Arsip Penulis: Parjuangan Radyarto Siregar

avatar Tidak diketahui

Tentang Parjuangan Radyarto Siregar

GSM

PERCAYA TANPA RAGU-RAGU


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 406:1. “Ya Tuhan Bimbing aku”
Ya Tuhan bimbing aku di jalanku, sehingga ku selalu bersamaMu
Engganlah ku melangkah setapak pun, ‘
pabila Kau taka da di sampingku

02. Pembacaan Firman
Pagi : Matius 10:34-39.
Malam : 1 Tesalonika 4:1-6.

03. Renungan: Yohanes 6:29.
Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah”.

Delapan Puluh Dua kali kata “PERCAYA” digunakan oleh Yohanes dalam Injilnya, Memang benar, kata “percaya” begitu penting dalam Injil Yohanes. Coba kita lihat dan baca saja maksud tunjuan Yohanes menulis Injilnya, dalam ayat penutup Fasal 20! “Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesus-lah Mesias, Anak Allah dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam Nama-Nya” (Yoh 20:31). Bila kita ‘percaya’ kepada Yesus dan membuktikan kepercayaan itu dengan menghayati hidup baru dalam Dia, kita akan memiliki hidup kekal bersama-Nya (Yoh 6: 47; 8:31; 20:31). Dan sebaliknya, bila kita menolak untuk tidak percaya maka kita akan mati dalam dosa-dosa(Yoh 8:24), terpisah dari Yesus, dan tinggal di neraka selamanya.

Jangan hanya percaya tetapi juga memegang erat kebenaran firman-Nya dan menerapkannya di dalam kehidupan. Percaya atau iman yang benar adalah suatu kegiatan yang berdampak bagi diri sendiri dan orang lain. Bertumbuh menjadi seorang yang berkenan di hadapan Tuhan dan berusaha mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Ingat, bahwa iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh. Seseorang mengaku percaya maka ia pasti berusaha melakukan kegiatan yang berkenan di hadapan Tuhan. Dalam 2 Korintus 5:9-10 “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya, Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 115:1. Tuhan Debata
Tuhan Debata sai ramoti ma, daging dohot tondinami
ido pangidoannami. Sai pahipas be, hami on sude.

06. Doa Bapa kami – Amin.

TUHAN MAHA KUASA


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 235:1. “Ku dengar berkatMu turun”
Ku dengar berkatMu turun bagai hujan yang lebat
Menghidupkan padang gurun dan menghibur yang penat
Aku pun, aku pun, ya, berkati aku pun!

02. Pembacaan Firman
Pagi : Ibrani 7:23-28.
Malam : 1 Tesalonika 2:17-20.

03. Renungan: Ayub 9:10.
Yang melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak terduga, dan keajaiban-keajaiban yang tidak terbilang banyaknya

Perbuatan Tuhan, dalam segala bentuknya, selalu berakibat baik, dan orang yang menerimanya akan berbahagia. Kebahagiaan ini biasanya tidak terbendung, orang ingin meluapkannya melalui doa, pujian, air mata bahagia dan seruan. Tetapi ternyata ini tidak cukup, kebahagiaan itu ingin keluar melalui kesaksian, melalui kata-kata lisan atau pun tulisan agar orang lain tahu. Alkitab penuh dengan kesaksian-kesaksian orang yang menerima perbuatan Tuhan. Gereja-gereja diwarnai dengan kesaksian seperti ini. Dorongan ini jugalah yang bergelora di hati Ayub sehingga dia berseru, “Tuhan melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak terduga, dan keajaiban-keajaiban yang tidak terbilang banyaknya. Pemazmur juga mengatakan, Aku mau bersyukur kepada Tuhan …aku mau menceritakan perbuatan-Mu yang ajaib.” Ia tidak dapat menahan rasa bahagianya melainkan meluapkan itu dalam kata-kata sehingga orang lain pun tahu. Andaikan dia tidak menyatakan kesaksiannya, kita tentu tidak tahu bagaimana Allah bertindak membela perkaranya, melindunginya dari orang fasik. Kita juga mungkin tidak tahu betapa kuat keyakinannya pada Tuhan. Tapi dari kesaksiannya itu kita boleh mendengar lagi tentang kebaikan Tuhan. Mujizat menjadi bukti bahwa kuasa Tuhan jauh melampaui logika dan kemampuan manusia. Mujizat-mujizat yang terjadi di masa silam bahkan juga bekerja di masa ini. Sebab hal itu menjadi bukti bahwa melalui Tuhan, segala sesuatunya bisa terjadi, Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 176:1. Na mungkap do surgo
Na mungkap do surgo dibahen aha do?
Dibaen na ro Jesus mengungkap di Ho (2X)

