan “melampaui akal”, itu berarti bahwa pemberitaan yang dinyatakan jangan dicerna dengan menggunakan logika, sebab karya Allah diluar dari logika manusia, dan sering tidak masuk akal.

Pemberitaan Firman Allah ini dilanjutkan dengan respon jemaat dalam pengumpulan persembahan. Hal ini menunjukkan bahwa firman yang diterima bukan hanya untuk didengarkan saja, tetapi dilanjutkan dengan perbuatan nyata yaitu memberikan persembahan kepada Allah. Bukan mengenai uang yang dikumpulkan tetapi jauh lebih dari itu, artinya jemaat benar-benar membuka diri untuk membantu serta mengupayakan pemberitaan Injil kepada segala makhluk. Tugas yang terutama orang percaya adalah membantu pelayanan pengabaran Injil, sebab hal itu dinyatakan langsung oleh Yesus Kristus. Matius 28:19 berkata: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”.

LITURGI HKBP: “Warta Jemaat”


Bahagian ini adalah dimulainya bahagian manusia. Pada bahagian inilah hendaknya seluruh Koor yang ada dapat diperdengarkan. Dalam bahagian ini juga diperdengarkan suara rajani serta suara pelayanan diakonia di dalam koinonia dan Marturia. Dengan mendengarkan warta jemaat, kita di ajak untuk membuka mata kita tentang realitas kehidupan orang beriman. Kehidupan persekutuan tersebut hendaknya dilanjutkan ke dalam kehidupan sosial yang sesungguhnya. Sebab tanggung jawab orang beriman bukan hanya di dalam Gereja saja, tetapi harus diwujudnyatakan melalui sikap dalam lingkungan masing-masing. Yeremia 29:7 berkata: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”. Dengan memahami hal ini kita tentunya memahami, bahwa apa yang diwartakan bukan hanya untuk didengarkan saja, tetapi untuk dilanjutkan melalui pelayanan sosial dari tengah-tengah gereja kepada kehidupan realitas.

Pengumpulan persembahan setelah warta jemaat ini adalah bentuk pelayanan nyata atas berita yang disampaikan dalam warta jemaat. Banyak yang tidak memahami, bahwa ternyata pengumpulan persembahan (dua kantong) setelah warta ini adalah benar-benar theologi. Bukan mengenai uang yang dikumpulkan tetapi jauh lebih dari itu, artinya jemaat benar-benar membuka diri untuk membantu serta mengupayakan kesejahteraan yang dinyatakan dalam Yeremia 29:7.

LITURGI HKBP: “Kredo”


Pada poin kelima dalam Liturgi HKBP adalah Pengakuan Iman. Pengakuan iman ini biasa disebut dengan Credo, atau Konfessi atau Syahadat Para Rasul. Umumnya HKBP selalu menggunakan Credo Apostolik dalam setiap ibadahnya, terutama dalam ibadah Minggu. Namun perlu diketahui bahwa HKBP sendiri mengakui 3 credo yang berbeda. Yaitu Pengakuan Apostolik, Pengakuan Nicea Konstantinopel dan Pengakuan Athanisianus. Ketiga hal ini tertulis dalam buku Konfessi HKBP, dan ketiga pengakuan itu semuanya menjiwai seluruh isi dari konfessi HKBP.

Credo ini adalah puncak dari bahagian Allah yang pertama, yang dimulai dari Votum sampai dengan Pengakuan Iman (Credo) ini. Itu sebabnya seluruh poin-poin dalam bahagian Allah yang pertama ini adalah satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisah. Credo itu sendiri adalah respon jemaat terhadap semua karya Allah yang telah dinyatakan mulai dari Votum sampai Epistel sebagai petunjuk hidup baru. Seluruhnya di sambut jemaat dalam ketetapan proclame, hal ini menunjukkan bahwa seluruh jemaat akan berbuat seperti yang telah ditetapkan Allah dalam ibadah tersebut, dengan tidak surut sedikit pun. Credo ini juga adalah itroit menuju kepada bahagian yang kedua, yaitu bahagian manusia. Dengan berakhirnya credo, maka saatnya untuk melihat apa dan bagaimana realita kehidupan beriman yang sesungguhnya melalui pewartaan.

LITURGI HKBP: “Epistel”


Pada poin keempat dalam Liturgi HKBP adalah Pembacaan Epistel. Pada walnya, nas yang diambil adalah dari surat-surat apostolik. Tetapi dikemudian hari, nas yang lain juga dapat masuk untuk dibacakan dalam Epistel. Tetapi satu hal yang pasti bahwa Epistel dalam Liturgi HKBP adalah sebuah petunjuk baru yang akan menyemangati serta menjiwai seluruh kehidupan jemaat. Dalam perkembangan saat ini ada tradisi yang membuat Epistel menjadi responsorial. Namun hal ini dirasa kurang tepat, sebab surat tidaklah mungkin dituliskan lebih dari satu. Namun sejauh jemaat mengetahui makna liturgi yang sebenarnya dalam epistle, maka tidak salah hal ini untuk dilakukan.

