BERBAHAGIALAH


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena
itu marilah kita beribadah dan memuji
nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-133:8- O Tondi na Manggohi Roha
Sai tatap nasa parguruan, inganan ni TondiM ma baen sude. Lopokkon hata hangoluan tu roha ni parguru i sude. Sai lehon guru angka na burju, parroha pangondian situtu.

PEMBACAAN FIRMAN
Hag. 2: 5 – 9 (Pagi) Yoh. 21: 15 -17 (Malam)

RENUNGAN
Matius 16: 17
Kata Yesus kepadanya: Berbahagialah Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.

BERBAHAGIALAH
Kata “berbahagialah” dialamatkan kepada Petrus atas jawabannya bahwa Yesus adalah Mesias. Siapapun akan mendapatkan kebahagiaan jika imannya mengaku bahwa Yesus adalah Mesias. Bukan manusia yang mendorong seseorang untuk pengakuan tersebut tetapi Allah Bapa melalui Roh Kudus. Ucapan bahagia banyak kita temukan pada Khotbah di Bukit yang terdapat di dalam Matius 5. Sebanyak sembilan kata berbahagia dikumandangkan oleh Yesus dan diakhiri dengan besar upahmu di sorga. Berbahagia adalah dambaan setiap orang. Secara khusus bagi orang Batak ketika dikatakan berbahagia sering dikaitkan dengan filosofi hasangapon, hamoraan, dan hagabeon.

Dari segi hagabeon (memiliki anak dan boru) yang sukses, pastilah orang tua tersebut dikatakan berbahagia. Orang tua Batak selalu menginginkan anak-anaknya jauh lebih baik dari padanya. Bagaimanakah cara orang tua mewujudkannya? Alkitab mengajar orang tua melalui Ulangan 6:7 yang mengatakan “Haruslah engkau mengajarkannya (memperkenalkan Yesus) berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Niscaya kebahagiaan itu dapat kita genggam sampai anak cucu kita. Berbahagilah kita melihat anak anak kita mengajarkan Ulangan 6 :7 kepada anak-anaknya di dalam hidupnya. Mulialah Tuhan dalam kehidupan kita. Amin

BERDOA

BERNYANYI KJ-392: 1 ‘Ku Berbahagia
‘Ku berbahagia, yakin teguh: Yesus abadi kepunyanku! Aku warisnya ‘ku ditebus ciptaan baru Rohol Kudus. Aku bernyanyi bahagia, memuji Yesus selamanya. Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Menumbuhkan Semangat Memberi dalam Hidup


Ada seorang pemuda yang biasa memberi sesuatu kepada teman-temannya. Di saat teman-temannya mengalami kesulitan dalam hidup, ia mengulurkan tangan membantu mereka. Bagi pemuda itu, ia lakukan hal seperti itu sejak ia masih kecil. Orangtuanya selalu mengajarkan kepadanya untuk memberi sesuatu atau bantuan kepada orang lain. Dengan memberi, ia mengalami sukacita dalam hidupnya.

Ia berkata, “Memberi itu membuat saya lebih kaya. Saya punya banyak teman. Saya tidak kehilangan sesuatu pun dalam hidup ini. Bahkan saya mendapatkan banyak hal untuk hidup saya.”

Tentu saja semangat memberi itu sudah menjadi bagian dari hidup pemuda itu. Ia merasakan sakit hatinya saat ia tidak bisa mengulurkan tangannya untuk membantu sesamanya. Ia mengaku, ia pernah tidak bisa tidur semalam suntuk karena tidak bisa membantu temannya.

Meski pemuda itu bukan orang yang kaya, ia selalu berusaha memberikan apa yang dia punyai untuk sesamanya yang membutuhkan. Ia bersyukur memiliki semangat untuk memberi. Dengan cara itu, ia merasakan hidup ini semakin berguna bagi orang lain. Ia boleh mengungkapkan dalam kata dan perbuatan kasihnya kepada sesamanya.

Sahabat, sudahkah Anda memberi sesuatu kepada sesama Anda hari ini? Atau Anda malah menuntut orang lain untuk memberi Anda sesuatu yang Anda butuhkan? Kalau hal kedua ini yang menjadi semangat Anda, lalu Anda akan selalu merasa tidak punya apa-apa. Di saat Anda memberi, Anda akan merasakan ada sesuatu yang hilang dari diri Anda.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa memberi itu menjadi suatu semangat yang menjadi bagian dalam hidup kita. Semangat memberi mesti menjadi hidup kita. Orang yang rela memberikan apa yang dimiliki bagi sesamanya akan mendapatkan banyak hal bagi hidupnya. Ia tidak perlu cemas akan hari depannya. Ia tidak perlu kuatir akan kehilangan apa yang ia berikan itu.