06. Doa Bapa kami – Amin.

JANGAN TERSESAT!


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 17:1. “Tuhan Allah hadir”
Tuhan Allah hadir pada saat ini hai sembah sujud di sini
Diam dengan hormat tubuh serta jiwa, tunduklah menghadap Dia
Marilah umatNya hatimu serahkan dalam kerendahan.

02. Pembacaan Firman
Pagi : Lukas 22:31-34.
Malam : 1 Tesalonika 2:13-16.

03. Renungan: Ayub 12:16.
Pada Dialah kuasa dan kemenangan. Dialah yang menguasai baik orang yang tersesat maupun orang yang menyesatkan

Ada hal menarik untuk diperhatikan, jumlah masyarakat yang berpendidikan semakin banyak, tapi pelanggaran hukum makin merajalela dan masyarakat tetap sengsara. Upaya untuk mengurangi sengsara rakyat, malahan mendapat tanggapan negatif dari orang-orang pintar. Semakin banyak orang pintar, tetapi makin sedikit orang berhikmat. Seringkali kepintaran digunakan untuk mengeruk keuntungan pribadi, dan memutarbalikkan kebenaran. Banyak orang tersesat dan lari dari kebenaran oleh karena ulah orang-orang pintar di dunia ini. Banyak orang pintar menjadi penyesat tidak menyadari bahwa Tuhan melihat, mengawasinya.

Penyesatan di dalam gereja merupakan suatu dosa yang sangat dibenci Tuhan. Tetapi tidak banyak yang menyadari hal ini. Ketika doktrin dianggap tidak penting, ketika diskusi mengenai ajaran theologi dihindari, dan ketika perdebatan antara doktrin yang benar dengan yang tidak benar dianggap sebagai kegiatan memecah-belah gereja, maka perbedaan antara ajaran yang benar dengan ajaran palsu menjadi tidak jelas. Ketika semua dianggap benar, maka akhirnya yang sesat dan merusak dianggap sama dengan kebenaran. Jangan biarkan diri kita disesatkan orang lain. Carilah kebenaran dan doa supaya Tuhan menuntun kita ke dalam kebenaran. Minta belas kasihan Tuhan supaya tidak dikuasai oleh penipu-penipu dan penyesat-penyesat yang sangat pandai menarik berdusta. Tuhan pasti akan menghukum mereka yang menyesatkan anak-anak kesayangan-Nya. Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 122:1. Ida hinadenggan ni
Ida hinadenggan ni, angka na saroha i
Parpambaenan na burju, nang hatana pe tutu

06. Doa Bapa kami – Amin.

MENCARI KESELAMATAN


Saat Teduh…………

01. Nyanyian KJ. 247:1. “Sungguh Kerajaan Allah di bumi tak kalah”
Sungguh kerajaan Allah di bumi tak kalah
Yesus yang bangkit dilantik menjadi Kepala
Ia menang g’lapmu menjadi terang. Lihatlah fajar menyala.

