Arsip

Mengucap syukur


Tuhan meminta agar kita selalu bersyukur dalam segala hal.

Artinya bersyukur pada Tuhan yang mengampuni dosa kita jika kita menyesali dosa-dosa kita.

Pengampuman Kristus adalah karya terbesar dalam hidup kita. Ada kepastian keselamatan bagi yg beriman dan setia melakukan FirmanNya. Maka, dalam susah maupun senang tetap bersyukur. Hidup bersyukur adalah ciri orang beriman.

Kuasa mengucap syukur sangat besar. Mengucap syukur dalam segala hal lawannya adalah mengucap syukur untuk segala hal.

Kita tidak mengucap syukur untuk sakit, miskin, atau berduka, tapi kita mengucap syukur dalam kondisi sakit, miskin, ataupun sedang berduka.

Marilah hidup bersyukur setiap hari, dalam kondisi sehat, sakit, kaya, miskin, susah, senang, dan sebagainya, bersyukurlah. Itulah perintah Tuhan.

Selamat bersyukur senantiasa DALAM segala hal.

Ditulis oleh St. Partogian Sormin

Kuasa Allah Yang Menghidupkan


Markus 1:21-28

Yesus memulai tugas pelayanan-Nya, setelah terlebih dahulu, Dia menerima baptisan dari Yohanes Pembaptis dan berpuasa di padang gurun selama 40 hari lamanya. Pada pelayanan Yesus, Dia mengajar, memberitakan firman Tuhan, dan menyembuhkan orang sakit. Berita ini terangkum dalam buku keempat Injil. Dalam perikop ini merupakan kisah-kisah awal yang diceritakan Markus tentang pelayanan Yesus. Tema sentral pada perikop ini adalah perihal sifat dan otoritas Yesus (exousia) yang ada pada diri-Nya, yang terlihat pada saat dia mengajar dan mengusir roh jahat. Dalam penjelasan Luther mengenai pasal Pengakuan Iman Rasuli, kita mengaku bahwa “Yesus Kristus adalah Allah sejati, yang lahir dari Bapa dari zaman kekekalan, dan juga manusia yang lahir dari perawan Maria.” Karena kesatuan pribadi kodrat ilahi dan manusiawi di dalam Kristus, sangat tepat mengatakan bukan saja bahwa “Kristus adalah Allah” (Bnd. 1Yoh. 5:20) dan “Kristus adalah manusia” (Bnd. 1Tim. 2:5), melainkan juga menyebut Dia “Orang ini adalah Allah” atau “Anak Manusia adalah Anak Allah” (Bnd. Mat. 16:13-17), dan “Allah adalah Manusia” (Bnd. Yoh. 1:14). Oleh karena itu, Dia memulai pelayanan-Nya dengan kuasa dan otoritas Allah itu terpancar dari Diri-Nya, yang seringkali Dia mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit, mengampuni dosa yang semuanya itu berasal dari otoritas Allah sendiri.

Pada minggu Ephipanias ini, melalui perikop ini, kita melihat kuasa Yesus Kristus yang mengatasi setiap kuasa kegelapan, permasalahan, pemberi pencerahan dan kuasa yang menghidupkan. Dia memberitakan Injil untuk memberikan pencerahan, menguatkan iman, menyembuhkan, menghidupkan dan pertobatan bagi yang belum percaya. Kuasa Tuhan Yesus inilah yang sangat ditekankan kepada kita pada masa Epiphanias ini.

Pada hari Sabat Yesus bersama para murid mengajar di Sinagoge, di daerah Kapernaum. Sinagoge merupakan tempat orang Israel untuk belajar hukum taurat dan firman Tuhan. Ada kelas-kelas dengan tahapan umur dan ada bahan-bahan tertentu sesuai dengan kelas dan tahapan yang telah dilalui. Para murid dan Yesus masuk ke Sinagoge dan mengajar. Kesan para pendengar pada waktu itu adalah: mereka takjub terhadap pengajaran Yesus sebab Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa. Kata yang dipakai untuk menyebut orang yang berkuasa adalah exousia yang artinya orang yang memiliki otoritas, kuasa, kekuatan bukan sekedar orang yang menjalankan sesuatu dan kepadanya diberi kuasa. Perbedaan antara model pengajaran Yesus dengan ahli taurat adalah otoritas pengajaran ahli taurat tergantung pada pengetahuan mereka dan kepatuhan terhadap tradisi-tradisi yang berlaku pada waktu itu. Sedangkan Yesus mengajar dengan otoritas Allah, seperti yang telah disebut di atas, bahwa Dia adalah Manusia sekaligus Tuhan. Otoritas Allah itu pun melekat pada-Nya.