Namun banyak orang tidak suka memberi. Mereka mengira bahwa dengan memberi itu mereka kehilangan banyak hal. Ada yang berprinsip bahwa ia baru mau memberi ketika ia sudah menjadi kaya. Dalam hal ini orang mesti hati-hati. Mengapa? Semangat memberi itu tidak datang dengan tiba-tiba. Semangat memberi itu dapat hadir dalam diri orang berkat kebiasaan memberi yang terus-menerus.

Pemberian yang bernilai tinggi terjadi kita memberikan diri kita bagi kebahagiaan sesama kita. Artinya, di saat situasi menuntut pengorbanan dari diri kita, kita mesti berani memberikan diri kita untuk sesama kita. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih bermakna. Mari kita memberi. Hanya dengan memberi, kita akan mendapatkan banyak hal untuk kehidupan kita. Tuhan memberkati. **

MELAWAN HAWA NAFSU, MENJAGA KEKUDUSAN


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-467:4 Asi ni rohaM Hupuji
Sai papulik rohanami gabe pangoloi di Ho/ Asa marsahala hami lao manghatindangkon Ho/ IngananMu rohanami, TondiMi manggohi i. Pangke dohot ngolunami gabe ulaulaMi.

PEMBACAAN FIRMAN
Yes. 19: 21 (Pagi)
2 Kor. 9: 10-15 (Malam)

RENUNGAN
2 Petrus 2:10
Terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah. mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan.

MELAWAN HAWA NAFSU, MENJAGA KEKUDUSAN
Setiap manusia diberikan TUHAN perasaan, keinginan (kehendak bebas) dan akal budi, itu menjadikan manusia sebagai ciptaan yang lebih sempurna dibanding ciptaan yang lainnya. Hari ini dijelaskan tentang kehidupan manusia yang dipenuhi dengan keinginan, namun bukan keinginan yang baik; yaitu keinginan daging atau hawa nafsu. Keinginan ini berhubungan dengan apa yang terjadi di kota Sodom dan Gomora (ay.6). Manusia yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya nampak dalam percabulan, tindakan anarkis, dan tidak memandang TUHAN lagi. Hawa nafsu tersebut membawa penghukuman TUHAN, karena itu adalah perbuatan keji di mata TUHAN. Namun, sebelum hukuman itu berlangsung TUHAN tetap menunjukkan kasih sayangnya agar mereka bertobat (Kej.18:22-33).

Saudara, keinginan adalah pemberian TUHAN; dengan demikian keinginan itu haruslah digunakan untuk memuliakan TUHAN, keinginan dalam hidup haruslah tetap selaras dengan perintah TUHAN. Diberikan kebebasan, bukan berarti kita bebas tanpa aturan, namun hidup dalam kehendak TUHAN. Kita tidak menafikan bahwa TUHAN memberikan kehendak bebas kepada kita, namun kita harus menjaganya sesuai dengan kehendak TUHAN agar kekudusan tetap terjaga. Apabila ada keinginan saat ini yang tidak sesuai dengan perintah TUHAN, selayaknya segera disadari dan bertobat karena TUHAN masih memberikan pengampunan, namun jika tidak maka yang adalah adalah penghukuman. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-436:2 Lawanlah Godaan
Tinggalkan yang jahat, dosa dicegah; tindakanmu tulus tiada bercela: jungjung kebenaran, hidup dalam t’rang, harap akan Yesus: pasti kau menang. Mintalah pada Tuhan, agar kau dikuatkan; Ia b’ri pertolongan: pastilah kau menang.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Iman dan Perbuatan


