Arsip

SAMBUTLAH YESUS DI HATIMU


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-39:1 Beha Ma Panjalongku
Beha ma panjalongku Di Ho O Tuhanki?
Beha ma panomungku Di Ho o Rajangki?
Sondangi ma rohangku na holom na bodo
Ai naeng patupaonku Las ni rohaM di Ho

PEMBACAAN FIRMAN
Why. 17.9-18.2 (Pagi) 1Sam. 6.1-11 (Malam)

RENUNGAN HARIAN, Kamis 21 Desember 2017
Lukas 2.25-26
Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.

SAMBUTLAH YESUS DI HATIMU

Sungguh bahagia jika hidup benar dan saleh menjadi ciri dan karakter kita. Kehidupan orang percaya diharapkan hendaknya menjadi contoh di tengah-tengah bangsa dan negara terutama dalam keluarga. Kehidupan Simeon yang benar dan saleh menjadi teladan. Hidupnya bergaul dengan Tuhan dan dipimpin oleh Roh Kudus hingga masa tuanya. Spiritualitas Simeon juga ditandai dengan karya Roh Kudus yang nyata dalam dirinya (2:25b-27a). Tiga kali Roh Kudus muncul di ayat ini. Sebagaimana Yohanes Pembaptis sejak di dalam kandungan (1:15), Elizabet (1:41), dan Zakaria (1:67) dipenuhi oleh Roh Kudus, demikian pula Roh Kudus ada atas Simeon. Roh memberikan pewahyuan khusus kepadanya tentang Mesias (2:26). Ini berarti bahwa hidup benar dan salah adalah karya Roh Kudus.

Renungan hari ini memotivasi kita dalam tiga hal, yaitu: 1) Walaupun banyak cobaan dan kesukaran, hiduplah benar dan saleh, yaitu berpusat pada Firman Tuhan dan komit melakukan perintah-Nya. 2) Bersyukurlah dan sambutlah Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh dalam kerendahan hati dan sukacita bagaimanapun kondisi kita. 3) Bersandar pada pimpinan Roh Kudus dalam setiap kehidupan keluarga dan pribadi. Selamat menyambut Hari Natal. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-85:1 Kusongsong Bagaimana
Kusongsong bagaimana, ya Yesus, datang-Mu?
Engkau Terang buana, Kau Surya hidupku!
Kiranya Kau sendiri Penyuluh jalanku,
Supaya kuyakini tujuan janji-Mu.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Ruang kosong


Ayat bacaan: Yesaya 59:2

“tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”

Ketika saya kecil, saya pernah menangkap seekor lebah dalam botol. Saya ingat persis ketika itu saya sangat terpesona melihat gerakan terbangnya ke segala arah dalam botol itu. Betapa anggun dan indah terbangnya, seperti sebuah tarian gembira. Saat ini ketika saya mengingat hal tersebut, sebenarnya tidak ada tarian disana. Lebah tersebut mungkin sedang kalut, terbang mencari jalan keluar yang hasilnya sia-sia. Jika tutup botol tidak dibuka, cepat atau lambat lebah tersebut akan mati lemas kehabisan oksigen.

Banyak orang yang merasa kesepian, meskipun dia sedang berada ditengah-tengah gemerlap pesta. Tekanan demikian berasal dari sebuah ruang hampa di hati manusia. Bagian hati yang sunyi, sepi dan senyap, kosong dan hampa. Banyak orang yang mencoba lepas dari hal tersebut dengan lari pada hal-hal yang mereka pikir bisa melepaskan diri mereka dari kehampaan. Pesta narkoba, free sex, clubbing, dugem, kekerasan dan sejenisnya, sering menjadi pelarian. Tapi, sama seperti lebah diatas, sebenarnya tidak ada pesta apalagi sukacita. Ketika semuanya selesai, mereka akan kembali berhadapan dengan kehampaan.

