Arsip Penulis: Parjuangan Radyarto Siregar

avatar Tidak diketahui

Tentang Parjuangan Radyarto Siregar

GSM

Memperingati 100 Tahun Wafatnya I.L. Nommensen


(23 Mei 1918 – 23 Mei 2018)

DETIK-DETIK KEPERGIAN NOMMENSEN

Rabu, 22 Mei 1918, jelang pukul tujuh malam, suasana senyap mewarnai Pargodungan Sigumpar. Rumah kediaman Nommensen di samping gereja juga sepi. Sepeninggal kunjungan misionaris Steinsick dan Nyonya Brinskscmidt sore tadi, kondisi kesehatan Nommensen tampak semakin buruk. Ia terbaring lemah di tempat tidur. Ia mengeluhkan dadanya yang sesak sehingga susah menarik napas, tubuhnya pun sakit seperti dirobek-robek.

Anak dan menantu yang menungguinya kelihatan cemas. Nommensen minta dipijat, namun diurungkannya lagi karena tubuhnya terasa sakit. Sesekali Nommensen menyeret langkahnya menuju kamar kerja. Ia duduk termenung di kursi dekat meja tulisnya tengah memikirkan kedua putrinya yang berada di Eropah. “Mereka akan hidup tanpa ayah dan ibu,” ujarnya lemah, nyaris bergumam.

Nommensen sudah sepuh, 84 tahun, kesehatannya naik-turun; terkadang sehat, tetapi setelah itu sakit lagi. Begitu seterusnya, sehingga terkesan keadaannya tidak menentu.

Menantunya menghibur, “Kami, semampu yang kami bisa akan mengurus mereka,” katanya.

Nommensen hanya terdiam. Ia bangkit membuka lemari, menunjukkan sesuatu yang akan digunakan untuk keperluan kedua putrinya manakala ia sudah tiada.

Anak dan menantunya merasa iba namun tak bisa berbuat apa-apa. Melihat penderitaan Nommensen, mereka hanya bisa berdoa agar Tuhan menjemput orangtua yang mereka sayangi apabila masanya untuk menutup mata memang sudah tiba.

Malam semakin larut. Kepada anak dan menantunya Nommensen berpesan agar menyampaikan salamnya kepada orang-orang yang ia kasihi. Anaknya berkata, “Kami masih mengharapkan ayah tinggal bersama kami.”

“Saya juga berharap begitu. Tetapi, Tuhan kali ini berkehendak lain,” sahut Nommensen. Ia duduk lalu berdoa, “Jesus, Jesus! Berikan hamba-Mu ini ketenangan …”

Menjelang pagi kondisi kesehatan Nommensen semakin buruk. Napasnya satu-satu. Denyut nadinya pun semakin lemah. Ia kembali duduk dan berdoa, “Tuhan, jiwaku kuserahkan kepada-Mu,” katanya lalu merebahkan diri.

Bola matanya bergerak ke atas seakan menatap kemuliaan Allah. Matanya tiba-tiba terpejam, tubuhnya bergetar pelan, lalu diam; diam untuk selama-lamanya.

Nommensen wafat pada Kamis pagi, 23 Mei 1918 tatkala lonceng gereja berdentang bersama semburat matahari yang semburat di ufuk timur.

Kematian Nommensen menyebar dengan cepat. Tanah Batak berduka. Sigumpar penuh sesak dengan jemaat, pendeta, misionaris, dan pejabat teras Belanda. Jasad Nommensen dibawa ke gereja sebelum dimakamkan di lokasi Pargodungan Sigumpar pada Jumat sore, 24 Mei 1918.

Nommensen menghabiskan lebih dari separuh usianya, yaitu 57 tahun, mengabdikan diri menyebarkan agama Kristen di Tanah Batak. Karyanya besar dan layak dikenang. Dengan demikian genaplah ikrar Nommensen saat menginjakkan kakinya di bukit Siatas Barita, Silindung pada November 1863, tatkala ia berdoa, “Tuhan, hidup atau mati, biarlah aku hidup di tengah-tengah bangsa ini utuk menyebarkan firman-Mu. Amin!”

NOMMENSEN, SANG RASUL BATAK

Banyak tokoh penjelajah yang begitu diagungkan dalam sejarah. Sebut saja Cristopher Colombus penemu Benua Amerika, Vasco da Gama penemu India, atau Cheng Ho pemimpin ekspedisi yang meninggalkan jejak di berbagai tempat di Nusantara dan Benua Asia. Namun, siapa pun tokoh itu, bagi suku Batak tidak sebanding apa-apa dengan Ingwer Ludwig Nommensen.