Suatu hari seorang utusan malaikat dan tentara iblis berjalan bersama mereka bertanya satu sama lain.
“Kira2 lebih banyakan mana ya pengikut kristus ataukah pengikut iblis??” tanya tentara iblis
“Untuk mengetahui jawabanya, gimana kalau kita survey saja selama satu bulan kegiatan manusia” balas malaikat.
“Ok setuju, kalu begitu kita mulai survey hari Minggu besok ya..” kata tentara iblis
“Okelah kalu begitu” jawab Malaikat.
Keesokan harinya mulailah keduanya berjalan untuk melakukan survey, dan mereka memulai survey dari gereja yang besar. Disana didapati begitu banyak manusia yang sangat semangat beribadah, menyanyi bersorak sorai memuji Tuhan. Malaikat merasa lega dia berkata dalam hatinya “Syukurlah ternyata gereja pertama tidak mengecewakan masih banyak juga ternyata manusia yang mau ikut Tuhan.” Berikutnya didatangi gereja gereja lain dan hasilnya pun tetap sama, hampir semua gereja yang didatangi menunjukkan hasil yang optimal dan malaikat pun merasa puas dan senang.
Hari berikutnya Si Iblis dan Malikat melanjutkan surveynya dan baru setengah jalan tiba tiba terdengarlah oleh mereka “Maaf nyonya, ampuuunnn… ampuni saya, saya bukan yang mengambil uang nyonya..” setelah keduanya mendekati sumber suara itu ternyata seorang anak kecil sedang menagis menahan sakit pukulan karena dituduh mengambil uang milik majikanya, yang ternyata majikanya adalah salah seorang yang datang dalam persekutuan gereja kemarin.
Melihat hal itu malaikat menjadi sedih..
Hari berikutnya lagi mereka melanjutkan misinya, mereka berjalan lagi dan tiba-tiba mereka melihat kejadian yang hampir sama dimana anak-anak Tuhan yang dijumpai mereka begitu bersemangat beribadah di hari Minggu ternyata di hari-hari biasa tidak sedikit dari anak-anak Tuhan yang melakukan kegiatan-kegiatan yang menyedihkan hati Tuhan..
Malaikat pun sangat sedih..
“Kalau begitu mana yang lebih banyak pengikutnya hai malaikat, Iblis ataukah Tuhan??” tiba tiba pertanyaan si Iblis mengejutkan Malaikat yang sedang bersedih.
“Ternyata masih tetap banyak ya pengikut Tuhan pada tiap Hari Minggu Saja,, Selebihnya kamu dapat melihatnya sendiri..” jawab Malaikat dengan sedihnya..
Teman-teman,, setelah membaca ilustrasi diatas kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwasanya Tuhan tidak menginginkan kita hanya datang padaNya tiap Hari Minggu dengan bungkusan diri yang semu.
Tuhan inginkan Kita menjadi pribadi pribadi yang bisa mengenalkan namaNya kepada dunia dengan perbuatan nyata kita kepada sesama.
Kita adalah gambaranNya, marilah kita tunjukkan, kita kenalkan Dia kepada mereka yang belum percaya melalui tindakan nyata kita, agar namaNya semakin dipermuliakan di Bumi dan di Sorga.

KETAKUTAN? NO WAY!


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-640: 1. Haholongan Sian Ginjang
Haholongan sian ginjang las ni roha na hot i. Tumpal ni asi ni roha sai bongoti rohangki, Jesus na gok asi roha dohot haholongon i. Baen malua baen martua hami natahutan i.

PEMBACAAN FIRMAN
2 Pet. 3: 17-18 (pagi) Yes. 6: 3-7 (malam)

RENUNGAN HARIAN, Kamis 31 Mei 2018
2 Timotius 1: 7
Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

KETAKUTAN? NO WAY!
Ketakutan adalah senjata yang sering dipakai Iblis untuk melumpuhkan iman kita. Bukankah si Iblis itu seperti singa yang mengaum-ngaum sambil berjalan keliling untuk mencari orang yang dapat ditelannya? (1 Pet. 5:8). Begitu mendengar auman singa, banyak yang ketakutan lalu menjadi lemah. Itulah yang terjadi pada Saul dan para tentaranya saat menghadapi Goliat. Mereka melihat Goliat yang tinggi besar, dan begitu mendengar suara tantangannya, hati mereka langsung menjadi kecut dan gemetar ketakutan.

Jika kita dikuasai oleh ketakutan maka iman kita tak lagi berfungsi. Dan saat itu Iblis sudah menang atas kita. Kita akan menjadi bahan bulan-bulanan olehnya. Daud tidak mau dikuasai oleh ketakutan. Dia katakan ”Tidak” pada ketakutan. Ketika Daud menghadapi Goliat dia berserah kepada Tuhan. Dia sadar bahwa Tuhan ada di pihaknya. Dia memberikan kemenangan kepada orang yang ada di pihak-Nya. Daud menang bukan oleh pedang, tombak dan lembing, tetapi dia menang karena dia mendapat perkenan dari Tuhan.

Tuhan memberi kepada kita bukan roh ketakutan, tapi roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Tim. 1:7). Ketakutan bukan berasal dari Tuhan. Untuk itu pastikan bahwa kita memiliki kekuatan dari Tuhan. Kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan dan pergumulan dalam hidup kita. Agar kita tidak menjadi orang Kristen yang gampang menyerah. Agar kita menjadi orang Kristen yang ulet, bermental pejuang, berjiwa penakluk, dan berpikir sebagai pemenang. Untuk itu Jalani hidup ini bersama Tuhan dan rasakanlah kekuatan daripada-Nya yang senantiasa mengalir dalam diri kita, maka kita akan selalu bersukacita dalam menjalani hidup ini. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-453:3. Yesus Kawan Yang Sejati
Adakah hatimu sarat, jiwa-ragamu lelah? Yesuslah Penolong kita; naikkan doa pada-Nya! Biar kawan lain menghilang, Yesus Kawan yang baka. Ia mau menghibur kita atas doa pada-Nya.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-Amin-Amin

Memperbesar Kapasitas


Lukas 12:31
Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.

