Tuhan mendengar dan menyelamatkan orang tertindas


Minggu X Setelah Trinitatis, 09 AGUSTUS 2015

Mazmur 34:1-8

Sejak Samuel mengurapi Daud, maka dia dapat mengalahkan Goliat (1 Sam. 17:40-58). Saul mengangkat Daud menjadi kepala prajurit dan setiap dia memimpin peperangan Daud selalu menang. Bahkan, para perempuan Israel menyanyikan: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa”(1 Sam. 18:7). Syair ini membuat Saul menjadi iri dan benci kepada Daud.
Berkali-kali Saul berusaha untuk membunuh Daud, tetapi Tuhan senantiasa meluputkannya dari maut. Yonatan putera Saul dan Mikhal puteri Saul yang menjadi istri Daud, mereka menolong Daud dari rencana pembunuhan Saul. Akhirnya, Daud melarikan diri dari istana. Dalam pelariannya dia tiba di beberapa tempat. Perikop ini merupakan salah satu pengalamannya dalam beberapa tempat pelariannya, yaitu saat Daud berada di Gat. Untuk menafsirkan Mazmur 34 ini kita harus melihat Mazmur 56 dan 1 Samuel 18:10-15.

Ketika Akhis, Raja orang Gat dan para prajuritnya mengenali identitas Daud, saat dia berada di Gat, maka Daud menyadari bahaya maut yang dihadapinya. Maka dia bertindak seperti orang gila. Ingatan ini dituliskan Daud dalam syair puji-pujiannya yang menunjukkan bahwa dia bertindak seperti itu karena dia merasakan takut kepada manusia bukan kepada Tuhan. Dia menyadari bahwa dia telah berbohong dan berdosa, oleh karena itu dia hendak mengajarkan prinsip untuk “takut kepada Tuhan,” yang dipelajarinya dari pengalaman pahitnya. Dia mengajak para pembaca agar “Memuji Tuhan pada segala waktu (Maz. 34:2).” Dia memang menyadari bahwa dia takut, tapi dia tetap percaya kepada Tuhan (Maz. 56:4).

Mazmur 34 ini tidak hanya mau menunjukkan tentang kelepasan Daud dari maut, tapi juga kelemahannya sebagai manusia yang diliputi rasa takut. Namun dari pengalamannya juga hendak diajarkan agar kita tidak selalu fokus kepada kekurangan, keterbatasan, keterpurukan dan sebagainya, tapi kepada anugerah Tuhan. Sehingga dalam keadaannya yang tertindas dan dikejar-kejar, Daud mampu berseru kepada Tuhan dan melihat bahwa Tuhan penuh kuasa dan anugerah. Fokus kepada Tuhan akan membawa kita dari takut kepada manusia menjadi orang yang takut kepada Tuhan. Orang yang takut kepada Tuhan bukan berarti bebas dari persoalan dan maut. Tapi mereka akan mendapatkan pertolongan dari Tuhan dan akan mengecap kebaikan-kebaikan Tuhan Allah (Pdt. Rudi SM Pardede).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s