Injil Markus tidak memberikan apa yang menjadi isi pengajaran Yesus, tetapi kita dapat menemukan contoh perbedaan antara pengajaran Yesus dan pengajaran para ahli Taurat di tempat lain dalam tradisi Injil. Misalnya, dalam Markus 12: 35-37, Yesus bertanya mengapa para ahli Taurat mengatakan bahwa Mesias adalah Anak Daud ketika Alkitab menunjukkan bahwa Daud menyebut Mesias sebagai “Tuan.” Alkitab sendiri menyatakan bahwa penafsiran tradisional para ahli Taurat itu tidak memadai. Yesus secara tidak langsung memberikan penafsiran bahwa yang dimaksud Raja Daud adalah diri Yesus sendiri. Artinya, Dia dengan otoritas-Nya sanggup mengklaim hal yang seperti itu. Begitu juga saat Dia mengatakan runtuhkanlah Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan membangunnya kembali (Mrk. 14:58, Yoh. 2:19, Mat. 26:61). Selain itu, pernah ada orang yang bertanya pada Yesus perihal kuasa yang ada pada-Nya “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” (Markus 11:28-30) dan Dia tidak segera menjawab tapi dengan kuasa Allah, Dia mengajar kepada sebuah jawaban yaitu kepada kuasa Allah.

Pada bagian selanjutnya, fokus pada otoritas Yesus berlanjut. Yesus mengusir roh jahat dari seseorang yang merasukinya saat berada di Sinagoge. Roh jahat itu mengenal siapa Yesus, dia menyebut Yesus dengan ungkapan “Yang Kudus dari Allah.” Dan sepertinya roh jahat itu terusik dengan kehadiran dan pelayanan Yesus. Ungkapan “kami” yang disebut roh jahat itu menunjukkan kelompok si Iblis yang menyesatkan dan membuat manusia semakin hidup dalam kegelapan menjadi ketakutan terhadap kehadiran Yesus, tentu mereka tahu otoritas yang ada pada diri Yesus sendiri. Yesus dengan otoritas yang ada pada-Nya menghardik dan menyuruh agar roh jahat itu keluar dari diri orang itu. Teguran Yesus (epetimēsen) dan perintah untuk “diam” (phimōthēti) dalam Markus 1:25 sejajar dengan teguran Yesus (epetimēsen) yang disampaikan kepada angin ribut untuk diam (Mrk 4:39). Orang-orang yang melihat itu heran dan bertanya-tanya siapakah Yesus sehingga angin ribut pun tunduk dan taat pada-Nya. Begitu juga dengan roh-roh jahat semuanya tunduk juga kepada Yesus.
Apa yang dilakukan Yesus ini disebut mereka yang menyaksikannya adalah sebuah ajaran baru. Ajaran Yesus ini bisa kita gambarkan dengan ungkapan Yesus pada Markus 2:22 yang menyebut “Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.” Yesus membawa pembaruan dengan cara menggenapi-Nya dan Dia telah mencurahkan “anggur-Nya” demi banyak orang.

Otoritas Yesus terletak pada Diri-Nya yang termanifestasi juga melalui kata-kata-Nya dan perbuatan-Nya. Yesus menggunakan wewenang-Nya untuk melayani dan memuliakan Tuhan Allah (Mrk. 10:41-45). Otoritas dari Allah berbeda dengan otoritas yang ada dari bumi ini. Otoritas dari Allah selalu melakukan kebenaran dan kebaikan berdasarkan kehendak Allah. Sedangkan otoritas dari dunia ini atau si Iblis selalu membawa perpecahan, kepentingan si Iblis dan kematian. Dan masih banyak lagi yang bisa kita lihat beda dari kedua otoritas itu. Dan yang terutama lewat kematian dan kebangkitan Yesus telah dibuktikan bahwa Yesus telah berkuasa atas langit dan bumi.

