Arsip Penulis: Parjuangan Radyarto Siregar

avatar Tidak diketahui

Tentang Parjuangan Radyarto Siregar

GSM

JADILAH TERANG


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 19:1. “Tuhanku Yesus”
Tuhanku Yesus, Raja alam raya, Allah dan manusia
Kau kukasihi, Kau junjunganku, Bahagia aku yang baka

02. Pembacaan Firman
 Pagi : 1 Samuel 3:1-9.
 Malam : Kisah Para Rasul 9:1-9.

03. Renungan: Yohanes 8:12.
Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

Kita tidak dapat hidup tanpa terang. Ketika kita tinggal dalam kegelapan, kita akan merasa gelisah, lalu mulai emosional dan kehilangan kendali diri. Jika keadaan ini terus dibiarkan, kita dapat menjadi paranoid dan mengalami halusinasi. Bahkan, di titik yang paling ekstrim, kehilangan keinginan untuk hidup. Ketiadaan cahaya dalam rentang waktu yang panjang, dapat menjadi penyebab hilangnya pengharapan. Dalam Efesus 5: 14 dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Perkataan ini disampaikan rasul Paulus kepada jemaat di Efesus untuk mengingatkan akan status mereka sebagai anak-anak terang yang seharusnya sudah tidak “bersahabat” lagi dengan kegelapan. Karena bagaimana mungkin terang dapat berbuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran apabila terang itu masih berkompromi dengan kegelapan. Sebagai anak-anak terang, tugas orang percaya bukanlah sekedar tidak berkompromi saja, melainkan berani “menelanjangi” kegelapan itu sendiri. Dan untuk dapat menelanjangi kegelapan diperlukan kekuatan ilahi untuk terus memancarkan terang kemuliaan Kristus. Dan kekuatan itu diperoleh saat seseorang mau sadar dan “bangun” dari dosa. Tidurnya iman seseorang membuat ia juga dapat terlena dengan mimpi-mimpi kosongnya. Manusia memiliki mimpi besar dalam hidupnya. Namun sayangnya, mimpi-mimpi besar yang lahir dari kedagingan hanya akan membuat manusia cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Sebaliknya, mimpi yang lahir dari kesadaran diri sebagai anak terang akan melahirkan visi dari Tuhan, Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE No.464:1. Huboan ma diringku
Huboan ma diringku Tuhan hibul tu Ho. Ai au do tinobusMu
umbaen tarbaen au ro. Pagalak ma rohangku, di son managam au,
TondiMi ma suru, na boi manggomgom au.

06. Doa Bapa kami – Amin.

TUHAN RAJA SEMESTA ALAM


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 406:1. “Ya Tuhan Bimbing aku”
Ya Tuhan bimbing aku di jalanku, sehingga ku selalu bersamaMu
Engganlah ku melangkah setapak pun, ‘
pabila Kau taka da di sampingku

02. Pembacaan Firman
Pagi : 1 Raja-raja 10:14-25.
Malam : Efesus 4:1-16.

03. Renungan: Zakaria 14:9.
Maka Tuhan akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu.

Pengakuan bahwa “TUHAN adalah Raja” merupakan pengakuan yang penting! Akan tetapi, pemahaman kita pada zaman ini tentang “Raja” telah menjadi luntur. Di negara demokrasi, raja sudah tidak dikenal. Di beberapa negara yang masih menganut sistem kerajaan, raja hanyalah simbol, bukan penguasa yang sesungguhnya. Dalam kekristenan, pemahaman bahwa TUHAN adalah Raja sangatlah mendasar dan tidak boleh diabaikan. Bila TUHAN adalah Raja maka TUHAN menjadi yang terpenting di dalam kehidupan kita dan kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Pengabaian terhadap konsep tersebut membuat posisi TUHAN bergeser dan digantikan oleh yang lain, misalnya oleh diri sendiri, keluarga, pekerjaan, dan sebagainya. Kita mengakui bahwa TUHAN adalah Raja karena Dia adalah Allah yang adil, mahakuasa, dan berdaulat atas ciptaan-Nya, sehingga Ia pantas (wajar) menerima penghormatan kita. Saat kita mengalami ketidakadilan, pengharapan dan keyakinan bahwa Allah akan menyatakan keadilan-Nya pada waktu yang tepat merupakan sumber penghiburan bagi kita.

