Arsip Kategori: Ibadah Minggu

Estomihi


Tahukah kita bahwa dalam liturgi yang disusun, minggu ini biasa disebut dengan Quinquagesima, sama artinya dengan lima puluh hari sebelum kebangkitan Kristus. Sesuai dengan namanya, maka pada minggu ini kita di ajak untuk mengenang bagaimana kesempurnaan ciptaan Allah, yaitu segala yang dibutuhkan oleh manusia. Tumbuh-tumbuhan dan hewan yang telah diciptakan Allah, semua itu diberikan Allah kepada manusia untuk dikuasai dan dipelihara. Ini artinya Allah telah terlebih dahulu menciptakan segala kebutuhan manusia, sebelum manusia itu dibentuk dan dihidupkan oleh Tuhan. Minggu Quinquagesima ini mengajak kita untuk lebih memahami, bahwa tidak ada yang lain yang ada pada manusia selain dari Tuhan itu sendiri. Bukan saja makanan dan minuman, tetapi juga seluruh elemen yang pada manusia berasal dari Tuhan.

Di sisi lain, manusia harus hidup dalam banyak pergumulan, tidak ada tempat atau kekuatan yang mampu melepaskan manusia itu dari jerat dosa. Hanya Tuhan satu-satunya tempat dimana manusia aman dan tentram. Pertolongan, kebebasan dan kemerdekaan yang diberikan Tuhan kepada manusia menunjukkan bahwa Allah adalah perisai yang teguh. Maka dengan mengingat kesempurnaan ciptaan Allah sampai hari yang kelima, hidup kita akan dipenuhi dengan rasa syukur, sebab Allah sendiri telah menyediakan segala sesuatunya bagi kita, termasuk pembebasan dari segala belenggu dosa. Maka patutlah kita menyuarakan: Estomihi in Deum protectorem-Ya Tuhan, Engkaulah Gunung Batuku (Mazmur 31).

IBADAH YANG BENAR “BAKTI KEPADA ALLAH”


(Maleakhi 3:13-18)

Kemajuan tekhnologi saat ini telah menghantarkan manusia menuju kemudahan dalam segala bidang. Jika kita perbandingkan tingkat perekonomian dahulu dengan sekarang, sangatlah jelas bahwa saat ini ada peningkatan perekonomian bagi setiap orang. Lapangan pekerjaan yang seolah-olah semakin sempit ternyata telah membentuk pola pikir manusia yang semakin kreatif. Membuka lapangan kerja sendiri serta menciptakan usaha kemandirian menjadi marak sebagai bentuk kemajuan dalam kreatifitas manusia. Khususnya kemudahan untuk usaha dalam menghasilkan income yang didukung oleh perkembangan jaringan internet saat ini. Usaha-usaha online kini menjadi trend tersendiri dalam generasi millennial saat ini.

Namun disela-sela perkembangan tersebut, ada kemerosotan iman. Pola piker manusia saat ini cenderung beranggapan bahwa semua yang dihasilkannya adalah bentuk dari kerja keras dan usahanya sendiri. Iman semakin terkikis, berkat seolah-olah bukanlah anugerah yang diberikan oleh Allah. Bahkan seolah-olah Tuhan tidak ikut ambil bagian dalam kehidupan manusia. Ibadah hanya sebatas ritus yang diajarkan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Menariknya, keaktifan dalam ibadah tidak membentuk pola pikir yang benar-benar lahir dari iman kepada Allah. Bahkan dari tengah-tengah yang aktif beribadah, banyak yang berkata “tidak ada gunanya beribadah kepada Allah”. Beberapa jemaat beranggapan bahwa pengakuan gereja atas keanggotaan jemaatnya cukup dibayar melalui “persembahan bulanan atau tahunan”, sedang ibadah tidak diindahkan. Inilah sikap yang dikecam oleh Allah, seolah-olah Allah mampu di suap.

