Arsip Kategori: Lain-lain

Memaknai Nilai Sebuah Pengorbanan


Dalam hidup ini, setiap orang memiliki kesempatan untuk berkorban. Namun korban itu akan sia-sia, kalau dilakukan hanya untuk mendapatkan pujian. Korban yang memiliki nilai adalah korban yang dilandasi oleh kasih yang mendalam.

Pada tanggal 4 Desember 2006 lalu, seorang prajurit berumur 16 tahun melihat sebuah granat dilemparkan ke atas. Granat itu kemudian jatuh ke dalam mobil perang yang diawakinya bersama empat orang temannya.
Prajurit itu berada di atas kendaraan memegang senapan mesin. Ia masih memiliki waktu untuk melompat keluar untuk menyelamatkan diri. Namun sebaliknya, ia melompat ke dalam tepat di atas granat. Sebuah tindakan pengorbanan demi menyelamatkan empat rekan prajurit lainnya.
Tubuh prajurit itu hancur berkeping-keping. Darah berserakkan membasahi kendaraan itu. Empat rekannya selamat. Mereka dapat meneruskan hidup mereka. Sedangkan prajurit muda itu mesti mengorbankan hidup untuk mereka.
Salah seorang dari empat prajurit itu berdecak kagum atas tindakan heroik itu. Ia berkata, “Saya tidak bisa bayangkan, kalau teman kita ini tidak melompat keluar dari kendaraan. Tentu kita semua telah mati. Tetapi dia telah memilih untuk mati demi kehidupan kita semua.” 
Mereka pun mengumpulkan tubuh teman mereka yang berserakan itu. Mereka menguburkannya dengan cara yang sangat hormat. Di pusara teman mereka itu tertulis kata-kata,” Dia telah menyerahkan nyawanya untuk kami.”

Sahabat, masih adakah orang yang punya semangat untuk mengorbankan dirinya bagi sesamanya? Masih adakah orang yang merelakan egoismenya bagi kemajuan dan keselamatan sesamanya? Saya yakin, pasti masih ada di antara kita yang mau berkorban bagi sesamanya. Ada berbagai bentuk pengorbanan yang bisa ditunjukkan untuk sesama.
Misalnya, seorang suami rela mengorbankan waktunya demi istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. Ia menunggui sang istri berjam-jam sepanjang hari. Baginya, tidak ada hal lain yang lebih berharga daripada kesehatan istrinya. Ia ingin istrinya segera sembuh. Ia ingin istrinya kembali tersenyum setelah sekian lama wajahnya muram durja oleh terjangan penyakit. Inilah suatu pengorbanan.
Kisah tadi menunjukkan kepada kita bahwa pengorbanan itu membawa kehidupan bagi sesama. Ia tidak peduli terhadap keselamatan dirinya. Ia lebih peduli terhadap keselamatan keempat rekannya. Pengorbanan yang dilakukan dengan tulus hati membuahkan kebaikan bagi kehidupan bersama.
Setiap kita mempunyai kesempatan untuk berkorban bagi kehidupan bersama. Yang penting adalah kita mesti memaknai nilai pengorbanan itu. Apa yang sesungguhnya kita perjuangkan, sehingga kita berani berkorban? Apakah yang kita perjuangkan hanyalah kepentingan diri kita sendiri? Atau yang kita perjuangkan itu sesuatu yang sungguh-sungguh berguna bagi kehidupan bersama?
Tentu saja orang yang rela berkorban itu biasanya didorong oleh kasih yang berkobar-kobar bagi sesama. Kasih itu memberi daya atau semangat berkorban itu. Karena itu, orang beriman mesti selalu berkorban berdasarkan kasih yang tulus dari dalam dirinya. Tanpa kasih yang tulus, korban kita hanyalah suatu kesia-siaan. Tuhan memberkati. **

