Arsip Kategori: Ibadah Minggu

Minggu Septuagesima, 28 Januari 2018


Persiapan untuk Minggu 28 Januari 2018

Minggu Septuagesima
Hari Ke-Tujuhpuluh Sebelum Kenaikan Yesus Ke Sorga

Tema Minggu : Allah yang Murah Hati, Adil, dan Benar
(Parasiroha Do Jahowa, Paruhum Jala Partigor)

Warna Tutup Altar : Hijau (Ratarata)
Warna kekudusan dan kesempurnaan, lambang kekudusan Tuhan Yesus dan para malaikat.
Ev. Yeremia 9.23-24
Ep. Matius 20.1-16

Minggu III Setelah Epiphanias, 21 Januari 2018


Persiapan untuk MInggu, 21 Januari 2018

Minggu III Setelah Epiphanias
Penyataan Kemuliaan Allah

Tema Minggu : Lakukanlah Ketetapan Allah dengan Setia
(Manongtong Ma Ulahon Uhum Ni Debata)

Warna Tutup Altar : Putih (Bontar)
Warna kekudusan dan kesempurnaan, lambang kekudusan Tuhan Yesus dan para malaikat

Ev. : 2 Petrus 2.10b-16
Ep. : Bilangan 22.21-35

Minggu I Setelah Epiphanias – 7 Januari 2018


Persiapan untuk Minggu, 7 Januari 2018

Minggu I Setelah Epiphanias
Penyataan Kemuliaan Allah
Tema Minggu : Tinggallah Di Dalam Tuhan (Mian Ma Di Bagasan Debata)

Warna Tutup Altar : Putih (Bontar)
Warna kekudusan dan kesempurnaan, lambang kekudusan Tuhan Yesus dan para malaikat.
Ev. Yohanes 15.1-8
Ep. Imamat 26.11-13

Apa itu Epifania
“Epifania” berarti “membuat nyata/jelas”. Ibadah-ibadah ditekankan pada pernyataan Yesus sebagai “Terang Bagi Bangsa-Bangsa Kafir” dan “Kemuliaan Israel,” pernyataan Simeon ketika bayi Yesus hadir di Bait Allah, pernyataan Yesus sebagai Yang Dikasihi Allah dalam baptisan-Nya, dan penyataan Yesus kepada seluruh dunia sebagaimana digambarkan oleh orang-orang Majus dari Timur.
Lama masa Epifania, yang dimulai pada tanggal 6 Januari, bervariasi tergantung pada penetapan tanggal Paskah. Selambat-lambatnya masa Epifania berlangsung sampai Minggu Septuagesima, atau 64 hari sebelum Paskah. Sebelum abad IV, Hari Epifania (bahasa Yunani: penampakan diri) dirayakan sebagai hari kelahiran Kristus, yaitu pada tanggal 6 Januari (bukan tanggal 25 Desember) atau pada hari Minggu yang terdekat dan enam minggu sesudahnya. Sampai sekarang Epifania masih dirayakan oleh Gereja Ortodoks. Sebelumnya, Epifania adalah perayaan musim salju di Mesir yang dirayakan pada tanggal 6 Januari. Perayaan ini diselenggarakan sebelum Yesus lahir, sekitar tahun 1996 SM.

Refleksi Kehidupan {Bagian 2}


Refleksi Kehidupan {Bagian 2}
Doa Bapa Kami

JANGAN katakan BERILAH KAMI PADA HARI INI MAKANAN KAMI,
Jika kamu tidak ‘peduli’ terhadap orang yang sedang kesusahan.
JANGAN katakan AMPUNILAH KESALAHAN KAMI,
Jika kamu masih menyimpan ‘dendam’ dengan orang lain.
JANGAN katakan JANGAN MASUKKAN KAMI KE DALAM PENCOBAAN,
Jika kamu tidak berniat ‘berhenti berbuat dosa dan bertobat’.
JANGAN katakan TETAPI LEPASKANLAH KAMI DARI YANG JAHAT,
Jika kamu sungguh – sungguh tidak tegas ‘menolak kejahatan’.
JANGAN katakan AMIN,
Jika kamu ‘tidak sungguh – sungguh dengan doa BAPA KAMI’ ini

SURAT NATAL DARI YESUS


Renungan merayakan natal

Dengan kasih,

Seperti yang kalian sudah ketahui, kita semakin dekat dengan ulang tahun-Ku, Setiap tahun diadakan sebuah perayaan untuk-Ku dan Kurasa tahun ini perayaan itu akan diulangi. Pada waktu-waktu seperti ini banyak orang yang berbelanja hadiah, banyak pengumuman radio, ikian televisi dan di hampir setiap bagian dunia semua orang membicarakan ulang tahun-Ku yang semakin lama semakin dekat.
Cukup menyenangkan untuk mengetahui bahwa paling tidak sekali dalam setahun beberapa orang memikirkan Aku. Seperti yang kalian tahu, perayaan ulang tahun-Ku dimulai beberapa abad yang lalu. Pada awalnya orang-orang sepertinya mengerti dan berterima kasih untuk apa yang Kulakukan untuk mereka, tapi sekarang ini, sepertinya tidak ada orang yang tahu alasan untuk perayaan ini.

