Agungkanlah Nama Tuhan


Saat Teduh …………..

01. Nyanyian KJ. No. 222b:1. “Agungkan kuasa namaNya”
Agungkan kuasa namaNya malaikat bersujud
Nobatkan Raja Mulia, dan puji, puji, Yesus Tuhanmu.

02. Pembacaan Firman:
Pagi : Keluaran 3:1-5.
Malam : Ibrani 11:23-31.

03. Renungan: Mazmur 147:12.
Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion!

Mazmur ini terkenal sebagai mazmur hymne, sebuah nyanyian pengagungan kepada Tuhan. Karena itu, perbuatan-perbuatan Tuhan yang digambarkan di sini mengungkapkan kemahakuasaan dan keagungan-Nya, bukan dalam simbol-simbol yang abstrak, melainkan dalam pengalaman nyata manusia sehari-hari. Maka tanggung jawab kita adalah memuliakan Tuhan, seperti ajakan pemazmur “Megahkanlah TUHAN”, dan “pujilah Allahmu”.

Dua perbuatan ritual ini, sebagai simbol pengudusan hidup manusia. Di situ, aktifitas leutorgia/abodah – sebagai kata untuk ‘megahkan dan pujilah’ tidak mesti dipahami sebagai aktifitas statis, melainkan bisa berupa pelayanan kita kepada-Nya melalui ibadah atau melalui pelayanan kita terhadap sesama, sikap tunduk dan taat kepada Tuhan sebagai penguasa atas hidup kita. Artinya, respons manusia atas perbuatan-perbuatan kasih setia tadi harus tampak dalam praktek hidup yang nyata dimana kita sungguh-sungguh mensyukuri dan menghormati Dia dan apa yang Ia lakukan.

Jadi jika Tuhan dalam kasih setianya telah berkarya dalam kehidupan kita maka memegahkan dan pujilah nama-Nya! Bertumbuhlah dalam pujian dan keyakinan melalui penghayatan firman yang makin dalam

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 115:1. Tuhan Debata
Tuhan Debata sai ramoti ma, daging dohot tondinami
Ido pangidoannami, sai pahipas be, hami on sude.

06. Doa Bapa kami – Amin.

PELAYANAN YANG TULUS


Saat Teduh ………..

01. Nyanyian KJ. No. 10:1. “Pujilah Tuhan Sang Raja”
Pujilah Tuhan Sang Raja yang Maha Mulia
Segenap hati dan jiwaku pujilah Dia! Datang berkaum,
B’rilah musikmu bergaung, angkatlah puji-pujian.

02. Pembacaan Firman
Pagi : Kejadian 12:8-20.
Malam : Ibrani 11:13-22.

03. Renungan: Hosea 11:4.
Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan.

Nabi Hosea menekankan betapa besarnya kasih Tuhan dalam kehidupan umatNya. Maka dengan ini, kita tidak punya alasan untuk tidak saling mengasihi dan melayani. Yesus pun dengan sangat jelas mengatakan kepada kita untuk berbelas kasih dan memiliki bela rasa terhadap sesama. Ketika Yesus melihat orang banyak dan tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, “karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mrk 6:34). Tuhan memanggil kita untuk memberi karena memberi membuat kita lebih mengenal Dia. Allah Bapa memberikan Anak-Nya bagi kita (Yoh 3:16) dan Dia memberikan Roh Kudus bagi kita (Luk 11:13). Dia memberikan kepada kita berbagai karunia rohani untuk berbagai macam pelayanan bagi Tuhan (1 Kor 12:4-11).

Yesus menginginkan kita memiliki hati yang rela berbagi. Tidak hanya membantu sesama yang kelaparan secara jasmani, tetapi juga secara rohani. Meskipun persediaan kita tampak terbatas, serahkanlah pada Yesus. Mintalah hikmat dan pertolongan-Nya. Dia akan akan menyediakan dan mencukupkan sehingga kita mampu memberi “makan” sesama yang memerlukan bantuan, Amin.

