Arsip Kategori: Lain-lain

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan Diakonia


Diakonia di tanah Batak dimu¬lai dengan fokus Pendidikan oleh Gerrit van Asselt. Ia membeli tujuh orang anak-anak dari penjual anak-anak lalu mengajari mereka di Sipirok (Hutauruk 2011, 261). Penguasa Belanda di Padangsidempuan dan beberapa raja kemudian menyerahkan anak-anak untuk memperoleh pendidikan dari van Asselt. Jumlah anak yang pertama kali dididik oleh van Asselt sebanyak 20 orang (Hutauruk 2011, 262). Pada tahun 1891, dua orang suster bernama Liesette Niemann dan Thora von Wedell-Jarsberg tiba di Laguboti dengan tujuan khusus untuk memberikan pendidikan bagi kaum perempuan. Terdapat beberapa pengajaran yang diberikan pada waktu itu, antara lain penelaahan Alkitab, pengajaran katekisasi, menjahit, memasak, membersihkan kamar dan pekarangan. Pendidikan yang diberikan kepada perempuan pada tahun 1891 ini selanjutnya menjadi awal dari munculnya inspirasi untuk membuka pendidikan bagi kaum perempuan yang kemudian dikenal dengan jabatan gerejawi “bibelvrouw” (Hutauruk 2011, 268).

Diakonia di tanah Batak tidak hanya terbatas pada bidang pendidikan dan hukum. Pada tahun 1888, seorang penginjil bernama Hanstein melakukan tindakan diakonia untuk menolong orang-orang sakit, khususnya yang terkena penyakit kusta (na huliton) di Sipirok. Pada waktu itu, setiap orang yang terkena penyakit kusta akan dikucilkan, bahkan dikeluarkan dari desa. Masyarakat menganggap bahwa orang-orang yang menderita penyakit kusta merupakan orang-orang yang menjadi sumber penyakit dan mereka mendapatkan kutukan dari roh jahat (Hutauruk 2011, 271). Melihat hal tersebut, Hanstein kemudian mendirikan beberapa rumah untuk para penderita penyakit kusta serta menyediakan pengasuh untuk merawat mereka di Situmba (Hutauruk 2011, 267).

Selain itu, penginjil lain bernama Steinsik dari Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) menolong orang-orang yang sakit kusta di Laguboti. Orang-orang yang menderita penyakit kusta di Laguboti mendapatkan perlakuan yang sama seperti orang-orang yang ada di Sipirok. Tindakan diakonia yang dilakukan oleh Steinsik pada waktu itu adalah pendirian beberapa pondok untuk para penderita kusta di desa Sitalaktak (Hutauruk 2011, 270). Pada tahun 1900, para penderita penyakit kusta memiliki sebuah perkampungan yang lebih memadai serta jauh dari pemukiman masyarakat yang mengucilkan mereka. Tempat tersebut diberi nama Hutasalem. Pada waktu itu terdapat 30 orang yang tinggal di Hutasalem.

Perhatian para penginjil di tanah Batak pada waktu itu tidak hanya untuk orang-orang yang terkena penyakit kusta. Sekitar tahun 1899, mulai muncul pelayanan terhadap penyandang tunanetra dan tunarungu. Para penyandang tunanetra dan tunarungu memiliki pengalaman yang hampir mirip dengan penderita penyakit kusta. Mereka juga dijauhi oleh masyarakat serta hanya dapat mengharapkan belas kasihan dari orang lain bagi kelangsungan hidupnya. Perkembangan pelayanan bagi penyandang tunanetra dan tunarungu membuahkan hasil, yaitu dengan didirikannya perkampungan atau desa bagi yang diberi nama Hepatha bagi mereka pada tahun 1923 (Hutauruk 2011, 270).