Nats ini mengecam perilaku yang demikian. Allah tidak dapat ditipu dan tidak dapat dibohongi. Itu sebabnya Allah berbicara dengan keras “Bicaramu kurang ajar tentang Aku.” (ayat 13). Memberikan persembahan kepada Allah adalah baik, sama baiknya dengan memberikan hati untuk mendengarkan Firman Allah. Tetapi jika hati dan pikiran tidak tertuju kepada Allah, semua itu menjadi sia-sia. Terlebih jika ada perkataan yang membuat seolah-olah apa yang dilakukannya jauh lebih penting. Hal inilah yang dikecam oleh Yesus dalam Epistel. Apa yang diperbuat Maria adalah baik, yaitu mendengarkan Kristus dan berbicara denganNya. Tetapi apa yang dilakukan Marta juga baik, mempersiapkan apa yang terbaik bagi Yesus. Hanya saja ucapan Marta yang tidak disukai oleh Yesus. Marta tidak mengajarkan secara langsung kepada Maria mengenai sopan santun, tetapi justru ia meminta kepada Yesus agar Kristus membela dirinya kepada Maria, seolah-olah apa yang dilakukan Maria tidak berguna. Segala sesuatu berguna dihadapan Tuhan, yang membuat segala sesuatunya rusak adalah hati dan ucapan yang tidak baik. Paulus berkata: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Karena itu perbuatlah segala sesuatunya dengan hati yang tertuju kepada Allah dan jangan ada iri serta dengki di dalam hati serta ucapan, sehingga apa yang kita lakukan tidak menjadi dosa. Seperti yang tertulis dalam Kolose 3:23 “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Amin.

(Pdt Kadir Manullang)

SEXAGESIMA


Sexagesima berasal dari bahasa Latin Sexaginta, yang artinya 60. Yaitu Minggu ke dua persiapan diri menuju Pra-Paskah. Minggu ini juga merujuk kepada perhitungan mundur dari kebangkitan Kristus. Sesuai dengan angka yang diangkat, maka penekanannya berada pada hari keenam masa penciptaan, yaitu “manusia”.

Alkitab Perjanjian Lama mencatat dengan baik bahwa angka 6 adalah angka untuk menunjukkan kepenuhan bagi manusia. Usia 600 atau pasukan yang berjumlah 600 atau 60 keturunan atau 60 orang, atau pensucian hanya dilakukan selama 6 hari dan sebagainya, ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia yang sempurna dihadapan Tuhan. Karena itu dalam minggu Sexagesima ini kita berbicara mengenai manusia yang utuh yang diperhadapkan kepada rencana dan rancangan Allah yang sempurna. Itu sebabnya topik yang harus di angkat adalah mengenai sikap, perbuatan, rencana jahat dan dosa manusia yang utuh.

Sexagesima sendiri adalah minggu di mana kita berbicara mengenai manusia yang lemah dengan segala kesalahannya. Ini semakin menghantar kita kepada minggu Pra-Paskah yang akan kita masuki dalam dua pekan ke depan. Sama seperti Minggu Ordinary yang lain, minggu ini juga berbicara mengenai perjuangan manusia untuk mencapai kasih setia Allah. Penderitaan yang dialami manusia akibat dosanya harus menghantarkan dirinya menuju pertobatan. Manusia memang terikat dengan kelemahan dan perbuatan dosa, tetapi bukan berarti manusia tidak dimungkinkan untuk mencapai Allah. Satu-satunya jalan adalah beralih kepada pertobatan yang dikehendaki Allah.