Siapakah Nommensen?

Nommensen adalah seorang misionaris RMG (Rheinische Missionsgesellschaft) asal Jerman yang mengabdikan hidupnya untuk Pakabaran Injil di Tanah Batak, dari tahun 1861 sampai dengan 1918.

Melalui tuntunannya suku Batak mampu melepaskan diri dari zaman kegelapan sehingga menjadi suku yang maju dan beradab sebagaimana dikenal sekarang. Suku Batak menghormati Nommensen layaknya seorang rasul, dijuluki “Rasul Batak,” serta diberi sapaan “Ompu I”, sapaan tertinggi dalam hierarki kekerabatan dalam budaya Batak.

Di sisi lain, suku Batak adalah “temuan” yang baik bagi Nommensen untuk menyampaikan Berita Keselamatan, sebab suku Batak adalah suku bangsa terbesar ketiga dari lapisan penduduk Indonesia setelah Jawa dan Sunda. Karya agung Nommensen menjelma dalam komunitas HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), gereja muda terbesar di dunia, serta lembaga keagamaan terbesar ketiga di Indonesia setelah Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah. Sejatinya Nommensen bukan hanya milik HKBP, juga berbagai demonasi gereja yang berakar dari HKBP, juga milik bangsa, meski tak pernah disinggung dalam sejarah nasional.

DARI NORSTRAND KE TANAH BATAK

Nommensen lahir pada 6 Februari 1834 di sebuah pulau kecil Norstrand, yang kala itu masuk dalam bagian Denmark Selatan di Kepulauan Frisia Utara, berbatasan dengan bagian utara Jerman di lepas pantai Laut Utara.

Nommensen lahir di tengah keluarga miskin dan hidup menderita. Pada usia 8 tahun ia ikut mencari nafkah sebagai penggembala dan pada usia 10 tahun menjadi buruh tani bagi para tetangga.

Pada usia 12 tahun Nommensen mengalami patah kaki akibat ditabrak kereta kuda. Menurut dokter kakinya harus diamputasi. Ia berdoa minta kesembuhan dari Tuhan serta bernazar, apabila Tuhan mengabulkan doanya maka ia akan mengabdikan seluruh hidupnya bagi Pekabaran Injil di kalangan pelbegu. Doanya didengar Tuhan. Penyakitnya sembuh tanpa harus diamputasi.

Nommensen mengikuti pendidikan teologia di Seminari Zending Lutheran RMG di Barmen pada tahun 1857 dan ditahbiskan sebagai pendeta pada 13 Oktober 1861. Misi Pekabaran Injil ke Tanah Batak dimulai. Pada 1 November 1861 ia berangkat dari Barmen ke Amsterdam Belanda untuk menemui Kongsi Witteven Ermelo yang telah memberangkatkan Pdt Gerrit van Asselt dan Pdt Betz ke Sumatera. Ia juga menemui Dr N. van der Took yang telah mempelajari bahasa Batak yang juga mempelajari hasil penelitian para ahli dan penulis seperti Junghun dan Raffles.

Nommensen menuju Niewendiep untuk bergabung dengan penumpang lainnya di kapal Pertinox. Dari sana, pada 24 Desember 1861, kapal Pertinox berlayar menuju Sumatera melalui sisi benua Amerika (Brasil) dan perairan laut ujung selatan Benua Afrika (Cape of Good Hope). Dalam perjalanan melelahkan penuh bahaya ––142 hari lamanya–– Nommensen tiba di Padang pada 16 Mei 1862.

Nommensen tinggal beberapa lama di Padang sebelum bertolak dan tiba di Sibolga pada 23 Juni 1862. Ia kemudian meneruskan perjalanannya dan tiba di Barus pada 25 Juni 1862. Pemerintah kolonial Belanda dalam hal ini oleh residen yang berkedudukan di Sibolga tidak mengijinkan Nommensen memasuki Tanah Batak (Toba) dengan alasan keamanan. Selama di Barus ia mempelajari bahasa Batak dan bahasa Melayu, terutama mengenai adat istiadat Batak. Ia sangat mahfum, tanpa pendekatan budaya, pekerjaannya akan sia-sia belaka.