04. Berdoa.

05. Bernyanyi BE. No. 14:1. Puji hamu Jahowa tutu
Puji hamu Jahowa tutu, pardengganbasa, parasiroha salelengna i
Pardengganbasa i, parasiroha i.

06. Doa Bapa kami – Amin.

DENGARLAH SERUAN TUHAN !


DENGARLAH SERUAN TUHAN !
Disadur dari Buku Ibadah Renungan Harian, 02 Januari 2020

Saat Teduh ……………

01. Nyanyian KJ. No. 401:1. “Makin dekat Tuhan”
Makin dekat Tuhan kepadaMu; walaupun saliblah mengangkatku
Inilah laguku dekat kepadaMu, makin dekat Tuhan kepadaMu

02. Pembacaa Firman
Pagi : Kejadian 12:1-7.
Malam : Ibrani 11:1-12.

03. Renungan: Yesaya 54:4.
Perhatikanlah suara-Ku, hai bangsa-bangsa, dan pasanglah telinga kepada-Ku, hai suku-suku bangsa! Sebab pengajaran akan keluar dari pada-Ku dan hukum-Ku sebagai terang untuk bangsa-bangsa.

Sejak semula Tuhan mempunyai satu kehendak untuk dunia ini, yaitu wawasan ujung bumi. Ia mau mengisi seluruh dunia dengan mereka yang menyembah kepada-Nya. Ketika Tuhan memanggil Abraham Ia berkata, “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej 12:3). Dalam surat Galatia (3:9,14), Paulus menjelaskan bahwa dengan berkat tersebut suku-suku bangsa di dunia ini akan diselamatkan. Suku-suku bangsa di dunia ini diciptakan Tuhan untuk satu maksud saja, yaitu supaya mereka memuliakan dan menyembah Dia. Dengan kata lain, Tuhan tidak puas kalau hanya satu golongan saja memuliakan Dia. Ia ingin semua suku menyembah-Nya sehingga dalam Mazmur 2:8 Tuhan berkata, “Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.” Diperkirakan empat juta hamba Tuhan bekerja keras untuk memberitakan Injil. Dan Alkitab sudah diterjemahkan ke dalam 2.355 bahasa. Maka Amanat Agung diberikan kepada kita oleh perkataan Yesus, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:18-20). Marilah kita bekerja untuk memberitakan injil kepada semua suku-suku bangsa yang belum terjangkau oleh Injil supaya mereka turut diselamatkan. Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 122:1. Ida hinadenggan ni
Ida hinadenggan ni angka na saroha i,
Parpambaenan na burju, nang hataNa pe tutu

01. Doa Bapa kami – Amin.

APA YANG BARU DARI TAHUN BARU?


Waktu terus berjalan,
Bumi tetap berputar pada porosnya,
Matahari tetap terbit dari timur dan tenggelam di barat.
Hari tetap berganti dari pagi, siang, dan menuju malam.

Yang baru dari tahun baru adalah pemaknaan dan pembatasan manusia pada ruang, waktu dan peristiwa.
Maka sebenarnya yang terpenting dalam menyambut tahun baru bukanlah pergantian angka tahun dari 2019 ke 2020 yang selama ini kita rayakan dengan gegap gempita. Apa yang berjalan secara rutin ini harus kita pahami sebagai sesuatu yang lepas dari rutinitas, yakni Pembaharuan sikap dan karakter.

Tahun baru adalah momen yang penting untuk melakukan introspeksi atas segala kegagalan dan kekecewaan yang pernah terjadi. Momen yang tepat untuk melakukan evaluasi sekaligus apresiasi terhadap prestasi atau pelayanan yang telah kita capai hingga saat ini.

Ada ungkapan yang mengatakan, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia merupakan orang yang beruntung. Kalau sama saja, dia adalah orang yang merugi. Sedangkan kalau lebih buruk, dia adalah orang yang celaka”.