Dalam Epistel ada tiga hal yang perlu untuk diketahui, yaitu: 1. Pembacaan Epistel itu sendiri; 2. Ucapan berbahagia. Ucapan ini tidaklah tertulis dalam Alkitab, hanya saja jiwanya memang di ambil dari Alkitab. Ucapan berbahagia Yesus Kristus dalam khotbah di bukit, nampaknya bukanlah referensi yang dipakai untuk kalimat penutup Epistel ini, tetapi Mazmur 1 mungkin lebih tepat. Mazmur 1:1-2 berkata: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam”; 3. Respon jemaat mengenai Epistel sebagai petunjuk hidup baru dalam kehidupan beriman.

LITURGI HKBP: “Pengakuan Dosa”


Pada poin ketiga dalam Liturgi HKBP adalah Pengakuan Dosa. Pengakuan dosa ini adalah satu kesinambungan dengan Hukum Tuhan yang sebelumnya telah disuarakan. Itu artinya fungsi Hukum Tuhan adalah sebuah cermin untuk mengetahui kelemahan dan kelalaian kita. Maka respon kita adalah tunduk dan mengakui bahwa kita manusia berdosa.

Dalam Pengakuan Dosa, perlu untuk diketahui bahwa “Pengampunan dosa itu belum terjadi”, sekalipun telah disuarakan “Janji Allah akan keselamatan”, tetapi pengampunan dosa itu terjadi pada saat “Perjamuan Kudus” dilaksanakan. Itu sebabnya liturgi HKBP haruslah dilanjutkan dengan perjamuan kudus, namun hal ini jarang terjadi, sedikitnya 2 kali dalam setahun akan dilakukan Perjamuan Kudus. Ada 4 hal yang perlu diketahui dalam pengakuan dosa ini, yaitu: 1. Konfession yaitu pengakuan akan dosa dan kesalahan yang dilakukan, sebuah pernyataan dari jemaat kepada Allah; 2. Janji Allah akan keampunan dosa kita. Yaitu pernyataan Allah bahwa kemenangan itu akan diberikan kepada orang yang percaya, sekalipun belum dinyatakan, tetapi janji itu adalah sebuah kunci bahwa orang percaya akan dimenangkan; 3. Nyanyian Malaikat. Lukas 15:10 berkata: “Demikian juga aka nada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat”. Itulah sebabnya janji Allah itu ditutup dengan nyanyian malaikat; 4. Respon jemaat mengenai pengampunan dosa yang akan terjadi dalam diri orang percaya.

LITURGI HKBP: “Hukum Tuhan”


Pada poin kedua dalam Liturgi HKBP adalah Hukum Tuhan. Perlu di ketahui bahwa menyuarakan Hukum Tuhan dalam Ibadah HKBP bukan untuk menyatakan bahwa kita masih hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan hukum tersebut, namun Hukum Tuhan yang disuarakan adalah petunjuk kehidupan dalam sebuah keteraturan. Itu sebabnya bukan hanya 10 Titah Tuhan yang disuarakan disini, namun juga beberapa diambil dari Alkitab, Konfessi HKBP, RPP dan lain sebagainya.

Dalam Hukum Tuhan ada 3 hal yang perlu untuk diperhatikan, yaitu: 1. Suara isi dari Hukum Tuhan itu sendiri. Perlu dipahami dengan baik, pernyataan Hukum Tuhan dimulai dengan kalimat: “dengarkanlah Hukum Tuhan (Tangihon hamu ma Patik ni Debata)”. Bukan menyatakan bahwa Liturgis tidak ikut di dalamnya, tetapi justru pernyataan dari Allah “Shema Ho Israel (dengarlah hai Israel)”; 2. Doa memohon kekuatan. Ini adalah pernyataan bahwa kita manusia yang lemah yang tidak mampu hidup dalam kesempurnaan, tetapi kekuatan itu telah diberikan oleh Allah, sehingga kita dimampukan (awalan “di” yang menyatakan bahwa bukan kita yang mampu, tetapi Allah yang membuat kita mampu), untuk melakukan kehendakNya; 3. Nyanyian respon jemaat terhadap Hukum Tuhan yang telah disuarakan. Respon ini menunjukkan bahwa kita adalah manusia lemah yang seharusnya dihukum, tetapi kemurahan Tuhan diberikanNya kepada kita. Itu sebabnya Hukum Tuhan ini dilanjutkan dengan “pengakuan dosa”.

Tata Ibadah Arisan – Bahasa Batak


Disadur dari Buku Ibadah Harian, Edisi Juli – Agustus 2018

1. Marende BE No. 115:1+3. “Tuhan Debata”
Tuhan Debata, sai ramoti ma
Daging dohot tondinami, ido pangidoannami
Sai pahipas be, hami on sude
Sai parbadiai, sai tongtong rajai
Ale Tondi Parbadia, rohanami asa ria
Mangoloi hataM, hombar tu rohaM

