Arsip Kategori: Ibadah Minggu

Miserikordias Domini


Bumi Penuh Dengan Kasih Setia Tuhan (Mzm 33:5b)

Topik: Mensyukuri Kebaikan Tuhan
(Manghamauliatehon Denggan Basa ni Jahowa)

Warna Tutup Altar : Putih (Na Bontar)
Warna Kesucian dan Kesempurnaan.
Lambang kesucian Yesus Kristus dan para malaikat.

Ev. Yeremia 33:10-13
Ep. 1 Tesalonika 5:12-22

MINGGU KETIGA EASTER LOWER
Tiga Minggu Easter Lower di tutup dengan penyataan kasih setia Tuhan yang memenuhi bumi. Pembaharuan di tengah-tengah manusia yang dilakukan dari pihak Allah telah nyata bukan saja bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh yang bernafas di atas bumi. Pada Minggu Miserikordias Domini ini, kita di ajak untuk mensyukuri segala sesuatunya. Seluruh alam yang diciptakan oleh Tuhan juga telah merasakan pembebasan yang Yesus Kristus lakukan. Pemulihan atau rekonsiliasi yang Yesus berikan, harus berdampak dalam seluruh pola kehidupan manusia, bukan saja kepada sesamanya, tetapi juga kepada seluruh alam ciptaan Tuhan. Suasana sorgawi harus nyata melalui kemenangan dan kebangkitan Kristus. Gambaran Kerajaan Allah ditengah-tengah dunia ini telah dikumandangkan jauh sebelum Kristus dating ke dunia ini. Yesaya pasal 11 misalkan, ia memberikan gambaran kedamaian di atas bumi ketika Tuhan memulihkan keadaan bangsa Israel. Peristiwa pemulihan tersebut bukan hanya terjadi bagi umat, tetapi perdamaian dari Allah memenuhi seluruh sendi kehidupan. Gambaran anak manusia bermain di sarang ular dan tidak dipatuk, lembu dan beruang akan bersama-sama memakan rumput, singa akan memakan rumput, dan lain sebagainya. Penyataan ini yang dikumandangkan dalam minggu Miserikordias Domini, sebab dunia tidak lagi mengenal dosa, dan tidak ada lagi yang berbuat jahat, karena Allah telah mencurahkan kasih setiaNya kepada bumi, dan bumi bersukacita akan karya penyelamatan yang telah diberikan melalui PutraNya Yesus Kristus yang telah menjadi pendamai antara dunia dan KerajaanNya.

Pesta Peringatan Kebangkitan Yesus Kristus dari Kematian


Topik:
Memberitakan Keselamatan Dari Tuhan
(Mamaritahon Haluaon Na Sian Tuhan)

Warna Tutup Altar : Putih (Bontar)
Warna kekudusan dan kesempurnaan, lambang kekudusan Tuhan Yesus dan para malaikat.

Ev. Yesaya 63:7-9
Ep. Kisah Para Rasul 4:5-12

SIMBOL PASKAH – BUNGA BAKUNG

Bunga Bakung atau bunga lili ini adalah bunga yang tumbuh pada musim semi. Selama musim peralihan antara musim panas menuju musim dingin banyak tumbuh-tumbuhan atau pepohonan yang menggugurkan daunnya, sehingga musim dingin hampir tidak ada tumbuhan yang hidup. Tetapi ketika musim dingin berakhir, maka musim panas akan dimulai. Dalam peralihan tersebut musim semi dimulai. Pada musim semi inilah bunga lili atau biasa disebut dengan bunga bakung, akan tumbuh dan berkembang. Bunga ini diangkat menjadi simbol Paskah sebagai tanda kehidupan baru dimulai. Di Asi sendiri bunga bakung ini telah lama dikenal sebagai bentuk pengobatan. Air rebusan bunga ini cukup pahit, tetapi mampu memberikan dampak yang baik bagi tubuh terutama kekebalan tubuh dalam masa peralihan antara musim dingin menuju musim panas.
Demikianlah orang yang percaya harus hidup dalam kehidupan yang baru yang telah diberikan Allah melalui PutraNya, Yesus Kristus. Orang percaya hendaknya tumbuh dan berbunga, sebagaimana bunga bakung ini tumbuh dan berbunga. Kehadirannya hendaknya memberikan keindahan bagi sekeliling dalam pola pikiran, perbuatan dan perkataan yang baru.