Pelayanan diakonia di tanah Batak semakin berkembang, khususnya pada bidang kesehatan. Hal ini dapat terlihat dengan didirikannya rumah sakit pertama di Pearaja Tarutung pada tanggal 2 Juni 1900 (Hutauruk 2011, 276). Pendirian rumah sakit ini jelas membutuhkan tenaga medis yang jumlahnya cukup banyak. Oleh karena itu, badan zending yang ada di tanah Batak membantu untuk menyelenggarakan pendidikan keperawatan bagi masyarakat Batak yang dapat mengerti huruf dan memiliki pengetahuan umum yang memadai (Hutauruk 2011, 278). Tindakan yang dilakukan oleh badan zending ini memberikan suatu peluang untuk terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat Batak pada waktu itu. Pada tahun 1902, orang-orang Batak yang mengikuti pendidikan keperawatan telah bekerja di rumah sakit Pearaja. Mereka berjumlah tujuh orang, yang terdiri dari satu orang apoteker, dua orang perawat laki-laki, satu orang penjaga keamanan, dua orang buruh bangunan, dan satu orang pelayan (Hutauruk 2011, 278).

Berdasarkan Aturan (tata gereja) HKBP 2002 Dung Amandemen Paduahon, tidak ada secara eksplisit dipaparkan mengenai pengertian diakonia menurut HKBP. Dalam aturan dan peraturan HKBP tahun 2002, dijelaskan bahwa diakonia secara sinodal dipimpin oleh departemen diakonia yang merupakan organ umum yang melayankan segala kegiatan yang berkenaan dengan diakonia di segenap HKBP dan dipimpin oleh Kepala Departemen Diakonia (HKBP 2002, 96).

Sementara itu, dalam tingkat jemaat, diakonia dijalankan oleh dewan diakonia yang merupakan organ pelayanan di tingkat jemaat, yang memikirkan dan melaksanakan pelayanan diakonia, meningkatkan pengetahuan dan kesehatan, demikian juga melaksanakan percakapan dan komunikasi dengan masyarakat sekitar maupun pemerintah, yang mencakup seksi diakoni sosial, seksi pendidikan, seksi kesehatan, dan seksi kemasyarakatan (HKBP 2002, 94). Dengan demikian, dapat terlihat dengan jelas bahwa belum ada perumusan yang jelas mengenai pengertian diakonia menurut HKBP, namun pelaksanaan kegiatan diakonia tetap berjalan dan dilakukan oleh empat seksi yang ada dalam dewan diakonia.

Pada masa ini HKBP memiliki tugas untuk merumuskan panggilan diakonia. Dalam Renstra HKBP 2016-2020, HKBP memiliki visi untuk menjadi berkat bagi dunia dan diwujudkan dalam 8 misi:
1. Beribadah kepada Allah Tritunggal, Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan bersekutu dengan saudara-saudara seiman.
2. Mendidik jemaat supaya sungguh-sungguh menjadi anak Allah dan warga negara yang baik.
3. Mengabarkan Injil kepada yang belum mengenal Kristus dan yang sudah menjauh dari gereja.
4. Mendoakan dan menyampaikan pesan kenabian kepada masyarakat dan Negara.
5. Menggarami dan menerangi budaya Batak, Indonesia dan Global dengan Injil.
6. Memulihkan harkat dan martabat orang kecil dan tersisih melalui pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
7. Membangun dan mengembangkan kerjasama antar gereja dan dialog lintas agama.
8. Mengembangkan penatalayanan (pelayan, organisasi, administrasi, keuangan, dan aset) dan melaksanakan pembangunan gereja.

Poin 6 berkaitan erat dengan tugas gereja di poin 4 kalau kita mau fokus kepada perubahan sistem dan struktur, bukan hanya diakonia dalam bentuk karitatif.

Huria Kristen Batak Protestan adalah gereja yang mengaku memiliki pemahaman teologi Lutheran dan berbasis di Sumatera Utara. Pengakuan Iman yang kita gunakan untuk memahami pandangan teologis mengenai diakonia dan politik adalah Konfesi HKBP 1951 dan Konfesi HKBP 1996. HKBP melihat dirinya sebagai gereja yang harus terlibat dalam kehidupan berbangsa namun bukan sebagai gereja negara. Pengakuan Iman HKBP 1951, Pasal 8 poin A tentang Gereja menyatakan,

A. Kita percaya dan menyaksikan :
Gereja ialah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang dipanggil, dihimpun, dikuduskan dan ditetapkan Allah dengan Rohu’l Kudus (1Kor. 1:2; 1Ptr.2: 9; Ef. 1:2,22; 1Kor. 3).

