Arsip Penulis: Parjuangan Radyarto Siregar

avatar Tidak diketahui

Tentang Parjuangan Radyarto Siregar

GSM

RENDAHKANLAH DIRIMU


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 3:1. “Kami Puji dengan Riang”
Kami puji dengan riang di Kau Allah yang besar
Bagai bunga t’rima siang hati kami pun mekar
Kabut dosa dan derita kebimbangan t’lah lenyap
Sumber suka yang abadi b’ri sinarMu menyerap

02. Pembacaan Firman
Pagi : Ibrani 9:13-14.
Malam : Galatia 2:17-21.

03. Renungan: 1 Petrus 5:6.
Karena itu rendahkanlah dirimu dibawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan pada waktunya.

Prinsip Kerajaan Sorga tentang kerendahan diri jelas berbeda dengan prinsip “kerajaan” manusia. Tuhan memiliki banyak cara dalam merendahkan kita, termasuk menggunakan orang lain yang berada di sekitar kita. Ia juga bisa menggunakan problema dan masalah untuk tujuan yang sama. Meskipun Tuhan tentu saja tidak dengan sengaja memberikan malapetaka kepada kita, namun Ia dapat menggunakan sesuatu yang terjadi untuk kebaikan kita (Rom.8:28). Aniaya yang dialami gereja sejak zaman dahulu juga digunakan Tuhan untuk merendahkan diri umat-Nya. Orang-orang yang mengalaminya bisa saja menjadi frustrasi saat menghadapinya, namun daripada mengeluh, Tuhan mau kita memilih untuk merendahkan hati kita kepada-Nya, dan tunduk kepada keilahian-Nya.

Masalah umat Tuhan terbesar adalah seringkali tidak mau tunduk kepada kedaulatan Tuhan. Tidak menyadari bahwa Tuhan yang kuat itu mampu berperang untuk mengalahkan musuh apapun juga yang mengganggu umat-Nya. Merendahkan diri berarti percaya bahwa Tuhan yang memegang kendali hidup kita, dan mengerti bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa seijin Tuhan. Kita adalah manusia yang sangat lemah dihadapan Tuhan. Kita dibentuk dalam Rahim ibu dan di ijinkan lahir ke dunia ini. Dialah sumber hidup yang berkuasa atas langit dan bumi, sebab itu marilah kita hidup dengan segala kerendahan hati supaya kita ditinggikan pada waktunya. Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 194:3. Aut so asi rohaM
Anggiat ma holong, rohangku sai tongtong, burju tu Ho
Sai dongananMu au manang tu dia lao, sonang tutu.

06. Doa Bapa kami – Amin.

MENGENAL ALLAH MELALUI PERINTAHNYA


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 375:1. “Saya mau ikut Yesus”
Saya mau ikut Yesus, saya mau ikut Yesus sampai s’lama-lamanya
Meskipun saya susah, menderita dalam dunia
Saya mau ikut Yesus, sampai s’lama-lamanya.

02. Pembacaan Firman

 Pagi : Yohanes 1:35-42.
 Malam : Matius 22:37-40.

03. Renungan: 1 Yohanes 2:4.
Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintahNya, ia adalah seorang pendusta dan didalamnya tidak ada kebenaran.