Pada 30 Agustus 1862 Nommensen berkordinasi dengan empat misionaris pendahulu di Sipirok. Mereka adalah Gerrit van Asselt dan Betz (utusan Zending Ermelo Belanda) serta Heine dan Klammer (utusan Zending RMG yang sama dengan Nommensen). Pada tahun 1863 Nommensen ditempatkan di Pos Parausorat.

Nommensen sangat kukuh pada nazarnya untuk mengabarkan Injil di kalangan pelbegu. Apalagi, selama di Barus, Sipirok, dan Parausorat ia melihat perkembangan Pekabaran Injil sangat lamban karena sebagian besar penduduknya sudah memeluk Islam. Kegigihannya untuk mengabarkan Injil di Tanah Batak membuat pemerintah Hindia Belanda di Batavia bersikap lunak. Mereka mengijinkan Nommensen memasuki Tanah Batak yang masih tertutup dan merdeka dari penaklukan Belanda. (Dengan sendirinya Nommensenlah satu-satunya misionaris pertama yang berani memasuki dan berdiam di tengah suku Batak dengan resiko yang sangat besar; sampai mempertaruhkan nyawa).

Pada 7 November 1863 Nommensen meninggalkan Parausorat menuju Silindung. Ia didampingi Panrau, seorang Dayak Kristen yang menemaninya sejak dari Padang. Ia menempuh jalur Simangambat, Silantom, Batunadua, Sigotom dalam perjalanan selama 4 hari yang melelahkan, kemudian tiba di puncak bukit Siatas Barita pada 11 November 1863.

Nommensen menebar pandang ke lembah Silindung. Ia bersimpuh dan berdoa: “Tuhan, hidup atau mati, biarlah aku hidup di tengah-tengah bangsa ini untuk menyebarkan firman-Mu. Amin!”

Doa singkat inilah yang kelak dikenal dalam sejarah Zending sebagai motivasi bagi misionaris dan pelayan Tuhan dalam misi Pekabaran Injil di kalangan suku Batak mulai dari Silindung, Humbang, Toba, Samosir bahkan ke puak Batak lainnya di Simalungun, Karo, dan Pakpak.

MISIONARIS SUPRANASIONAL

Penemuan Benua Amerika oleh Columbus pada tahun 1492 dan pembukaan segala benua melalui gerakan imperialisme dan kolonialisme telah membuka daerah yang sangat luas bagi Pekabaran Injil atau zending. Pekabaran Injil mendapat minat yang sangat besar pada akhir abad ke-18 di Inggris dan terutama di Belanda dan Jerman pada abad ke-19.

Keadaan ini lahir dari kesadaran baru di bidang pembangunan rohani usai Barat melampaui masa gelap Revolusi Perancis dan kejatuhan Napoleon pada tahun 1815. Abad ke-19 kemudian dikenal sebagai “Abad Pekabaran Injil” bersamaan dengan kemenangan Injil di benua-benua kafir.

Serupa Gereja, Pekabaran Injil pada perkembangannya lebih bersifat supranasional, artinya, badan zending yang mengirim utusannya tidak harus berasal dari bangsa penjajah bersangkutan. Maka, ketika Indonesia di bawah jajahan Belanda, bukan hanya badan zending Belanda saja yang memberitakan Injil di Indonesia, tetapi juga badan zending yang berasal dari Amerika, Swiss, dan Jerman.

Misionaris perintis pertama ke Tanah Batak berasal dari Inggris bernama Burton dan Ward. Utusan Babtist Chruch England, ini berkunjung ke Silindung pada Juli 1824 namun kehadiran mereka ditolak raja-raja dan penduduk Silindung.

Dua utusan Gereja Boston Amerika berusaha masuk ke Tanah Batak melalui Adiankoting. Naas, mereka dibunuh Raja Panggalamei di Desa Sisangkak Adiankoting pada 28 Juli 1834. (Konon, tubuh kedua pendeta itu dimakan setelah dibunuh, sehingga di kemudian hari ada cap negatif orang Batak yang kanibalis).

Misionaris yang datang menyusul adalah Gerrit van Asselt. Utusan Ds Witteven dari Kota Ermelo Belanda, ini tiba di Sumatera dan berpos di Sipirok pada Mei 1856 . Badan zending yang mengutus van Asselt sangat kecil bahkan karena tidak memiliki dana memadai membuat van Asselt membiayai sendiri tugas-tugasnya sebagai penginjil. Ia bekerja sebagai opzighter (pelaksana) pembangunan jalan di Sibolga kemudian opziener (administrator) gudang kopi milik Belanda di Sipirok. Meski tidak membuahkan hasil yang optimal, peran van Asselt dianggap penting sebab di tangannyalah orang Batak pertama dibabtis sebagai orang Kristen, yaitu Jakobus Pohan dan Simon Petrus.