Francis Blaise Pascal, seorang ahli fisika pernah berkata bahwa dalam hati manusia terdapat ruang kosong yang tak dapat diisi oleh apapun. Bagian ini seharusnya adalah milik Yesus. Hanya Yesus yang mampu memberikan sukacita terus menerus, memberikan rasa damai dan nyaman yang sesungguhnya. “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.” (Kis 2:28). Jika bagian itu masih kosong, mungkin itu disebabkan oleh dosa-dosa kita. Ya, kita bisa terpisah dari Tuhan kala kita dilingkupi dosa-dosa. Lihat ketika Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden, dosa memisahkan mereka dari Tuhan. Jika saat ini ruang hampa dalam hati anda terasa begitu menyiksa, bertobatlah, dan terima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi anda. Dan nikmati sukacita, damai sejahtera dan kasih karunia berkelimpahan mengalir dari ruang di hati anda yang tidak lagi hampa.

Hanya Yesus yang sanggup mengisi kekosongan dalam hati kita dan melimpahi kita dengan sukacita tanpa henti.

Tuhankah yang Salah?


Pada suatu hari dengan wajah cemas seorang suami berkunjung ke dokter keluarga dan berkata, “Pak Dokter, saya kuatir istri saya mulai tuli pendengarannya.” Dokter bertanya bagaimana ia mengetahui bahwa istrinya mulai tuli, jawabnya, “Akhir-akhir ini jika saya panggil atau berbicara kepadanya ia sering tidak menyahut.”

Lalu si dokter pun menasehatinya, “Coba anda pulang dan test apakah ia benar-benar tuli. Caranya berbicaralah kepadanya dari jarak 5 meter, 3 meter, 2 meter hingga berdiri di sampingnya. Setelah itu kita akan mengetahui hasilnya.”
Si suami lalu pulang ke rumah, menemukan istrinya sedang memasak di dapur. Dari jarak 5 meter ia bertanya, “Bu, malam ini kita masak apa?” Tidak ada jawaban. Lalu ia mendekat dan bertanya lagi, “Bu, malam ini kita makan apa?” Tidak ada jawaban. Ia makin mendekat sekitar 2 meter, bertanya lagi dan masih tidak respon. Ia melangkah lagi mendekat, tinggal berjarak satu meter, “Bu, malam ini kita makan apa?” Ia begitu sedih merasa istrinya sama sekali tidak mendengarkannya. Akhir ia berdiri tepat di samping istrinya dan berteriak, “Bu, malam ini kita makan apa?”

Sang istri berbalik, menatapnya sebentar dengan muka aneh, lalu berkata lantang sekali, “Untuk kelima kalinya kukatakan kepadamu! Nanti kita makan ayam goreng!”
Dalam hidup ini kita mungkin mudah berpikir bahwa Tuhan Allah itu tidak mendengarkan kita, tidak terlalu peduli pada kita, hanya menuntut dan menuntut kita mengerjakan kehendakNya. Padahal kita merasa Tuhan tidak memberikan kepada kita kekuatan. Kita pikir Tuhanlah yang salah karena tidak memberikan kita kekuatan. Padahal, sesungguhnya kitalah yang terlalu jauh dari Tuhan. Telinga rohani kitalah yang bermasalah. Mata rohani kitalah yang dibutakan oleh dosa.

Memaknai Nilai Sebuah Pengorbanan


Dalam hidup ini, setiap orang memiliki kesempatan untuk berkorban. Namun korban itu akan sia-sia, kalau dilakukan hanya untuk mendapatkan pujian. Korban yang memiliki nilai adalah korban yang dilandasi oleh kasih yang mendalam.