02. Pembacaan Firman
Pagi : 1 Korintus 10:14-22.
Malam : 1 Tesalonika 2:1-12.

03. Renungan: Roma 7:24.
Aku, manusia celaka! Siapakah yang dapat melepaskan aku dari tubuh maut ini?

Pada zaman Romawi kuno, pemerintahan Romawi melakukan hukuman yang amat berat dan sadis kepada masyarakat dianggap menentang kebijakan pemerintah. Misalnya, penyiksaan, pembuangan, melemparkannya ke binatang buas, penjara, dan penyaliban. Orang yang melakukan pelanggaran berat akan mendapatkan hukuman yang tidak manusiawi dan sangat mengerikan. Barangsiapa berusaha untuk menolong korban akan mendapatkan sanksi hukuman mati. Karena itu tak seorang pun berani menentang ketetapan kaisar. Dalam hal ini, sesungguhnya Paulus sedang memberikan gambaran tentang pergumulan hidup orang percaya melawan dosa. Kita rindu untuk menjaga kemurnian dan kekudusan hidup, tapi ‘tubuh maut; itu masih terasa terikat pada kita. Walaupun kita telah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus, kecenderungan untuk berbuat dosa selalu ada. “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” (Roma 7:19). Hal inilah yang membuat rasul Paulus menjerit: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Melalui pengorbanan Kristus di kayu salib kita beroleh pengampunan dosa dan kita dibebaskan dari penghukuman kekal. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus…” (Roma 8:1). Oleh kuasa Roh Kudus kita beroleh kekuatan untuk bertahan dari segala pergumulan hidup. Kita mempunyai pengharapan teguh untuk dibebaskan dari ‘tubuh maut’ (kedagingan) ini, karena Kristus telah mematahkan kuasa dosa dan maut.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 227:1. Jesus ngolu ni tondingku
Jesus ngolu ni tondingku, Ho do haporusanki
Gok di Ho nama diringku, ro di nasa langkaki.

06. Doa Bapa kami – Amin.

BERBUAT BAIK TIDAK PERNAH MERUGI


Saat Teduh …………..

01. Nyanyian KJ. No. 401:1. “Makin dekat Tuhan”
Makin dekat Tuhan kepadaMu; walaupun saliblah mengangkatku
Inilah laguku dekat kepadaMu, makin dekat Tuhan kepadaMu

02. Pembacaan Firman:
Pagi : Kisah Para Rasul 20:7-12.
Malam : 1 Tesalonika 1:1-10.

03. Renungan: 2 Tesalonika 3:13.
Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik

Ada banyak orang dihadapkan pada pergumulan dalam batinnya, salah satunya adalah hal berbuat baik. Seorang petani menanam padi atau sayuran. Pada saat bersamaan tumbuh pula rumput atau ilalang di sawah atau ladang tersebut. Namun andaikan petani itu menanam rumput ia tidak akan pernah mendapati padi atau sayuran turut tumbuh di sana. Demikian pula dalam kehidupan ini. Ketika kita melakukan perbuatan baik terkadang hal-hal buruk malah menyertai, entah itu berupa hinaan, cercaan, cibiran, fitnahan dari orang lain. Jika demikian haruskah kita berhenti berbuat baik ketika orang lain tidak membalas kebaikan kita? Kalau kita berbuat baik hanya sekedar untuk membalas kebaikan orang lain, atau dengan tujuan mendapatkan balasan yang sama, apalah artinya… “Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.” (Lukas 6:33); dan jangan pula kita berbuat baik karena suatu tendensi atau motivasi yang tidak benar. Rasul Paulus menasihati, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:9). Jadi tidak ada istilah ‘rugi atau buntung’ ketika kita melakukan perbuatan baik kepada orang lain, sebab pada saatnya kita akan menuai. Hasil dari perbuatan kita itu adalah urusan Tuhan. Sebagai orang percaya, berbuat baik adalah suatu keharusan, buah dari keselamatan yang telah kita terima, dan merupakan bukti kita memiliki iman yang hidup! Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 115:1. Tuhan Debata
Tuhan Debata sai ramoti ma, daging dohot tondinami
I do pangidoannami, sai pahipas be, hami on sude.