Kongsi Witteven Ermelo kemudian mengirimkan beberapa misionaris untuk mendampingi van Asselt, mereka adalah FG Betz, Dammerboer, Koster, dan van Dallen. Mereka juga bisa disebut “Penginjil Tukang” karena mengabarkan Injil sembari bekerja sebagai tukang; untuk membiayai pekerjaannya sebagai penginjil.

Pekabaran Injil di Tanah Batak membawa sukacita tersendiri dengan bergabungnya RMG yang berpusat di Barmen, Jerman dengan Ds Witteven yang berpusat di Ermelo, Belanda.

Sejak berdiri pada 23 September 1828, RMG telah mengabarkan Injil ke berbagai belahan dunia, dataran luas dan suku-suku bangsa yang besar seperti di Afrika dan Tiongkok. Pada tahun 1836 RMG sudah bekerja di Indonesia yaitu di Kalimantan.

Dua peristiwa penting mewarnai masuknya Pekabaran Injil ke Tanah Batak. Pertama Perang Banjar yang dipimpin Pangeran Hidayat di Kalimantan Tenggara (1859) Perang Banjar adalah perlawanan rakyat Kalimantan Tenggara terhadap Belanda. Peristiwa yang menelan banyak korban jiwa, termasuk pendeta dan keluarga pendeta, memaksa misionaris Klammer tertahan di Batavia.

Kedua, ketertarikan Pimpinan RMG Friedrich Fabri terhadap Tanah Batak usai melihat dokumen penelitian Dr N van der Took mengenai suku Batak, dalam kunjungan Fabri ke Amsterdam pada tahun 1860.

Atas dua peristiwa tersebut Fabri mengutus van Hoefen yang tadinya bertugas di Banjarmasin mengunjungi Tanah Batak. Berdasarkan laporan van Hoefen, Fabri kemudian mengutus Heine bersama Klammer yang tertahan di Batavia untuk menjalankan misi ke Tanah Batak. Mereka tiba di Sibolga pada 17 Agustus 1861 dan memilih Sipirok sebagai pos pelayanan.

Klammer dan Heine melakukan koordinasi dengan van Asselt dan Betz. Keempat misionaris supranasional ini melakukan pembagian tugas pada 7 Oktober 1861. Heine dan van Asselt berangkat ke wilayah Pahae kemudian menempati pos masing-masing di Sigompulon dan Pangaloan. Betz mendapat tugas di tempat yang sudah dibuka sebelumnya, yaitu di Bungabondar, dan Klammer di Sipirok.
Koordinasi pembagian tugas ini kemudian dikenal sebagai hari jadi HKBP.

BERKEMBANG DAN BERBUAH

Nommensen bukannya tak sadar atas bahaya dan resiko terparah karena ia hidup di tengah suku yang penuh permusuhan, penuh curiga, keras kepala, dan sukar menerima perubahan. Bukan saja dicerca dan ditolak, ia bahkan nyaris terbunuh. Perlahan-lahan, dengan memita perlindungan dari Tuhan dan tingkat kesabaran yang tinggi tak kenal putus asa, Nommensen berhasil menyebarkan agama Kristen di Tanah Batak.

Nommensen memiliki strategi yang cakap melalui pendekatan sosial budaya, mendirikan sekolah, mengupayakan kesehatan melalui balai-balai pengobatan, serta meningkatkan kesejahteraan jemaat melalui pertanian dan peternakan, serta meminjamkan modal. Sekolah-sekolah yang didirikan bukan hanya untuk mendidik penginjil pribumi tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan guru di sekolah mulai dari sekolah dasar, menengah, dan kejuruan.

Periode 1863 – 1881 dicatat sebagai peletakan dasar-dasar pertama Pekabaran Injil oleh Nommensen di Silindung dan Humbang. Tahapan ini dimulai dengan berdirinya jemaat kecil di Huta Dame yang dibangun pada 12 Juni 1864. Jemaat-jemaat yang baru pun semakin bertumbuh, sehingga untuk menampung aktivitas terkait maka Nommensen memindahkan pos ke Pearaja (Kantor Pusat HKBP sekarang) pada tahun 1872. Sejumlah misionaris didatangkan dari Jerman. Sekolah zending bagi pribumi dibuka di Pansurnapitu dan Simorangkir.