Pada tanggal 4 Desember 2006 lalu, seorang prajurit berumur 16 tahun melihat sebuah granat dilemparkan ke atas. Granat itu kemudian jatuh ke dalam mobil perang yang diawakinya bersama empat orang temannya.
Prajurit itu berada di atas kendaraan memegang senapan mesin. Ia masih memiliki waktu untuk melompat keluar untuk menyelamatkan diri. Namun sebaliknya, ia melompat ke dalam tepat di atas granat. Sebuah tindakan pengorbanan demi menyelamatkan empat rekan prajurit lainnya.
Tubuh prajurit itu hancur berkeping-keping. Darah berserakkan membasahi kendaraan itu. Empat rekannya selamat. Mereka dapat meneruskan hidup mereka. Sedangkan prajurit muda itu mesti mengorbankan hidup untuk mereka.
Salah seorang dari empat prajurit itu berdecak kagum atas tindakan heroik itu. Ia berkata, “Saya tidak bisa bayangkan, kalau teman kita ini tidak melompat keluar dari kendaraan. Tentu kita semua telah mati. Tetapi dia telah memilih untuk mati demi kehidupan kita semua.” 
Mereka pun mengumpulkan tubuh teman mereka yang berserakan itu. Mereka menguburkannya dengan cara yang sangat hormat. Di pusara teman mereka itu tertulis kata-kata,” Dia telah menyerahkan nyawanya untuk kami.”

Sahabat, masih adakah orang yang punya semangat untuk mengorbankan dirinya bagi sesamanya? Masih adakah orang yang merelakan egoismenya bagi kemajuan dan keselamatan sesamanya? Saya yakin, pasti masih ada di antara kita yang mau berkorban bagi sesamanya. Ada berbagai bentuk pengorbanan yang bisa ditunjukkan untuk sesama.
Misalnya, seorang suami rela mengorbankan waktunya demi istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. Ia menunggui sang istri berjam-jam sepanjang hari. Baginya, tidak ada hal lain yang lebih berharga daripada kesehatan istrinya. Ia ingin istrinya segera sembuh. Ia ingin istrinya kembali tersenyum setelah sekian lama wajahnya muram durja oleh terjangan penyakit. Inilah suatu pengorbanan.
Kisah tadi menunjukkan kepada kita bahwa pengorbanan itu membawa kehidupan bagi sesama. Ia tidak peduli terhadap keselamatan dirinya. Ia lebih peduli terhadap keselamatan keempat rekannya. Pengorbanan yang dilakukan dengan tulus hati membuahkan kebaikan bagi kehidupan bersama.
Setiap kita mempunyai kesempatan untuk berkorban bagi kehidupan bersama. Yang penting adalah kita mesti memaknai nilai pengorbanan itu. Apa yang sesungguhnya kita perjuangkan, sehingga kita berani berkorban? Apakah yang kita perjuangkan hanyalah kepentingan diri kita sendiri? Atau yang kita perjuangkan itu sesuatu yang sungguh-sungguh berguna bagi kehidupan bersama?
Tentu saja orang yang rela berkorban itu biasanya didorong oleh kasih yang berkobar-kobar bagi sesama. Kasih itu memberi daya atau semangat berkorban itu. Karena itu, orang beriman mesti selalu berkorban berdasarkan kasih yang tulus dari dalam dirinya. Tanpa kasih yang tulus, korban kita hanyalah suatu kesia-siaan. Tuhan memberkati. **

Utamakan Kejujuran dalam Menggapai Sukses


Dalam hidup ini, apa yang Anda mau pertahankan? Harta kekayaan yang berlimpah yang diperoleh dengan tidak halal? Atau Anda ingin tetap mempertahankan kejujuran dalam menggapai sukses dalam hidup Anda?
Beberapa tahun lalu, komite olimpiade mencopot medali emas lari 1500 meter yang dimiliki oleh pelari Bahrain bernama Rashid Ramsi. Hal itu dilakukan, karena Ramsi kedapatan melakukan dopping saat sebelum bertanding. Tes urine yang dilakukan menyatakan bahwa ada obat-obatan yang terkandung di dalamnya. Obat-obatan yang dikonsumsi oleh Ramsi itu termasuk yang dilarang untuk digunakan dalam dunia olahraga.