Dalam penjelasan poin 3, dicantumkan,
Dengan ajaran ini kita menolak dan melawan:
3. Pemikiran bahwa Gereja harus menjadi Gereja Negara, sebab kewajiban dari Gereja dan kewajiban negara adalah berlainan.
Konfesi HKBP 1951 dipengaruhi oleh Deklarasi Barmen yang berusaha mengingatkan bahwa gereja tidak boleh menjadi Der Volkskirche (gereja bangsa), yang mementingkan suara bersama dalam persekutuan orang-orang percaya (lht. Barmen Declaration 1934 dalam Bradstock & Rowland 2002, 201-203). Tema penolakan ide Der Volkskirche ini kembali diulangi di Konfesi HKBP 1996 Pasal 7 C dengan kalimat yang kurang lebih serupa. Lebih lanjut, pemahaman HKBP mengenai relasi gereja dan pemerintah di atas diperkuat dalam pasal 12 tentang Pemerintah yang menyatakan,

Kita menyaksikan :
Pemerintah yang berkuasa adalah dari Allah datangnya. Ialah pemerintah yang melawan kejahatan, yang mempertahankan keadilan yang berusaha agar orang percaya dapat hidup sejahtera seperti tercantum pada Roma 13 dan 1 Timotius 2:2.
Pada lain pihak kita harus ingat yang tercantum pada Kisah Rasul 5:29: “Wajiblah orang menurut Allah lebih daripada manusia.”
Dengan ajaran ini kita menyaksikan: Gereja harus mendoakan Pemerintah agar berjalan di dalam keadilan. Sebaiknya Gereja pada saat-saat yang perlu harus memperdengarkan suaranya terhadap Pemerintah.

Dengan ajaran ini kita menolak paham yang mengatakan: Negara adalah negara keagamaan, sebab Negara dan Gereja mempunyai bidang-bidang tersendiri (Mat. 22:21b).

Jika perlu di hadapan hakim untuk menyaksikan kebenaran, orang Kristen boleh bersumpah, demikian pula waktu menerima jabatan atau pangkat. (Konfesi HKBP 1996 Pasal 12)

Dari pemahaman di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa HKBP melihat dirinya sebagai suara kritis terhadap pemerintahan. Dia tidak menentang pemerintah karena pemerintah berasal dari Allah, namun kepatuhan terhadap Allah tetap di atas kepatuhan terhadap pemerintah dunia. Karena sikap kritis ini, HKBP bukanlah gereja negara, namun juga bukan gereja yang tidak aktif dalam kehidupan berbangsa. Bahkan, gereja dili¬hat sebagai penyuara norma moral terhadap pemerintahan.

Pandangan tentang diakonia ditemukan dalam pasal 12 mengenai Perbuatan dan Iman, di mana gereja diminta untuk “menghasilkan buah bagi manusia dan bagi sekitarnya.” Dalam pasal 4 mengenai masyarakat, HKBP menuliskan

Kita menekankan pentingnya iman dan tanggung jawab kita dalam masyarakat Indonesia yang majemuk dalam melayani orang miskin, yang sakit, yang melarat, orang asing, yang terbelakang, yang bodoh, korban ketidakpastian hukum (penyelewengan hukum).

Kita menekankan kesamaan hidup dan hak azasi manusia bagi manusia yang hidup di kota dan di desa/ petani, dalam perencanaan, dalam mengambil keputusan dan pengawasan.

Dari pengamatan di atas kita bisa melihat bahwa HKBP berusaha menjaga untuk tidak terlibat aktif dalam pemerintahan sebagai agama negara, namun berperan serta dalam menolong mereka yang menjadi korban ketidakpastian hukum.
(Tim Redaksi disadur dari sajian Pdt. Dr. Binsar Pakpahan)