Periode ini juga ditandai dengan penerjemahan kitab-kitab dasar untuk jemaat oleh Nommensen, yaitu Katekismus Kecil (1874) dan Perjanjian Baru (1878). Tata gereja yang pengaruhnya paling dalam serta lama karena berlaku sampai tahun 1930, diberlakukan mula-mula pada tahun 1881. Pada tahun ini juga Nommensen ditetapkan RMG sebagai Ephorus Huria Batak (kemudian HKBP).

Periode 1881-1901 ditandai dengan semakin banyaknya jemaat yang didirikan di Toba dan daerah-daerah kawasan Danau Toba. Misionaris juga semakin bertambah-tambah, begitu juga halnya dengan pendeta pribumi dengan ditahbiskannya pendeta-pendeta pertama pada tahun 1885.

Pada tahun 1890 Nommensen menetap di Sigumpar setelah sebelumnya berpos di Laguboti. Alasan memilih Sigumpar karena letaknya strategis untuk menjangkau wilayah Uluan dan Pulau Samosir.

Pada tahun 1903 Nommensen memimpin sendiri Pekabaran Injil hingga ke Simalungun. Di tangan misionaris dan pendeta pribumi yang cakap Pekabaran Injil semakin berkembang ke Tanah Dairi dan Sumatera Timur. Dengan kepemimpinan yang kuat, pekerja yang banyak, latihan pengantar-pengantar jemaat yang cukup sejak awal, maka lama kelamaan Gereja Kristus di Tanah Batak tumbuh berkembang dan berbuah menjadi Gereja muda yang paling besar di dunia. Atas pengabdian Nommensen, ia menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Bonn pada tahun 1904.

Nommensen meninggal dunia pada 23 Mei 1918 dalam usia 84 tahun setelah mengabdikan diri di Tanah Batak selama 57 tahun. Pekabaran Injil yang dirintis Nommensen tidak pernah berhenti, bahkan jemaat yang dituntunnya dari kekelaman kini menyebar ke seantero Indonessia dan penjuru dunia.

Bukan hanya jemaat HKBP yang setia mengenang dirinya. Orang-orang Batak Kristen dan beberapa denominasi gereja yang berakar dari HKBP juga tetap mengagumi, menghormati, dan menjadikannya teladan.

Lilin terang telah menerangi kegelapan di kalangan suku Batak, semoga tak pernah padam akan tetapi senantiasa bersinar dan abadi sepanjang masa.

(Tulisan ini diolah dari berbagai sumber).

ROH YANG MEMBERI HIDUP


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-255: 1. Holan Sada Do Naringkot
Holan sada do naringkot, Jesus lehon i di au. Manang aha pe na dapot dang tuk pasonangkon au. Nang arta, nang sangap, sude hamoraon, Dang tau mangalehon di au hasonangan. Alai molo dapot nasasadai, tontong las rohangku hinorhon ni i.

PEMBACAAN FIRMAN
Rom 8: 9-11 (pagi) Zak. 12: 7-10 (malam)

RENUNGAN HARIAN, Rabu 23 Mei 2018
Yohanes 6: 63
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.

ROH YANG MEMBERI HIDUP
Dunia ini setiap saat bersuara dan banyak kehidupan manusia dipengaruhi oleh internet, media sosial, film, berita, bacaan dan lain sebagainya. Pengaruh dunia yang begitu indah dan gemerlapan sangat memikat dan menggoda anak-anak Tuhan untuk larut dalam kenikmatan daging yang hanya memuaskan keinginan duniawi sehingga lupa bahkan mengabaikan keinginan roh. Kesenangan untuk mendengar yang berhubungan dengan duniawi, yang mendatangkan keberuntungan berupa uang dan harta, sering menutup telinga untuk mendengar nasehat, teguran, pengajaran Firman Tuhan.

Sesungguhnya apa yang kita andalkan dalam kehidupan ini? Kekuatan, kekayaan, jabatan, kekuasaan, semuanya itu ada masanya dan akan berlalu dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk mempertahankannya. Melalui nas ini, Yesus memperingatkan murid-murid-Nya dan kepada kita bahwa: rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Daging kita ini tidak berguna sebab suatu hari nanti akan mati dan hancur menjadi tanah ditelan bumi sedangkan roh kita hidup dan akan kembali kepada Allah.

