Menyuarakan Kebenaran


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji namaNya setiap hari. Amin.

BERNYANYI, BE-719 : 1, Hubege SoaraM
Hubege soaraM O Jesus; hubege soaraM, O Jesus.
Hubege soaraM, O Jesus na manjouhon: “Ihuthon ma Au”.
Togu au Jesus Tuhanhu, iring-iring ma langkangku.
Patuduhon ma dalanMu, asa unang, unang lilu au.

PEMBACAAN FIRMAN
1 Yoh. 4 : 7-21 (Pagi)
Yes. 32 : 9-20 (Malam)

RENUNGAN
Yesaya 58 : 1 – Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!

MENYUARAKAN KEBENARAN

Berkata benar sepertinya dewasa ini menjadi sesuatu yang langka dan mahal sekali. Perhelatan berkata benar dulu yang diutarakan oleh para filsuf seperti Plato, Aristoteles, Immanuel Kant dan sebagainya sepertinya masih menyisahkan beberapa pertanyaan.

Oleh karena itu, Boenhoeffer mencoba menyuarakan hal ini berdasarkan pengalamannya di balik jeruji, bahwa berkata benar pun harus berdasar titik tolak “kontekstual.” Artinya, berbicara kebenaran berarti berbicara tentang kebenaran yang hidup, yang mempertimbangkan situasi aktual yang di dalamnya kita berbicara, yang di dalamnya kita berbicara dan khususnya orang-orang kepada siapa kita berbicara.

Seturut dengan Boenhoeffer, hari ini, Firman Tuhan mengatakan agar kebenaran itu, yaitu suara Tuhan, harus diberitakan dengan keras dan lantang supaya bangsa Israel yang akan menuju ke kematian akibat dosa dan pelanggaran mereka supaya mereka selamat. Samuel juga demikian, dia berbicara secara berterus terang tentang apa yang didengarnya dari Tuhan kepada imam Eli. Meskipun demikian, unsur kontekstual yang ditekankan Boenhoeffer sangat penting dewasa ini agar tidak sekedar mengungkap sebuah kebenaran yang justru tidak menghidupkan atau malah mematikan. Dari situ jelas bahwa berkata benar berarti sesuatu yang berbeda situasi khusus di mana seseorang berada. Dengan demikian berkata benar adalah sesuatu yang harus dipelajari. Tapi saat dibalik situasi itu jelas terlihat kebohongan, Yesus menyebut Iblis sebagai bapa kebohongan (Yoh. 8:44), yaitu penolakan, penyangkalan, dan perusakan yang disadari dan disengaja atas realitas yang diciptakan Allah dan yang berada di dalam Allah, maka suarakanlah kebenaran di situ yaitu suara Tuhan. Amin.

BERDOA

BERNYANYI, KJ-355 : 1, Yesus Memanggil
Yesus memanggil, “Mari seg’ra!” Ikutlah jalan s’lamat baka; Jangan sesat, dengar sabda-Nya, “Hai marilah seg’ra!” Sungguh, nanti kita ‘kan senang, bebas dosa, hati pun tent’ram. Bersama Yesus dalam terang di rumah yang kekal.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI, BE-826 : 2, Gohi au Tuhan
Gohi au Tuhan marhite HataMi, Gohi au Tuhan marhite HataMi
Na mauas do tondingku, O Tuhan di HataMi. Gohi au Tuhan marhite HataMi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s