Saat kita berhadapan dengan masalah yang membuat kita seperti menemui jalan buntu, keyakinan bahwa Allah itu mahakuasa memberikan kekuatan untuk bertahan sampai Dia membuka jalan bagi kita. Keyakinan bahwa Allah itu berdaulat (berkuasa) atas ciptaan-Nya akan membuat kita berani menghadapi kekuatan apa pun, bahkan membuat kita berani menghadapi maut. Oleh karena itu, respons yang wajar terhadap keberadaan TUHAN sebagai Raja adalah munculnya sukacita yang melahirkan pujian serta adanya dorongan untuk bersaksi. Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 115:1. Tuhan Debata
Tuhan Debata sai ramoti ma, daging dohot tondinami
ido pangidoannami. Sai pahipas be, hami on sude.

06. Doa Bapa kami – Amin.

BERJALAN DALAM TERANG TUHAN


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 235:1. “Ku dengar berkatMu turun”
Ku dengar berkatMu turun bagai hujan yang lebat
Menghidupkan padang gurun dan menghibur yang penat
Aku pun, aku pun, ya, berkati aku pun!

02. Pembacaan Firman
Pagi : I Raja-raja 10:1-13.
Malam : Efesus 3:14-21.

03. Renungan: Yesaya 2:5.
Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang Tuhan

”Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang Tuhan.” (Yes. 2:5). Demikianlah seruan Nabi Yesaya. Seruan yang bernada undangan, bukan paksaan. Undangan sekaligus peringatan pentingnya berjalan dalam terang Tuhan. Hanya dalam teranglah manusia dapat melihat. Dan hanya dalam teranglah, manusia dapat percaya diri dalam menentukan langkahnya. Itu berarti, berjalan dalam terang Tuhan akan membuat kita berani melangkahkan kaki. Dalam gelap, yang kita lakukan hanyalah meraba-raba. Dalam gelap yang ada hanyalah kegamangan, keragu-raguan. Dalam terang Tuhan berarti juga Tuhanlah yang menerangi jalan kehidupan kita. Dengan kata lain, Tuhanlah menunjukkan jalan-jalan-Nya kepada kita. Ketika mengambil keputusan, kita mengambil keputusan berdasarkan terang Tuhan. Itu berarti pula kita hidup dalam terang Tuhan! Bagaimanakah hidup dalam terang Tuhan itu? Hidup bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan kegiatan konkret sehari-hari. Hidup dalam terang Tuhan harus maujud dalam tindakan-tindakan konkret. Yesaya menyatakan akan ada masa di mana orang-orang akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas. Pedang dan tombak sebagai alat perang itu tidak lagi disimpan untuk dipakai di masa perang, tetapi diubah menjadi alat-alat pertanian. Ada perubahan bentuk berdasarkan perubahan sikap manusia. Dari alat perang menjadi alat produksi. Dari alat yang membinasakan (pedang), menjadi alat yang menumbuhkan (mata bajak). Dari alat pembunuh (tombak) menjadi alat pemelihara (pisau pemangkas). Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 176:1. Na mungkap do surgo
Na mungkap do surgo dibahen aha do?
Dibaen na ro Jesus mengungkap di Ho (2X)

06. Doa Bapa kami – Amin.

ANAK YANG DIKASIHI


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 17:1. “Tuhan Allah hadir”
Tuhan Allah hadir pada saat ini hai sembah sujud di sini
Diam dengan hormat tubuh serta jiwa, tunduklah menghadap Dia
Marilah umatNya hatimu serahkan dalam kerendahan.