Tuhanlah sumber kehidupan. Kita tidak akan mampu menghadapi kehidupan yang begitu keras tanpa campur tangan Tuhan. Harta kekayaan, kekuatan dan kuasa tidak akan dapat memberikan hidup. Semuanya adalah barang yang fana, sia-sia dan akan hilang ditelan masa. Langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataan Tuhan tidak akan berlalu (Mat. 24:35).

Perkataan Tuhan inilah yang akan memberi hidup karena perkataan Tuhan adalah perkataan roh yaitu Firman Tuhan. Kita hidup karena Tuhan yang memberi kehidupan. Kita hidup karena Roh Tuhan ada pada kita. Kita hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Tuhan (Matius 4:4). Mari kita datang kepada-Nya yang adalah Roh maka kita akan hidup karena Rohlah yang memberi hidup. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-237: 1. Roh Kudus, Tetap Teguh
Roh Kudus, tetap teguh, Kau Pemimpin umat-Mu. Tuntun kami yang lemah lewat gurun dunia. Jiwa yang letih lesu mendengar panggilanMu, Hai musfir, ikutlah ke neg’ri sejahtera.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-Amin-Amin

BAIT ALLAH


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-461: 1. Songgop Tu Hami
Songgop tu hami na di joloMon, o tondi ni, Debatangki. Uhir patikMu tu rohangkinon, O Tondi ni Debatangki. Bereng siholhu di haroroMi, Molo Ho ro, nda hisar tondingki. Didihon ma tu au on apiMi. O Tondi ni Debatangki.

PEMBACAAN FIRMAN
Kisah P. Rasul 8: 14-17 (pagi) Kej. 11: 1-9 (malam)

RENUNGAN HARIAN, Selasa 22 Mei 2018
1 Korintus 3: 16
Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?

BAIT ALLAH
Membangun bait Allah adalah salah satu kerinduan Raja Daud. Namun Tuhan tidak memperkenankannya karena terlalu banyak darah yang tercurah pada masanya. Raja Salomo, anak Daud, pada akhirnya diperkenankan Allah mendirikan bait Allah. Pembangunan bait Allah adalah otoritas Allah sendiri. Sehebat apapun manusia dengan kuasa dan harta yang melimpah ketika berkeinginan membangun bait Allah (gereja), jika Allah tidak berkenan pastilah tidak berguna.

Renungan ini mengajar kita tentang bait Allah yang sesungguhnya, yaitu kita, tubuh kita. Apa artinya? Kerinduan kita mendirikan bait Allah sungguh sudah dilekatkan oleh Allah kepada kita yang percaya kepada Yesus. Allah memperkenankan saya dan saudara mendirikan bait Allah yang adalah tubuh kita sendiri. Karena Dia berkenan, Dia juga berkenan diam di dalam kita dalam Roh Kudus-Nya. Sekarang apa yang menjadi tugas kita agar bait Allah itu berguna? Tidak lain adalah memelihara tubuh kita ini agar jauh dari kerusakan oleh karena keinginan-keinginan badaniah. Seperti apa gerangan keinginan tersebut? Salah satu di antaranya adalah tembakau yang apabila dibakar dan asapnya dihisap akan merusak tubuh kita. Ketika tubuh kita yang adalah bait Allah rusak, maka bait Allah (gereja) itu tidaklah berguna. Mari kita muliakan Tuhan melalui tubuh kita, karena Allah berkenan kita membangun bait Allah, yaitu tubuh kita. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-252: 1. Batu Penjuru G’reja
Batu penjuru G’reja dan Dasar yang esa, yaitu Yesus Kristus, Pendiri umatNya. Dengan kurban darahNya. Gereja ditebus; baptisan dan firmanNya membuatnya kudus.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-Amin-Amin

Pesta Kedua Pentakosta, Senin 21 Mei 2018


Pesta Kedua Pentakosta
Hari Turunnya Roh Kudus

Tema: Hiduplah di dalam Roh Allah
(Mangolu dibagasan Panogunoguon ni Tondi ni Debata)

Warna Tutup Altar : Merah (Na Rara)
Warna simbol darah dan api, lambang semangat dalam memuji dan bersyukur kepada Tuhan.