MAKNA ADVENT DALAM LITURGI


Advent adalah masa menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Dalam Masa Advent ini juga masa mempersiapkan Natal (Kisah Kelahiran Yesus) atau Epifania (Awal pelayanan Yesus). Masa Advent terbagi atas 4 minggu dengan tema yaitu:
1. Advent I : Sikap gereja dalam menantikan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya untuk membebaskan manusia.
2. Advent II : Pertobatan menuju langit baru dan bumi baru bagi segala bangsa, seluruh umat manusia, sesuai dengan keadilan-Nya.
3. Advent III : Ajakan untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. KedatanganNya tidak sejajar dengan kelahiranNya, namun dapat dilihat sebagai kedatanganNya yang kedua kali
4. Advent IV : Mengarah kepada kelahiran Tuhan di Betlehem.

HASILKANLAH BUAH SESUAI PERTOBATAN


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-248:2- SALELENG HO DI TANO ON
Sai songon hau na denggan ho,
ramos parbue nii.
Bulungna pe na uli do, antong sai tiru i.

PEMBACAAN FIRMAN
Wahyu 5:11-6:8 (Pagi) Mikha 2:1-13 (Malam)

RENUNGAN HARIAN, Sabtu 02 Desember 2017
Lukas 3:8a
“Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.”

HASILKANLAH BUAH SESUAI PERTOBATAN
Di saat menanam sebuah pokok pohon kita selalu mengharapkan agar pohon itu memberikan hasil yang baik, yaitu dari buahnya (Luk.6:44). Untuk mendapatkan hasil itu kita menyiram, memupuk dan melakukan hal yang lainnya agar hasil maksimal, ternyata pohon itu hanya daunnya yang lebat tanpa menghasilkan buah sama sekali. Ini dapat mengecewakan kita, dan mungkin saja kita akan menebangnya. Demikian juga dengan apa yang terjadi dalam cerita Alkitab tentang apa yang dilakukan Yesus terhadap pohon yang tidak menghasilkan buah (Luk.13:7, Yoh.15:2).

Pohon adalah gambaran dari hidup orang Kristen, di mana buah yang dihasilkan adalah karakter kehidupan yang baik. Buah itu dihasilkan dari pertobatan di dalam hidup yang ditunjukkan dalam tindakan sehari-hari (Kis.26:20; Luk.3:8-14). Pertobatan adalah pintu gerbang menuju kehidupan yang menjadi berkat bagi sesama. Dengan demikian buah itu dapat ditunjukkan hanya jika kita telah hidup dan tinggal di dalam Kristus (Mat.3:8; Yoh.15:2,4), di mana kita telah bertobat dan meninggalkan segala kejahatan kita dan masuk dalam kebaikan yang diberikan oleh Kristus di dalam penebusannya. Buah yang baik dapat kita tunjukkan dari tanggung jawab kita di dalam ibadah dan demikian juga di dalam pekerjaan sehari-hari dengan cara kita selalu berusaha untuk melakukan segala sesuatu dengan disiplin, mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan tanggung jawab kita, mengerjakan segala sesuatu sebagai cara kita untuk melayani Tuhan Allah. Tuntunan Tuhan Allah di dalam menghasilkan buah yang baik sangatlah kita perlukan, sehingga untuk memberikan buah yang baik haruslah kita mulai dari hubungan kita dengan Tuhan Allah. Selamat berbuah. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-424:4- YESUS MENGINGINKAN DAKU
Aku ingin bersinar dan melayani-Nya, hingga di sorga ‘ku hidup senang bersama-Nya. Bersinar, bersinar; itulah kehendak Yesus
Bersinar, bersinar, aku bersinar terus.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin

Utamakan Kejujuran dalam Menggapai Sukses


Dalam hidup ini, apa yang Anda mau pertahankan? Harta kekayaan yang berlimpah yang diperoleh dengan tidak halal? Atau Anda ingin tetap mempertahankan kejujuran dalam menggapai sukses dalam hidup Anda?
Beberapa tahun lalu, komite olimpiade mencopot medali emas lari 1500 meter yang dimiliki oleh pelari Bahrain bernama Rashid Ramsi. Hal itu dilakukan, karena Ramsi kedapatan melakukan dopping saat sebelum bertanding. Tes urine yang dilakukan menyatakan bahwa ada obat-obatan yang terkandung di dalamnya. Obat-obatan yang dikonsumsi oleh Ramsi itu termasuk yang dilarang untuk digunakan dalam dunia olahraga.