Keluarga dan teman berkumpul bersama dan bersenang-senang, namun mereka tidak tahu apa arti perayaan ini.

Aku ingat tahun lalu ada sebuah perjamuan yang besar, untuk-Ku. Meja makannya dipenuhi makanan-makanan lezat, kue-kue, buah-buahan, kacang dan juga cokelat. Hiasan ruangannya indah dan terdapat banyak, banyak sekali hadiah-hadiah yang terbungkus dengan baik. Namun, kau tahu? Aku tidak diundang.

Aku yang seharusnya adalah tamu kehormatan, dan mereka bahkan tidak mengingat untuk mengirimkan undangan. Pesta ini untuk-Ku, namun ketika tiba hari itu, Aku ditinggalkan di luar. Mereka menutup pintu tepat di depan wajah-Ku padahal Aku ingin bersama-sama dengan mereka, berbagi meja mereka.

Jujur saja, hal ini tidak mengejutkan-Ku karena beberapa tahun belakangan ini semua orang menutup pintunya dari-Ku. Karena Aku tidak diundang, Aku memutuskan mendatangi pesta tanpa menimbulkan suara, Aku masuk dan berdiri di pojokan. Mereka semua sedang minum-minum, sebagaian sudah mulai mabuk dan bercanda dan tertawa akan segala hal, mereka sedang bersenang-senang.
Dan ditambah lagi, ada seorang pria gendut berseragam merah dengan janggut putih memasuki ruangan berteriak Ho Ho Ho! la tampak mabuk, ia duduk di sofa dan membiarkan anak-anak menabraknya sambil mereka berseru “Santa Claus, Santa Claus” seakan-akan pesta ini adalah untuk dia.

Saat tengah malam, orang-orang saling berpelukan, Aku mengangkat lengan-Ku, menanti seseorang untuk memeluk-Ku, dan ternyata tidak ada yang memeluk-Ku. Mereka lalu mulai berbagi hadiah, mereka membukanya satu persatu dengan penuh harapan. Saat semua sudah terbuka, Aku mendekat untuk melihat apakah ada satu hadiah untuk-Ku.

Apakah yang kau rasakan apabila di hari ulang tahunmu semua orang berbagi hadiah dan kau tidak memperoleh satu pun?

Aku lalu mengerti bahwa Aku tidak diinginkan di pesta ini dan akhirnya aku pergi dengan diam-diam. Setiap tahun semakin buruk, Orang-orang hanya ingat akan hadiah, pesta, makan dan minum, dan tidak ada orang yang mengingat-Ku.

Aku ingin Natal ini kau membiarkan Aku masuk dalam hidupmu. Aku ingin kau mengingat cerita yang terjadi dua ribu tahun yang lalu Aku datang ke dunia ini memberikan nyawa-Ku untukmu, di kayu salib, untuk menebusmu hari ini. Aku hanya ingin kau percaya ini dengan segenap hatimu.

Aku ingin membagikan sesuatu denganmu, karena banyak orang yang tidak mengundang-Ku ke pestanya.

Aku akan mengadakan perayaan-Ku sendiri. Sebuah perayaan yang besar dan spektakular. Aku sedang mempersiapkan tahap terakhirnya.

Hari ini Aku menyerahkan banyak undangan, dan Aku mengundangmu dan teman-temanmu. Aku ingin tahu apakah kalian mau datang supaya Aku bisa menyiapkan tempat untukmu, karena hanya mereka yang berada dalam daftar tamulah yang bisa masuk ke dalam pesta-Ku. Mereka yang tidak menjawab akan ditinggalkan di luar. Jadi beritahukanlah undangan-Ku pada teman-temanmu, jangan sampai mereka ditinggalkan di luar.

Sampai berjumpa segera, Aku mengasihimu.

Jadilah pewaris hidup yang kekal 


MINGGU AKHIR TAHUN GEREJANI

BE. 836:1-2 “Nunga Loja Au, O Tuhan” (Diriku Lelah, Ya Tuhan)

Nunga loja au, o Tuhan; di siulubalang ari.
Naeng tumibu au pajumpang rap dohot Ho di surgo i.
Nunga bot mata ni ari, lam jonok nang ajalhi.
Nunga loja au, o Tuhan; rade ma baen ingananki.

Nang pe naung hudai, hubolus hamoraon, hagabaeon.
Songon ombun na mamolus, sude do tinggal, ambolong.
Aha na tarboan ahu lobi sian uloshi.
Nunga loja au, o Tuhan; rade ma baen ingananki.