Ev. : Yohanes 14:15-21
Ep. : Yeheskiel 11:19-20

Burung Merpati dan Lidah Api

Kita semua mengetahui bahwa simbol burung merpati adalah simbol dari Roh Kudus. Namun banyak yang belum mengetahui mengapa harus burung merpati? Dalam Kejadian 1:2 jelas dikatakan bahwa “Roh Allah melayang-layang…” Gereja mula-mula menggambarkan “melayang-layang” tersebut dalam bentuk burung. Namun semua menjadi jelas ketika peristiwa pembaptisan Yesus terjadi di sungai Yordan, di mana Roh Allah menampakkan diri dalam bentuk Burung Merpati (Matius 3:16). Sedangkan 12 lidah api adalah gambaran dari ke-12 murid Yesus yang menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta. Mengapa 12? pada saat itu Matias telah diangkat untuk menggantikan Yudas Iskariot yang mati bunuh diri. Lidah api memiliki banyak pengertian, dapat diartikan sebagai semangat yang berkobar, atau dapat juga diartikan dengan pemberitaan Firman yang berapi-api, atau mungkin juga dapat diartikan sebagai “pemurni emas dengan cara dibakar”. Tetapi semuanya itu menunjukkan kepada Roh Kudus.

Pesta Pertama Pentakosta, Minggu 20 Mei 2018


Pesta Pertama Pentakosta
Hari Turunnya Roh Kudus

Tema Minggu : Roh Kudus dicurahkan Untuk Semua Bangsa
(Nunga dilehon Debata Tondi Parbadia tu Saluhut Bangso)

Warna Tutup Altar : Merah (Na Rara)
Warna simbol darah dan api, lambang semangat dalam memuji dan bersyukur kepada Tuhan.

Ev. : Kisah Rasul 10:44-48
Ep. : Yesaya 40:12-14

Pentakosta
Kata Pentakosta bukanlah berarti “kedatangan Roh Kudus”, namun Pentakosta adalah kata bilangan dalam bahasa Latin. Pentakosta sendiri memiliki arti “Lima Puluh”. Karena itu, Pentakosta berarti hari yang ke lima puluh terhitung sejak Paskah. Sebenarnya tradisi hari ke lima puluh sudah ada sebelum Yesus Kristus lahir. Ini adalah tradisi Yahudi untuk merayakan hasil panen. Perayaan itu sendiri dilaksanakan selama tujuh Minggu terhitung sejak paskah, dan minggu yang ke tujuh dirayakan pesta Shavout (Ulangan 16:10).

Berbeda dengan tradisi Yahudi, umat Kristen lebih memfokuskan makna kepada turunnya Roh Kudus. Sebab pada hari inilah janji Yesus Kristus untuk memberikan Roh penghibur itu benar-benar digenapkan (Lukas 24:49). Peristiwa turunnya Roh Kudus terjadi pada hari yang sama dimana orang-orang Yahudi merayakan Shavout, itulah sebabnya dalam Kisah Para Rasul diterangkan banyak orang yang berbeda suku dan bangsa datang kepasar, sedang para murid Yesus menerima Roh Kudus pada sebuah gedung di ruangan atas. Dan disanalah pewartaan Firman terjadi (khotbah Petrus) dimana 3.000 jiwa bertobat (Kis. 2:41). Itulah sebabnya, ketika Pesta Pentakosta, kita juga merayakan hari lahirnya Pekabaran Injil (Zending).

BERSERU KEPADA-NYA


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-424: 1. Soara ni Tondi
Soara ni Tondi ni Tuhanta I. jot-jot dilao si, ditulak ho i. Sai Tanda jeamu, pauba roham, dapothon Tuhanmu, si sesa dosam.

PEMBACAAN FIRMAN
2 Pet. 3: 3-10 (pagi) 1 Sam. 30:4-6 (malam)

RENUNGAN HARIAN, Sabtu 19 Mei 2018
Mazmur 50: 15
Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.”