Kuasa Allah Yang Menghidupkan


Markus 1:21-28

Yesus memulai tugas pelayanan-Nya, setelah terlebih dahulu, Dia menerima baptisan dari Yohanes Pembaptis dan berpuasa di padang gurun selama 40 hari lamanya. Pada pelayanan Yesus, Dia mengajar, memberitakan firman Tuhan, dan menyembuhkan orang sakit. Berita ini terangkum dalam buku keempat Injil. Dalam perikop ini merupakan kisah-kisah awal yang diceritakan Markus tentang pelayanan Yesus. Tema sentral pada perikop ini adalah perihal sifat dan otoritas Yesus (exousia) yang ada pada diri-Nya, yang terlihat pada saat dia mengajar dan mengusir roh jahat. Dalam penjelasan Luther mengenai pasal Pengakuan Iman Rasuli, kita mengaku bahwa “Yesus Kristus adalah Allah sejati, yang lahir dari Bapa dari zaman kekekalan, dan juga manusia yang lahir dari perawan Maria.” Karena kesatuan pribadi kodrat ilahi dan manusiawi di dalam Kristus, sangat tepat mengatakan bukan saja bahwa “Kristus adalah Allah” (Bnd. 1Yoh. 5:20) dan “Kristus adalah manusia” (Bnd. 1Tim. 2:5), melainkan juga menyebut Dia “Orang ini adalah Allah” atau “Anak Manusia adalah Anak Allah” (Bnd. Mat. 16:13-17), dan “Allah adalah Manusia” (Bnd. Yoh. 1:14). Oleh karena itu, Dia memulai pelayanan-Nya dengan kuasa dan otoritas Allah itu terpancar dari Diri-Nya, yang seringkali Dia mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit, mengampuni dosa yang semuanya itu berasal dari otoritas Allah sendiri.

Pada minggu Ephipanias ini, melalui perikop ini, kita melihat kuasa Yesus Kristus yang mengatasi setiap kuasa kegelapan, permasalahan, pemberi pencerahan dan kuasa yang menghidupkan. Dia memberitakan Injil untuk memberikan pencerahan, menguatkan iman, menyembuhkan, menghidupkan dan pertobatan bagi yang belum percaya. Kuasa Tuhan Yesus inilah yang sangat ditekankan kepada kita pada masa Epiphanias ini.

Pada hari Sabat Yesus bersama para murid mengajar di Sinagoge, di daerah Kapernaum. Sinagoge merupakan tempat orang Israel untuk belajar hukum taurat dan firman Tuhan. Ada kelas-kelas dengan tahapan umur dan ada bahan-bahan tertentu sesuai dengan kelas dan tahapan yang telah dilalui. Para murid dan Yesus masuk ke Sinagoge dan mengajar. Kesan para pendengar pada waktu itu adalah: mereka takjub terhadap pengajaran Yesus sebab Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa. Kata yang dipakai untuk menyebut orang yang berkuasa adalah exousia yang artinya orang yang memiliki otoritas, kuasa, kekuatan bukan sekedar orang yang menjalankan sesuatu dan kepadanya diberi kuasa. Perbedaan antara model pengajaran Yesus dengan ahli taurat adalah otoritas pengajaran ahli taurat tergantung pada pengetahuan mereka dan kepatuhan terhadap tradisi-tradisi yang berlaku pada waktu itu. Sedangkan Yesus mengajar dengan otoritas Allah, seperti yang telah disebut di atas, bahwa Dia adalah Manusia sekaligus Tuhan. Otoritas Allah itu pun melekat pada-Nya.

Injil Markus tidak memberikan apa yang menjadi isi pengajaran Yesus, tetapi kita dapat menemukan contoh perbedaan antara pengajaran Yesus dan pengajaran para ahli Taurat di tempat lain dalam tradisi Injil. Misalnya, dalam Markus 12: 35-37, Yesus bertanya mengapa para ahli Taurat mengatakan bahwa Mesias adalah Anak Daud ketika Alkitab menunjukkan bahwa Daud menyebut Mesias sebagai “Tuan.” Alkitab sendiri menyatakan bahwa penafsiran tradisional para ahli Taurat itu tidak memadai. Yesus secara tidak langsung memberikan penafsiran bahwa yang dimaksud Raja Daud adalah diri Yesus sendiri. Artinya, Dia dengan otoritas-Nya sanggup mengklaim hal yang seperti itu. Begitu juga saat Dia mengatakan runtuhkanlah Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan membangunnya kembali (Mrk. 14:58, Yoh. 2:19, Mat. 26:61). Selain itu, pernah ada orang yang bertanya pada Yesus perihal kuasa yang ada pada-Nya “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” (Markus 11:28-30) dan Dia tidak segera menjawab tapi dengan kuasa Allah, Dia mengajar kepada sebuah jawaban yaitu kepada kuasa Allah.