Poin utama dari perikop ini adalah:
1. Bisakah kita memiliki otoritas Allah itu? Para murid Yesus membuktikan bahwa mereka memiliki dan memakai otoritas dari Allah untuk mengajar, memberitakan firman Tuhan, menyembuhkan orang sakit dan melayani. Bagaimana kita bisa memilikinya? Dengan anugerah Allah semata. Ketika kita menjadi satu di dalam baptisan Yesus, dalam darah dan daging Kristus, dan firman Tuhan yang berdiam di dalam diri kita, serta Roh Kudus yang memenuhi dan berkuasa atas kita. Kedaulatan Tuhan akan menganugerahkan kuasa itu kepada siapa saja yang Tuhan kehendaki. Simon Petrus bersaksi bahwa otoritas itu merupakan anugerah Allah. Simon penyamak kulit hendak membeli kuasa itu dari Petrus, maka Petrus menghardik dia karena kuasa itu tidak dapat diganti dengan uang. Kita menggunakan kuasa Tuhan yang ada pada diri kita untuk memuliakan nama Tuhan.

2. Pada masa Epiphanias ini kita mencoba untuk menghidupi Kristus yang berkuasa itu di dalam kehidupan kita, termasuk menjalani tahun baru tahun 2019 ini. Umat tidak hanya sekedar mengenang Yesus yang pernah hidup di dunia ini, yang berkuasa mengusir roh jahat, menghapuskan dosa, menghidupkan orang mati dan sebagainya; tetapi umat hendak diajak untuk menemukan, mengalami dan menyaksikan kepada banyak orang bahwa kita telah mengalami kuasa Yesus itu dalam diri kita sendiri.

3. Bagaimana kita tidak hanya kagum kepada kuasa, ajaran dan apa yang dilakukan Yesus seperti yang dilakukan oleh sebagian orang yang ada pada waktu itu. Bagaimana kita pun menjadi orang yang percaya dan mengundang kuasa Tuhan ke dalam hidup kita yang penuh dengan kemelut dan kegelapan agar kita melihat dan mengalami kuasa Tuhan dalam diri kita.

(Pdt. Rudi SM Pardede)

Allah Menuntun UmatNya


Keluaran 33:12-17

Setelah Bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir, maka Allah kembali menuntun bangsa Israel ke tanah perjanjian yaitu tanah Kanaan suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Dalam perjalanan ke Tanah Perjanjian bukanlah perjalanan yang mulus dan aman tetapi perjalanan yang sangat panjang yang mengalami banyak tantangan, ancaman dan bahaya, seperti adanya musuh dari bangsa sekitarnya yang berusaha untuk menaklukkan mereka, demikian juga dalam perjalanan sangat melelahkan dengan terik matahari, hujan, kurang air, kurang makanan dan beberapa penyakit yang mereka alami. Tetapi yang menarik adalah selama diperjalanan Allah tidak pernah meninggalkan mereka sebagai umat pilihanNya, Allah selalu setia untuk mengasihi, menyertai dan menuntun mereka selama di perjalanan. Bahkan mereka sebelum keluar dari perbudakan Mesir, Allah sudah mendengar seruan mereka: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke sesuatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (Keluaran 3 : 7-8a). Baik Musa maupun bangsa Israel sudah benar-benar merasakan kasih karunia Tuhan dan penyertaanNya bagi mereka, tetapi karena mereka masih dalam perjalanan ke tanah perjanjian, Musa masih meminta petunjuk dan pernyertaan selama di perjalanan. Ternyata permintaan Musa ini didengar oleh Allah, dimana Allah berfirman :

