Arsip Penulis: Parjuangan Radyarto Siregar

avatar Tidak diketahui

Tentang Parjuangan Radyarto Siregar

GSM

IMAM AGUNG


Saat Teduh ……………

01. Nyanyian KJ. No. 249:1. “Serikat Persaudaraan”
Serikat persaudaraan berdirilah teguh. Sempurnakan persatuan
didalam Tuhanmu. Bersama-sama majulah dikuatkan iman
Berdamai bersejahtera dengan pengasihan.

02. Pembacaan Firman
 Pagi : Ayub 13:13-19.
 Malam : Filipi 1:21-30.

03. Renungan: Ibrani 7:24.
Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain

Ayat Renungan hari ini merupakan pengungkapan suatu rahasia besar tentang keselamatan umat manusia. Kristus sang juru selamat manusia ditetapkan oleh Allah sebagai Imam, dimana kita ketahui bersama bahwa seorang Imam itu bertugas sebagai pengantara antara umat yang berdosa yang memohonkan pengampunan dosa kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Dan seorang Imam yang hanya berasal dari suku Lewi itu harus menguduskan dirinya untuk terlebih dahulu sebelum malaksanakan tugasnya. Dan Imam itu juga memiliki keterbatasan usia, dimana suatu saat dia akan meninggal dunia. Sehingga Imam Agung yang bisa selama-lamanya bertugas sebagai pengantara manusia dan Allah hanyalah Yesus Kristus, seorang yang kudus dan hidup selama-lamanya di surga.

Dalam kehidupan kita saat ini, andaikan Tuhan Yesus tidak ada, pastilah banyak dosa-dosa kita tidak terampuni, karena Imam yang ada tidak akan cukup untuk bertugas sebagai pengantara untuk proses pengampunan dosa dan akibatnya dosa kita tersebut akan membawa kita kepada maut dan kematian yang abadi. Oleh karena itu, marilah kita datang kepada Tuhan Yesus, berdoa dan memohon pengampunan dosa kepada Allah melalui Dia. Dia sanggup menjalankan tugas berat tersebut demi keselamatan umat yang percaya kepada Tuhan. Sebagai manusia yang tidak luput dari perbuatan dosa, mari datang kepada Tuhan Yesus sebagai Imam Agung, supaya kita memperleh pengampunan dosa dan menjadi kudus kembali. Dan dengan kekudusan itu kita akan memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal. Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 424:1. Soara ni Tondi
Soara ni Tondi ni Tuhanta i jotjot dilaosi, ditulak ho i.
Sai tanda jeamu, pauba roham, dapothon Tuhanmu, sisesa dosam.

06. Doa Bapa kami – Amin.

MEMBANGUN KEHIDUPAN


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 367:1. “PadaMu Tuhan dan Allahku”
PadaMu Tuhan dan Allahku, ‘ku persembahkan hidupku
dariMu jiwa dan ragaku, hanya dalamMu ‘ku teduh
hatiku yang Engkau pulihkan, padaMu juga ‘ku berikan