Pada bagian selanjutnya, fokus pada otoritas Yesus berlanjut. Yesus mengusir roh jahat dari seseorang yang merasukinya saat berada di Sinagoge. Roh jahat itu mengenal siapa Yesus, dia menyebut Yesus dengan ungkapan “Yang Kudus dari Allah.” Dan sepertinya roh jahat itu terusik dengan kehadiran dan pelayanan Yesus. Ungkapan “kami” yang disebut roh jahat itu menunjukkan kelompok si Iblis yang menyesatkan dan membuat manusia semakin hidup dalam kegelapan menjadi ketakutan terhadap kehadiran Yesus, tentu mereka tahu otoritas yang ada pada diri Yesus sendiri. Yesus dengan otoritas yang ada pada-Nya menghardik dan menyuruh agar roh jahat itu keluar dari diri orang itu. Teguran Yesus (epetimēsen) dan perintah untuk “diam” (phimōthēti) dalam Markus 1:25 sejajar dengan teguran Yesus (epetimēsen) yang disampaikan kepada angin ribut untuk diam (Mrk 4:39). Orang-orang yang melihat itu heran dan bertanya-tanya siapakah Yesus sehingga angin ribut pun tunduk dan taat pada-Nya. Begitu juga dengan roh-roh jahat semuanya tunduk juga kepada Yesus.
Apa yang dilakukan Yesus ini disebut mereka yang menyaksikannya adalah sebuah ajaran baru. Ajaran Yesus ini bisa kita gambarkan dengan ungkapan Yesus pada Markus 2:22 yang menyebut “Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.” Yesus membawa pembaruan dengan cara menggenapi-Nya dan Dia telah mencurahkan “anggur-Nya” demi banyak orang.

Otoritas Yesus terletak pada Diri-Nya yang termanifestasi juga melalui kata-kata-Nya dan perbuatan-Nya. Yesus menggunakan wewenang-Nya untuk melayani dan memuliakan Tuhan Allah (Mrk. 10:41-45). Otoritas dari Allah berbeda dengan otoritas yang ada dari bumi ini. Otoritas dari Allah selalu melakukan kebenaran dan kebaikan berdasarkan kehendak Allah. Sedangkan otoritas dari dunia ini atau si Iblis selalu membawa perpecahan, kepentingan si Iblis dan kematian. Dan masih banyak lagi yang bisa kita lihat beda dari kedua otoritas itu. Dan yang terutama lewat kematian dan kebangkitan Yesus telah dibuktikan bahwa Yesus telah berkuasa atas langit dan bumi.

Poin utama dari perikop ini adalah:
1. Bisakah kita memiliki otoritas Allah itu? Para murid Yesus membuktikan bahwa mereka memiliki dan memakai otoritas dari Allah untuk mengajar, memberitakan firman Tuhan, menyembuhkan orang sakit dan melayani. Bagaimana kita bisa memilikinya? Dengan anugerah Allah semata. Ketika kita menjadi satu di dalam baptisan Yesus, dalam darah dan daging Kristus, dan firman Tuhan yang berdiam di dalam diri kita, serta Roh Kudus yang memenuhi dan berkuasa atas kita. Kedaulatan Tuhan akan menganugerahkan kuasa itu kepada siapa saja yang Tuhan kehendaki. Simon Petrus bersaksi bahwa otoritas itu merupakan anugerah Allah. Simon penyamak kulit hendak membeli kuasa itu dari Petrus, maka Petrus menghardik dia karena kuasa itu tidak dapat diganti dengan uang. Kita menggunakan kuasa Tuhan yang ada pada diri kita untuk memuliakan nama Tuhan.

2. Pada masa Epiphanias ini kita mencoba untuk menghidupi Kristus yang berkuasa itu di dalam kehidupan kita, termasuk menjalani tahun baru tahun 2019 ini. Umat tidak hanya sekedar mengenang Yesus yang pernah hidup di dunia ini, yang berkuasa mengusir roh jahat, menghapuskan dosa, menghidupkan orang mati dan sebagainya; tetapi umat hendak diajak untuk menemukan, mengalami dan menyaksikan kepada banyak orang bahwa kita telah mengalami kuasa Yesus itu dalam diri kita sendiri.