Tuhan Sumber Hikmat


1 Korintus 1:18-25
Paulus mengutip Yesaya 29:14 untuk menunjukkan bahwa sejak zaman Perjanjian Lama hikmat Allah selalu bertentangan dengan hikmat manusia. Manusia selalu berusaha mencari keselamatan melalui hikmatnya sendiri atau melalui hukum Taurat, karena Allah menyediakan jalan keselamatan yang mereka anggap tidak masuk akal dan dianggap bodoh, yaitu iman kepada Tuhan Yesus yang disalibkan. Pemberitaan tentang salib akan dipandang sebagai “kebodohan” oleh mereka yang kurang mengerti, sebab dalam penilaian manusia memang nampaknya bodoh kalau Anak Allah dibunuh oleh karena dosa manusia, seharusnya dosa itu bisa dibinasakan oleh-Nya. “Tanda” dan “Hikmat” merupakan ciri khas dari dua macam kebudayaan utama yang terdapat dalam jemaat Korintus. “Menghendaki Tanda” adalah cirri khas orang Yahudi yang selalu bettindak berdasarkan fakta atau realita, bukan berdasarkan pemikiran atau teori saja. Sejak zaman Perjanjian Lama orang Israel selalu meminta tanda dari Allah, sebagai bukti dari kehadiran dan penyertaanNya. Demikian juga mereka selalu meminta tanda dan mujizat dari Tuhan Yesus, sebagai bukti bahwa Ia adalah Mesias yang sejati (band. Yoh. 6:30). Mereka menilai kematian Yesus sebagai suatu kegagalan besar, sebab tidak sesuai dengan harapan mereka tentang seorang Mesias yang agung dan mulia. Namun anehnya, mereka juga tidak percaya pada tanda Kristus yang terbesar, yaitu kebangkitanNya. Hal ini semakin menunjukkan bahwa mereka kurang mengerti tentang begitu banyak nubutan tentang penderitaan Mesias yang terdapat dalam Perjanjian Lama (Yes. 53, Mzm. 22).

“Mencari hikmat” adalah cirri orang Yunani yang selalu menekankan bahwa kebenaran hanya dapat diperoleh melalui filsafat dan logika atau dengan memakai otak dan pikiran manusia sendiri. Bagi mereka, Injil dan salib Kristus adalah kebodohan, karena tidak masuk akal bahwa seorang yang sudah mati dapat menyelamatkan orang lain. Sehingga bagi kedua golongan kebudayaan besar itu, Injil merupakan berita yang sulit untuk diterima dan harus ditolak. Rasul Paulus menjelaskan bahwa pemberitaan tentang salib adalah kebodohan bagi dunia, tetapi bagi kita yang berada di dalam Kristus, pemberitaan itu adalah hikmat Allah. Jadi pada dasarnya, hikmat Allah menyatakan betapa terbaliknya pemikiran dunia! Dunia berpikir bahwa mereka penuh hikmat, dan menurut mereka, orang-orang Kristen hanya menyia-nyiakan waktu untuk pergi ke gereja dan membicarakan tentang “cara mendapatkan keselamatan”. Padahal itulah kebenaran yang akan membawa orang-orang yang terhilang ke dalam suatu hubungan yang menyelamatkan mereka.

Pdt. Rohara Panjaitan

SEPTUAGESIMA


Minggu Septuagesima
70 Hari Menjelang Kebangkitan

Saat ini kita masuk dalam Minggu Ordinary (Minggu Biasa) yang pertama dalam satu tahun liturgi. Perhitungan mundur sampai kepada Kebangkitan Yesus (Hari kemenangan) dimulai. Dua bilangan yang penting dalam Alkitab di angkat kembali. Angka yang pertama adalah angka 7 (tujuh-kesempurnaan). Angka 7 adalah angka yang paling menekankan mengenai kesempurnaan (hasisingkop). Perhitungan dari 70 hari ingin menekankan bahwa seluruh rencana dan rancangan Tuhan adalah sempurna adanya. Apa yang terjadi pada diri manusia juga bahagian dari rencana Allah, dan tidak ada bercela sedikitpun. Septuagesima sendiri berasal dari kata Septuaginta yang artinya 70, namun hal ini bukan sekedar menunjukkan 70 hari sebelum Paskah, tetapi lebih menekankan kepada “kasih Allah kepada seluruh bangsa-bangsa” yang sering disimbolkan kepada 70 bangsa, atau 70 tahun masa pembuangan di Babel. Seluruh topic pembicaraan dalam minggu ini adalah mengenai penderitaan umat manusia, namun dalam penderitaannya manusia tersebut dibungkus dengan cinta kasih Allah yang sempurna.