Ramsi berkelit. Ia mengatakan bahwa ia tidak melakukan dopping sebelum bertanding. Ia telah melakukan pertandingan dengan jujur. Karena itu, ia mengharapkan pihak komite tidak mencopot medali emas yang telah diraihnya. Ia telah bekerja keras untuk meraih medali emas itu. Ia telah berlatih berbulan-bulan untuk mengikuti lomba itu. Jadi pihak komite bisa berbuat sewenang-wenang terhadap dirinya.

Ramsi boleh membela diri. Medali itu kemudian diambil daripadanya. Medali itu bukan lagi milik dirinya. Ia tidak bisa mempertahankannya. Ia bisa mempertahankannya, kalau ia berlomba dan memenangi lomba itu di olimpiade yang akan datang. Tentu saja hal ini sangat menantang Ramsi untuk membuktikan kejujuran dirinya.

Sahabat, hidup kita di dunia ini sebenarnya seperti orang yang sedang berada dalam pertandingan. Untuk berhasil meraih medali pertandingan, ada banyak tuntutan yang mesti kita penuhi. Dari segi fisik, kita harus melatih tubuh kita agar tetap prima. Dengan demikian, kita dapat tetap bertahan dalam pertandingan itu. Tetapi dari segi psikis, kita juga mesti tetap memperjuangkan kejujuran. Kita tidak boleh melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, saat kita meraih juara, kita meraihnya dengan sukacita.

Kisah di atas mengingatkan kita agar kebenaran dan kejujuran senantiasa dijunjung tinggi dalam hidup ini. Orang mesti bekerja keras untuk meraih impiannya. Orang tidak bisa hanya santai-santai sambil mengharapkan bintang jatuh dari langit. Orang mesti berani berjerih payah untuk meraih sukses dalam hidupnya.

Namun kecenderungan negatif sering memaksa orang untuk melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Orang berani melawan arus kebenaran dan kejujuran untuk meraih kesuksesan dalam hidup mereka. Mereka mengira bahwa dengan mematahkan kebenaran dan kejujuran mereka mampu hidup aman dan tenteram.

Kita menyaksikan begitu banyak pemimpin di negeri ini yang dijebloskan ke penjara begitu turun dari kekuasaan. Mengapa? Karena tidak berhasil mempertahankan medali kebenaran dan kejujuran. Godaan uang dan harta membuat mata mereka tersilau. Mereka kemudian tunduk oleh kemilau uang dan harta itu. Ketidakjujuran yang dibungkus dalam korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi bagian hidup mereka.

Karena itu, kita diajak untuk senantiasa mempertahankan medali kejujuran. Dengan demikian, kita dapat meraih sukses dengan baik dan benar. Hidup kita menjadi damai dan sejahtera. Tuhan memberkati. 

Selagi diberi Tuhan kesempatan


Matius 25:31-46

Mengapa kita belum masuk daftar orang meninggal yang diwartakan hari ini? Tuhan punya rencana dalam hidup kita. Ia punya rencana bagi saudara-saudari kita yang sudah mendahului kita.
Karenanya, selagi Tuhan memberi kita kesempatan menjalani hidup ini kita syukurilah dari hati yang terdalam dan dengan iman yang teguh. Kita tekunilah mewujudkan kehendakNya sebagai wujud nyata ungkapan syukur kita.
Dalam Matius 25 ini secara singkat dapat dikatakan bahwa Yesus menyebut dua kelompok manusia: 

(1) yang peduli pada orang kecil, menderita dan terpinggirkan. 

(2) yang tidak peduli. 

Atas dasar itulah nanti pemisahan dilakukan. Dengan anugerahNya dan sambutan kita pada anugerah yang sangat berharga itu kiranya kita masuk dalam kelompok 1. 

Ada ungkapan berharga begini: “Jangan ingat kebaikan yang kamu lakukan kepada orang lain. Jangan pernah lupakan kebaikan orang yang engkau terima.”
Jangan ingat di sini berkaitan juga dengan “memperhitungkan” yang bisa menjerumuskan seseorang pada kesombongan. Misalnya dengan mengatakan, “kalau bukan karena aku, dia itu tidak jadi orang”. Atau, “dasar tak tahu diri, aku yang menyekolahkannya, aku yang memberi pekerjaannya sampai dia berhasil kaya”. Ini adalah cerminan menghitung-hitung apa yang dilakukan seseorang tanpa keikhlasan. 

