Arsip Penulis: Parjuangan Radyarto Siregar

avatar Tidak diketahui

Tentang Parjuangan Radyarto Siregar

GSM

TAKUT AKAN TUHAN


Saat Teduh …………..

01. Nyanyian KJ. No. 222b:1. “Agungkan kuasa namaNya”
Agungkan kuasa namaNya malaikat bersujud
Nobatkan Raja Mulia, dan puji, puji, puji, Yesus Tuhanmu.

02. Pembacaan Firman:
 Pagi : Keluaran 34:1-9.
 Malam : Matius 18:10-14.

03. Renungan: Ayub 1:1.
Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan

Sungguh suatu gambaran laki-laki yang sempurna! (Idaman setiap wanita..) Karakter seperti Ayub merupakan karakter yang paling disukai oleh Allah, sampai Allah sendiripun memuji Ayub di hadapan iblis : “Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (1:8 ; 2:3). Takut akan Tuhan adalah rasa takut yang positif. Takut akan Tuhan mengandung arti tunduk, patuh dan menghormati kekudusan, kuasa dan kasih Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan akan dengan tulus hidup seturut dengan FirmanNya dan dengan patuh menjauhkan diri dari segala dosa.

Karakter asli seseorang biasanya akan terlihat ketika menghadapi:

  • Penderitaan,
  • Godaan,
  • Kesuksesan.

Ayub telah menghadapi ketiga situasi di atas : Kesuksesan (Ayub adalah orang terkaya dari semua orang di sebelah Timur (1:3). Godaan (istrinya menyuruh Ayub mengutuk Allah; sahabat-sahabatnya menyalahkan Ayub) dan Penderitaan (Ayub mengalami penderitaan yang paling berat, seluruh miliknya habis dan seluruh badannya dipenuhi barah yang busuk), tetapi Ayub tetap setia pada Tuhan. Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Dan karena kesetiaan serta integritasnya, di akhir penderitaannya Tuhan memberi Ayub “reward”: Semua yang pernah Ayub miliki Tuhan kembalikan kepadanya dua kali lipat! Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, sebab mereka akan menerima berkat-berkat Tuhan : Hidup dalam kebahagiaan dan ketenteraman (Mzm 128:1 ; Amsal 14:26). Berlimpah dengan kebaikan Tuhan (Mazmur 31 : 20a ; 33 : 18) Doa-doanya akan disengar dan dijawab oleh Tuhan (Mzm 145 : 19). Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 115:1. Tuhan Debata
Tuhan Debata sai ramoti ma, daging dohot tondinami
Ido pangidoannami, sai pahipas be, hami on sude.

06. Doa Bapa kami – Amin.

JANGAN KHAWATIR TENTANG HIDUP!


Saat Teduh ………..

01. Nyanyian KJ. No. 10:1. “Pujilah Tuhan Sang Raja”
Pujilah Tuhan Sang Raja yang Maha Mulia
Segenap hati dan jiwaku pujilah Dia! Datang berkaum,
B’rilah musikmu bergaung, angkatlah puji-pujian.

02. Pembacaan Firman
 Pagi : Kejadian 4:1-16
 Malam : Ibrani 4:14-5:10

03. Renungan: Bilangan 20:9
Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan Tuhan, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.

Jika kita tidak dapat mengendalikan diri dari segala bentuk amarah maka apapun yang kita dengar dan lakukan pasti hasilnya akan menjadi sia-sia. Demikianlah halnya dengan apa yang diperbuat oleh Musa dan Harun Pada waktu itu bangsa Israel sedang dalam perjalanan menuju tanah kanaan, bangsa ini penuh dengan sungut-sungut, ketika mereka sedang menghadapi kekeringan air. Ketika mereka marah-marah kepada Musa karena kehabisan air minum, maka Musa dan Harun pergi menjumpai Tuhan Allah dan Tuhan berpesan supaya Musa untuk mengumpulkan umat Israel di suatu tempat. Lalu Musa mengambil tongkatnya dan pergi menjumpai umat tersebut. Dikumpulkan Musa dan Harun umat itu, namun apa yang terjadi, Musa bukan berbicara (berkata-kata) kepada gunung itu melainkan memukulnya sampai 2 kali oleh karena amarahnya terhadap bangsa tersebut karena sungut-sungut mereka. Hal inilah yang membuat Musa dan Harun tidak diizinkan Tuhan memasuki tanah Kanaan.