Minggu Palmarum


Maremare

Topik:
Berjaga-jaga Menyongsong Kedatangan Tuhan
(Dungo Managam Haroro ni Tuhan)

Warna Tutup Altar : Violet (Ungu)
Warna Kerajaan, lambang pengampunan dari Kristus Sang Raja

Ev. Matius 25:1-13
Ep. Zakharia 12:10-14

Seruan Passion Kelima:
“Benedictus qui venturus est in nomine Domini”

Seruan “benedictus qui venturus est in nomine Domini” ini memiliki ari “terberkatilah Ia yang datang dalam nama Tuhan”. Kalimat ini pertama sekali diucapkan oleh bangsa Israel. Ketika panen telah tiba setiap keluarga harus membangun pondok yang berdinding tiga dan ditutup (beratapkan) daun Palem. Bagi Israel, perayaan Pondok Daun ini dilakukan untuk menyambut tujuh tamu mistis, yaitu Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Harun, Yusuf dan Daud. Ketujuh tamu ini dipercaya akan datang selama perayaan Pondok Daun. Itu sebabnya dalam perayaan ini, mereka akan menyuarakan “terberkatilah mereka yang datang dalam nama Tuhan”. Seruan yang sama terjadi juga pada peristiwa di Matius 21. Dimana kedatangan Yesus disambut dengan lambaian daun-daun Palem yang diletakkan dijalan ketika Yesus melintasinya dengan mengendarai keledai muda. Mengapa penyambutan tersebut terjadi? Tentu mereka melihat tujuh tamu mistis tersebut ada pada diri Yesus.

Seruan ini diucapkan kepada orang yang dianggap mereka adalah utusan Tuhan. Kedatangan Yesus disambut dengan seruan tersebut adalah bukti bahwa Yesus adalah Raja yang diutus oleh Allah. Seruan ini menutup lima kisah Passion. Dengan dielukannya Kristus menjadi Raja, maka Ia siap untuk menjalankan Missi Allah (Missio Dei), sebagai pembebas dan penebus umat manusia. Ia siap menjadi kurban sekali untuk selama-lamanya bagi manusia, yaitu kurban perdamaian antara umat berdosa dengan Allah Tuhannya.

Minggu Judika


Berilah Keadilan Kepadaku, ya Allah (Maz 43:1a)

Topik:
Hidup Dalam Kasih Setia Tuhan
(Mangolu Di Bagasan Asi Ni Roha Ni Debata)

Warna Tutup Altar : Violet (Ungu)
Warna Kerajaan, lambang pengampunan dari Kristus Sang Raja

Ev. Mazmur 25:1-7
Ep. Yohanes 15:9-15

Seruan Passion Keempat:
“Iudica me Deus et Discerne”
Pada Minggu Passion yang ke empat ini, kita diajak untuk memahami bagaimana keadilan Allah. Kebenaran dan keadilan Allah memang sangat bertolak belakang dengan pikiran dan logika manusia. Realita kehidupan manusia sering terpatri kepada pemahaman “menang” atau “kalah”. Tetapi kebenaran dan keadilan bukan sebatas siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dalam perjalanan penderitaan Yesus, ketika Ia diperhadapkan kepada imam-imam Yahudi terlebih dihadapan imam besar Kayafas, sesungguhnya Ia harus diadili melalui kebenaran dan keadilan Allah. Tetapi justru mereka teralihkan kepada keputusan “menang” atau “kalah”. Itu sebabnya dalam minggu ini disuarakan “Iudica me Deus et discerne” (berilah aku keadilan, ya Allah). Iudica sendiri memiliki arti “hakim”. Dalam bahasa Ibrani tiga huruf konsonan tersebut mewakili beberapa kata: “HKM” dapat diartikan “hakim” atau “hukum”. Dua kata ini tidak terpisah. Dimana ada hukum disana ada penegaknya yaitu hakim, dan dimana ada hakim disana ada hukum yang harus ditegakkan.
Minggu Judika ini mengajak kita untuk memahami bahwa keadilan Allah bukanlah keadilan manusia dan kebenaran Allah adalah mutlak sesuai dengan kehendakNya. Peristiwa pengadilan Yesus dihadapan Kayafas adalah bentuk ketidak-adilan, sebab mereka hanya memikirkan status dihadapan manusia, bukan kebenaran dihadapan Allah. Tetapi itulah jalan yang ditetapkan Allah, agar Kristus masuk dalam karya penyelamatanNya.

oculi mei semper ad Dominum


Seruan Passion Kedua:
“oculi mei semper ad Dominum”

Kita masih dalam Minggu-minggu Penderitaan atau biasa disebut dengan Minggu Passion. Pada Minggu ini kita diajak kembali untuk mengenang bagaimana pengorbanan Kristus untuk menebus dosa manusia.
Pada minggu Okuli ini, kita diingatkan sebuah peristiwa penting dalam perjalanan penderitaan Yesus Kristus. Ketika waktunya hamper tiba, Yesus menyuruh murid-muridNya untuk mempersiapkan tempat bagi perjamuan makan mereka yang terakhir. Namun sebelum mereka mengadakan perjamuan makan, Yesus dihadapan para muridNya mengambil ember dan kain, ia membasuh kaki para murid. Pembasuhan yang dilakukan Yesus kepada murid-muridNya adalah bentuk keteladanan yang diberikan Yesus bagi mereka. Seorang pemimpin yang justru hidup dalam kerendahan. Pada akhirnya Yesus mengajak mereka untuk berbuat hal sama kepada sesama manusia.