02. Pembacaan Firman
 Pagi : 1 Samuel 16:11-13.
 Malam : Filipi 1:1-11.

03. Renungan: Ibrani 3:4.
Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu adalah Allah.

Tidak ada seorang manusiapun yg bisa membuat atau menciptakan sesuatu dengan sempurna. Apakah terhadap dirinya, keluarganya, keluarga besarnya, bahkan cita-citanya, sebaik apapun itu semua di rencanakan dan dijalankan, pasti ada hal yang tidak terantisipasi dan menjadi masalah. Manusia mungkin bisa mencipatakan rumah yang canggih, bendungan raksasa, tapi pastilah ada ketidaksempurnaannya. Lalu, apakah kita harus menyerah dan berhenti karena toh hasilnya juga tidak akan sempurna dan bermasalah. Tidaklah demikian. Tuhan menginginkan kita untuk berikhtiar semaksimal mungkin, menciptakan sesuatu secanggih mungkin tetapi harus menyadari bahwa kesempurnaan adalah milik Tuhan. Apapun capaian dan kemajuan yang diciptakan manusia haruslah sejalan dengan firman Tuhan. Janganlah kita berinovasi dan berkreasi atau menciptakan sesuatu yang sifatnya melawan ajaran Tuhan. Misalnya kita ingin diri kita dan anak-anak kita menjadi sukses, tetapi dengan cara yang curang, memfitnah, menjelek-jelekan dan menipu. Misalnya juga kita ingin menciptakan obat-obatan yang manjur untuk menyembuhkan suatu penyakit, tetapi dengan cara memperlakukan hewan-hewan percobaan dengan semaunya. Melayani di gereja juga merupakan cara kita menyelaraskan segala daya, agar sejalan dengan firman Tuhan.. Intinya, biarlah kita memperoleh kesuksesan dengan jujur, belajar dengan giat dan kerja keras, tanggap membantu terhadap situasi di masyarakat dan tempat kerja kita, berdoa dan melayani Tuhan. Dengan demikian, segala hal baik yang kita lakukan dan perbuat akan disempurnakan oleh Tuhan.

04. Berdoa

05. Bernyanyi KJ. No. 350:1. O Berkati kami
O berkati kami dan lindungi kami
Tuhan b’rilah rahmatMu oleh sinar wajahmu.

06. Doa Bapa kami – Amin.

HIDUP DALAM TUHAN


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 19:1. “Tuhanku Yesus”
Tuhanku Yesus Raja alam raya, Allah dan manusia
Kau kukasihi, Kau junjunganku, Bahagia aku yang baka

02. Pembacaan Firman
 Pagi : Mazmur 143:3-12
 Malam : Matius 22:22-33

03. Renungan: Efesus 2:10.
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Ketika diusir dari taman Eden dan harus tinggal menetap di dunia, manusia semakin bergelimang dengan dosa. Tuhan marah dan sering menghukum manusia. Manusiapun bertobat, tapi beberapa saat kemudian berbuat dosa lagi. Tuhanpun menetapkan hukum Tuhan beserta sanksinya bila manusia melanggarnya. Tapi manusia tetap gagal menaati hukum Tuhan tersebut, manusia tetap berbuat dosa. Kemudian Tuhan turun ke dunia dan berinkarnasi menjadi manusia, yang kita kenal dengan Yesus Kristus. Maksud Tuhan turun ke dunia agar manusia dapat melihat langsung Tuhan ada di sekitarnya dan bisa lebih mudah mencontoh segala kebaikan Tuhan dalam rupa manusia. Tuhan telah menebus dosa kita dan menjanjikan kehidupan kekal. Tapi mengapa manusia sulit meninggalkan dosa? Jawabannya adalah iblis selalu menghalang-halangi manusia untuk berbuat baik. Iblis bahkan terus menggoda manusia untuk berbuat dosa. Agar dapat berbuat kebaikan dan terhindar dari dosa, manusia juga harus aktif dan tidak hanya menunggu belas kasihan dan pertolongan Tuhan. Manusia harus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, bahkan tidak bisa hanya dekat-dekat saja, tapi manusia harus hidup didalam Tuhan. Kenapa? Karena iblis akan terus melihat kelemahan dan kelengahan manusia, dan mempengaruhi manusia untuk berbuat dosa. Hidup di dalam Tuhan, seperti kita hidup dalam rumah kita. Ada rasa tidak nyaman bila kita di luar rumah apalagi kalau jauh atau sedang di luar kota. Bahkan bilamana ada tempat di luar rumah yang memberikan kenyamanan seperti di hotel, kita tetap mendambakan rumah kita. Kita harus pergi meninggalkan rumah orang tua kita, pergi ke kota lain untuk bekerja dan membangun keluarga serta rumah kita yang baru. Oleh karena itu hanya Tuhanlah yang bisa kita andalkan dimanapun kita berada. Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 165:1. O Jesus na pangolu au
Na basa do rohaM di au, o Jesus, Tuhanki,
Di ihuthon Ho au tu na dao, mambuat rohangki.