Ramsi berkelit. Ia mengatakan bahwa ia tidak melakukan dopping sebelum bertanding. Ia telah melakukan pertandingan dengan jujur. Karena itu, ia mengharapkan pihak komite tidak mencopot medali emas yang telah diraihnya. Ia telah bekerja keras untuk meraih medali emas itu. Ia telah berlatih berbulan-bulan untuk mengikuti lomba itu. Jadi pihak komite bisa berbuat sewenang-wenang terhadap dirinya.

Ramsi boleh membela diri. Medali itu kemudian diambil daripadanya. Medali itu bukan lagi milik dirinya. Ia tidak bisa mempertahankannya. Ia bisa mempertahankannya, kalau ia berlomba dan memenangi lomba itu di olimpiade yang akan datang. Tentu saja hal ini sangat menantang Ramsi untuk membuktikan kejujuran dirinya.

Sahabat, hidup kita di dunia ini sebenarnya seperti orang yang sedang berada dalam pertandingan. Untuk berhasil meraih medali pertandingan, ada banyak tuntutan yang mesti kita penuhi. Dari segi fisik, kita harus melatih tubuh kita agar tetap prima. Dengan demikian, kita dapat tetap bertahan dalam pertandingan itu. Tetapi dari segi psikis, kita juga mesti tetap memperjuangkan kejujuran. Kita tidak boleh melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, saat kita meraih juara, kita meraihnya dengan sukacita.

Kisah di atas mengingatkan kita agar kebenaran dan kejujuran senantiasa dijunjung tinggi dalam hidup ini. Orang mesti bekerja keras untuk meraih impiannya. Orang tidak bisa hanya santai-santai sambil mengharapkan bintang jatuh dari langit. Orang mesti berani berjerih payah untuk meraih sukses dalam hidupnya.

Namun kecenderungan negatif sering memaksa orang untuk melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Orang berani melawan arus kebenaran dan kejujuran untuk meraih kesuksesan dalam hidup mereka. Mereka mengira bahwa dengan mematahkan kebenaran dan kejujuran mereka mampu hidup aman dan tenteram.

Kita menyaksikan begitu banyak pemimpin di negeri ini yang dijebloskan ke penjara begitu turun dari kekuasaan. Mengapa? Karena tidak berhasil mempertahankan medali kebenaran dan kejujuran. Godaan uang dan harta membuat mata mereka tersilau. Mereka kemudian tunduk oleh kemilau uang dan harta itu. Ketidakjujuran yang dibungkus dalam korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi bagian hidup mereka.

Karena itu, kita diajak untuk senantiasa mempertahankan medali kejujuran. Dengan demikian, kita dapat meraih sukses dengan baik dan benar. Hidup kita menjadi damai dan sejahtera. Tuhan memberkati. 

Selagi diberi Tuhan kesempatan


Matius 25:31-46

Mengapa kita belum masuk daftar orang meninggal yang diwartakan hari ini? Tuhan punya rencana dalam hidup kita. Ia punya rencana bagi saudara-saudari kita yang sudah mendahului kita.
Karenanya, selagi Tuhan memberi kita kesempatan menjalani hidup ini kita syukurilah dari hati yang terdalam dan dengan iman yang teguh. Kita tekunilah mewujudkan kehendakNya sebagai wujud nyata ungkapan syukur kita.
Dalam Matius 25 ini secara singkat dapat dikatakan bahwa Yesus menyebut dua kelompok manusia: 

(1) yang peduli pada orang kecil, menderita dan terpinggirkan. 