3. Bagaimana kita tidak hanya kagum kepada kuasa, ajaran dan apa yang dilakukan Yesus seperti yang dilakukan oleh sebagian orang yang ada pada waktu itu. Bagaimana kita pun menjadi orang yang percaya dan mengundang kuasa Tuhan ke dalam hidup kita yang penuh dengan kemelut dan kegelapan agar kita melihat dan mengalami kuasa Tuhan dalam diri kita.

(Pdt. Rudi SM Pardede)

Cinta Kasih di Hati Manusia


Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena. Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon. Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya. Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.

Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel. Maka Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.

Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan. Simon ketakutan, “Siapakah dia? Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja”. Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.

Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata,
Hai Simon, tidak malukah kau? Kau punya mantel meskipun sudah berlubang-lubang, sedangkan orang itu telanjang. Pantaskah orang meninggalkan sesamanya begitu saja?”

Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel baru dan membawa seorang pria asing.
“Simon, siapa ini? Mana mantel barunya?” Simon mencoba menyabarkan Matrena,
“Sabar, Matrena…. dengar dulu penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang”.
“Bohong!! Aku tak percaya….sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!! Usir saja dia!!”
“Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?” Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat.
“Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?”

Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya.
“Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini.”
“Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu”, demikian Simon menjawab.
“Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur.”
“Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja”.

Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya.
“Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu? Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?” Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon. Simon menjawab,
“Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia”.

Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.

Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini. Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.

Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam.
“Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dip enjarakan!! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!”
Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum. Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu. Simon berkata,
“Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara.”

Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon.
“Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar? Celaka, kita bisa masuk penjara karena….” Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya.
“Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja”.
“Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon”, Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.

Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.

Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu. Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu,
“Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?” Ibu itu menjelaskan, “Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri.”

“Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya”, kata Matrena. Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya. Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata,
“Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit.” Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut,
“Nanti dulu Mikhail, tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?”

Mikhail menjawab sambil terus tersenyum,
“Sebenarnya aku adalah adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, “Mikhail, turunlah ke bumi dan pelajarilah ketiga kebenaran ini hingga kau mengerti:
Pertama, Apakah yang hidup dalam hati manusia?
Kedua, Apa yang tidak diijinkan pada manusia?
Ketiga, Apa yang paling diperlukan manusia?”

“Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu. Tapi Simon berkata, “Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?” Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama:
“YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH”
“Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua:
“MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN”
“Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan aku melihat si kembar dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga:
“MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA.”

Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup.” Mikhail kembali ke surga.

Tahun Baru


Tahukah kita bahwa tahun baru dimulai pada hari ke delapan terhitung dari 25 Desember sebagai Natal hari Pertama. Setiap tahunnya kita akan merasakan suasana tema yang sama sekalipun topik yang dibicarakan akan berbeda-beda. Karena itu, setiap tahun akan ditutup pada Natal hari ke tujuh, hal ini mengingatkan kita kepada angka kesempurnaan yaitu “7” sesuai dengan penuturan Alkitab (secara khusus Kejadian pada penciptaan dan wahyu yang menggunakan angka tujuh). Hari ke delapan adalah hari baru, dimana awal hari dimulai kembali. Melalui gambaran ini, sesungguhnya Tahun Liturgi telah menuntun kita kepada ucapan syukur yang begitu besar, bahwa tahun sebelumnya kita telah disempurnakan oleh Allah, baik secara hidup maupun rohani. Maka kita telah siap untuk melangkah pada hari yang baru, bahkan tahun yang baru.

Perjanjian baru sendiri menekankan bahwa anak yang baru lahir harus disunat pada hari yang ke delapan. Sesuai dengan tradisi Yahudi (bnd. Lukas 2:21 dan Filipi 3:5). Ini adalah pembersihan diri dan penetapan sebagai umat percaya pada perjanjian lama. Karena itu pada “Tahun Baru” kita diingatkan kembali sebagai umat Allah yang telah ditetapkan dan memutuskan hubungan dengan keduniawian. Seperti tahun yang lama telah berakhir, demikian juga kehidupan lama akan berakhir, maka perjuangan pada kehidupan yang beru telah dimulai. Menarik jika pada natal hari ke delapan ini diwarnai dengan tema “delapan ASI (Air Susu Ibu) sebagai gambaran permulaan kehidupan. Gambaran ini juga Nampak pada Gorga Batak, delapan ASI yang berhadapan dengan “Dua Boras Pati”.