06. Doa Bapa kami – Amin.

HIDUP BAGI TUHAN


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 419:1. “Yesus pimpinlah”
Yesus, pimpinlah kami s’lamanya:
hanya Dikau kami ikut di sepanjang jalan hidup.
Tuntun umatMu masuk rumahMu.

02. Pembacaa Firman
 Pagi : 2 Raja-raja 4:18-37
 Malam : Efesus 2:1-10.

03. Renungan: Yohanes 11:45.
Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.

Selama pelayanan-Nya di dunia, Yesus banyak melakukan tanda mujizat supaya orang yang mengalami dan / atau melihat tanda mujizat tersebut percaya kepada-Nya dan memuliakan Allah. Peristiwa sebelum nas hari ini, Yesus menjumpai Maria dan Marta yang sedang berduka karena kematian Lazarus, saudaranya dan telah empat hari di dalam kubur. Yesus dengan sengaja menyediakan waktu untuk menjumpai Maria dan Marta karena Ia mengasihi mereka dan Lazarus saudaranya yang telah meninggal. Selain Yesus dan murid-muridnya, banyak orang Yahudi datang untuk menghibur Maria dan Marta berhubung dengan kematian Lazarus. Dalam pertemuan tersebut, Marta menunjukkan imannya kepada Yesus dengan berkata : “Tuhan,, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarangpun aku tahu bahwa Allah aka memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya”. Marta sangat percaya bahwa Tuhan berkuasa untuk membangkitkan Lazarus dari kematian. Demikian juga Maria. Ketika Maria bertemu dengan Yesus tersungkurlah ia di depan kaki Yesus dan dengan menangis ia berkata kepada-Nya : “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati”. Kemudian Yesus membangkitkan Lazarus yang sudah empat hari di dalam kubur. Yesus hadir di tengah-tengah keluarga Maria dan Marta yang sedang berduka, turut merasakan duka sampai Ia menangis dan karena kasih-Nya, Ia membangkitkan Lazarus dari kematian. Semua peristiwa ini disaksikan oleh orang-orang Yahudi dan banyak di antara mereka menjadi percaya kepada-Nya.

Bagaimana dengan kita saat ini. Adakah kehadiran kita di tengah-tengah keluarga, masyarakat, jemaat dan lingkungan kerja membuat orang percaya dan rindu kepada Tuhan? Nas ini mengingatkan supaya perkataan, sikap dan perbuatan kita setiap hari membuat orang percaya kepada Tuhan dan memuliakan Dia. Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 197:1 “Na marmahani hita”
Na marmahani hita Parholong roha i
I ma Tuhanta Jesus Silehon tua i, Silehon tua i

06. Doa Bapa kami – Amin.

TAHBISAN SINTUA


(Tohonan Sintua)

Pendahuluan
Sintua (Penatua) dikenal sebagai salah satu unsur pelayanan atau petugas gerejawi. Mereka dipilih dan ditahbisakan untuk menjalankan suatu tanggung jawab kristiani yakni melayani Tuhan dan melayani sesama. Tohonan yang tertua di gereja mula – mula di Yerusalem setelah jabatan Rasul, Bahkan di gereja HKBP, tohonan sintua merupakan jabatan yang pertama diberikan kepada pelayanan pribumi untuk mendampingi pelayanan para misionaris yang di utus dari Eropa. Hal ini terjadi pada tahun 1867, hanya sekitar 6 tahun setelah babtisan yang pertama di tanah Batak (Tahun 1861 = Lahirnya HKBP). Dari sini kita dapat melihat bahwa tohonan sintua telah melalui perjalanan yang sangat panjang dalam sejarah Kristen baik gereja mula – mula dan juga didalam sejarah gereja Kristen baik gereja mula–mula dan juga di dalam gereja di tanah Batak. Sementara “tohonan guru” baru ditetapkan tahun 1873 sedangkan “tohonan kependetaan” pada tahun 1885.