Seorang karyawan muda berdoa tiap hari sejak ia tahu ada undian berhadiah mobil jaguar pada sebuah bank. Kebetulan ia punya rekening di bank itu. Ia berdoa sambil memaksa Tuhan mengabulkan permintaannya. Pada akhirnya ia memiliki mobil jaguar itu. Ia membayar pajak undian dengan berhutang pada bank. Suatu hari mobilnya harus di-service dan ada penggantian spare-part yang menghabiskan biaya belasan juta. Terpaksa ia harus memakai kartu kreditnya untuk membayar tagihan. Keesokannya ia sakit karena stres dan seringkali hanya makan ‘makanan seadanya’ untuk menghemat uang.

Mobil mewah, jabatan bagus, status sosial, gaji besar, pernikahan dan sebagainya. Kita semua pasti menginginkannya. Jika kapasitas kita tidak memadai untuk mendapatkan hal-hal tersebut, nasib kita akan sama seperti karyawan tadi. Tuhan ingin agar umat-Nya hidup bahagia, namun jika kapasitas mereka tidak mampu menampung berkat besar, hidup malah akan menderita – bukannya bahagia.

Tuhan hanya akan mempercayakan perkara-perkara besar pada mereka yang siap, pada mereka yang selalu berusaha memperbesar kapasitas, hidup berkarakter sesuai dengan buah Roh, dan hidup dengan aturan main yang Tuhan telah atur dalam Alkitab. Seberapa besar kapasitas Anda saat ini? Jika kapasitas kita sudah besar di mata Tuhan, tanpa harus meminta – Dia pasti akan memberikan hal-hal luar biasa pada kita.

Perbesar terlebih dahulu kapasitas Anda dalam Tuhan, maka Iapun akan mencurahkan berkat-Nya atas Anda.

Harta Warisan


Dua bersaudara dari keluarga yang berkecukupan. Setelah kematian kedua orang tuanya, mereka kini harus membagi harta warisan yang ditinggalkan. Namun setelah harta tersebut dibagikan, kedua bersaudara ini tidak pernah hidup rukun dan damai. Sang kakak menuding bahwa adiknya mewarisi lebih banyak dari yang dimilikinya. Sang adik juga menuding hal yang sama terhadap kakaknya, bahwa sang kakak memiliki harta warisan lebih banyak dari yang diwarisinya. Keduanya saling menuding bahwa pembagian harta tersebut tidaklah adil dan seimbang.

Mereka sudah melewati berbagai proses hukum, namun tetap saja persoalan mereka tak dapat diatasi secara memuaskan. Semua nasihat tak pernah berhasil. Semua keputusan seakan tawar. Keduanya tak dapat menerima semua nasihat dan keputusan yang diberikan.

Setelah mencari dan mencari akhirnya mereka menemukan seorang guru yang bijak. Kedua bersaudara tersebut datang ke hadapannya dengan harapan bahwa duri yang selama ini menusuk daging dan menghancurkan hubungan persaudaraan mereka dapat dikeluarkan.

Sang bijak bertanya kepada sang kakak, “Anda yakin bahwa harta yang dimiliki adikmu melebihi warisan yang engkau terima?” Sang kakak dengan penuh yakin menjawab, “Sungguh demikian!”

Sang bijak lalu berpaling kepada sang adik dan mengulangi pertanyaan yang sama, “Anda yakin bahwa kakakmu mewarisi harta peninggalan orang tua lebih dari pada yang anda peroleh?” Dengan keyakinan yang sama sang adik menjawab, “Ya demikianlah!”

Sang bijak lalu memberikan sebuah perintah kepada keduanya, “Kumpulkan semua harta yang telah diterima masing-masing dan serahkan itu kepada yang lain.” Sang kakak menyerahkan semua harta warisan yang diperolehnya kepada adiknya, demikian pula sang adik menyerahkan harta warisan yang diperolehnya kepada sang kakak. Dan sejak itu tak ada lagi pertentangan karena harta warisan di antara mereka berdua.

Kita senantiasa mengira bahwa nasib orang lain selalu lebih baik dari diri sendiri, bahwa orang lain lebih diberkati Tuhan dari pada diri kita sendiri. Kita lupa bahwa Tuhan mencintai setiap insan dengan cinta yang sama. Kita mungkin hanya mampu melihat berkat yang kelihatan yang dimiliki orang lain, namun lupa untuk melihat berkat-berkat berlimpah yang diberikan Tuhan atas diri kita namun sulit dilihat oleh kasat mata.

Lihatlah dirimu dari sudut pandangan yang lain, maka anda akan dipenuhi keharuan dan rasa syukur yang mendalam. Tuhan mencintaimu!