Okuli memiliki arti “Mata”. Artinya adalah sebuah penglihatan. Banyak kalimat-kalimat motifator yang menggunakan mata, misalkan “mata adalah jendela hati”, atau “apa yang kamu lihat, itu yang memenuhi hatimu” dan lain sebagainya. Ketika mata melihat satu hal yang baik (yang perlu untuk dicontoh) maka kehidupan manusia tersebut akan berubah dari yang tidak baik menjadi baik. Sikap manusia tercipta dari apa yang dilihatnya. Ketika mata tertuju kepada Allah, maka baiklah sikapnya, tetapi jika mata dipergunakan untuk melihat hal yang tidak baik, maka jauhlah hidupnya dari kebaikan.

Reminiscere Tuorum Domine


Seruan Passion Pertama:
“Reminiscere Tuorum Domine”

Saat ini kita memasuki Minggu Passion yang pertama. Pada minggu ini kita diajak untuk menyerukan kepada Allah “ingatlah segala rahmat dan kasih setiaMu” dalam bahasa Latin dikatakan: Reminiscere Tuarum Domine. Itu sebabnya minggu ini disebut dengan Minggu “Reminiscere”.
Pada tradisi beberapa gereja, minggu ini akan dibacakan penggalan cerita tentang perjalanan penderitaan Kristus sesuai dengan tema “reminiscere”. Salah satu peristiwa yang berkenaan dengan Minggu ini adalah dimana Kristus berjumpa dengan perempuan yang menaburkan kakiNya dengan minyak narwastu yang sangat mahal. Tetapi seorang muridnya mengecam perbuatan itu, katanya: “bukanlah lebih baik jika minyak itu dijual dan diberikan kepada orang miskin?” tetapi Yesus menjawab mereka: “orang ini mengingatkan Aku akan hari kematianKu”. Dengan mengingat pengorbanan Kristus, kita mengingat kembali bagaimana janji Allah telah digenapi.

Reminiscere memiliki arti “ingatlah”. Mengingat tentu kita akan menggunakan pikiran (kepala). Dengan mengingat janji-janji Allah, kita diajarkan agar seluruh hidup kita dimulai dari kepala dipenuhi akan Firman Allah. Pikiran adalah pusat kendali manusia. Pikiran (otak) adalah pusat system yang mengatur seluruh pergerakan, seluruh saraf manusia akan terhubung kepada otak. Maka dengan dipenuhinya Firman Allah di dalam pikiran, seluruh perasaan dan pergerakan kita lahir dari Firman yang hidup.

INVOCAVIT


Minggu ini adalah Minggu penutup pada minggu biasa bagian pertama. Tetapi bukan hanya itu, minggu ini juga adalah minggu Introit menuju Minggu-minggu Penderitaan (Passion). Umumnya minggu ini disebut dengan Minggu Quadragesima yang memiliki arti empat puluh hari sebelum kebangkitan Kristus.

Dalam tradisi gereja, pada minggu Quadragesima ini akan disuarakan “pertobatan” agar manusia kembali kepada Firman Allah. Itu sebabnya minggu ini disebut dengan minggu Invocavit. Invocavit sendiri adalah minggu introit menuju masa penderitaan. Sesuai namanya Invo = Panggilan dan Cavit=Ketentuan atau pernyataan, pada minggu ini kita diajak untuk mengenang akan Firman Allah yang terus menyuarakan kebaikan dan Janji Allah kepada manusia. Minggu Quadragesima sendiri kita mengenang penciptaan Allah akan benda-benda penerang, termasuk matahari. Itu sebabnya, kita juga mengenang bagaimana Firman Allah harus menjadi matahari (penerang) dalam kehidupan setiap manusia. Perjalanan manusia pasti akan menghadapi banyak tantangan, jika ada hari siang, maka akan datang malam hari. Karena itu persiapan menuju penderitaan dalam kehidupan harus terus dilakukan. Seperti Kristus yang mempersiapkan diriNya menuju hari kematianNya, demikian juga orang percaya harus mempersiapkan hari kekelamannya. Dengan keteguhan hati pada Minggu Quadragesima atau biasa disebut dengan Invocavit ini, kita telah siap untuk menghadapi tantangan. Hanya saja terang yang dari pada Allah hendaklah dijaga agar tidak padam. Dengan terang itulah, kita dimampukan untuk melihat arah jalan.