Bagaimana kita tahu bahwa kita mengenal Allah? Mengenal Allah tidak hanya mengetahui fakta tentang Allah tetapi juga mengalami Allah secara pribadi. Yohanes mengatakan bahwa tanda kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti printah-perintah-Nya (1 Yoh. 2 :3). Kata mengenal yang dipakai Yohanes dalam konteks ini mengandung arti pengenalan yang datang dari pengalaman, yaitu pengalaman menjalani hidup bersama dengan Allah. Jadi, orang yang mengenal Allah adalah orang yang memiliki persekutuan yang baik dengan Allah.. Pengenalan akan Allah hanya dapat dibuktikan dengan ketaatan. Bila tidak demikian orang tersebut adalah seorang pendusta, artinya pengakuan orang tersebut tidak benar. Tidak beda dengan seorang anak dalam sebuah keluarga yang hidup dekat dengan ayah dan ibunya barulah dapat mengenal dengan baik siapa orang tuanya dan bagaimana karakter orangtuanya. Dia bisa menjelaskan sifat-sifat dan kesukaan-kesukaan orang tuanya karena mereka selalu hidup bersama, suka duduk bersama, saling bercerita, dan berdoa bersama. Hal ini tidak bisa terjadi, jikalau anak dan orang tua jarang bertemu dan tidak pernah bersekutu bersama. Demikian juga dengan orang yang mengenal Allah akan menuruti perintah2-Nya. Percuma jika kita hanya berkata-kata dan mengaku bahwa kita adalah orang Kristen, tetapi kita tidak pernah menuruti perintahNya, hal itu sama saja bahwa kita adalah seorang pendusta, pembohong besar. Ketaatan pada perintah Allah adalah menifestasi dari pengenalan akan Allah. Dengan mengenal Allah, kita akan mengetahui betapa besar kasihNya, dan hidup dalam kebenaran firmanNya. Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 194:2. Aut so asi rohaM
Mauliate ma di Ho o Debata ala basaM
Sibahen dalan i marhite anakMi tu banuaM

06. Doa Bapa kami – Amin.

MEMAHAMI KASIH TUHAN


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 29:1. “Di muka Tuhan Yesus”
Di muka Tuhan Yesus, betapa hina diriku
Kubawa dosa-dosaku, di muka Tuhan Yesus.

02. Pembacaan Firman
Pagi : Yesaya 64:5-10.
Malam : Galatia 2:11-16.

03. Renungan: Yeremia 31:10.
Dengarlah firman Tuhan hai bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerahkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya!

Demi kasih yang tulus bagi anaknya, seorang Ibu memutuskan tidak bekerja mencari uang tambahan. la hanya mengandalkan gaji suaminya, supaya ia bisa menyediakan waktu yang cukup bagi anak-anaknya yang masih kecil dan membutuhkan kehadirannya dalam hidup mereka. Nabi Yeremia mengungkapkan kasih sayang Tuhan kepada Israel sebagai umat pilihannya yang telah dipulihkan dari hukuman. Mereka bersalah dan layak mendapatkan hukuman Tuhan. Tetapi Tuhan justru mengasihi Israel bagaikan gembala yang menjaga kawanan domba. Allah akan mendekap umatNya dengan penuh cinta kasih. Memelihara dan memimpin umatNya menikmati kasih Allah setiap hari. Awal Desember nanti, kita akan memasuki masa Advent, adalah masa ketika umat diminta merenungkan betapa besar kasih yang Tuhan berikan kepada manusia sehingga Ia tidak segan mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menyapa manusia dengan tulus dan mempertaruhkan nyawa-Nya bagi kita. Sebagai umat Tuhan, kita patut merayakan pembebasan ini dan memberitakannya kepada semua orang. Kita dapat bersaksi melalui hidup dan perkataan kita, agar mereka dapat melihat karya Allah dalam hidup kita dan akhirnya mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat mereka. Sebagai orang Kristen, kita menyadari bahwa hidup kita ditopang oleh kasih karunia Tuhan. Kita diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan dan hidup kitan setiap saat dipenuhi oleh kasih karunia Tuhan. AMIN.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 190:1. Las rohangku situtu
Las rohangku situtu mida Jesus na lulu. Manjalahi hajolmaon,
Ai Ibana paluahon, joma manusia i sian hamagoan i

06. Doa Bapa kami – Amin.

KASIH TUHAN LEBIH BESAR DARI DOSA KITA


Saat Teduh….…………

01. Nyanyian KJ. No. 19:1. “Tuhanku Yesus”
Tuhanku Yesus, Raja alam raya, Allah dan manusia,
Kau kukasihi, Kau junjunganku, bahagia aku yang baka.

02. Pembacaan Firman
Pagi : Kejadian 18:20-23.
Malam : Galatia 2:1-10.

03. Renungan: Roma 5:20.
Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan dimana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.

