Arsip Kategori: Ibadah Harian

JANGAN TAKUT


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 29:4. “Di muka Tuhan Yesus”
Di muka Tuhan Yesus, ‘ku dapat kasih sayangNya
Hatiku pasrah berserah, di muka Tuhan Yesus.

02. Pembacaan Firman
 Pagi : Kejadian 35:1-15.
 Malam : Kisah Para Rasul 10:44-48.

03. Renungan: Yesaya 43:1.
Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.”

Ketakutan adalah tanggapan emosi terhadap ancaman, suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Dari sudut psikologi ketakutan adalah wajar, salah satu emosi dasar manusia selain kebahagiaan, kesedihan dan kemarahan. Namun ketakutan akan menjadi masalah besar bila dibiarkan berlarut-larut atau berkepanjangan, karena ketika kita terus dikuasai olehnya, sukacita dan damai sejahtera kita akan hilang. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Artinya rasa takut bukanlah berasal dari Tuhan, karena itu sebagai orang percaya tidak seharusnya kita hidup dalam ketakutan. Sekalipun berada di tengah dunia yang penuh tantangan ini tidak ada alasan kita takut, “…sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” (1 Yoh 4:4); Janji penyertaan Tuhan adalah jaminannya: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibr 13:5b). Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yes 41:10). Di segala keadaan, bahkan dalam situasi terburuk pun, Tuhan tetap besama kita, Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No.162:1. O Debata, mansai
O Debata mansai balga, huhut dokdok dosangku
Na so adong di tano on, na tau haporusanku.

06. Doa Bapa kami – Amin

TUHAN MENGUATKAN DAN MEMBERKATI


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 29:1. “Di Muka Tuhan Yesus”
Di Muka Tuhan Yesus, betapa hina diriku
Kubawa dosa-dosaku, di muka Tuhan Yesus

02. Pembacaan Firman
 Pagi : 1 Samuel 7:3-17.
 Malam : Kisah Para Rasul 9:19b – 31.

03. Renungan: Mazmur 29:11.
Tuhan kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera.

Berolahraga membuat badan menjadi sehat dan kuat sehat secara fisik. Begitu pula secara rohani, kita harus menjadi orang yang kuat dan teguh. Kitab Efesus mengatakan hendaklah kita menjadi kuat di dalam kekuatan kuasaNya. Menjadi kuat bukan berarti kita tidak pernah menjadi lemah, namun dalam keadaan apapun kita dapat berdiri teguh dan tidak mudah goyah. Kekuatan hidup kita hanyalah di dalam Yesus, sebab Dia adalah sumber hidup kita. Jangan menjadi lemah saat mengalami masalah sebab segala perkara dapat kita tanggung di dalam Dia yang memberi kita kekuatan. Memang untuk tetap menjadi kuat tidaklah mudah, sebab seringkali kita menghadapi banyak masalah. Oleh sebab itu, kita perlu senantiasa merenungkan Firman dan melakukannya. Ujian atau masalah yang datang itu tidak pernah terduga sebelumnya, jadi setiap hari kita perlu membekali iman kita dengan Firman Tuhan. Mazmur 1:2-3 mengatakan mereka yang merenungkan Firman Tuhan siang dan malam akan menjadi kuat bahkan akan tetap berbuah dalam kondisi apapun. Kalau kita ingin menjadi orang yang kuat di dalam Tuhan maka kita harus menjadikan Firman Tuhan sebagai dasar di dalam kita menjalani hidup ini agar tetap kuat.

Untuk menjadi kuat, hendaklah kita tetap bersukacita, sebab Firman Tuhan mendorong kita agar tetap bersukacita di dalam segala keadaan. Sukacita Tuhan adalah kekuatan kita. Sukacita yang Tuhan berikan berbeda dengan kesenangan yang dunia tawarkan. Bersukacitalah karena Tuhan, supaya kita tetap kuat di dalam Dia. Selain itu, kita wajib memiliki pengharapan di dalam Tuhan, sebab pengharapan di dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan, sehingga kita akan dikuatkan. Tinggallah senantiasa di dalam Tuhan, supaya kita tetap teguh dan jadi berkat. Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No.470:1. Jesus Ho nampuna au
Jesus Ho nampuna au, dohot na adong di au
Gogo dohot hosangki, sahat ma tu tanganMi

06. Doa Bapa kami – Amin.

BERIMAN DAN PERCAYA


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 26:1. “Mampirlah dengar doaku”
Mampirlah dengar doaku Yesus Penebus
Orang lain Kau hampiri jangan jalan t’rus
Yesus Tuhan, dengar doaku. Orang lain Kau hampiri
jangan jalan t’rus.