Tongkat kehidupan kita adalah Firman, apa yang difirmankan Tuhan hendaklah didengar, direnungkan dan dilakukan. Jangan karena kesal atau karena amarah, Firman menjadi sia-sia, sehingga membuat Tuhan tertutup hatiNya akan satu tujuan hidup yang seharusnya menjadi milik kita masing-masing. Amin

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 14:1. Puji hamu Jahowa tutu
Puji hamu Jahowa tutu, pardengganbasa, parasiroha salelengna i
Pardengganbasa i, parasiroha i.

06. Doa Bapa kami – Amin.

BELAJAR DARI ABRAHAM


Saat Teduh ……………

01. Nyanyian KJ. No. 401:1. “Makin dekat Tuhan”
Makin dekat Tuhan kepadaMu; walaupun saliblah mengangkatku
Inilah laguku dekat kepadaMu, makin dekat Tuhan kepadaMu

02. Pembacaa Firman
 Pagi : 1 Rajaraja 19:1-8
 Malam : Ibrani 2:10-18

03. Renungan: Kejadian 22:18
Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firmanKu

Firman Tuhan hari ini merupakan perkataan Tuhan sebagai ketetapan terhadap Abraham. Oleh karena Abraham taat dan setia kepada Tuhan Allah, dimana pada saat itu Abraham sedang diuji Tuhan imannya untuk mempersembahkan putranya Ishak untuk disembelih dan menjadi korban di hadapan Tuhan. Tuhan sangat senang dan Bangga melihat imannya yang kuat dan teguh yang walau sangat pahit untuk dilakukan seharusnya. Saudara-saudara, berbagai macam cara Tuhan Allah akan menguji dan sedang menguji kita masing-masing. Dan Ujian itu akan pahit dan sangat pahit sekali yang harus kita lakukan dan alami masing-masing. Oleh karena itu, bagaimanakah kita menyikapinya?

Belajarlah dari Abraham yang tulus hati dan setia kepada Tuhan. Oleh Karena keyakinan Abraham bahwa segala sesuatu didalam dirinya dan hidupnya itu bukanlah miliknya, itu adalah Anugerah Tuhan yang harus dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan. Marilah kita menjadi Abraham masa kini dan Abraham masa yang akan datang; supaya apa yang difirmankan Tuhan kepada Abraham, demikianlah halnya kepada kita sekalian; oleh keturunanmulah semua bangsa dibumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengar firmanKu. Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 122:1. Ida hinadenggan ni
Ida hinadenggan ni angka na saroha i,
Parpambaenan na burju, nang hataNa pe tutu

06. Doa Bapa kami – Amin.

MENGHAYATI MINGGU INVOCAVIT


INVOCAVIT
Jouonna Ma Ahu, Jadi Alusanhu Ma Ibana

Topik: Molo Joujou Ahu, Dialusi Ho do Ahu
(Bila ku berseru, Engkau menjawab)