Kita harus tetap berpegang pada kebenaran bahwa kita hanya bisa memberi dari apa yang kita terima. Yang kita terima dari Tuhan.
Dalam kaitan itu pula ungkapan “ikan teri ikan tenggiri, semakin memberi semakin diberkati” harus kita koreksi. Yang benar adalah “ikan tenggiri ikan teri, karena kita diberkati kita dapat memberi”. 

Di dalam doa kita bertemu dengan Kristus yang menanggung penderitaan dunia ini, di dalam pelayanan dan pemberian pertolongan kita bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan uluran hati dan tangan yang di tengah-tengah mereka Kristus hadir.

Jadilah pewaris hidup yang kekal 


MINGGU AKHIR TAHUN GEREJANI

BE. 836:1-2 “Nunga Loja Au, O Tuhan” (Diriku Lelah, Ya Tuhan)

Nunga loja au, o Tuhan; di siulubalang ari.
Naeng tumibu au pajumpang rap dohot Ho di surgo i.
Nunga bot mata ni ari, lam jonok nang ajalhi.
Nunga loja au, o Tuhan; rade ma baen ingananki.

Nang pe naung hudai, hubolus hamoraon, hagabaeon.
Songon ombun na mamolus, sude do tinggal, ambolong.
Aha na tarboan ahu lobi sian uloshi.
Nunga loja au, o Tuhan; rade ma baen ingananki.

Diriku lelah, ya Tuhan, menanti ajalku tiba.
‘Ku ingin cepat berjumpa bersama Tuhan s’lamanya.
Malam hari hampir tiba ajalku s’makin dekat.
Diriku lelah, ya Tuhan, b’ri aku masuk rumah-Mu.

Walau sudah kurasakan nikmat kaya dan bahagia.
Bagai kabut pagi hari semua ‘kan sirna dan pergi.
Tiada yang dapat kubawa, hanyalah pakaianku.
Diriku lelah, ya Tuhan, b’ri aku masuk rumah-Mu.

Evangelium: Matius 25:31-46
Epistel: Mazmur 95:1-7a

Jadilah pewaris hidup yang kekal
Nas ini adalah tentang kedatangan kembali Yesus Kristus kedua kalinya. Ia akan datang kemuliaan-Nya dan duduk di atas tahta-Nya menghakimi semua manusia. Semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya, dan Ia akan memisahkan mereka seorang daripada seorang seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Pemisahan itu didasarkan atas hukum cinta kasih terhadap orang-orang yang lapar, haus, tunawisma, terpenjara dan pesakitan yang butuh belas kasihan. Mereka itu adalah wajah Yesus yang sesungguhnya. Mereka datang dan menawarkan diri untuk menjadi pembela pada pengadilan terakhir. Bagi yang memiliki kepedulian dan kasih terhadap mereka sesungguhnya mereka melakukannya kepada Yesus. Mereka akan memperoleh hidup yang kekal. Bagi yang tidak melakukan kebaikan kepada mereka akan mengalami kerugian.

Dengan ini Yesus memberikan dasar yang lebih dalam tentang kasih. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40) Perbuatan kita kepada sesama kita sesungguhnya adalah kepada Allah sendiri. Sesama kita adalah representasi Tuhan Yesus sendiri. Yesus Kristus hadir dalam diri sesama kita yang miskin, lemah dan tersingkir. Kasih kepada Tuhan Yesus harus nyata kita tunjukkan kepada sesama yang menurut kacamata kita tidak layak untuk dikasihi. Amin!

DOA:
“Jadikanlah aku pewaris yang memiliki hidup kekal di sorga bersama-Mu, ya Yesus. Aku mau melayani sesamaku. Amin!”