MENDERITA KARENA KEBENARAN


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 26:1. “Mampirlah dengar doaku”
Mampirlah dengar doaku Yesus Penebus
Orang lain Kau hampiri jangan jalan t’rus
Yesus Tuhan, dengar doaku. Orang lain Kau hampiri
jangan jalan t’rus.

02. Pembacaan Firman
 Pagi : Kidung Agung 5:9-6:3.
 Malam : 1 Korintus 15:1-11.

03. Renungan: 1 Petrus 3:18.
Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh

Hidup selalu diwarnai dengan masalah dan penderitaan. Hidup identik dengan penderitaan. Banyak orang yang berpendapat bahwa jika kita hidup sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan, maka kita akan mengalami hidup yang penuh dengan sukacita dan bebas dari segala kesulitan. Ada kalanya kita akan mengalami penderitaan justru karena kita memilih untuk tetap berdiri tegak di atas kebenaran. Bagi Petrus, penderitaan karena kebenaran jauh lebih baik daripada penderitaan yang harus dialami karena orang berbuat jahat. Menderita karena kebenaran adalah sebuah berkat. Sukacita tidak serta merta terhenti ketika penderitaan karena kebenaran harus dialami. Sukacita yang dimaksud bukanlah semacam perasaan yang menyenangkan, tetapi sukacita karena tahu bahwa kita telah melakukan sesuatu yang diperkenan Tuhan. Memang bisa saja terjadi bahwa penderitaan yang terjadi karena berbuat baik merupakan kehendak Tuhan. Maka hal yang perlu kita ingat adalah bahwa dunia ini telah membuat Kristus menderita padahal Dia hidup sesuai kehendak Allah. Oleh karena itu selalu ada kemungkinan bagi para pengikut Kristus untuk menanggung penderitaan karena kebenaran. Dan penderitaan semacam itu mengidentifikasi kedekatan kita dengan Tuhan kita. Petrus mengingatkan untuk tidak takut terhadap ancaman manusia, sebaliknya jadikanlah penderitaan sebagai sebuah kesempatan untuk menyatakan kebenaran Injil.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE No. 197:1. Namarmahani hita
Na marmahani hita Parholong roha i
I ma Tuhanta Jesus Silehon tua i, Silehon tua i

06. Doa Bapa kami – Amin.

MEMPERTAHANKAN IDENTITAS ORANG KRISTEN


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 19:1. “Tuhanku Yesus”
Tuhanku Yesus, Raja alam raya, Allah dan manusia
Kau kukasihi, Kau junjunganku, Bahagia aku yang baka

02. Pembacaan Firman
 Pagi : Kidung Agung 2:8-15
 Malam : Kolose 4:2-5

03. Renungan: 1 Petrus 2:9
Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus , umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib

Bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, adalah sebutan yang terhormat yang dulunya diberikan kepada bangsa Israel. Gereja harus menyadari siapa sesungguhnya kita ini di dalam Tuhan. Dalam nas ini sedikitnya ada empat sebutan yang menjadi identitas orang Kristen yaitu : 1). Bangsa yang terpilih’. Percaya kepada Kristus, membuktikan bahwa dia adalah orang pilihan. Tujuan pemilihan/penebusan/ penyelamatan, yaitu memuliakan Allah dalam hidup dan taat untuk melakukan kehendak Allah. Kebesaran/keagungan orang Kristen nyata ketika Allah telah memilih untuk melakukan pekerjaanNya dalam dunia ini. 2). Imamat yang rajani, Imamat rajani adalah imam-imam dan raja-raja. Jabatan yang dulunya hanya untuk bangsa Israel, umat pilihan Tuhan, tetapi karena kemurahan Tuhan lewat kurban Kristus di kayu salib, bangsa lain dan kita juga bisa menjadi imam (1 Pet 2: 10). Melayani Tuhan sesuai dengan kemampuan, bakat dan talenta yang ada pada kita, sampai Tuhan Yesus datang kembali. 3). Kudus berarti “berbeda dengan/dari”. Orang kristen telah dipilih supaya ia bisa berbeda dari orang-orang lain. 4). Umat kepunyaan Allah. Seringkali sesuatu menjadi penting dan berharga karena sesuatu itu menjadi milik dari seseorang yang penting / terkenal. Orang Kristen menjadi penting karena ia menjadi milik Allah.. Tuhan menghendaki kita agar tidak kehilangan identitas kita sebagai orang percaya dimanapun kita berada. Jadilah agen penyebar keselamatan Allah bagi dunia karena kita adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, dan bangsa yang kudus. Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE No.464:1. Huboan ma diringku
Huboan ma diringku Tuhan hibul tu Ho. Ai au do tinobusMu
umbaen tarbaen au ro. Pagalak ma rohangku, di son managam au,
TondiMi ma suru, na boi manggomgom au.