Diriku lelah, ya Tuhan, menanti ajalku tiba.
‘Ku ingin cepat berjumpa bersama Tuhan s’lamanya.
Malam hari hampir tiba ajalku s’makin dekat.
Diriku lelah, ya Tuhan, b’ri aku masuk rumah-Mu.

Walau sudah kurasakan nikmat kaya dan bahagia.
Bagai kabut pagi hari semua ‘kan sirna dan pergi.
Tiada yang dapat kubawa, hanyalah pakaianku.
Diriku lelah, ya Tuhan, b’ri aku masuk rumah-Mu.

Evangelium: Matius 25:31-46
Epistel: Mazmur 95:1-7a

Jadilah pewaris hidup yang kekal
Nas ini adalah tentang kedatangan kembali Yesus Kristus kedua kalinya. Ia akan datang kemuliaan-Nya dan duduk di atas tahta-Nya menghakimi semua manusia. Semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya, dan Ia akan memisahkan mereka seorang daripada seorang seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Pemisahan itu didasarkan atas hukum cinta kasih terhadap orang-orang yang lapar, haus, tunawisma, terpenjara dan pesakitan yang butuh belas kasihan. Mereka itu adalah wajah Yesus yang sesungguhnya. Mereka datang dan menawarkan diri untuk menjadi pembela pada pengadilan terakhir. Bagi yang memiliki kepedulian dan kasih terhadap mereka sesungguhnya mereka melakukannya kepada Yesus. Mereka akan memperoleh hidup yang kekal. Bagi yang tidak melakukan kebaikan kepada mereka akan mengalami kerugian.

Dengan ini Yesus memberikan dasar yang lebih dalam tentang kasih. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40) Perbuatan kita kepada sesama kita sesungguhnya adalah kepada Allah sendiri. Sesama kita adalah representasi Tuhan Yesus sendiri. Yesus Kristus hadir dalam diri sesama kita yang miskin, lemah dan tersingkir. Kasih kepada Tuhan Yesus harus nyata kita tunjukkan kepada sesama yang menurut kacamata kita tidak layak untuk dikasihi. Amin!

DOA:
“Jadikanlah aku pewaris yang memiliki hidup kekal di sorga bersama-Mu, ya Yesus. Aku mau melayani sesamaku. Amin!”

Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia


​MINGGU XX SETELAH TRINITATIS, 09 OKTOBER 2016

2 Timoteus 2:8-15

Tentu tidak mudah mengajak orang untuk ikut menderita, meski bagi Kristus. Namun jika orang tahu kenapa dia harus melakukannya, niscaya orang akan memiliki keberanian dan semangat untuk ambil bagian di dalamnya.

Sebab itu, setelah memotivasi Timotius untuk ambil bagian dalam penderitaan karena Kristus, Paulus menyatakan hal-hal yang harus diingat tatkala tiba saatnya bagi Timotius untuk menjalaninya. 1) Ingat Tuhan Yesus Kristus (ayat 8). Kesetiaan-Nya pada Bapa telah membawa Dia ke dalam penderitaan. Ia ditolak oleh keluarganya, orang-orang sekotanya, juga para pemimpin agama. Ia datang ke dalam dunia untuk membawa terang hidup, tetapi dunia malah menyalibkan Dia (band. Yoh. 1:1)! Akan tetapi, penderitaan berakhir dengan kemenangan yang mulia. 2) Ingat kuasa firman Allah (ayat 9)! Paulus yang dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah, tidak menjadi putus asa. Meski sadar bahwa kesempatannya untuk menyebarluaskan firman Allah menjadi terbatas, ia tahu bahwa firman Allah sendiri tidak terbelenggu. 3) Ingat alasan melayani Tuhan (ayat 10). Paulus menyerahkan hidupnya agar orang diselamatkan di dalam Kristus. Selain itu ia juga berharap mereka dapat bertumbuh dan disempurnakan dalam hubungan mereka dengan Dia. 4) Ingat bahwa Allah akan memberikan upah kepada orang yang setia (ayat 11-13). Seba-liknya, Ia akan menolak orang yang menolak Dia.

Ingatlah bahwa Allah setia kepada anak-anak-Nya. Meski kita mengalami masa-masa berat dalam hidup kita, bahkan saat rasanya tidak ada lagi iman yang tersisa, Ia akan tetap ada menyertai kita. Oleh karena itu, dalam masa kehidupan dan pelayanan sesulit apapun, jangan pernah berpaling dari Allah. Tetaplah teguh dan setia! Ia menjanjikan upah berupa masa depan yang gemilang bagi orang yang setia. Ia berjanji bahwa kita akan hidup bersama Dia di dalam kekekalan, dan kita akan memerintah bersama Dia di dalam Kerajaan-Nya. Pada saat itu, masa-masa sukar yang telah kita hadapi menjadi tidak ada artinya lagi. (Pdt. Maria Simatupang)