2. Votum-Introitus-Tangiang. (L= Liturgis & R= Ruas)
L. Marhitehite goar ni Debata Ama dohot goar ni Anakna Tuhan Jesus Kristus dohot goar ni Tondi Parbadia natumompa langit dohot tano on,
R. Amen.
L. Marolopolop ma hamu, ale angka partigor, mangasahon Jahowa talup do marende angka unjur marroha. Marlas ni roha ma hamu, ale angka partigor dibagasan Jahowa, jala puji hamu ma goarNa na badia i.
R. Sai pujionku do angka pambahenan ni Jahowa, sai ingotonhu do halongangan angka na binahenNa i sian na robi.
L. Na denggan situtu do na mamuji Jahowa dohot mengendehon goarMu, ale na tumimbul. Mamaritahon asi ni rohaM manogotna i dohot hasintonganMi bornginnai.
R. Oloi hamu ma Jahowa marhitehite las ni roha, ro be ma hamu tu joloNa marhitehite olopolop. Ai pardenggan basa do Jahowa, ro disaleleng ni lelengna do asi ni rohaNa, jala marsundutsundut do hasintonganNa. Haleluya !
L. Martangiang ma hita. Mauliate dipasahat rohanami tu Ho Debata Amanani, ala asi dohot holong ni rohaM na mandongani jala mangaramoti daging dohot tondinami. Diloas Ho do hami marpungu jala marlas ni roha sadari on. Ale Tuhan, ramoti jala horasi ma hami saluhutna, sai tompa ma roha na ias jala na ringgas dibagasan rohanami be. Sai parrohai ma hami mamilangi ariari ni ngolunami asa dapotan roha bisuk hami. Jalo ma tangiangnami marhitehite Jesus Kristus Tuhannami. Amen.

3. Marende BE No. 194 : 2 “Aut so asi rohaM”
Mauliate ma di Ho, o Debata, ala basaM
Sibahen dalan i, marhite AnakMi, tu banuaM

4. Pujipujian ala asi ni roha ni Debata
L. Ale Debata, Amanami marhite Jesus Kristus Tuhannami, Hupuji hami ma goarMu nabadia i. Ala jumolo Ho manghaholongi hami. Balga nai panumpakMu, ale Tuhan, molo dilehon Ho bagas on gabe inganannami, hupangido hami ma tu Ho, pasupasu jala mian ma Ho ditongatonga ni bagas on, asa lam tu balgana holong ni rohanami laho mangihuthon Ho. Songon partubu ni hau dohot bunga na di topi ni sunge, songon i ma nian partubu ni holong ni pangisi ni bagas on.
R. Ale Debata parholong roha, mauliate ma di asi ni rohaM
L. Ale Debata, Ho do marsuru surusuruanMu tu undungundung ni si Abraham so pamotoanna, laho pasahat pasupasuM. Hupangido hami ma, paloas ma keluarganami saluhutna gabe keluarga sitiruon, na girgir mangalehon dohot mangurupi angka na hurangan, mangurupi na pogos jala na so marama so marina.
R. Ale Debata na gabe jolma, hupuji hami Ho ala dipatupa Ho do las ni roha di hami, sai lam tambai ma i di ngolunami be.
L. Huparhatopot hami do ale Debata, saluhutna do manumpak tu na denggan diangka na marholong roha di Ho. Ala ni i, sai baen ma rohanami gabe inganan ni Tondi Parbadia asa boi hami masihaholongan, marsisarion, jala inganan las ni roha.
R. Ale Debata parasiroha na sumurung, mian ma Ho di tongatonganami!
L. Huparhatopot hami do, ndang adong di son huta na hot dihami. Alai dipaloas Ho do hami mangingani bagas on paima sahat hami tu inganan na pinaradeM. Urupi ma hami laho mandok mauliate tu Ho. Asa hupelehon hami peleannami marhitehite ma mangaradoti ulaon lomo ni rohaM dibagas on.
R. Pujionnami ma Ho marsundut-sundut jala pajojoronnami ma saluhut denggan ni basaM.
L. Pasupasu ma hami saluhutna, ingani ma roha dohot pingkirannami, ala Anak haholongan ni rohaM, Tuhan Jesus Kristus Tuhannami.
L+R. Amen.

5. Tangiang Pangondianon

6. Marende BE No. 262:1. “Jahowa Tuhanki”
Jahowa Tuhanki, Ho mual ni na denggan
Sitompa sasude, silehon hangoluan
Sai lehon ma di au, pamatang na hipas
Maringan ma di au, baen roha na ias

7. Jamita:

8. Marende BE No. 581:1– “Sangap Di Jahowa” (P. Pelean)
Sangap di Jahowa na Sun timbul i, Balga ni holongNa ndang tarasam i,
Di lehon AnakNa na sasada i, manobus hita jolma pardosa i
Puji ma Debata ale manisia, Las roham, las roham, somba ma Debata
Dapothon Jahowa na sun timbul i, Marhite AnakNa Tuhan Jesus i
Tung so hasuhatan do basaNa i, Marhite AnakNa ni lehonNa i
MudarNa durus do di hau silang i, Rara pe dosanta ias dibaen i.
Puji ma Debata ale manisia, Las roham, las roham, somba ma Debata
Dapothon Jahowa na sun timbul i, Marhite AnakNa Tuhan Jesus i

9. Tangiang Panutup: Ale Amanami + Pasupasu.