02. Pembacaan Firman
 Pagi : 1 Samuel 3:10-21.
 Malam : Kisah Para Rasul 9:10-19a.

03. Renungan: Roma 10:17.
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Jalan keselamatan didapatkan dengan jalan percaya dengan sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus sebagai korban penebusan dosa manusia. Sementara itu, bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah memilih untuk bersikeras dalam ketidakpercayaan mereka mempertahankan argumen kebenaran versi mereka sendiri. Ada dua respons mansia terhadap firman Tuhan, yang pertama: ia mendengar dan percaya, yang kedua ia mendengar tetapi ia tidak percaya. Firman Tuhan yang diberitakan, hanya akan tertanam di dalam hati seseorang ketika ada Roh Kudus yang menyertai pemberitaan itu lalu kemudian membuka hati orang tersebut sehingga menjadi percaya. Memang benar bahwa pemberitaan Firman tergantung penuh dari Allah Roh Kudus, tetapi ini tidak berarti kita menutupi fakta bahwa kita, sebagai orang Kristen juga harus memberitakan Firman Tuhan sebagai yang Diutus. Jadi iman bisa timbul dari pendengaran akan berita Injil yang disampaikan kepada orang lain, dengan penyertaan dan kuasa dari Allah Roh Kudus. Kaum Yahudi tidak mendengar dan percaya kepada Allah. Ketika mereka mendengar, mereka mengabaikan dan tidak percaya, dan tidak menanggapi berita kebenaran yang disampaikan ke telinga mereka. Oleh karena itu Pahami dan Lakukanlah fiman Tuhan, supaya kita tetap berdiri kokoh di dalam derasnya arus kehidupan sambil memberitakan injil sehingga makin banyak orang yang berseru kepada nama Tuhan Yesus, Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE No. 30:1. Jesus Lehon Hatorangan
Jesus lehon hatorangan, hapistaran mangantusi hataMi
Lehon mata na marnida dohot roha na umboto dalanMi
Asa tongtong maradophon bohiMi mardalan hami,
Asa digomgomi tondiMi ma hami.

06. Doa Bapa kami – Amin.

JADILAH TERANG


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 19:1. “Tuhanku Yesus”
Tuhanku Yesus, Raja alam raya, Allah dan manusia
Kau kukasihi, Kau junjunganku, Bahagia aku yang baka

02. Pembacaan Firman
 Pagi : 1 Samuel 3:1-9.
 Malam : Kisah Para Rasul 9:1-9.

03. Renungan: Yohanes 8:12.
Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

Kita tidak dapat hidup tanpa terang. Ketika kita tinggal dalam kegelapan, kita akan merasa gelisah, lalu mulai emosional dan kehilangan kendali diri. Jika keadaan ini terus dibiarkan, kita dapat menjadi paranoid dan mengalami halusinasi. Bahkan, di titik yang paling ekstrim, kehilangan keinginan untuk hidup. Ketiadaan cahaya dalam rentang waktu yang panjang, dapat menjadi penyebab hilangnya pengharapan. Dalam Efesus 5: 14 dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Perkataan ini disampaikan rasul Paulus kepada jemaat di Efesus untuk mengingatkan akan status mereka sebagai anak-anak terang yang seharusnya sudah tidak “bersahabat” lagi dengan kegelapan. Karena bagaimana mungkin terang dapat berbuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran apabila terang itu masih berkompromi dengan kegelapan. Sebagai anak-anak terang, tugas orang percaya bukanlah sekedar tidak berkompromi saja, melainkan berani “menelanjangi” kegelapan itu sendiri. Dan untuk dapat menelanjangi kegelapan diperlukan kekuatan ilahi untuk terus memancarkan terang kemuliaan Kristus. Dan kekuatan itu diperoleh saat seseorang mau sadar dan “bangun” dari dosa. Tidurnya iman seseorang membuat ia juga dapat terlena dengan mimpi-mimpi kosongnya. Manusia memiliki mimpi besar dalam hidupnya. Namun sayangnya, mimpi-mimpi besar yang lahir dari kedagingan hanya akan membuat manusia cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Sebaliknya, mimpi yang lahir dari kesadaran diri sebagai anak terang akan melahirkan visi dari Tuhan, Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE No.464:1. Huboan ma diringku
Huboan ma diringku Tuhan hibul tu Ho. Ai au do tinobusMu
umbaen tarbaen au ro. Pagalak ma rohangku, di son managam au,
TondiMi ma suru, na boi manggomgom au.