ACARA KEBAKTIAN ARISAN PUNGUAN DAN MARGA – Bahasa Indonesia


01. Doa di dalam hati masing-masing … amin

02. Bernyanyi KJ. No. 17 : 1 – 2 “Tuhan Allah Hadir”
1. Tuhan Allah hadir, pada saat ini, hai sembah sujud di sini. / Diam dengan hormat tubuh serta jiwa, tunduklah menghadap Dia. / Marilah, umat-Nya, hati mu serahakan dalam kerendahan.
2. Tuhan Allah hadir, yang dimuliakan dalam sorga siang-malam. / “Suci, suci, suci” untuk selamanya dinyanyikan malak Sorga. / Ya Allah t’rimalah, Pujian Jemaat beserta malaikat.

03. Invocatio
L : Melalui sukacita yang dari pada Tuhan, marilah kita membuka acara ini, di dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.
J : Amin
L : Pertolongan kita ialah di dalam Nama Allah,
J : Yang menjadikan langit dan bumi.
L : Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik,
J : sebab untuk selama-lamanya kasih setiaNya.
L : Hai kaum Israel, katakanlah:
J : sebab untuk selama-lamanya kasih setiaNya.
L : Tuhan di pihakku, aku tidak takut, apakah yang dapat orang lakukan terhadapku?
J : Tuhan adalah kekuatanku dan nyanyianku, Ia telah menjadi kota bentengku.
L : Haleluya! Marilah kita berdoa:
Tuhan Allah, Bapa kami yang di surga! Segala pujian dan syukur kami persembahkan kepada-Mu. Sebab Engkau telah memanggil dan menetapkan kami menjadi orang yang berpengharapan melalui persekutuan ini. Sungguh kami merasakan penyertaan Tuhan dalam hidup kami, sebab Engkau telah menyatukan kami dalam persekutuan Roh Kudus untuk menjadi satu. Melalui ibadah ini, kami memohon: jadikan kami layak untuk menerima kekuatan dari-Mu, agar kehidupan kami dapat mewujudnyatakan kehendak-Mu. Tuntunlah kami agar langkah dan hati kami tetap satu seperti Engkau di dalam Yesus, dan bersama-sama dengan Roh Kudus, menjadi Raja atas seluruh ciptaan-Mu, sekarang dan sampai selamanya. Amin.

04. Bernyanyi KJ. No. 253 : 1, 5 “Majulah, majulah”
1. Majulah, majulah, maju dalam t’rang permai dan nyalakanlah pelita menantikan Mempelai; sumber Hidup hanya Dia. Umat Tuhan, masuk pintuNya, majulah, majulah!
5. Tumbuhlah, tumbuhlah, tumbu dalam Tuhanmu: Roh dan Hidup kauseraplah; jangan maut kautempuh. Subur oleh kuasa Allah bagai carang hijau s’lamanya tumbuhlah, tumbuhlah!

05. Pembacaan Ayat
L : Nas bacaan dalam ibadah saat ini, tertulis dalam Pilipi 2:1-11. Marilah kita membaca secara berganti-gantian. Beginilah Firman Tuhan: Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
J : karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
L : dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
J : dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
L : Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
J : yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
L : melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
J : Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
L : Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
J : supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
L : dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! Demikian Firman Tuhan. Berbahagialah orang yang mendengarkan Firman Tuhan, serta memeliharanya.
J : Amin.

06. Bernyanyi KJ. No. 372 : 1 – 2 “Inginkah kau ikut Tuhan”
1. Inginkah kau ikut Tuhan? Pikul salib! Jangan bimbang, jangan sungkan: ikut Tabib! Pikullah salibmu saja, ikut terus; lihatlah mahkota Raja agung yang kudus!
2. Haruslah kausangkal diri: pikul salib! Di godaan dunia ini ikut Tabib! Pikullah salibmu saja, ikut terus; lihatlah mahkota Raja agung yang kudus!

