ALTAR


Kata “altar” dari kata Latin “alta res” (hal yang tinggi) atau “alta ara” (altar yang tinggi). Orang Kristen perdana meminjam istilah “altare” itu terutama untuk menunjuk pada meja Kurban Perjanjian Baru, yang diwartakan Melkisedek (Kej 14:17) untuk menunjukkan meja pada perjamuan malam terakhir yang diadakan Yesus dengan para murid-Nya (Mat 26:26). Kadang kala “altar” dipahami juga sebagai “mesbah”.

Di atas altar, Kurban Salib dihadirkan dalam rupa tanda-tanda sakramental. Altar adalah meja Tuhan, di sekelilingnya umat Allah berhimpun dan saling berbagi. Altar menjadi pusat kegiatan bersyukurnya umat. Altar, sebagai meja perjamuan kudus, seharusnya menjadi tempat yang paling mulia dan paling indah. Hendaknya dirancang dan dibangun bagi keperluan kegiatan liturgis komunitas/umat. Altar adalah tanda Kristus. Selain itu, altar adalah simbol Kristus sendiri. Altar adalah simbol Kristus.

Altar adalah juga Kristus sendiri. Itu memang makna simbolisasi liturgisnya. Namun, dalam tataran spiritual, ternyata altar juga menyimbolkan umat kristiani. Maksudnya, umat kristiani adalah altar-altar spiritual tempat kurban hidupnya dipersembahkan bagi Allah.

ORANG BENAR HIDUP OLEH IMAN


MINGGU XIX SETELAH TRINITATIS, 02 OKTOBER 2016

Habakuk 1 : 1 -4, + 2 ; 1-4

Ada perkataan yang menyebut: menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, bahkan bila terlalu lama menunggu bisa membuat kita kesal, protes dan marah. Demikianlah yang dialami nabi Habakuk yang selalu menunggu agar Tuhan segera bertindak bagi bangsa Israel yang sudah penuh dengan dosa dan kejahatan. Apa yang membuat nabi Habakuk begitu khawatir ? Apa yang terjadi pada waktu itu ? Mengapa nabi Habakuk sampai berteriak kepada Tuhan?  Baca lebih lanjut →

MELEPASKAN EGO DAN MELEBUR PADA DIRI YESUS


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI,BE-28:1 Hata ni Jahowa
Hata ni Jahowa Sipadame jolma, hangoluan i. Halalas ni roha siapuli roha ni na marsak i. Gogo ni Debatangki paluahon na porsea, sian nasa jea.

PEMBACAAN FIRMAN
Mat. 19:16-22 (Pagi)
Hos. 12:2-14 (Malam)

RENUNGAN
Yohanes 6:68 – Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;

MELEPASKAN EGO DAN MELEBUR PADA DIRI YESUS

Iman para murid berada pada tahap melepaskan apa yang ada pada diri mereka dan meleburkan diri kepada Yesus Kristus. Ungkapan Yesus bahwa engkau harus memakan daging-Ku dan darah-Ku agar engkau beroleh kehidupan yang kekal. Tahapan ini sangat keras karena mereka sangat setia menjalankan Hukum Taurat salah satunya mengenai makanan yang haram dan halal. Oleh karena itu, ungkapan Yesus itu sangat bertentangan dan bahkan dipahami sebagai sebuah aliran ekstrem yang sesat. Banyak dari para murid yang mengikuti Yesus mundur. Sedangkan nas hari ini adalah jawaban dan pernyataan Simon Petrus atas pertanyaan Yesus dan respon terhadap sikap para murid yang mengundurkan diri dari Yesus Kristus. Baca lebih lanjut →


Buku Ibadah Harian Keluarga Edisi September – Oktober 2016 akan terbit pada Minggu, 28 Agustus 2016. Karena itu seluruh warga jemaat dapat memilikinya. Parhalado mengharapkan seluruh jemaat dapat melakukan ibadah keluarga setiap harinya. Ibadah kepada Tuhan salah satu tanda kesetiaan kita pada-Nya untuk menjadikan Kristus sebagai Penolong kita. Tuhan memberkati keluarga kita dan mulialah namaNya melalui ibadah harian keluarga yang kita lakukan.

Kembali kepada Firman Tuhan


​MINGGU XIII SETELAH TRINITATIS, 21 AGUSTUS 2016

Yesaya 58:9-14

Sungguh indah percakapan antara Tuhan dengan umat-Nya. Sebuah percakapan sejati tanpa ada yang ditutupi, karena bagi Tuhan segalanya terang benderang. Dia dapat melihat sebuah kesalehan apakah kesalehan itu palsu atau sejati. Jika selama ini umat Israel selalu berpaling dengan menyembah berhala dan menghidupi kesalehan yang palsu maka Tuhan pun berpaling menjauh dari mereka bahkan menghukum mereka. Tapi firman Tuhan kali ini menunjukkan sebuah percakapan yang mau memperbaiki hubungan yang terputus akibat dosa umat Israel. 