06. Doa Bapa kami – Amin.

TUHAN RAJA SEMESTA ALAM


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 406:1. “Ya Tuhan Bimbing aku”
Ya Tuhan bimbing aku di jalanku, sehingga ku selalu bersamaMu
Engganlah ku melangkah setapak pun, ‘
pabila Kau taka da di sampingku

02. Pembacaan Firman
Pagi : 1 Raja-raja 10:14-25.
Malam : Efesus 4:1-16.

03. Renungan: Zakaria 14:9.
Maka Tuhan akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu.

Pengakuan bahwa “TUHAN adalah Raja” merupakan pengakuan yang penting! Akan tetapi, pemahaman kita pada zaman ini tentang “Raja” telah menjadi luntur. Di negara demokrasi, raja sudah tidak dikenal. Di beberapa negara yang masih menganut sistem kerajaan, raja hanyalah simbol, bukan penguasa yang sesungguhnya. Dalam kekristenan, pemahaman bahwa TUHAN adalah Raja sangatlah mendasar dan tidak boleh diabaikan. Bila TUHAN adalah Raja maka TUHAN menjadi yang terpenting di dalam kehidupan kita dan kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Pengabaian terhadap konsep tersebut membuat posisi TUHAN bergeser dan digantikan oleh yang lain, misalnya oleh diri sendiri, keluarga, pekerjaan, dan sebagainya. Kita mengakui bahwa TUHAN adalah Raja karena Dia adalah Allah yang adil, mahakuasa, dan berdaulat atas ciptaan-Nya, sehingga Ia pantas (wajar) menerima penghormatan kita. Saat kita mengalami ketidakadilan, pengharapan dan keyakinan bahwa Allah akan menyatakan keadilan-Nya pada waktu yang tepat merupakan sumber penghiburan bagi kita.

Saat kita berhadapan dengan masalah yang membuat kita seperti menemui jalan buntu, keyakinan bahwa Allah itu mahakuasa memberikan kekuatan untuk bertahan sampai Dia membuka jalan bagi kita. Keyakinan bahwa Allah itu berdaulat (berkuasa) atas ciptaan-Nya akan membuat kita berani menghadapi kekuatan apa pun, bahkan membuat kita berani menghadapi maut. Oleh karena itu, respons yang wajar terhadap keberadaan TUHAN sebagai Raja adalah munculnya sukacita yang melahirkan pujian serta adanya dorongan untuk bersaksi. Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 115:1. Tuhan Debata
Tuhan Debata sai ramoti ma, daging dohot tondinami
ido pangidoannami. Sai pahipas be, hami on sude.

06. Doa Bapa kami – Amin.

BERJALAN DALAM TERANG TUHAN


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 235:1. “Ku dengar berkatMu turun”
Ku dengar berkatMu turun bagai hujan yang lebat
Menghidupkan padang gurun dan menghibur yang penat
Aku pun, aku pun, ya, berkati aku pun!