Pada tahun 1700-an, John Newton pergi berlayar bersama ayahnya dengan sebuah kapal dagang. Tak lama setelah ayahnya pensiun, Newton terpaksa bekerja di sebuah kapal perang. Akan tetapi, karena menghadapi kondisi yang tak tertahankan, ia pun melarikan diri, kemudian memohon agar dipindahkan ke sebuah kapal budak yang akan segera berlayar ke Afrika. Kemudian, Kapalnya mengalami badai yang hebat dan menakutkan. Ketika kapal itu hampir tenggelam, Newton berteriak keras-keras, “Tuhan, kasihanilah kami!” Pada malam itu di kabinnya, ia mulai merenungkan belas kasih Allah. Melalui iman akan pengurbanan Kristus untuknya, John Newton dapat mengalami kasih karunia Allah yang luar biasa secara pribadi. Akhirnya, ia pun meninggalkan bisnis perdagangan budak dan memasuki pelayanan kristiani. Meskipun ia menjadi seorang pengkhotbah Injil, ia kemudian justru lebih dikenang karena kidung pujiannya yang disukai begitu banyak orang, yaitu lagu “Amazing Grace.” Lagu ini merupakan kesaksian menakjubkan dari pengalamannya sendiri. Paulus mengatakan, Semakin berlimpahnya dosa, semakin berlimpahnya kasih karunia. Artinya hukum Taurat tidak menyelamatkan karena semua manusia melanggarnya. Hanya kasih Yesus yang maha besar yang memerdekakan kita dari dosa dan maut, agar kita diselamatkan. Bahkan Allah menganugerahkan AnakNya yang tunggal. Intinya melalui kematian Yesus Kristus, Kasih karunia Allah lebih besar daripada dosa dan kesalahan kita. Kita tetap diampuni. Jika kita datang dengan segala penyesalan, Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 188:1. Jahowa Siparmahan au
Jahowa Siparmahan au, dang hurang manang aha.
Ai nasa jea dipadao do sian dorbiaNa. Tongon dibaen na lomak i,
lao pangoluhon tondingki. Dibaen asi rohaNa.

06. Doa Bapa kami – Amin.

TAKUT AKAN ALLAH


Saat Teduh….…………

01. Nyanyian KJ. No. 299:1. “Besyukur kepada Tuhan”
Bersyukur kepada Tuhan, bersyukur kepada Tuhan
Sebab Ia baik, bersyukur kepada Tuhan.

02. Pembacaan Firman
Pagi : Yohanes 14:1-7.
Malam : 2 Tesalonika 3:13-15.

03. Renungan: Pengkhotbah 4:17a.
Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah!

Kitab Pengkotbah banyak mengajarkan tentang hidup, pekerjaan, usaha, perjuangan dan lain-lain yang dilakukan tanpa TUHAN akan menjadi sia-sia. Pengkotbah juga menyatakan bahwa di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan. Kenapa hal ini bisa terjadi? Penyebabnya adalah para pelayan hukum sering mempermainkan dan memperjual belikan hukum dan keadilan. Kalau begitu, dimanakah kita bisa mendapatkan keadilan dan kebenaran? Tentu hanya di rumah Allah. Bagaimana hal itu terjadi? Takutlah akan Allah. Nas kita hari ini merupakan peringatan kepada seluruh umat Allah. Bagaimana sikap yang berkenan kepada Allah ketika kita hendak beribadah kepada-Nya?

  1. Mengaku dosa dan mohon pengampunan. Sikap ini didasari pada iman bahwa Allah Mahakudus, dan Mahasuci, sedangkan kita sering berdosa karena melanggar hukum dan firman-Nya.
  2. Mempersiapkan hati untuk memuji Tuhan dan mendengar firman-Nya. Tujuan utama ke rumah Tuhan adalah untuk bersekutu dengan-Nya melalui puji-pujian dan mendengar firman-Nya. Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat. (Pengk 4 : 17b).
  3. Penguasaan diri. Hal ini sangat penting, terutama dalam berbicara. Tuhan menginginkan kita supaya lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Sebagai ciptaan, sepantasnya kita lebih banyak mendengar kepada Allah pencipta kita.
  4. Membayar nazar kepada Allah. Apa saja yang kita janjikan kepada Allah supaya kita lakukan dengan kesungguhan. Contoh : Jika kita ingin hidup menjadi berkat bagi sesama atau terbebas dari merokok, lakukanlah dan jangan ditunda.