Pengertian “Tohonan”

Menurut Pdt. DR P.W.T. Simanjuntak (mantan Ephorus HKBP periode 1992 – 1998) kata “Tohonan” ditinjau dari perspektif orang batak bersumber dari dua suku kata yakni “toho” dan “an”. Kata “Toho” artinya tepat, sedangkan kata “an” artinya itu. Jika kedua kata itu digabungkan maka dapat di artikan sebagai berikut : “ lebih tepat si A itu melakukannya ataupun membicarakannya dari pada si B ini”. Tohonan maksudnya adalah suatu pekerjaan khusus yang sangat penting yang tidak dapat dilaksanakan atau dilakukan oleh orang lain. Pengertian “Tohonan “tidak dapat disamakan dengan kata “ulaon” sebagai tugas yang tidak dapat diwakilkan dan dicabut. Berbeda dengan gereja – gereja lain yang mengartikan “tohonan” sebagai jabatan. Jabatan yang dapat di cabut dan berperiode. Dari pengertian di atas, seorang yang menerima “tohonan” adalah seseorang yang sangat tepat untuk suatu pekerjaan yang diembankan kepadanya.

Tentang Nama Sintua (Penatua)

Dari tulisan Pdt. M.S.M. Panjaitan, MTh. Di dalam Vocatioa Dei STT HKBP Pematang Siantar (Edisi XXXIII – XXXIV Pebruari 1992) yang disadur dari berbagai sumber bahwa istilah yang banyak dipergunakan dalam perjanjian lama untuk menyebut “sintua” atau penatua adalah “Zaken”. Dalam bahasa Yunani, sintua adalah terjemahan dari kata “presbiter” atau presbyteros. Ada beberapa kali kata itu dipakai dalam Perjanjian Baru, misalnya : Luk 22:66; Kis 14:23; 22:5; I Tim 4 :14; 5:19; Tit 1:5. pada awalnya, kata “resbiter” mencakup pengertian yang sangat luas. Bahkan Rasul Yohanes dan Rasul Petrus menyebut diri mereka sebagai “Presbiter” atau sintua (Lih II Yoh. 1:1; II Yoh 1:1; I Petr. 5:1). Dalam bahasa Inggris “sintua” terjemahan dari kata “elder” sekalipun kata tersebut boleh diterjemahkan dengan “pangituai” dan bisa juga berarti “sintua”. Menurut Pdt. DR. Andar Ismail, di gereja Korea, sintua atau penatua disebut “Yang-No-Nim” “Yang” artinya panjang, wibawa, bijak, terpelajar, pemimpin. “No” artinya matang atau tua. Jadi sintua atau penatua adalah seorang yang panjang pikiran , panjang wibawa, panjang sabar, panjang akal, berjiwa pemimpin, yang bijak, matang dalam kepribadiaanya. Pokoknya berperilaku seperti seorang yang patut dituakan.    Menurut Pdt. Prof. DR. F.H. Sianipar, bahwa kata “sintua” dikalangan orang batak baru dikenal setelah kekristenan masuk ke tanah batak. Artinya bahwa kata atau nama “sintua” adalah istilah di dalam gereja yang menunjuk kepada jabatan. Sebelum kekristenan masuk ketanah batak, yang ada “pangituai” seperti “ pangituai ni huta”, yaitu orang yang diandalkan karena kepintarannya, pengalamannya atau karena usianya. Dikatakan lagi, kalau “pangituai ni huta” adalah menunjuk kepada “tohonan” kepada kedudukan seseorang ditengah –tengah masyarakat, sedangkan “sintua” menunjuk kepada “tohonan” ditengah –tengah gereja.

