Arsip Penulis: Parjuangan Radyarto Siregar

avatar Tidak diketahui

Tentang Parjuangan Radyarto Siregar

GSM

Keluarga Allah


BERNYANYI BE-207:1 Sai tiop ma tanganku
Sai tiop ma tanganku, sai togu au, Paima tos hosangku ramoti au. Ndang olo au mardalan sasada au; Sai Ho ma ale Tuhan, manogu au.

PEMBACAAN FIRMAN
Pagi: Yesaya 49:1-6
Malam: Matius 16:24-28

RENUNGAN
Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.
Efesus 2:19

Keluarga Allah
Berbicara mengenai keluarga, setiap orang pasti langsung teringat dengan ayah, ibu, anak, dan kehangatan rumah tangga. Ya, tiga personel dan satu situasi tersebut merupakan faktor utama yang menjadi dasar terbentuknya sebuah keluarga. Tanpa dilengkapi salah satu personel atau pun kondisi tersebut, sebuah keluarga sulit untuk dapat berfungsi dengan baik. Keluarga Allah adalah kumpulan orang-orang yang telah lunas ditebus dengan darah yang mahal oleh Tuhan Yesus di kayu salib dan mempunyai tujuan yang sama di dalam Tuhan. Manusia hidup di dunia bersama Allah dan Allah yang berdiam di dalam orang percaya.

Gereja dalam hal ini adalah rumah kita, anggota keluarganya bukan orang asing, bukan pendatang, tetapi warga Allah. Kita harus memastikan bahwa hanya Kristus yang menjadi fokus dalam segala sesuatu hal. Gereja harus dibangun dengan dasar yang teguh, sehingga ketika berbagai tantangan datang silih berganti, maka tantangan tersebut bisa terjawab sehingga Gereja tetap bertahan dan bertumbuh semakin baik. Bagaikan sapu lidi, dia akan berfungsi jika kumpulan lidi terikat dengan baik, tetapi jika lidi tersebut tercerai berai maka akan sangat sulit untuk menggunakan lidi yang terpisah tersebut. Menjadi anggota keluarga Allah adalah berkat terbesar yang dilimpahkan atas orang percaya, yang seharusnya menimbulkan keharuan dan cinta yang mendalam. Kita tidak mampu melakukan apapun juga untuk melayakkan diri menerima kasih, kemurahan, dan kasih karunia-Nya; namun, kita dipanggil menjadi anak-anak Allah yang Hidup. Mari kita bersukacita dan menerima undangan-Nya dengan iman, terpujilah kristus.

BERDOA

BERNYANYI KJ-356:1 – Tinggallah dalam Yesus
Tinggallah dalam Yesus jadilah murid-Nya. B’lajarlah firman Tuhan, taat kepada-Nya. Tinggallah dalam Yesus, andalkan kuasa-Nya. Dia-lah pokok yang benar, kitalah ranting-Nya.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Allah Yang Memulihkan


BERNYANYI BE-24:1 Tatap hami on
Tatap hami on na pungu di son; Ai na naeng pujionnami denggan ni basaM di hami. Tatap hami on na pungu di son.

PEMBACAAN FIRMAN
Pagi: Filipi 3:17-21
Malam: Yesaya 32:1-4

RENUNGAN
Aku telah membentuk dan memberi engkau, menjadi perjanjian bagi umat manusia, untuk membangunkan bumi kembali dan untuk membagi-bagikan tanah pusaka yang sudah sunyi sepi. Yesaya 49:8b

Allah Yang Memulihkan
Nas ini merupakan nubuatan nabi Yesaya pada masa pembuangan Israel di Babel. Mari kita bayangkan ketika bangsa Israel yang adalah umat Allah dibuang ke Babel – bangsa yang tidak beribadah kepada Allah. Mereka tercabut dari akarnya, umat Allah menjadi hamba kepada raja Babel selama tujuh puluh tahun. Sementara mereka yang masih tinggal di Israel, menderita dan putus harapan karena terpisah dari keluarga. Mereka menjadi bangsa jajahan dan merasa bahwa Allah sudah tidak mengasihi mereka lagi. Dalam situasi yang sedemikianlah nas kita hari ini. Sebaiknya kita renungkan seluruh Yesaya 49:8, beginilah firman Tuhan: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan,