Warna Tutup Altar : Ratarata (Hijau)
Warna Pertumbuhan dan Kehidupan

Ev. Matius 9:27-31
Ep. Mazmur 91:14-16

MENGHAYATI MINGGU INVOCAVIT

Minggu Invocavit mengajak umat untuk menghayati momen awal puasa sebagai cara pandang padang gurun. Bahwa kita perlu melepaskan diri dari godaan yang ada, meski kondisi yang kita alami juga sedemikian berat. Dalam kondisi yang demikian kita berharap akan kemenangan atas godaan, sama seperti yang telah diteladankan oleh Yesus. Minggu invocavit juga punya tempat tersendiri dalam sejarah perkembangan gereja Protestan, khususnya di tradisi Lutheran. Di Minggu Invocavit, 9 Maret 1522, Martin Luther kembali ke Wittenberg, untuk memberikan arahan bagaimana reformasi Prostestan semestinya berjalan. Khotbahnya di hari Minggu invocavit itu, memulai delapan seri khotbah, yang menyasar beberapa isu yang ketika itu menjadi perdebatan di jemaat Wittenberg. Khotbah Luther terkait keselamatan individual, penggunaan gambar dan patung dalam ibadah, sakramen serta sejumlah isu lain telah meletakkan dasar untuk ajaran dan praktik gereja Lutheran dan beberapa kelompok Protestan lain.

BELAJAR MENGAMPUNI


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 289:1. “Tuhan Pencipta semesta”
Tuhan Pencipta semesta, Kaulah yang Maha Mulia
Sungguh besar karunia, yang Kau beri

02. Pembacaan Firman
 Pagi : Yesaya 58:1-12.
 Malam : Matius 18:1-7.

03. Renungan: Mazmur 32:1
Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!

Mengampuni merupakan obat mujarab untuk memulihkan suatu hubungan. Formula tersebut merupakan formula yang sederhana. Dapat diaplikasikan sampai berkali-kali tanpa menyebabkan efek samping yang tidak diharapkan. Bahkan semakin digunakan sepertinya justru malah membuat kita semakin disegarkan. Sebaliknya malah semakin besar karena tidak ada pengampunan. Bagaikan kanker yang ganas yang menggerogoti jiwa kita; kepahitan dan kepicikan. Mengampuni merupakan proses yang sederhana, dan selalu bermula dari hati. Mengampuni tanpa hati adalah kemunafikan; tidak ada khasiat yang menyegarkan. Sebelum kita mengampuni kesalahan orang lain, Allah sudah lebih dahulu mengampuni kesalahan kita. Diampuni merupakan awal dari proses mengampuni. Tanpa adanya kesadaran bahwa dirinya telah diampuni, niscaya kita tidak dapat mengampuni. Tetapi yang sering menjadi masalah adalah apakah kita mempunyai keberanian untuk memberikan ampun atau memohon ampun? Lebih baik melihat dahulu balok di mata dibandingkan selumbar di mata saudara kita. Artinya, setiap orang tidak luput dari kesalahan bahkan mungkin dosa kita lebih besar daripada orang lain. Jadi tidak ada alasan untuk menghakimi orang lain. Pengampunan memperbesar kapasitas rohani kita untuk mengenal sejati Nya Allah yang penuh dengan kasih setia dan rahmat yang bekerja di dalam segala aspek kehidupan kita, sehingga kita terbilang orang yang berbahagia. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 424:1. Soara ni Tondi
Soara ni Tondi ni Tuhanta i jotjot dilaosi, ditulak ho i.
Sai tanda jeamu, pauba roham, dapothon Tuhanmu, sisesa dosam.

06. Doa Bapa kami – Amin.

KEPASTIAN IMAN


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 249:1. “Serikat Persaudaraan”
Serikat persaudaraan berdirilah teguh. Sempurnakan persatuan
didalam Tuhanmu. Bersama-sama majulah dikuatkan iman
Berdamai bersejahtera dengan pengasihan.