02. Pembacaan Firman
Pagi : I Raja-raja 10:1-13.
Malam : Efesus 3:14-21.

03. Renungan: Yesaya 2:5.
Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang Tuhan

”Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang Tuhan.” (Yes. 2:5). Demikianlah seruan Nabi Yesaya. Seruan yang bernada undangan, bukan paksaan. Undangan sekaligus peringatan pentingnya berjalan dalam terang Tuhan. Hanya dalam teranglah manusia dapat melihat. Dan hanya dalam teranglah, manusia dapat percaya diri dalam menentukan langkahnya. Itu berarti, berjalan dalam terang Tuhan akan membuat kita berani melangkahkan kaki. Dalam gelap, yang kita lakukan hanyalah meraba-raba. Dalam gelap yang ada hanyalah kegamangan, keragu-raguan. Dalam terang Tuhan berarti juga Tuhanlah yang menerangi jalan kehidupan kita. Dengan kata lain, Tuhanlah menunjukkan jalan-jalan-Nya kepada kita. Ketika mengambil keputusan, kita mengambil keputusan berdasarkan terang Tuhan. Itu berarti pula kita hidup dalam terang Tuhan! Bagaimanakah hidup dalam terang Tuhan itu? Hidup bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan kegiatan konkret sehari-hari. Hidup dalam terang Tuhan harus maujud dalam tindakan-tindakan konkret. Yesaya menyatakan akan ada masa di mana orang-orang akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas. Pedang dan tombak sebagai alat perang itu tidak lagi disimpan untuk dipakai di masa perang, tetapi diubah menjadi alat-alat pertanian. Ada perubahan bentuk berdasarkan perubahan sikap manusia. Dari alat perang menjadi alat produksi. Dari alat yang membinasakan (pedang), menjadi alat yang menumbuhkan (mata bajak). Dari alat pembunuh (tombak) menjadi alat pemelihara (pisau pemangkas). Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 176:1. Na mungkap do surgo
Na mungkap do surgo dibahen aha do?
Dibaen na ro Jesus mengungkap di Ho (2X)

06. Doa Bapa kami – Amin.

ANAK YANG DIKASIHI


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 17:1. “Tuhan Allah hadir”
Tuhan Allah hadir pada saat ini hai sembah sujud di sini
Diam dengan hormat tubuh serta jiwa, tunduklah menghadap Dia
Marilah umatNya hatimu serahkan dalam kerendahan.

02. Pembacaan Firman
Pagi : Mazmur 72:1-7. 10-14.
Malam : Matius 2:1-12.

03. Renungan: Matius 3:17.
Lalu terdengarlah soara dari sorga mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan

“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi,” adalah sebuah pernyataan yang kongkrit tentang sebuah pribadi dan pribadi itu adalah “Anak-Ku”. Ada suatu kebanggaan tersendiri yang diakui oleh si pembuat pernyataan tentang pribadi yang diakuiNya sebagai “Anak-Ku”. Pernyataan ini tidak berhenti sampai di sini, tapi dilanjutkan dengan sebuah pernyataan lainnya, yaitu “kepada-Nyalah Aku berkenan”. Kepada siapakah si pembuat pernyataan menyatakan perkenaanNya? Perkenaan itu diberikan kepada anakNya. Apakah landasan perkenaan itu? Perkenaan itu diberikan atas landasan pilihan dan bukan prestasi, karena pernyataan itu dibuat dihadapan publik sebelum Tuhan Yesus memulai pelayananNya.

Bagaimana dengan kita sekalian selaku orang tua, bukankah pernyataan kita terhadap anak-anak kita dihadapan publik muncul berdasarkan prestasi yang diperoleh mereka? Apakah kebanggaan kita terhadap anak-anak kita konstan dengan pengertian bahwa kebanggaan kita terhadap mereka bukan tergantung dari prestasi yang diperoleh mereka? Jika kebanggaan hanya berdasarkan prestasi, maka dengan berkurangnya prestasi, maka kebanggaan kita terhadap merekapun akan sirna. Sedangkan Bapa Surgawi telah memberikan sebuah contoh yang sangat baik, dimana Bapa Surgawi telah terlebih dahulu membuat pernyataan “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” sebelum Tuhan Yesus memulai pelayananNya, dengan demikian pernyataan Bapa Surgawi bukan berdasarkan prestasi yang dicapai oleh anakNya. Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 122:1. Ida hinadenggan ni
Ida hinadenggan ni, angka na saroha i
Parpambaenan na burju, nang hatana pe tutu

06. Doa Bapa kami – Amin.