Aku akan menolong engkau; Aku telah membentuk dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia untuk membangunkan bumi kembali dan untuk membagi-bagikan tanah pusaka yang sudah sunyi sepi. Ketika Allah menghukum bangsa Israel (manusia), Allah ingin supaya mereka (manusia) menyadari dan mengakui pelanggarannya di hadapan Allah dan kembali kepada-Nya. Sesungguhnya, meskipun manusia selalu memberontak kepada Allah, namun kasih Allah tetap untuk selama-lamanya. Allah mengutus nabi Jesaya sebagai alat untuk memulihkan bangsa Israel. Sebagaimana Allah memulihkan umatNya pada jaman dahulu demikianlah kita akan dipulihkan. Kita juga diutus untuk menyampaikan kabar baik bagi semua orang untuk menguatkan yang lemah dan memberi pengharapan bagi yang putus asa dan menjadi berkat bagi sesama manusia. Amin

BERDOA

BERNYANYI KJ-345:1 “Sertai kami Tuhan”
Sertai kami Tuhan, dengan anug’rah-Mu
Berilah pertolongan melawan si set’ru.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Tuhan Bersama Kita


BERNYANYI BE 470:1 Jesus Ho nampuna au
Jesus Ho nampuna au
Dohot na adong di au.
Gogo dohot hosangki
Sahat ma tu tanganMi

PEMBACAAN FIRMAN
Pagi: Hakim-hakim 13:19-25
Malam: Yosua 10:16-27

RENUNGAN
Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau. Yesaya 41:10a

Tuhan Bersama Kita
Menurut para ahli sedikitnya ada tujuh ribu perasaan takut. Rasa takut muncul karena terpisah dari Tuhan. Tapi ada orang yang merasa dekat dengan Yesus tapi masih takut, seperti para murid-murid Yesus, pada saat badai mengoncang perahu mereka. Petrus takut padahal Petrus bisa berjalan di atas air. Meskipun murid-murid bersama-sama dengan Yesus mereka masih takut. Musa juga takut menghadapi Firaun, namun dapat mengalahkan raja Firaun.

Ada beberapa tips mengatasi rasa takut di antaranya; Jangan panik menghadapi realita kehidupan ini, karena orang yang panik tidak percaya bahwa dalam dirinya ada kekuatan yang dapat memenangkan masalahnya. Allah setia dan berjanji akan selalu beserta perjalanan umat Isreal, kemudian Yesus juga berjanji bagi kita bahwa Ia sendiri akan menyertai dan menolong kita setiap saat sampai akhir jaman. Kita tidak perlu bimbang atau ragu dalam hidup ini, karena orang yang bimbang atau ragu tidak akan mendapatkan apa-apa, hidupnya akan rapuh. Tuhan pasti menolong, meneguhkan kita dalam situasi apapun baik dalam keadaan kacau maupun aman, susah ataupun senang, gagal ataupun berhasil, Tuhan pasti menolong kita pada waktunya. Rasul Paulus juga meneguhkan kita dalam 1 Korintus 15:57. Karena itu marilah kita berdiri teguh, jangan goyah, jangan takut dan bimbang, karena itu percayalah kepada Tuhan maka Allah akan memberikan kemenangan kepada kita. Kita harus percaya bahwa kita tidak sendiri karena Allah beserta kita. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ- 26:1 Mampirlah dengar Doaku
Mampirlah dengar doaku Yesus penebus
Orang lain Kau hampiri jangan jalan t’rus
Yesus Tuhan, dengar doaku
Orang lain Kau hampiri jangan jalan t’rus.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Setia Menantikan Tuhan


BERNYANYI BE-252:1 Paian ma di hami
O Jesus sai dongani ma hami sasude. Pasada rohanami asa bulus sude

PEMBACAAN FIRMAN
Pagi: Keluaran 23:20-33
Malam: Yosua 10:6-15

RENUNGAN
Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!. Yesaya 30:18c

Setia Menantikan Tuhan
Kedatangan Yesus yang kedua kali, sebenarnya bukan hal yang baru lagi. Alkitab sangat jelas mengatakan bahwa Yesus pasti datang kembali. Dalam 2 Petrus 3:9-10 dikatakan: “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian , tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Hari kedatangan Tuhan akan tiba seperti pencuri”. Kapan, di mana dan bagaimana tidak ada seorangpun yang tahu,tetapi waktu Tuhan pasti tiba. Kedatangan Yesus pertama kali adalah suatu anugerah, tapi kedatangan-Nya yang kedua kali adalah untuk menghakimi. Karena itu, bagaimana seharusnya sikap kita dalam menantikan kedatangan-Nya?