Septuagesima sendiri adalah minggu dimana kita mempersiapkan diri menuju Pra-Paskah. Dalam empat minggu, dimulai dari Minggu ini, kita akan dihantar untuk melihat bagaimana karya Allah kepada manusia yang hidup dalam penderitaannya akibat dosa yang dilakukannya. Tetapi perlu diingat, penekanan topiknya bukanlah dosa, tetapi rencana dan rancangan Allah untuk menyelamatkan umat manusia. Ini ditandai dengan angka 7 (kesempurnaan) tersebut, dimana hanya Allah saja yang sempurna

Turutilah Tuhan dan bertobatlah


Keluaran 33: 1-6
Indahnya hidup ini, bukan karena apa yang kita capai, tapi bersama siapa kita mencapainya. Di sinilah seharusnya kita mengukur apa arti kegagalan ataupun kesuksesan hidup kita. Sukses bukan hanya masalah apa yang sudah kita capai, tetapi sukses adalah ketika kita boleh tetap berjalan bersama dengan Tuhan. Sehingga waktu kita mencapai yang kita inginkan, kita boleh tetap ingat Tuhan yang telah menolong kita, dan sekalipun kita gagal untuk mencapainya, tetap ingat bahwa Tuhan mengasihi kita dan ada bersama kita. Itulah kesuksesan yang sejati. Sebaliknya, kegagalan adalah ketika kita hidup tanpa Tuhan. Meskipun kita mencapai segala sesuatu yang kita inginkan, tetapi jika Tuhan tidak ada di dalamnya, semuanya hanya sia-sia belaka. Itu berarti relasi kita dengan Tuhan seharusnya menjadi prioritas penting dalam kehidupan orang percaya. Hal ini diwujudkan dalam kerinduan untuk taat kepada kehendakNya melalui membaca dan merenungkan FirmanNya setiap hari. Ingat, meskipun kita telah mencapai segala sesuatu yang kita inginkan, tetapi jika Tuhan tidak ada di dalamnya, semuanya hanya sia-sia belaka.

Tuhan itu kudus, Ia marah jika umat-Nya tidak hidup dalam kekudusan. Jika ada umat-Nya menyembah Allah yang lain Tuhan akan murka. Tetapi Tuhan tetap mengingat perjanjian-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Umat Israel tetap masuk ke dalam tanah Perjanjian tetapi Tuhan menyatakan bahwa Ia tidak akan berjalan di tengah-tengah mereka, karena mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk. Berkat dan kutuk Tuhan nyatakan dalam 1 kalimat. Berkatnya adalah mereka akan masuk ke negeri yang penuh susu dan madu; kutuk-Nya tetapi Ia tidak akan menyertai mereka!.

Mendengar ancaman yang mengerikan bangsa Israel berkabung {ay. 4}. Mereka tidak mau memakai perhiasan. Itu belum cukup. Tuhan mengulang lagi, “Katakanlah kepada orang Israel: Kamu ini bangsa yang tegar tengkuk. Jika Aku berjalan di tengah-tengahmu sesaat pun, tentulah Aku akan membinasakan kamu. Oleh sebab itu, tanggalkanlah perhiasanmu, maka Aku akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepadamu.” {ay. 5}. Mendengar pernyataan Allah melalui Musa, umat Israel menjadi takut karena Tuhan tidak mau menyertai mereka. Mereka mengerti satu hal yaitu percuma kita dapat semua berkat Tuhan tetapi Tuhan tidak mau menyertai. Ini adalah kecelakaan paling besar. Jika Tuhan melepaskan kita untuk melakukan apa yang kita mau, celakalah kita.

Untuk itu berbahagialah jika Tuhan masih mau memakai orang lain untuk menyatakan kesalahan kita dan betapa mengerikan jika Tuhan sudah tidak mengakui kita sebagai umat-Nya lagi. Untuk itu kita harus menyadari segala kesalahan dan dosa kita, jangan kita menjadi tegar tengkuk. Jika kita mau bertobat maka Tuhan pasti mengampuni kita. Sebagaimana dikatakan dalam Kisah Para Rasul 3:19, “Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan.” Amin.