Peranan Sintua

  1. Perjanjian Lama

Menurut tradisi perjanjian Lama asal – usul sintua atau penatua sudah ada pada zaman sebelum Israel menjadi satu bangsa. Pada waktu itu, yang dimaksud dengan penatua adalah kepala – kepala suku atau marga, atau pimpinan kelompok masyarakat tertentu. Tetapi setelah terbentuknya lembaga yang mempersekutukan Israel, maka yang dimaksud dengan penatua adalah perwakilan dari seluruh umat, tetapi tidak mempunyai kuasa memerintah atau mengambil keputusan . penatua merupakan suatu badan yang membantu tokoh – tokoh pemimpin seperti Musa dan Yosua dalam hal menyampaikan perintah atau amanah yang datang dari Allah untuk mereka lakukan (baca : Kel 3:16; 18; 4:29; 12:21; 18:12; 19:7; Bil 16:25; Yos 7:6; 8:10; 11:16; Lel 29:1-9). Setelah umat Israel menjadi satu bangsa yamg berdiam di palestina, mulai dari zaman hakim –hakim sampai zaman kerajaan, peranan sintua semakin besar. Di setiap wilayah atau kota ada yang disebut “Dewan Penatua” dewan Penatua ini mempunyai wewenang untuk memberi keputusan dalam hal yang menyangkut perkara – perkara politis, militer dan hukum. Tetapi selain penatua – penatua setempat itu, ada juga penatua – penatua yang merupakan perwakilan dari setiap wilayah dan dari setiap wilayan dari setiap suku – suku Israel yang berkumpul untuk membuat keputusan – keputusan umum ( Lih Yos 11:5; I Sam 30:2b; 2 Sam 19:12). Misalnya, penatua – penatua Israellah yang memutuskan supaya bangsa itu mengangkut peti perjanjian dari Silo dalam perang bangsa itu melawan Filistin ( 1 Sam 4:3).

 

  1. Badan Sanhedrin di Yerusalem

Seperti yang sudah disinggung di atas bahwa di tengah – tengah orang yahudi telah dikenal “dewan penatua” yang diberi kepercayaan memimpin bangsa itu. Dewan dikenal dewan penatua inilah yang kemudian berkembang menjadi Sanhedrin (Ibrani : Synedrion) di dalam umat yahudi. Pada zaman Yesus, Sanhedrin dikenal sebagai mahkamah / pengadilan tertinggi agama yahudi yang berkedudukan di Yerusalem. Anggota – anggotanya terdiri dari imam – imam kepala (Archiereis), ahli – ahli taurat (Frammeteis), dan penatua – penatua atau presbyteroi (Lih Mrk 11:27; 14:43,53; 15:1; bnd Mat 16:21; 27:41). Para penatua yang masuk menjadi anggota Sanhedrin , adalah berasal dari keluarga – keluarga terhormat, atau dari kaum bangsawan yahudi. Pada zaman Yesus, kuasa politis tidak diberikan kepada badan ini. Mereka hanya diberi kuasa untuk melakukan pengadilan dalam batas batas tertentu, yakni yang berkenaan dengan pelanggaran hukum – hukum keyahudian. Karena perannya yang lebih dikhususkan kepada persoalan – persoalan keagamaan, maka dalam perjanjian baru, Sanhedrin diterjemahkan dengan “Majelis Agama” (lih Mrk 13:9). Dengan demikian, istilah “penatua” nampaknya adalah juga gelar kehormatan bagi tokoh – tokoh masyarakat dan tokoh – tokoh keagamaan.

 

  1. Jemaat Mula – Mula. Sintua atau penatua untuk pertama kali ditemukan di jemaat yang ada di Yerusalem. Para penatua diangkat dari anggota – anggota jemaat untuk secara bersama – sama dengan para rasul untuk memimpin dan menyelesaikan soal – soal yang timbul di tengah – tengah jemaat mula – mula. Dari nasehat yang diberikan paulus kepada penatua – penatua di Efesus (Kis 20:18-35), kita bisa melihat fungsi dan peranan penatua, dikatakan, mereka telah ditetapkan Tuhan sebagai “pangawas” dan gembala – gembala bagi jemaat itu. Telah dibimbing oleh para rasul mengikut keteladanan mereka, dan menjaga jemaat itu terhadap bahaya – bahaya guru – guru palsu yang datang dari luar dan juga dari dalam jemaat. Dalam surat Yakobus kita melihat bahwa jika ada dari antara anggota jemaat yang sakit, maka para penatua sebaiknya dipanggil supaya mereka mengusahakan kesembuhan bagi anggota jemaat yang sakit dengan mendoakan dan mengoleskan minyak dalam nama Tuhan (Yak 5:14)
  2. Gereja HKBP zaman DR. I.L. Nomensen