06. Doa Bapa kami – Amin.

BERSYUKUR DALAM PELAYANAN


Saat Teduh ………..

01. Nyanyian KJ. No. 10:1. “Pujilah Tuhan Sang Raja”
Pujilah Tuhan Sang Raja yang Maha Mulia
Segenap hati dan jiwaku pujilah Dia! Datang berkaum,
B’rilah musikmu bergaung, angkatlah puji-pujian.

02. Pembacaan Firman
Pagi : Keluaran 16:2-7.
Malam : Psalmen 113:1-9.

03. Renungan: Efesus 1:16.
Aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu, dan aku selalu mengingat karena dalam doaku

Ketika saya sedang mengetik di komputer, terdengar bunyi denting tanda e-mail masuk. Biasanya saya berusaha menahan diri untuk tidak mengecek setiap e-mail, tetapi subjeknya kali ini sangat menarik perhatian saya: “Kamu sudah menjadi berkat”. Langsung saja saya membuka e-mail itu dan ternyata itu adalah pesan dari seorang kawan yang tinggal di tempat yang jauh. Ia mengatakan bahwa ia sedang mendoakan keluarga saya. Setiap minggu, ia menaruh satu foto kartu Natal ke dalam “Mangkuk Berkat” di atas meja dapurnya dan mendoakan keluarga yang ada di kartu tersebut. Ia menulis, “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu” (Flp. 1:3), lalu menyemangati usaha/pekerjan kami untuk membagikan kasih Allah kepada orang lain. Itulah persekutuan kami dalam berita Injil

Lalu bagaimana cara kita bersyukur hari ini atas orang-orang yang melayani bersama kita dalam pekerjaan Allah? Perkataan Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus mengisi dan menghadirkan sukacita dalam hati kita. Kelihatannya Rasul Paulus mempunyai kebiasaan mengucap syukur atas diri orang-orang yang melayani bersamanya. Frasa yang serupa mengawali sebagian besar suratnya, salah satunya: “Aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia” (Rm. 1:8). Hendaklah kita selalu mengucap syukur, karena salah satu ciri khas orang yang berbahagia adalah selalu mengucap syukur dalam segala hal. Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 122:1. Ida hinadenggan ni
Ida hinadenggan ni angka na saroha i,
Parpambaenan na burju, nang hataNa pe tutu

06. Doa Bapa kami – Amin.

SEHATI-SEPIKIR


MINGGU XX SETELAH TRINITATIS
Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus

Topik: Sehati-Sepikir di dalam Tuhan
(Saroha-sapingkiran dibagasan Tuhan i)

Warna Tutup Altar : Hijau (Na Ratarata)
Warna Pertumbuhan dan Kehidupan

Ev. Efesus 5:22-33
Ep. Kejadian 3:6-13.

SEHATI-SEPIKIR
Apakah yang dimaksudkan sehati sepikir? Bagaimana kita bisa sehati sepikir jika kita memiliki latar belakang hidup yang berbeda dan cara hidup yang berbeda? Sehati sepikir yang dimaksudkan oleh rasul Paulus ini adalah berbicara mengenai kesatuan hati dan kesatuan tujuan dalam mengerjakan perkara-perkara rohani. Jika jemaat Tuhan benar-benar hidup dalam kesatuan ini maka kita dapat berjalan beriringan dalam melayani Tuhan dan pekerjaan-Nya.
Bagaimana jemaat Tuhan dapat hidup dalam damai sejahtera, bila mereka tidak sehati sepikir, misalnya masing-masing mementingkan ego atau diri sendiri? Saling menyalahkan, saling bergosip satu sama lain… Hal itu sangat bertentangan dengan firman Tuhan, sebab di dalam Kristus “…ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:1-4). Pemazmur mengatakan “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.” (Mazmur 133:1, 3b).