Janganlah cinta uang


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji namaNya setiap hari. Amin.

BERNYANYI, BE-209 : 3, Na sonang au
Na sonang au! Burju do Amangki na manarihon au:
Huhut basa, sude na ringkot i dilehon do tu au.
Parbegu do na humolsohon, ngoluna dohot sipanganon :,: Au sonang do!

PEMBACAAN FIRMAN
I Raj.18 : 17-40 (Pagi)
Wah.20 : 7-15 (Malam)

RENUNGAN
Ibrani 13 : 5 – Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.

JANGANLAH CINTA UANG

Kata “Jangan” adalah suatu larangan keras agar hal itu tidak terjadi di dalam hidup kita, terlebih larangan itu dari Allah. Dari kesepuluh Firman-hukum Taurat, tujuh dari kesepuluh Firman dimulai dengan “Jangan.” Tentu sempurna larangan Allah itu agar kita benar-benar hidup kudus. Tuhan adalah sumber dari segala berkat dan kehidupan bagi kita. Tuhan tidak akan pernah membiarkan, meninggalkan kita, itulah jaminan dari Allah bagi kita.

Kata “Janganlah,” tentu kita tidak boleh menjadi hamba untuk mengasihi dunia. Janganlah mencintai dunia ini karena dunia ini pun akan segera berlalu (1 Yoh. 2:15). Kita harus menjadi hamba atau pelayan Allah, dengan demikian kita menyangkal atau mengosongkan diri dan memikul salib untuk mau ikut Yesus, sebagaimana Yesus mengambil rupa seorang hamba (Mrk. 8:34; Fil. 2:5-11).

Rahasia hidup orang percaya adalah “cukup.” Hidup yang merasa cukup, tentu selalu merasakan berkat Tuhan dan tidak pernah bersungut-sungut. Orang percaya merasakan bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan dan meninggalkan hidupnya. Falsafah Batak mengatakan: “otik sukkup, godang suda. Barangsiapa yang tidak merasa cukup, tentu tidak pernah merasa puas, selalu merasa kurang dan akhirnya cinta uang dan menjadi hamba uang, dunia. Uang bukanlah benda yang jahat, tetapi manusialah yang menjadikan dirinya jahat (Begal-ISIS). Uang bukanlah tuan atas manusia, tetapi manusialah menjadikan uang menjadi tuan atas dirinya. Falsafah Batak juga mengatakan: “Pat ni manuk paturengreng, marrara mata mida hepeng.” (artinya Uang adalah urusan anggaran, hepeng adalah hebat pengeluaran atau hebat pengaruhnya). Kita tidak membawa sesuatu pun ke dalam dunia, pun tidak membawa apa-apa keluar. Asal ada makanan, pakaian cukuplah. Kita semua sangat membutuhkan sandang-pangan, tetapi jangan cinta, menjadi hamba uang, dunia. Orang percaya menerima larangan ini “Janganlah” kamu menjadi hamba uang.

BERDOA

BERNYANYI, KJ-287b, Sekarang b’ri syukur
Sekarang b`ri syukur, hai hati mulut tangan!
Sempurna dan besar segala karya Tuhan!
Di b`ri-Nya kita pun anug`rah dan berkat,
yang tak terbilang t`rus semula dan tetap.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI, BE-826:2, Gohi au Tuhan
Gohi au Tuhan marhite HataMi, Gohi au Tuhan marhite HataMi
Na mauas do tondingku, O Tuhan di HataMi. Gohi au Tuhan marhite HataMi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s