Baik Musa maupun bangsa Israel sudah benar-benar merasakan kasih karunia Tuhan dan penyertaanNya bagi mereka, tetapi karena mereka masih dalam perjalanan ke tanah perjanjian, Musa masih meminta petunjuk dan pernyertaan selama di perjalanan. Ternyata permintaan Musa ini didengar oleh Allah, dimana Allah berfirman : Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketentraman kepadamu (ayat 14). Hal ini juga sudah difirmankan Allah setelah keluar dari perbudakan Mesir, sebagaimana Allah berfirman: “Kamu sendiri telah melihat apa yang kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu diatas sayap raja wali dan membawa kamu kepadaKu. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firmanKu dan berpegang pada perjanjianKu, maka kamu akan menjadi harta kesayanganKu sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi (Keluaran 19:4-5). Musa dan bangsa Israel sangat menyadari keterbatasan, kekurangan, kelemahannya selama diperjalanan, karena itu mereka tidak mengandalkan akan kuasa, kepintaran, kekuatan yang mereka miliki, tetapi benar-benar menyerahkan diri hanya kepada Tuhan, agar Tuhan menuntun dan campur tangan dalam segala perjalanan yang mereka alami.

Demikian juga dalam perjalanan hidup kita di tahun 2019 ini, yang pasti sudah ada rencana apa yang harus kita lakukan di tahun ini, baik secara pribadi, keluarga, gereja, dan bangsa kita ini. Tentu dalam rencana dan tugas-tugas yang kita lakukan tahun ini bukan selamanya bisa menjalani dengan mulus dan rata tetapi selalu ada hambatan, tanah yang berbatu-batu, bukit yang terjal yang kita alami, yang membuat kita bisa tidak bedaya. Karena itu penting kita mencontoh kehidupan Musa dan bangsa Israel yang meminta pertolongan dan petunjuk dari Tuhan menuju tanah perjanjian.

Marilah kita percaya dan mempercayakan diri hanya kepada Tuhan dan menyerahkan segala rencana kita kepadaNya agar Tuhan campur tangan dan menuntun perjalanan hidup kita di tahun ini. Kiranya Tuhan menyertai dan menolong kita dalam segala aktifitas yang kita lakukan. Amen.

Pdt. Rahmat Lumbantobing

Cinta Kasih di Hati Manusia


Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena. Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon. Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya. Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.

Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel. Maka Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.

Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan. Simon ketakutan, “Siapakah dia? Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja”. Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.

Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata,
Hai Simon, tidak malukah kau? Kau punya mantel meskipun sudah berlubang-lubang, sedangkan orang itu telanjang. Pantaskah orang meninggalkan sesamanya begitu saja?”

Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel baru dan membawa seorang pria asing.
“Simon, siapa ini? Mana mantel barunya?” Simon mencoba menyabarkan Matrena,
“Sabar, Matrena…. dengar dulu penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang”.
“Bohong!! Aku tak percaya….sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!! Usir saja dia!!”
“Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?” Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat.
“Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?”

Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya.
“Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini.”
“Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu”, demikian Simon menjawab.
“Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur.”
“Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja”.

Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya.
“Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu? Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?” Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon. Simon menjawab,
“Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia”.

Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.

Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini. Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.

Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam.
“Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dip enjarakan!! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!”
Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum. Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu. Simon berkata,
“Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara.”

Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon.
“Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar? Celaka, kita bisa masuk penjara karena….” Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya.
“Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja”.
“Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon”, Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.

Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.

Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu. Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu,
“Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?” Ibu itu menjelaskan, “Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri.”

“Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya”, kata Matrena. Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya. Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata,
“Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit.” Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut,
“Nanti dulu Mikhail, tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?”

Mikhail menjawab sambil terus tersenyum,
“Sebenarnya aku adalah adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, “Mikhail, turunlah ke bumi dan pelajarilah ketiga kebenaran ini hingga kau mengerti:
Pertama, Apakah yang hidup dalam hati manusia?
Kedua, Apa yang tidak diijinkan pada manusia?
Ketiga, Apa yang paling diperlukan manusia?”

“Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu. Tapi Simon berkata, “Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?” Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama:
“YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH”
“Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua:
“MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN”
“Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan aku melihat si kembar dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga:
“MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA.”

Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup.” Mikhail kembali ke surga.