Kita harus melatih diri untuk melakukan hal-hal tersebut di atas. Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 165:1. O Jesus na pangolua au
Na basa do rohaM di au, o Jesus Tuhanki,
di ihuthon Ho au tu na dao mambuat rohangki

06. Doa Bapa kami – Amin.

DENGAR DAN TUNDUK PADA TUHAN


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 29:1. “Di muka Tuhan Yesus”
Di muka Tuhan Yesus, betapa hina diriku
Kubawa dosa-dosaku, di muka Tuhan Yesus.

02. Pembacaan Firman
Pagi : Lukas 14:15-24.
Malam : 2 Tesalonika 3:1-12.

03. Renungan: Yeremia 13:16a
Permuliakanlah Tuhan Allahmu, sebelum Ia membuat hari menjadi gelap, sebelum kakimu tersandung di atas bukit-bukit yang diliputi senja.

Allah menciptakan manusia untuk menguasai seluruh bumi dan segala isinya. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, kecenderungan hati manusia semakin meningkat untuk melakukan yang jahat. Alkitab mencatat bahwa Israel yang sudah melihat, mengalami mujizat TUHAN, selalu memberontak kepada-Nya. Mereka beribadah kepada Baal dan allah lain buatan tangan manusia. Namun, Allah karena kemurahan-Nya tetap memberikan kesempatan untuk bertobat. Namun karena bangsa Israel tetap memberontak dan tidak mendengarkan firman-Nya yang disampaikan para nabi termasuk nabi Yeremia, Allah menghukum umatnya sendiri dengan membuang mereka ke Babel. Nas hari ini merupakan peringatan TUHAN kepada bangsa Israel dahulu karena melanggar perintah TUHAN. Mereka melupakan TUHAN dan dengan sengaja beribadah kepada Baal dan allah lain. Tentu nas ini berlaku juga bagi kita yang hidup saat ini dimana daya tarik dunia ini semakin kuat supaya manusia melupakan TUHAN. Karena itu, ada 3 hal penting yang diajarkan nas ini kepada kita, yaitu : 1. Memahami bahwa saat ini adalah masa kemurahan dan kesabaran Allah supaya manusia (kita) bertobat, kembali kepada-Nya dan melakukan firman-Nya. 2. Memahami dengan sungguh-sungguh bahwa Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. 3. Allah itu Mahakudus sekaligus Mahaadil. Dia tidak berkenan kepada kematian orang fasik karena dosa dan kejahatan, melainkan Dia berkenan kepada pertobatan supaya ia hidup. Karena itu, hendaklah kita senantiasa mendengarkan suara TUHAN dan menundukkan hati kita kepada-Nya. Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 123:3. Ale dongan na saroha
Sai pasada ale Tuhan angka na porsea i. Asa masihaholongan songon na pinatikMi
Dibagasan hasintongan ido pinangidoMi. Sai padomu angka dongan na tutu sinondangMi

06. Doa Bapa kami – Amin.

PEDULI AKAN ORANG LAIN


Kepedulian (empati) adalah kesanggupan untuk peka terhadap kebutuhan orang lain dan kesanggupan untuk turut merasakan perasaan orang lain serta menempatkan diri dalam keadaan orang lain. Peka yang dibicarakan di sini bukan dalam arti sifat orang yang perhatiannya tertuju ke dalam, kepada dirinya (self-centered) sehingga mudah tersinggung perasaannya, melainkan sifat orang yang perhatiannya tertuju keluar, kepada orang lain, yang mudah merasa iba kepada orang lain (extra-centered sensitivity). Kepekaan dan kepedulian membuat orang melihat keluar dari dirinya, dan menyelami perasaan dan kebutuhan orang lain, lalu menanggapi dan melakukan perbuatan yang diperlukan untuk orang lain dan dunia di sekelilingnya. Kepekaan dan kepedulian adalah nilai yang sangat penting dipunyai seseorang. Pada nilai ini terkait banyak nilai lainnya, antara lain: kedisiplinan, kejujuran, kerendahan hati, cinta kasih, keramahan, kebaikan hati, kebijaksanaan, dan sebagainya. Kebahagiaan yang dialami seseorang sebagian besar adalah hasil kepekaan dan kepedulian orang tersebut terhadap perasaan, kesempatan, dan kebutuhan orang lain dan dunia di sekitarnya.