Suam-suam Kuku bukanlah Pilihan Orang Kristen!


Minggu XIII Setelah Trinitatis, 30 AGUSTUS 2015
(Wahyu 3:14-22)
Kota Laodikia adalah kota kaya. Pada tahun 60 M kota ini hancur karena gempa bumi, tetapi dibangun kembali tanpa pertolongan pihak luar, karena kayanya kota ini. Kota Laodikia menghasilkan wol. Tanahnya yang subur menyebabkan banyak rumput untuk domba, dan ini menghasilkan wol, khususnya wol hitam. Di kota ini ada pabrik pakaian yang memproduksi pakaian dari wol hitam ini.
Kota Laodikia terkenal karena sekolah medis, dan ahli-ahli pengobatannya menemukan obat-obatan yang hebat, khususnya obat untuk mata. Yesus mengecam bahwa mereka melarat, malang, miskin, buta dan telanjang (ay 17b). Kecaman itu lahir karena Yesus adalah sebagai Saksi yang benar dan setia telah melihat Laodikia ternyata tidak lagi berbuat sebagaimana mestinya sesuai dengan harapan. Mereka seharusnya bisa menjadi saluran berkat ternyata mereka bertindak acuh tak acuh, tidak bergairah dan kehilangan semangat untuk memberi dampak yang lebih baik dan besar. Pada masa Yohanes mereka jatuh kepada kepuasan rohani yang palsu dan kepuasan rasa keduniawian. Mereka disebut dalam keadaan suam-suam kuku yang lebih baik dimuntahkan.

Ada beberapa ciri dari sifat suam-suam kuku, yaitu: pertama, berada pada sifat kepura-puraan, penyamaran, kemunafikan, dan penipuan diri sendiri. Kedua, orang seperti ini cenderung orangnya sombong, acuh tak acuh, tidak mau tahu, tidak mau sibuk, tidak mau ambil resiko, dan tidak mau pikul salib. Ketiga, Mereka jatuh kepada sifat kompromi, tidak kuat berdiri pada pondasi, bahkan tidak mau memilih satu pandangan pun. Gereja Laodikia pengaruhnya pun perlahan-lahan menyusut dan cenderung orang perkumpulan yang bersifat seperti ini akan lenyap.

Yesus mengasihi Laodikia dan Dia menawarkan keselamatan itu kepada mereka asalkan mereka mau bertobat. Lebih baik mereka fokus pada kekekalan daripada kefanaan. Dia menginginkan kesepenuhan hati untuk ikut dan percaya kepada-Nya. Yesus berdiri di depan pintu dan mengetuk pintu hati Laodikia dan kepada kita semua pada masa kini, dalam hal ini yang kerohaniannya suam-suam kuku. Siapa yang mau mendengar dan membukakan pintu bagi Yesus maka Dia akan masuk dan makan bersama-sama dengan-Nya. Ungkapan ini sangat tepat, karena orang yang suam-suam kuku bisa saja mengalami kebingungan di antara banyaknya pilihan atau yang mengetuk pintu hatinya. Oleh karena itu, pilihan kepada Yesus menjadi sebuah pilihan yang tepat. Bukan suam-suam kuku atau berpaling dari pada-Nya! (Pdt. Kristopurus Nababan).

Disadur dari Renungan edisi Minggu XIII Setelah Trinitatis, Warta Jemaat HKBP Serpong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s