02. Pembacaan Firman
Pagi : Mazmur 72:1-7. 10-14.
Malam : Matius 2:1-12.

03. Renungan: Matius 3:17.
Lalu terdengarlah soara dari sorga mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan

“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi,” adalah sebuah pernyataan yang kongkrit tentang sebuah pribadi dan pribadi itu adalah “Anak-Ku”. Ada suatu kebanggaan tersendiri yang diakui oleh si pembuat pernyataan tentang pribadi yang diakuiNya sebagai “Anak-Ku”. Pernyataan ini tidak berhenti sampai di sini, tapi dilanjutkan dengan sebuah pernyataan lainnya, yaitu “kepada-Nyalah Aku berkenan”. Kepada siapakah si pembuat pernyataan menyatakan perkenaanNya? Perkenaan itu diberikan kepada anakNya. Apakah landasan perkenaan itu? Perkenaan itu diberikan atas landasan pilihan dan bukan prestasi, karena pernyataan itu dibuat dihadapan publik sebelum Tuhan Yesus memulai pelayananNya.

Bagaimana dengan kita sekalian selaku orang tua, bukankah pernyataan kita terhadap anak-anak kita dihadapan publik muncul berdasarkan prestasi yang diperoleh mereka? Apakah kebanggaan kita terhadap anak-anak kita konstan dengan pengertian bahwa kebanggaan kita terhadap mereka bukan tergantung dari prestasi yang diperoleh mereka? Jika kebanggaan hanya berdasarkan prestasi, maka dengan berkurangnya prestasi, maka kebanggaan kita terhadap merekapun akan sirna. Sedangkan Bapa Surgawi telah memberikan sebuah contoh yang sangat baik, dimana Bapa Surgawi telah terlebih dahulu membuat pernyataan “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” sebelum Tuhan Yesus memulai pelayananNya, dengan demikian pernyataan Bapa Surgawi bukan berdasarkan prestasi yang dicapai oleh anakNya. Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 122:1. Ida hinadenggan ni
Ida hinadenggan ni, angka na saroha i
Parpambaenan na burju, nang hatana pe tutu

06. Doa Bapa kami – Amin.

ARTI MINGGU EPIFANIAS


MINGGU DUNG TAON BARU

Topik: Asi ni roha dohot hasintongan di bagasan Jesus Kristus
(Kasih karunia dan Kebenaran dalam Yesus Kristus)

Warna Tutup Altar : Bontar (Putih)
Warna Kekudusan

Ev. Johanes 1:14-18
Ep. Psalmen 147:12-20

ARTI MINGGU EPIFANIAS
Sebelum abad IV, Hari Epifania (Bhs Yun: Penampakan Diri) dirayakan sebagai hari kelahiran Kristus, yaitu pada tanggal 6 Januari (bukan tanggal 25 Desember) atau pada hari Minggu yang terdekat dan enam minggu sesudahnya. Sampai sekarang Epifania masih dirayakan oleh Gereja Ortodoks. Gereja Katolik merayakannya sebagai Hari Tiga Raja (para Majus) untuk memperingati penampakan Kristus setelah kelahiran-Nya: pada waktu Ia disembah oleh para majus, pada waktu Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, dan pada waktu Ia melakukan mukjizat pertama dalam pesta perkawinan di Kana.

Gereja Protestan merayakannya sebagai hari penampakan kemuliaan Yesus setelah dibaptis atau hari Perjamuan Kudus yang pertama. Lama masa Epifania, yang dimulai pada tanggal 6 Januari, bervariasi tergantung pada penetapan tanggal Paskah. Selambat-lambatnya masa Epifania berlangsung sampai Minggu Septuagesima, atau 64 hari sebelum Paskah. “Epifania” berarti “membuat nyata/jelas.” Ibadah-ibadah ditekankan pada pernyataan Yesus sebagai “Terang Bagi Bangsa-Bangsa Kafir” dan “Kemuliaan Israel,” pernyataan Simeon ketika bayi Yesus hadir di Bait Allah, pernyataan Yesus sebagai yang dikasihi Allah dalam baptisan-Nya, dan penyataan Yesus kepada seluruh dunia sebagaimana digambarkan oleh orang-orang Majus dari Timur.

Agungkanlah Nama Tuhan


Saat Teduh …………..