Pada Yesaya 30:18 dan seterusnya adalah gambaran tentang apa yang akan dihadapi oleh bangsa Israel di Sion yang diam di Yerusalem. Di satu sisi walaupun bangsa Israel akan menghadapi murka Tuhan yang menyala-nyala, tetapi di sisi lain Tuhan tetap menyatakan kasih-Nya. Janji keselamatan Tuhan kepada bangsa Israel tidak akan berubah, bila mereka berbalik kepada Tuhan. Tapi jika mereka tetap mengeraskan hati dan tidak mau bertobat, maka bila waktu-Nya tiba, mereka akan binasa. Milikilah sikap yang taat kepada Tuhan. Israel sudah banyak melihat dan mengalami keajaiban, tetapi mereka tetap tidak percaya dan taat kepada-Nya. Bagaimana dengan kita, apakah kita memiliki sikap yang setia dan taat kepada Tuhan di dalam segala keadaan? Apakah kita senantiasa bersandar kepada-Nya? Hidup ini memang tidak terlepas dari berbagai persoalan dan kesulitan, tapi mari kita belajar setia, percaya dan taat kepada-Nya. Sebab Tuhan adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!

BERDOA

BERNYANYI KJ-29:4 Di muka Tuhan Yesus
Di muka Tuhan Yesus, kudapat kasih sayang-Nya. Hatiku pasrah berserah, Di muka Tuhan Yesus.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

EPIPHANIAS


Minggu Ephipanias
Penyataan Kemuliaan Allah

Tidak setiap tahun kita berjumpa dengan Minggu Epiphanias. Tetapi tahun 2019 ini, kita berjumpa langsung dengan Epiphanias ini. Epiphanias sendiri di simbolkan matahari yang terbit pada pagi hari. Hal ini menggambarkan bagaimana Allah sebagai surya yang tidak pernah mati telah bersinar bagi seluruh bangsa-bangsa. Tetapi banyak juga yang menyimbolkan dengan “bintang”, yang memiliki arti “cahaya di tengah kegelapan”. Minggu Epiphanias adalah minggu penutup dari rangkaian 12 hari Natal. Kelahiran Yesus telah membawa terang bagi seluruh umat yang percaya, dan posisi sumber terang itu sendiri berada di atas. Karena itu pada Minggu Epiphanias ini kita akan berbicara mengenai “terang yang datang dari Sion”. Sion sendiri adalah bukit suci dimana bangsa Israel percaya bahwa disanalah Allah bersemayam. Itu sebabnya bukit Sion sangat penting bagi iman dalam Perjanjian Lama.

Kembali dalam peristiwa kelahiran Yesus. Orang Majus sendiri menggunakan ilmu perbintangan untuk mengetahui posisi dimana Raja yang akan lahir. Bintang sebagai gambaran kelahiran seorang Raja itu jugalah yang dipakai untuk menggambarkan Minggu Epiphanias, sebab telah nyata janji Allah tersebut, dan kegenapan kehendak Allah untuk melepaskan umat yang percaya dari perbudakan dosa telah dimulai. Karena itu dalam minggu ini kita telah melihat janji Allah tersebut, tetapi belum seluruhnya terpenuhi. Kelahiran Yesus bukanlah puncak rencana Allah, tetapi dimulainya Karya Penyelamatan Allah bagi umat manusia

Sukacita Dalam Tuhan


BERNYANYI BE 115:1. “Tuhan Debata”
Tuhan Debata sai ramoti ma Daging dohot tondinami, ido pangidoannami Sai pahipas be, hami on sude