BERSERU KEPADA-NYA
Kondisi dunia semakin hari semakin buruk, gangguan keamanan terjadi di berbagai tempat, bukan hanya di Indonesia saja. Bahkan di negara-negara maju seperti Perancis dan Amerika pun mengalami teror. Tidak hanya itu, masalah pribadi pun dialami setiap orang, mulai dari krisis ekonomi, masalah kesehatan, hingga masalah keluarga atau pekerjaan. Lalu apakah ada jalan keluar dari kondisi kehidupan yang mencekam dan menakutkan ini? Jawabannya adalah “Ada”, yaitu Tuhan. Saat-saat kesesakan, mencekam dan penuh teror adalah waktunya untuk berseru kepada Tuhan. Hanya Dialah satu-satunya sumber pertolongan, pribadi yang dapat meluputkan kita sehingga saat semua telah berlalu kita bisa bersyukur dan memuliakan Tuhan atas karya-Nya yang ajaib dalam kehidupan kita. Mungkin Anda berkata, “Saya sudah mencobanya, saya berseru kepada Tuhan tapi sepertinya Dia tidak mendengarkan. Pertolongan itu tidak kunjung datang!” Di saat segala sesuatu tampaknya sulit, bahkan seakan tembok tebal menghalangi kita, jawabannya hanya satu, berserah penuh kepada Kuasa Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. Ingat bahwa Tangan KasihNya senantiasa terulur untuk menolong, memberi jalan keluar dan memimpin seluruh hidup kita.

Untuk itu jangan berhenti percaya! Iman percaya adalah satu-satunya cahaya ditengah kegelapan teror dan tekanan masalah. Ketidakpercayaan artinya Anda nyaman dalam kondisi kegelapan itu. Kita perlu untuk tetap memegang janji Tuhan saat dalam kesesakan, dan bertindaklah dalam iman. Percayalah Ia senantiasa memberikan pertolongan. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar” (Yes. 59: 1) Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-364: 1. Berserah Kepada Yesus
Berserah kepada Yesus tubuh, roh dan jiwaku; kukasihi, kupercaya, kuikuti Dia t’rus. Aku berserah, aku berserah; kepadaMu, Jurus’lamat, aku berserah!

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-Amin-Amin

TUHAN DEKAT DAN BERKENAN


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-6: 4. Puji Jahowa Na Sangap
Puji Jahowa situmpak sude ulaonmu; Ai ditumpakhon tu ho tongtong hangoluanmu, ingot ma i denggan basaNa do i, tomutomuNa sambing

PEMBACAAN FIRMAN
1 Yohannes 4: 13-21 (pagi) Amos 5: 7-8 (malam)

RENUNGAN HARIAN, Jumat 18 Mei 2018
Yesaya 55:6
Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat.

TUHAN DEKAT DAN BERKENAN
Nabi Yesaya berkarya semasa 4 pemerintahan Raja Yehuda, kurun waktu yang panjang sekitar 50 tahun. Ia menyaksikan pemeliharaan dan Keadilan Allah dibalas dengan ketidaktaatan, meragukan Kuasa-Nya dan juga berlaku tidak adil dengan sesamanya. Bangsa yang berdosa, kaum yang sarat dengan kesalahan dan kemunafikan bahkan menista Yang Maha Kudus. Tersesat dan tidak mengenal jalan Tuhan. Nabi Yesaya giat menyampaikan peringatan akan kejahatan dan hukuman dosa Yehuda bahkan sampai akhirnya bangsa Israel mengalami hidup di pembuangan Babel selama 70 tahun. Didalam keadaan menderita dan tanpa harapan ini lah, Yesaya berseru dan membujuk umat Israel untuk turut serta dalam keselamatan yang dari Tuhan. Bahkan dalam kuatir dan gemasnya, Yesaya menekankan “Carilah Tuhan selama Tuhan berkenan ditemui, berserulah kepada-Nya selama Ia dekat”.

Bagi orang Kristen yang sudah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita tahu bahwa Tuhan itu dekat dan selalu berkenan. Bahkan kedatangan dan pertobatan seorang berdosa dari kejahatannya sangat dinantikan-Nya (Mat.9:13). Sebaliknya, manusialah yang sering menjauh dan tidak berkenan kepada Firman Tuhan. Oleh godaan dan tawaran kenikmatan dunia jadi lupa dan disesatkan oleh keinginan-keinginan hatinya bahkan sampai tidak mengenal jalan Tuhan lagi. Sekarang nubuatan Nabi Yesaya tentang keselamatan dalam Yesus Kristus Sang Mesias sudah sampai dan menjadi milik kita, maka mari jaga diri dan tetap setia berdoa, baca Firman Tuhan, beribadah, dan berbuat kebaikan pada sesama. Tuhan memberkati kita. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-358:1 Semua Yang Letih Lesu
Semua yang letih lesu, berdosa, bercela, terima rahmat. Tuhanmu, percaya sabdaNya. Datang saja pada Yesus; kini saatnya!. Datang saja pada Yesus, t’rima rahmatNya.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-Amin-Amin