RENUNGAN AKHIR TAHUN


PARPUNGUAN BODARI UJUNG TAON
(Kebaktian malam akhir Tahun)

Topik: Kita tidak terpisahkan dari kasih Allah
(Ndang tarbahen sirang hita sian holong ni roha ni Debata)

Warna Tutup Altar : Putih (Na Bontar)
Warna simbol: Kesucian
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
RENUNGAN AKHIR TAHUN

Waktu terus bergerak sekalipun kita telah lelah untuk beranjak dari tempat kita berdiri, kita harus melangkah ke depan sekalipun kita telah kehilangan semangat dalam mengarungi kehidupan ini. Tapi inilah realitas dari kehidupan, ketika kita merasa telah berjuang begitu keras, ternyata masih banyak kerikil tajam yang masih mengganjal di setiap langkah kita, ketika kita telah berupaya, masih ada kegagalan yang menghampiri kita, masih ada tangis yang mengiringi jalan kita, masih banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan kita, apalagi ketika kita memasuki tahun-tahun penuh tantangan.

Di keluarga, ketika kita didudukkan sebagai anak, kita merasa kurang mendapat perhatian dari orang tua, dan sebaliknya sebagai orang tua, kita merasa anak zaman sekarang sangat sulit dididik, walaupun kita telah berupaya melakukan yang terbaik untuknya, lalu ketika usia kita beranjak senja, sebagai kakek dan nenek, kita merasa ditinggalkan dan terabaikan, kita juga kesepian. Di pekerjaan, ketika kita didudukkan sebagai karyawan, kita merasa tenaga kita telah diperas habis oleh perusahaan dan sebaliknya sebagai pemilik perusahaan, kita merasa karyawan kita kurang berdedikasi dan tidak bertanggungjawab, dan hanya pintar menuntut. Ketika rentetan peristiwa datang bertubi-tubi dan pertanyaan itu tak terjawabkan, kita dilanda rasa frustasi yang teramat sangat, kita merasa begitu lelah, kita merasa terabaikan, tubuh kita seakan mati rasa, denyut nadi kita berhenti sesaat, kita segera terjebak dalam ruang gelap yang tidak pernah kita tahu kapan berakhirnya. Mari kita buka mata dan hati kita, mari kita manfaatkan waktu ini untuk merenung, menelaah arti kehidupan. Mari kita kembali renungkan apa yang telah kita perbuat selama ini, bagaimana kita membangun rumah kita, seberapa baik kita telah membangun masa depan kita? Beban berat yang kita pikul akan menjadi lebih ringan, karena tangan-tangan kasih dari ayah bunda, saudara, kerabat dan teman akan membantu kita melaluinya. Dan kita pun akan menjadi kokoh.

SUMBER PENGETAHUAN


Saat Teduh……………

01. Nyanyian KJ. No. 299:1. “Besyukur kepada Tuhan”
Bersyukur kepada Tuhan, bersyukur kepada Tuhan
Sebab Ia baik, bersyukur kepada Tuhan.