01. Nyanyian KJ. No. 222b:1. “Agungkan kuasa namaNya”
Agungkan kuasa namaNya malaikat bersujud
Nobatkan Raja Mulia, dan puji, puji, Yesus Tuhanmu.

02. Pembacaan Firman:
Pagi : Keluaran 3:1-5.
Malam : Ibrani 11:23-31.

03. Renungan: Mazmur 147:12.
Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion!

Mazmur ini terkenal sebagai mazmur hymne, sebuah nyanyian pengagungan kepada Tuhan. Karena itu, perbuatan-perbuatan Tuhan yang digambarkan di sini mengungkapkan kemahakuasaan dan keagungan-Nya, bukan dalam simbol-simbol yang abstrak, melainkan dalam pengalaman nyata manusia sehari-hari. Maka tanggung jawab kita adalah memuliakan Tuhan, seperti ajakan pemazmur “Megahkanlah TUHAN”, dan “pujilah Allahmu”.

Dua perbuatan ritual ini, sebagai simbol pengudusan hidup manusia. Di situ, aktifitas leutorgia/abodah – sebagai kata untuk ‘megahkan dan pujilah’ tidak mesti dipahami sebagai aktifitas statis, melainkan bisa berupa pelayanan kita kepada-Nya melalui ibadah atau melalui pelayanan kita terhadap sesama, sikap tunduk dan taat kepada Tuhan sebagai penguasa atas hidup kita. Artinya, respons manusia atas perbuatan-perbuatan kasih setia tadi harus tampak dalam praktek hidup yang nyata dimana kita sungguh-sungguh mensyukuri dan menghormati Dia dan apa yang Ia lakukan.

Jadi jika Tuhan dalam kasih setianya telah berkarya dalam kehidupan kita maka memegahkan dan pujilah nama-Nya! Bertumbuhlah dalam pujian dan keyakinan melalui penghayatan firman yang makin dalam

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 115:1. Tuhan Debata
Tuhan Debata sai ramoti ma, daging dohot tondinami
Ido pangidoannami, sai pahipas be, hami on sude.

06. Doa Bapa kami – Amin.

PELAYANAN YANG TULUS


Saat Teduh ………..

01. Nyanyian KJ. No. 10:1. “Pujilah Tuhan Sang Raja”
Pujilah Tuhan Sang Raja yang Maha Mulia
Segenap hati dan jiwaku pujilah Dia! Datang berkaum,
B’rilah musikmu bergaung, angkatlah puji-pujian.

02. Pembacaan Firman
Pagi : Kejadian 12:8-20.
Malam : Ibrani 11:13-22.

03. Renungan: Hosea 11:4.
Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan.

Nabi Hosea menekankan betapa besarnya kasih Tuhan dalam kehidupan umatNya. Maka dengan ini, kita tidak punya alasan untuk tidak saling mengasihi dan melayani. Yesus pun dengan sangat jelas mengatakan kepada kita untuk berbelas kasih dan memiliki bela rasa terhadap sesama. Ketika Yesus melihat orang banyak dan tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, “karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mrk 6:34). Tuhan memanggil kita untuk memberi karena memberi membuat kita lebih mengenal Dia. Allah Bapa memberikan Anak-Nya bagi kita (Yoh 3:16) dan Dia memberikan Roh Kudus bagi kita (Luk 11:13). Dia memberikan kepada kita berbagai karunia rohani untuk berbagai macam pelayanan bagi Tuhan (1 Kor 12:4-11).

Yesus menginginkan kita memiliki hati yang rela berbagi. Tidak hanya membantu sesama yang kelaparan secara jasmani, tetapi juga secara rohani. Meskipun persediaan kita tampak terbatas, serahkanlah pada Yesus. Mintalah hikmat dan pertolongan-Nya. Dia akan akan menyediakan dan mencukupkan sehingga kita mampu memberi “makan” sesama yang memerlukan bantuan, Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 14:1. Puji hamu Jahowa tutu
Puji hamu Jahowa tutu, pardengganbasa, parasiroha salelengna i
Pardengganbasa i, parasiroha i.

06. Doa Bapa kami – Amin.