07. Doa Syafaat

08. Bernyanyi KJ. No. 249 : 1 “Serikat Persaudaraan”
1. Serikat persaudaraan, berdirilah teguh! Sempurnakan persatuan di dalam Tuhanmu. Bersama-sama majulah, dikuatkan iman, Berdamai, bersajahtera, dengan pengasihan.

09. Khotbah atau Renungan

10. Bernyanyi KJ. No. 425 : 1, 3 “Berkumandang suara” persembahan
1. Berkumandang suara dari seberang, “Kirimlah cahyamu!” Banyak jiwa dalam dosa mengerang, “Kirimlah cahyamu!” Kirimlah pelita Injili menyentak yang terlelap. Kirimlah pelita Injili menyentak yang terlelap.
3. Jangan kita tinggal diam mendengar: “Kirimlah cahyamu!” Injil Tuhan haruslah kita sebar, “Kirimlah cahyamu!” Kirimlah pelita Injili menyentak yang terlelap. Kirimlah pelita Injili menyentak yang terlelap.

11. Doa Bapa kami dan Penutup

NATAL: Hari Kedua


Seperti yang telah dijelaskan, bahwa setiap natal memiliki makna sendiri. Maka pada Natal hari yang kedua ini, tema sentralnya adalah mengenai kehidupan umat percaya dari generasi menuju generasi. Simbol gereja tetap bunga katsuba. Kita masih berbicara mengenai dampak dosa manusia, tetapi setiap orang yang percaya harus menjadi contoh bagi umat manusia. Itu sebabnya tanggung jawab kita bukan hanya bagi diri kita sendiri, tetapi harus juga diwariskan secara turun temurun kepada generasi yang berikutnya. Sehingga dunia yang baru tidak menjadi hancur, tetapi tetap untuk seterusnya.

Kehidupan kekelaman harus ditinggalkan, ini tugas setiap manusia, secara khusus bagi setiap keluarga. Orang tua harus mewariskan iman kepada putra dan putrinya. Dunia akan terus menarik umat percaya untuk berbuat dosa, tetapi kesetiaan (yang disimbolkan dengan dua merpati) kepada Allah akan membawa dampak, setiap orang dunia akan melihat bagaimana Kerajaan Allah berkarya. Yang pada akhirnya semua manusia akan datang kepada Yesus Kristus yang telah lahir untuk dunia. Peristiwa Natal hari kedua ini adalah lanjutan dari Natal hari pertama, yaitu pengharapan akan dunia yang lebih baik. Jangan mengurung diri dalam kegelapan, sebab di luar sana, cahaya Kristus telah bersinar. Maka sambutlah sinar tersebut dengan berkarya dan berusaha.

NATAL: Hari Pertama


Tahukah kita bahwa ada 12 Hari Natal? Setiap hari memiliki tema-tema tersendiri, yang tersusun dalam penggabungan seluruh tema. Hari Pertama adalah “merpati” yang membawa tunas, yang bertemakan tentang awal kehidupan baru. Hari kedua adalah “dua burung merpati” yang bertemakan tentang generasi manusia (simbol pernikahan). Hari ke tiga adalah “tiga ayam betina” simbol trinitas yang tetap menaungi manusia di bawah sayap-Nya. Hari keempat adalah “empat merpati yang terbang” yaitu gambaran damai yang terus dicari oleh manusia kesegala penjuru bumi (arah mata angin bagi orang Yahudi ada 4, berbeda dengan kita yang memiliki 6 arah mata angin). Demikianlah seterusnya selama 12 hari.

Pada hari pertama ini, kita diingatkan bahwa kehadiran Allah akan membawa pengharapan baru. Simbol yang dipakai adalah bunga katsuba (Pinsettia atau Euphorbia pulcherrima). Ini menggambarkan dosa manusia yang merah seperti bunga katsuba, sehingga Allah memusnahkan manusia melalui air bah. Tetapi orang yang percaya akan diselamatkan, seperti Nuh dan keluarganya yang diselamatkan Allah, dan melalui merekalah kehidupan baru akan dinyatakan Allah. Demikianlah orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan diselamatkan melalui Putra-Nya. Dari dari orang percaya tersebutlah akan dibentuk Israel yang baru sebagai bangsa Allah yang telah ditebus