(Pdt. Ricky P. Tambunan)

Injil Yang Membebaskan


Matius 13:53-58

“Daripada hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri” Sejauh apa pun kaki ini melangkah kampung halaman tempat yang terbaik. Pada nas ini dikatakan Yesus kembali ke Nazaret, di situ Yesus mengajar di Sinagoge (Kemana pun Yesus melangkah tidak lepas dari mengajar, baik itu secara verbal maupun dari sikap dan tindakan-Nya). Yesus tidak hanya mengajarkan hikmat tetapi Dia sendiri adalah hikmat Allah namun sayang sekali kekaguman mereka berubah menjadi kekecewaan dan penolakan, pikiran mereka langsung tertutup; kuasa kebenaran dan berita firman dikalahkan oleh pengenalan mereka terhadap diri Yesus yang hanya seorang anak tukang kayu. mengapa itu bisa terjadi?

Yang pertama : Ketakjuban mereka bukan karena pengajaran yang disampaikan oleh Yesus, tetapi mereka heran dari mana kuasa Yesus. Jadi mereka sebetulnya tidak peduli pada Firman/Ajaran yang disampaikan oleh Yesus. Memang manusia sering takjub pada hal-hal yang salah dan ini menyebabkan mereka tak peduli pada Firman Tuhan, misalnya: takjub pada kepandaian/ karunia/ kharisma dari pengkhotbah, bisa menyebabkan kita tidak mempedulikan Firman Tuhan yang ia beritakan. Oleh sebab itulah ketakjuban mereka bisa berubah seketika berujung menjadi sebuah penolakan.

Yang kedua : Mereka mengetahui dan melihat dari latar belakang Yesus. Orang Nazareth menganggap sebagai hal yang aneh bahwa Yesus yang lama hidup di tengah-tengah mereka sebagai tukang kayu, tiba-tiba menjadi pembuat mujizat dan pengajar besar pada bidang agama. Mereka tidak dapat menerima status sosial Yesus karena itulah, Yesus mengatakan bahwa seorang nabi tidak diterima di tempat asalnya sehingga tidak memungkinkan Ia membuat banyak mujizat. (Siapapun akan mengalami hal serupa, yaitu jika dicurigai, dianggap tidak mampu melakukan apa-apa, dicemooh, dan tidak dipercayai maka orang tersebut tidak memberikan hasil yang maksimal).

Tindakan penolakan tersebut merupakan hal yang lumrah terjadi. Sebab pada umumnya orang menilai seseorang berdasarkan apa yang tampak jarang sekali kita menilai berdasarkan kualitas pribadi dan potensi seseorang. Dari nats kita hari ini, kita dapat belajar bahwa cara pandang kita terhadap sesuatu sangat menentukan reaksi dan respon kita. Cara pandang yang benar melahirkan tindakan yang benar, jangan terlalu cepat menilai, meremehkan/memandang seseorang dengan sebelah mata tetapi hendaklah kita belajar menghargai orang lain bukan karena latar belakangnya. Hargailah orang lain karena mereka adalah ciptaan Tuhan. Dalam menjalani hidup ini, tarkadang kita juga melakukan hal yang sama seperti orang-orang Nazareth masih meragukan kuasa Yesus di dalam hidup kita. Kita lebih percaya pada diri sendiri dalam menghadapi setiap persoalan. Kita lebih suka membangun tembok dalam mempertahankan diri, seakan-akan semua hal dapat kita atasi dengan kemampuan kita. Oleh sebab itu dalam nats ini kita diajarkan untuk lebih peka dan terbuka pada kehadiran Allah dengan melepas kesombongan kita yang menjadi gerbang munculnya penolakan terhadap kebenaran. Peka dan terbuka bahwa dalam diri orang kecil, tertindas dan miskin sekali pun Allah berkarya. Melepas kesombongan berarti membiarkan Allah berkarya dalam diri kita hingga hidup kita pun menjadi tanda kehadiran Allah dan berdampak bagi sesama.

Pdt. Z. Yosafat Nababan, S.Th