PEMBACAAN FIRMAN
Pagi: Daniel 2:1-19
Malam: Matius 2:1-12

RENUNGAN
Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram. Mazmur 16:9

Sukacita Dalam Tuhan
Ada banyak alasan seseorang untuk bersukacita dalam hidupnya, misalnya di saat mendapatkan keberuntungan, saat mendapat promosi jabatan, saat memperoleh pekerjaan, saat menikah dengan orang yang dicintai, saat memiliki uang banyak, saat lulus ujian, saat memperoleh kejuaraan, saat panen dengan hasil melimpah, saat gajian, saat liburan dan lain-lain. Bersukacita hanya pada saat memperoleh kebahagiaan, merupakan hal yang biasa kita lakukan dan sukacita yang demikian sifatnya sesaat, kesenangan sesaat yang tidak bertahan lama dan pada akhirnya hanya mampu memuaskan secara sementara. Namun bersukacita dalam segala situasi, hal yang sangat sulit dilakukan, karena bagaimana kita dapat bersukacita jika kita sedang dalam menghadapi pergumulan dan masalah-masalah?

Mazmur hari ini mengajarkan dan menggambarkan dengan jelas bahwa Daud mampu bersukacita dalam situasi apapun, dalam masa kelam maupun dalam masa senang. Di saat dia mengalami pergumulan yang berat karena pengkhianatan dari teman dan orang-orang terdekatnya, saat pedih dengan ancaman dari musuh-musuhnya, Daud tidak memilih untuk mengeluh dan berputus asa. Daud memiliki cara sendiri untuk tetap bersyukur kepada Tuhan karena Daud yakin bahwa Tuhanlah sebagai penyelamat dan penjaganya yang selalu bersamanya di tengah-tengah pasang surut kehidupan yang ia jalani. Itulah sukacita yang sejati yang melimpah yang dialami Daud yang tidak tergantung pada situasi dan kondisi. Bagaimana dengan kita? Bagaimanapun keadaan kita hari ini sekalipun kita harus berhadapan dengan pergumulan yang berat, tetaplah bersukacita di dalam Tuhan karena Dia selalu bersama sama kita dan menjaga kita serta memberikan kebahagiaan sempurna bagi kita. Kasih setia Tuhan tidak habis habisnya dan rahmat-Nya selalu baru untuk kita. Serahkanlah kehidupanmu hanya kepada Dia, karena Ia yang memelihara kita.

BERDOA

BERNYANYI KJ-40:2 – Ajaib benar Anugerah
Ketika insaf ‘ku cemas. Sekarang ‘ku lega
Syukur bebanku t’lah lepas, berkat anugerah.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Cinta Kasih di Hati Manusia


Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena. Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon. Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya. Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.

Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel. Maka Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.

Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan. Simon ketakutan, “Siapakah dia? Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja”. Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.

Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata,
Hai Simon, tidak malukah kau? Kau punya mantel meskipun sudah berlubang-lubang, sedangkan orang itu telanjang. Pantaskah orang meninggalkan sesamanya begitu saja?”

Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel baru dan membawa seorang pria asing.
“Simon, siapa ini? Mana mantel barunya?” Simon mencoba menyabarkan Matrena,
“Sabar, Matrena…. dengar dulu penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang”.
“Bohong!! Aku tak percaya….sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!! Usir saja dia!!”
“Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?” Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat.
“Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?”

Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya.
“Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini.”
“Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu”, demikian Simon menjawab.
“Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur.”
“Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja”.

Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya.
“Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu? Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?” Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon. Simon menjawab,
“Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia”.

Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.

Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini. Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.

Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam.
“Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dip enjarakan!! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!”
Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum. Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu. Simon berkata,
“Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara.”

Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon.
“Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar? Celaka, kita bisa masuk penjara karena….” Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya.
“Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja”.
“Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon”, Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.

Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.

Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu. Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu,
“Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?” Ibu itu menjelaskan, “Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri.”

“Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya”, kata Matrena. Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya. Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata,
“Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit.” Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut,
“Nanti dulu Mikhail, tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?”

Mikhail menjawab sambil terus tersenyum,
“Sebenarnya aku adalah adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, “Mikhail, turunlah ke bumi dan pelajarilah ketiga kebenaran ini hingga kau mengerti:
Pertama, Apakah yang hidup dalam hati manusia?
Kedua, Apa yang tidak diijinkan pada manusia?
Ketiga, Apa yang paling diperlukan manusia?”

“Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu. Tapi Simon berkata, “Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?” Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama:
“YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH”
“Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua:
“MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN”
“Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan aku melihat si kembar dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga:
“MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA.”

Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup.” Mikhail kembali ke surga.