06. Doa Bapa kami – Amin.

ALLAH SETIA AKAN JANJINYA


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 406:1. “Ya Tuhan Bimbing aku”
Ya Tuhan bimbing aku di jalanku, sehingga ku selalu bersamaMu
Engganlah ku melangkah setapak pun,
pabila Kau taka da di sampingku

02. Pembacaan Firman
 Pagi : Yosua 3:1-17
 Malam : Matius 28:1-10

03. Renungan: Kisah Para Rasul 13:33
Seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan engkau pada hari ini.

Allah telah mengaruniakan kita kehidupan kekal dan kehidupan ini diperoleh di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Jalan beroleh kehidupan kekal adalah dengan memiliki Anak Allah. Mengapa memiliki Anak mutlak perlu untuk dapat beroleh kehidupan kekal? Allah menyatakan Kasih-Nya kepada kita melalui pengorbanan Anak-Nya. Mengapa Kristus harus mati untuk kita? Kita semua tanpa kecuali adalah orang-orang berdosa. Alkitab berkata kita semua telah berdosa, tidak dapat menerima kemuliaan Allah. Dengan kata lain, dosa telah memisahkan kita dari Allah yang memiliki kekudusan sempurna. Berdasarkan karya Yesus Kristus yang telah dikerjakan-Nya di atas kayu salib untuk kita, maka Alkitab menyatakan “Barang siapa memiliki Anak, ia memiliki hidup” Kita dapat memiliki Anak itu, yaitu Yesus Kristus, satu-satunya Penyelamat kita melalui iman secara pribadi, yakni dengan percaya kepada Kristus dan mengakui serta menerima karya kematian-Nya di salib untuk dosa-dosa kita.

Ini berarti setiap orang dapat datang kepada Allah dengan cara yang sama –yaitu datang kepada-Nya sebagai orang berdosa yang menyadari keberdosaan kita, menolak segala bentuk usaha dan cara manusia dalam menyelamatkan dirinya sendiri dan berserah dan beriman penuh hanya kepada Kristus untuk keselamatan kita. Ya Allah, saya menyadari bahwa saya adalah orang berdosa, dan tak ada satupun yang dapat saya perbuat untuk mendapatkan kehidupan kekal. Saya percaya Yesus Kristus telah mati untuk saya dan telah bangkit dari kematian. Sekarang saya mau menerima Dia sebagai Juruselamat saya dan berserah penuh hanya kepadanNya, Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 115:1. Tuhan Debata
Tuhan Debata sai ramoti ma, daging dohot tondinami
ido pangidoannami. Sai pahipas be, hami on sude.

06. Doa Bapa kami – Amin.

UMAT PILIHAN TUHAN


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 235:1. “Ku dengar berkatMu turun”
Ku dengar berkatMu turun bagai hujan yang lebat
Menghidupkan padang gurun dan menghibur yang penat
Aku pun, aku pun, ya, berkati aku pun!