Dari pembuangan itu Tuhan menawarkan sebuah restorasi hubungan dan dimulai kepada hal yang sangat mendasar. Tuhan menginginkan agar umat Israel kembali kepada ibadah yang sejati. Ibadah yang tidak hanya tinggal di dalam ritus tapi juga nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah dengan tidak memenderitakan orang lain, memfitnah, merendahkan orang lain, tidak berpusat kepada diri sendiri dengan segala bentuk ke-egoan, dan berbagai bentuk kegiatan kejahatan yang Tuhan tidak sukai. Semuanya ini akan merusak hubungan antara Tuhan dengan umat Israel begitu juga dengan kita. Ibadah yang diinginkan Tuhan adalah ibadah yang menyembah Tuhan dengan jujur, tulus, sungguh-sungguh dan juga tampak dalam kehidupannya sehari-hari.

Tuhan mau mengembalikan umat Israel dari pembuangan dan segera membangun kembali umat Israel menjadi sebuah bangsa yang besar. Pembangunan itu dapat dengan mudah dilakukan. Kelak Nehemia, Ezra dan banyak lagi bersama-sama dipanggil dan diutus Tuhan untuk membangun Israel pasca-pembuangan. Hanya satu yang sangat mendasar yaitu hubungan religi umat Israel kepada Tuhan. Apakah Israel percaya kepada Tuhan? Apakah Israel tidak lagi berpaling dari-Ku? Apakah Israel beribadah dengan sejati? Apakah Israel menghormati Sabat-Ku? 

Saudara, siklus kehidupan umat Israel ini bisa juga kita alami pada masa kini baik secara pribadi, keluarga maupun persekutuan. Sebuah hubungan yang kering, tandus, saling menghujat, saling menghakimi, saling melukai dan sebagainya. Tuhan yang menawarkan sebuah hubungan yang baru dan mendasarkan hubungan agar kembali kepada firman Tuhan. Percayalah kepada-Ku! Jangan lagi lakukan yang tidak baik dan marilah saling mendoakan, mengasihi, dan tolong menolong dengan jujur, tulus dan sungguh-sungguh. Jika hubungan ini sudah terjadi maka engkau akan menjadi mata air yang tak mengecewakan. Sebuah persekutuan sejati, yang tercipta aliran-aliran air kehidupan (Pdt. RSM Pardede) 

Pisah Sambut Pendeta Ressort


Pada hari Minggu ini, 21 Agustus 2016 dilaksanakan pisah sambut di HKBP Ressort Pasar Rebo Pendeta Ressort Pdt. Leonard Sigalingging, STh ditetapkan menjadi Pendeta Ressort di HKBP Ressort Pasar Rebo. Kumpulan Koor yang ikut pisah sambut adalah Koor Ama dan Koor Ina HKBP Serpong.

    Pada hari Minggu, 28 Agustus 2016 dilaksanakan pada Ibadah Minggu Siang pukul 10.00 wib Pisah Sambut Pendeta HKBP Ressort Serpong. Untuk memberangkatkan Pdt. Leonard Sigalingging, STh ke tempat pelayanan yang baru ke HKBP Pasar Rebo dan menetapkan Pdt. Rahmat Lumban Tobing, STh menjadi Pendeta Ressort HKBP Serpong yang baru. 

    Untuk memberangkatkan Pdt. Leonard Sigalingging, STh dan keluarga. Pada acara Minggu Pagi, Siang dan Sore Pendeta Leonard Sigalingging, STh bersama keluarga menyampaikan kata-kata perpisahan dan setelah ibadah Minggu Siang selesai akan dilaksanakan acara ramah tamah. 


      Hayatilah Firman Tuhan


      (Yes 43:16-21)
      Tuhan adalah pusat kehidupan, sebab Dia setia dan Maha Pengasih. Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita sebagaimana Ia sendiri memelihara Israel. Sebagai umat pilihan Allah didalam Yesus Kristus, mari kita belajar dari masa lalu untuk menyongsong masa depan. Jika kita bisa makan dan minum, hidup tenang dan mendapat pekerjaan maka sekarang kita diutus menjadi saksi-saksi Kristus. Dalam kitab Yesaya 43:16-21 umat Israel diajak untuk belajar dari pengalaman hidup para leluhurnya, sebab apa yang mereka miliki sekarang adalah hasil dari sebuah proses yang panjang yang telah dilalui. Baca lebih lanjut →