Setelah gereja berdiri di daerah Silindung, Tapanuli Utara (Tapunuli Utara (Taput ) oleh I.L Nomensen, jabatan sintua atau penatua diberikan kepada orang – orang pribumi untuk membantu para pendeta (missionaries) menjalankan tugas pelayanan di dalam jemaat. Mengingat luasnya pekerjaan yang harus dikerjakan oleh I.L . Nomensen pada waktu itu, sementara dirinya sendiri tidak mempu membina kehidupan kerohanian jemaat yang baru berdiri. Supaya bisa terlepas dari kesulitan itu, Nomensen berfikir, bahwa tugas palayanan itu sebagian harus diserahkan kepada anggota jemaat yang telah dapat memahami dengan baik adat dan sifat masyarakan batak itu sendiri. Pada tahun 1867, I.L Nomensen telah menahbiskan 4 orang putra batak menjadi penatua gereja yang pertama di gereja dame, sait ni huta, Tarutung, Yakni Abraham, Isak, Josep, Jakobus. Ke empat orang inilah yang membantu Nomensen membimbing anggota jemaat yang baru masuk Kristen. Mereka menegur, menasehati dan membawa ke jalan yang benar. Kalau Nomensen berhalangan memimpin kebaktian minggu, salah satu dari mereka berempatlah yang menggantikannya.

Syarat Menjadi Seorang Sintua

Sejak zaman Perjanjian Lama sampai Zaman Perjanjian Baru hingga zaman gereja sekarang, setiap orang yang akan dipilih menjadi penatua harus lah orang – orang yang terpercaya, setia dan mampu menjalankan tugas. Karena beratnya tugas yang dikerjakan seorang sintua dalam jemaat, Paulus menasehatkan Timotius agar jangan buru – buru menahbiskan seseorang menjadi sintua (1 tim 5:22). Dan orang yang akan diangkat menjadi sintua di jemaat haruslah memiliki syarat –syarat tertentu sebagaimana di dalam 1 Tim 3 :1-7 dan juga Titus 1 :6-9, yakni :

 

Seorang yang tidak bercacat, Suami dari satu istri, dapat menahan diri, Bijaksana, Sopan, Suka memberi sumbangan (bertamu), Cakap mengajar orang, Bukan peminum, Bukan pemarah, Peramah, Pendamai, Bukan hamba uang, Seorang kepala keluarga yang baik, Disegani dan dihormati oleh anak –anaknya, Jangan seorang yang baru bertobat, Mempunyai nama baik di luar jemaat

 

Dari syarat – syarat yang telah disebutkan itu, gereja HKBP menentukan dalam aturannya siapa yang layak menjadi seorang sintua. Sesuai dengan aturan peraturan HKBP tahun 2002 dijelaskan bahwa syarat menjadi seorang sintua atau penatua adalah sebagai berikut :

 

  1. Warga jemaat yang mempersembahkan dirinya menjadi penatua di jemaat.
  2. Rajin mengikuti kebaktian minggu dan perjamuan kudus
  3. Berperilaku tidak bercela
  4. Paling sedikit umurnya 25 tahun
  5. Sehat rohani dan jasmani
  6. Sedikit – dikitnya berpendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP)
  7. Dipilih oleh warga jemaat dari antara mereka dan ditetapkan oleh Rapat Pelayan Tahbisan.