02. Pembacaan Firman
 Pagi : Yunus 4:1-11.
 Malam : Roma 8:8-17.

03. Renungan: Markus 9:24.
Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

Ayat ini dilatarbelakangi oleh adanya seorang anak yang kerasukan roh jahat, anak itu sampai tuli dan bisu. Ketika roh jahat menyerang, anak itu dibantingkannya ke tanah, mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya kejang. Saat Kristus datang, ia semakin marah, berteriak-teriak dan membuat anak itu kesakitan, mengoncang-goncangkannya dengan hebat, sampai anak itu kelihatan seperti orang mati. Pada saat itulah ayah anak itu berteriak : “Tuhan, aku percaya. Aku yakin sepenuhnya akan kuasa, maupun akan belas kasihan-Mu. Kesembuhan anakku tidak terhalang oleh kelemahan imanku ini.” Ia juga berdoa mohon karunia yang memampukan dia agar bisa berpegang teguh pada kepastian iman yang dimilikinya dan kerelaan Kristus untuk menyelamatkan, “Tolonglah aku yang tidak percaya ini.” Ungkapan ayah anak malang di atas, menunjukkan bahwa ia begitu yakin bahwa Yesus akan mampu menyembuhkan anaknya, meskipun ia menyadari imannya lemah. Kita yang sudah menjadi pengikut dan percaya kepada Kristus, sering belum yakin dengan iman kita dan belum begitu tulus bergantung pada Firman-Nya itu. Dalam hidup ini, iman kita sering kali tercampur dengan keraguan. Akan tetapi, tidaklah berarti bahwa Kristus tidak akan menanggapi permohonan kita, karena Ia memahami serta menaruh kasihan kepada kelemahan kita (Ibr 4:15). Kita harus mengakui kelemahan iman kita, serta berdoa agar Ia akan memberikan iman yang teguh kepada kita dan selalu mendekatkan diri kepadaNya. Amin

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 227:3. Jesus ngolu ni tondingku
Jangkon au baen siseanMu, na girgir tu podaMi
Sai surdukkon ma tanganmu, asa tong hutiop i.

06. Doa Bapa kami – Amin.

KASIH TANPA BATAS


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 460:1. “Jika jiwaku berdoa”
Jika jiwaku berdoa kepadaMu Tuhanku
Ajar aku t’rima saja pemberian tanganMu
Dan mengaku s’perti Yesus di depan sengsaraNya
Jangan kehendakku Bapa, kehendakMu jadilah!

02. Pembacaan Firman
 Pagi : Mazmur 51:1-11
 Malam : Roma 1:1-7

03. Renungan: Zakaria 7:9.
Beginilah firman TUHAN semesta alam: Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing!

Mungkin kita masih ingat kisah orang Samaria yang murah hati. Kisah ini tidaklah asing lagi bagi kita, menceritakan tentang seseorang yang dirampok dan dianiaya dalam perjalanan dan ditinggalkan dalam keadaan sekarat. Ada imam yang lewat namun tidak berbuat apa-apa malah menyingkir ke seberang jalan, kemudian ada orang Lewi yang berlaku sama. Tetapi selanjutnya lewatlah orang Samaria disana. Sebagai catatan, orang Samaria bukanlah orang yang terhormat bagi bangsa Yahudi ketika itu. Sejarah panjang antara orang Yahudi dan Samaria membuat mereka memandang negatif satu sama lain. Alkitab pun mencatatnya seperti ini: “Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.” (Yoh 4:9). Tetapi ternyata orang Samaria ini menunjukkan yang tulus. “Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.” (Luk 10:34). Ia pun kemudian membayar sepenuhnya penginapan dan biaya perawatannya. Itulah gambaran yang begitu indah akan suara hati Tuhan mengenai bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap sesama manusia. Tidak dikatakan bahwa kita hanya wajib membantu yang satu kepercayaan saja, tetapi yang disebut dengan sesama manusia adalah semua manusia lainnya tanpa terkecuali. Bahkan musuh atau orang yang jahat kepada kita sekalipun, mereka juga sesama manusia, dan mereka juga wajib untuk kita kasihi, Karena Kekristenan tidak mengenal sekat dan batas dalam mengasihi. Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 194:2. Aut so asi rohaM
Mauliate ma Di Ho o Debata Ala basaM
Sibahen dalan i Marhite AnakMi Tu banuaM

06. Doa Bapa kami – Amin.