02. Pembacaan Firman
Pagi : Matius 22:2-9
Malam : Wahyu 14:1-5.

03. Renungan: 1 Yohanes 5:4.
Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.

Dipastikan setiap orang, menginginkan hidup tenang dan bahagia dan hidup berkemenangan. Namun dalam kenyataannya, sering kali jatuh-bangun, menang, dan kalah. Akibatnya, kita sering jatuh ke dalam dosa dan persoalan. Dalam 1 Yohanes 2:16 mencantumkan tiga jenis keinginan manusiawi, yaitu: keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup. Tiga keinginan tersebut merupakan musuh terbesar yang hidup dalam diri manusia, dan untuk menaklukkannya tidaklah mudah. Berikut ini tiga cara untuk mengalahkan dunia. Pertama, iman atau percaya kepada Yesus Kristus. Yesus yang kita sembah adalah Tuhan yang perkasa, yang telah mengalahkan dunia (Yoh 16:33). Tuhan menghendaki agar kita, anak-anak-Nya, memiliki kuasa yang sama dengan yang Ia miliki, yaitu kuasa untuk mengalahkan dunia. Jika ingin menjadi umat pemenang, gunakanlah iman, maka saudara akan mampu mengalahkan dunia dan segala keinginannya. Kedua, lahir dari Tuhan. Artinya, hidup yang diperbarui oleh Tuhan atau hidup yang dilahirkan kembali (Yoh 3:7). Orang yang dilahirkan kembali bukan berarti mengalami reinkarnasi, melainkan mengalami pembaruan hidup; meninggalkan kehidupan yang lama dan hidup baru, dalam pertobatan. Dalam 1 Yoh 5:18 mencatat, “setiap orang yang lahir dari Allah, tidak lagi berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya”. Ketiga, melakukan perintah-perintah-Nya. Seluruh aspek hidupnya berpandangan dengan firman Tuhan, Amin.

04. Berdoa

05. Bernyanyi BE. No. 227:1. Jesus ngolu ni tondingku
Jesus ngolu ni tondingku, Ho do haporusanki
Gok di Ho na ma diringku, ro di nasa langkaki.

06. Doa Bapa kami – Amin.

MEMBERI DENGAN SUKACITA


MINGGU SETELAH NATAL
(Dung ari hatutubu ni Tuhan Jesus)

Topik: Mengingat Perbuatan Tuhan
(Marningot angka pambahenan ni Jahowa)

Warna Tutup Altar : Bontar (Putih)
Warna simbol: Kasih dan Keagungan Tuhan

Ev. Mazmur 77:6-16
Ep. 1 Timotius 1:12-17

MEMBERI DENGAN SUKACITA
Seorang pendeta ingin mengetahui apakah seorang petani anggota jemaatnya bersedia mendukung pekerjaan Tuhan atau tidak. Suatu hari ia menantang petani itu dengan beberapa pertanyaan. “Jika Anda mempunyai dua tanah pertanian,” tanya pendeta itu, “Apakah Anda bersedia memberikan salah satunya kepada Allah?” “Tentu saja!” jawab petani itu. “Saya berharap dapat melakukan hal itu saat ini juga.” Pendeta itu kemudian bertanya, “Jika Anda mempunyai yang 30 juta rupiah, maukah Anda memberikan 15 juta rupiah kepada Tuhan?” Tanpa ragu-ragu petani itu menjawab, “Saya sungguh ingin memiliki uang sebanyak itu! Saya akan sangat senang memberi dengan dermawan.” Kemudian pendeta itu mengajukan pertanyaan yang tajam: “Jika Anda memiliki dua ekor babi, maukah Anda memberikan yang satu kepada gereja?” Petani itu ragu-ragu sejenak dan tiba-tiba berkata, “Ini tidak adil. Anda tahu saya mempunyai dua ekor babi!” Berbicara tentang memberi dengan dermawan amatlah mudah bila Anda hanya punya sedikit untuk diberikan. Tetapi pada saat kantong kolekte dijalankan, beberapa orang Kristen dengan enggan memasukkan uang sesedikit mungkin. Bagaimana Memberi dengan Sukacita dan Apa Dampaknya? Jangan Kendor dalam hal Memberi. Komitmen untuk memberi itu jangan kendor. Dalam hal memberi persembahan, jangan menunggu moment, jangan menunggu ada acara-acara besar di gereja, baru kita memberi, Tetapi hendaknya kita selalu siap sedia dalam memberi pada Tuhan. Jangan Terpaksa dalam Memberi. Pemberian bukan bicara soal nominal, tetapi soal Hati. Pemberian kita harus berangkat dari Ketulusan hati kita. Jangan dengan terpaksa, Berilah dengan Sukacita.. Dia telah berikan berkat-berkat-Nya bahkan Dia telah berikan Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita. “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga”. (2 Kor 9:6)