Tugas Sintua Atau Penatua

Tugas seorang Sintua menurut Aturan Peraturan HKBP tahun 2002 adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai tertera dalam Agenda Penerimaan Penatua HKBP
  2. Melaksanakan Babtisan darurat
  3. Menyusun statistik warga jemaat di lingkungannya masing – masing
  4. Mengikuti sermon dan rapat penatua
  5. Menyampaikan berkat tanpa menumpangkan tangan,

Penutup
Tohonan sintua adalah sebuah anugerah Tuhan yang diberikan atas dasar kemurahan hatinya. DR.J.L.Ch. Abineno mengatakan dalam bukunya Penatua – Jabatan dan pekerjaannya, bahwa jabatan gerejawi “tidak berdasar atas kebaikan atau prestasi dari mereka yang memangkunya “ibarat sebuah alat, mungkin kita merasa tidak memenuhi kualifikasi, tetapi jika Tuhan mau memakai kita sebagai alatNya, maka kita bisa menjadi alat yang berguna didalam tangan Nya. Pelayanan kepada Tuhan tidak diukur dari banyaknya yang kita perbuat, melainkan dari kesungguhan dan kesetiaan kita melakukan pelayanan itu. Calvin berkata “yang penting bukanlah apa yang kita kerjakan dengan kekuatan kita, melainkan apa yang dikerjakan oleh Allah melalui kita“.  Alkitab bersaksi tentang seorang sintua “penatua – penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar “(1 tim 5:17).

Daftar Pustaka:

  1. Prof. DR. F.H.Sianipar, Tohonan Sintua, Yayasan STT HKBP Pem Siantar, 1996
  2. STT HKBP P. Siantar, Vocatio Dei, (edisi XXXIII-XXXIV), P Siantar, STT HKBP, 1992.
  3. Harun Hadiwijono, Iman Kristen, Jakarta; BPK Gunung Mulia, 2003.
  4. Andar Ismail, Selamat Melayani Tuhan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.
  5. Aturan dohot Peraturan HKBP Tahun 2002.
  6. Agenda di HKBP

HIDUP YANG KEKAL


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 299:1. “Besyukur kepada Tuhan”
Bersyukur kepada Tuhan, bersyukur kepada Tuhan
Sebab Ia baik, bersyukur kepada Tuhan.

02. Pembacaan Firman
 Pagi : 1 Raja-raja 17:17-24
 Malam : Kisah Para Rasul 20:7-12

03. Renungan: Yohanes 6:54.
Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman

Nas hari ini merupakan bagian dari perikop yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia diberi judul Roti Hidup. Diceritakan di ayat-ayat sebelum nas hari ini, begitu sulitnya orang-orang Yahudi untuk percaya dan menerima bahwa Yesus adalah Mesias – sebagai penggenapan dari nubuat para nabi jauh sebelum Yesus datang ke dunia. Pada saat itu, orang-orang Yahudi mencari dan mengikuti Yesus karena mereka telah melihat tanda mujizat yang dibuat Yesus, yaitu memberi makan lima ribu orang dari dua ikan dan lima roti. Jadi mereka mencari dan mengikuti Yesus semata hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani saja. Sedangkan Yesus menghendaki supaya mereka yang hidup pada masa itu dan kita yang hidup sekarang mencari Yesus dan percaya kepada-Nya untuk hidup yang kekal. Pada dasarnya semua manusia menginginkan hidup yang kekal. Berbagai usaha akan dilakukan untuk mendapatkannya. Alkitab mencatat berbagai usaha pernah dilakukan manusia untuk memperoleh hidup yang kekal tetapi tidak ada yang berhasil. Kenapa semua gagal? Karena hidup kekal adalah milik Tuhan dan Dialah yang berhak untuk memberikannya kepada manusia. Di dalam nas hari ini jelas dinyatakan : Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Nas inilah yang diperdengarkan ketika kita mengikuti perjamuan kudus untuk mengingatkan supaya hidup kita menyatu dengan Yesus di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Yesus menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Saat ini, Yesus menawarkan hidup yang kekal kepada kita, sambut dan terimalah supaya engkau hidup. Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 470:2. Jesus Ho nampuna au
Sai rajai ma matangki manangkasi dalanMi,
Sai patinggil pinggolhi tumangihon hataMi.

06. Doa Bapa kami – Amin.