02. Pembacaan Firman
 Pagi : Keluaran 15:1-18
 Malam : Kolose 3:12-17

03. Renungan: Yehezkiel 36:28
Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu

Garam merupakan kebutuhan pokok dalah kehidupan manusia, diantara mineral yang ada dalam tubuh kita garam dalam bentuk senyawa NaCl, dimana kada Na dalam tubuh sekitar 135 -145 Meq/l. sehingga dalam kehidupan kita garam sangat penting. Dalam makanan garam memberikan cita rasa, tanpa garam makanan yang kita makan terasa hambar. Diperjanjian lama Yehezkiel 43: 24 saat memberikan persembahan kepada Tuhan garam juga sangat dibutuhkan. Mengingat pentingnya garam sehingga Tuhan Jesus membuat perumpamaan garam dalam kehidupan sehari-hari.. Matius 5:13 “ Kamu adalah garam dunia…, artinya kita dibutuhkan oleh dunia dan bisa memberi rasa/kwalitas yang baik dalam dunia, tentu bisa memberi pengaruh yang baik terhadap sesama. Tentu garam akan berfungsi baik apabila garam itu masih baik, sebaliknya bila garam tidak baik tentu akan hambar dan tidak berguna selain dibuang dan dinjak-injak orang. Oleh sebab itu garam harus kita jaga jangan sampai rusak. Dengan apa kita melakukannya supaya garam itu tetap berfungsi dengan baik?

Kita harus menjaga kualitasnya. Kita harus tetap menjaga diri kita sebagai garam supaya tetap bisa berguna bagi orang, tentu kita harus bisa membantu orang terutama bagi yang membutuhkannya. Kita harus tetap memiliki persediaan garam. Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain. Setaip orang percaya haruslah jadi garam dunia. Setaip hidupnya akan memberi Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 176:1. Na mungkap do surgo
Na mungkap do surgo dibahen aha do?
Dibaen na ro Jesus mengungkap di Ho (2X)

06. Doa Bapa kami – Amin.

SEJARAH PASKAH


PASKAH KEDUA
(Perayaan Kebangkitan Tuhan Yesus)

Topik: Hehe laho Pahehehon
(Bangkit dan Membangkitkan)

Warna Tutup Altar : Na bontar (Putih)
Warna Kasih

Ev. 1 Korintus 15:20-28
Ep. 1 Petrus 1:3-12

SEJARAH PASKAH

Paskah, atau Easter, adalah saat untuk memperingati kematian, khususnya kebangkitan Kristus. Di Inggris orang hampir-hampir tidak akan lupa hari libur ini. Setiap tahun, sedikitnya sebulan sebelum Paskah, toko-toko dan pasar swalayan mengingatkan konsumen dengan memajang berbagai jenis coklat telur dan kelinci, kartu ucapan, dan banyak lagi barang Paskah lainnya. Kata “Paskah” berhubungan dengan dewi musim semi bangsa-bangsa Jermanik (Anglo-Saxon), yang dikenal juga dengan sebutan Eostre, Ostara, atau Eastre. Bangsa Jerman di Eropa Utara mengadakan perayaan tahunan bagi dewi musim semi ini sebagai rasa syukur atas pembaruan hidup setelah musim dingin. Sejarah juga menceritakan ketika para penginjil mula-mula mulai mengabarkan injil di Eropa Utara, mereka membiarkan orang-orang Jermanik untuk mempertahankan praktik penyembahan berhala mereka demi menghindari penolakan atas pengajaran Kristen, dan untuk memudahkan mereka menjadi Kristen4. Para penginjil berhasil memenangkan mereka (menjadi Kristen), dan pada abad ke-8, Orang-orang Jermanik yang telah menjadi Kristen mulai memperingati kebangkitan Kristus dengan perayaan yang mereka sebut Eastra, yang kemudian diubah namanya menjadi Easter (Paskah). Perubahan ini termasuk mengganti Sabat Sabtu menjadi kebaktian hari pertama minggu (Hari Minggu) sebagai perayaan Kebangkitan Kristus secara mingguan, yang juga dikenal dengan “Hari Tuhan”.