(2) yang tidak peduli. 

Atas dasar itulah nanti pemisahan dilakukan. Dengan anugerahNya dan sambutan kita pada anugerah yang sangat berharga itu kiranya kita masuk dalam kelompok 1. 

Ada ungkapan berharga begini: “Jangan ingat kebaikan yang kamu lakukan kepada orang lain. Jangan pernah lupakan kebaikan orang yang engkau terima.”
Jangan ingat di sini berkaitan juga dengan “memperhitungkan” yang bisa menjerumuskan seseorang pada kesombongan. Misalnya dengan mengatakan, “kalau bukan karena aku, dia itu tidak jadi orang”. Atau, “dasar tak tahu diri, aku yang menyekolahkannya, aku yang memberi pekerjaannya sampai dia berhasil kaya”. Ini adalah cerminan menghitung-hitung apa yang dilakukan seseorang tanpa keikhlasan. 

Kita harus tetap berpegang pada kebenaran bahwa kita hanya bisa memberi dari apa yang kita terima. Yang kita terima dari Tuhan.
Dalam kaitan itu pula ungkapan “ikan teri ikan tenggiri, semakin memberi semakin diberkati” harus kita koreksi. Yang benar adalah “ikan tenggiri ikan teri, karena kita diberkati kita dapat memberi”. 

Di dalam doa kita bertemu dengan Kristus yang menanggung penderitaan dunia ini, di dalam pelayanan dan pemberian pertolongan kita bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan uluran hati dan tangan yang di tengah-tengah mereka Kristus hadir.

Pertanyaan Penting 


Namaku Joanna, aku saat ini sedang kuliah semester akhir di sebuah universitas negeri. Aku kuliah disebuah jurusan yang cukup favorit, yaitu jurusan Kedokteran. Sebuah jurusan – yang aku yakini – dapat membuat hidupku lebih baik di masa mendatang.
Bukan kehidupan yang hanya untukku, tetapi juga buat keluargaku yang telah susah payah mengumpulkan uang – agar aku dapat meneruskan dan meluluskan kuliahku. Kakakku juga rela untuk tidak menikah tahun ini, karena ia harus menyisihkan sebagian gajinya untuk membiayai tugas akhir dan biaya-biaya laboratoriumku yang cukup tinggi.

Hari ini adalah hari ujian semesteranku. Mata kuliah ini diampu oleh dosen yang cukup unik, dia ingin memberikan pertanyaan-pertanyaan ujian secara lisan. “Agar aku bisa dekat dengan mahasiswa.” katanya beberapa waktu lalu.

Satu per satu pertanyaan pun dia lontarkan, kami para mahasiswa berusaha menjawab pertanyaan itu semampu mungkin dalam kertas ujian kami. Ketakutanku terjawab hari ini, 9 pertanyaan yang dilontarkannya lumayan mudah untuk dijawab. Jawaban demi jawaban pun dengan lancar aku tulis di lembar jawabku.

Tinggal pertanyaan ke-10.

Ini pertanyaan terakhir.” kata dosen itu.“Coba tuliskan nama ibu tua yang setia membersihkan ruangan ini, bahkan seluruh ruangan di gedung Jurusan ini !” katanya.

Seluruh ruangan pun tersenyum. Mungkin mereka menyangka ini hanya gurauan, jelas pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang sedang diujikan kali ini.

Ini serius !” lanjut Pak Dosen yang sudah agak tua itu dengan tegas. “Kalau tidak tahu mending dikosongkan aja, jangan suka mengarang nama orang !”

Aku tahu ibu tua itu, dia mungkin juga satu-satunya cleaning service di gedung jurusan kedokteran ini. Aku tahu dia, orangnya agak pendek, rambut putih yang selalu digelung, dan ia selalu ramah serta amat sopan dengan mahasiswa-mahasiswa di sini. Ia selalu menundukkan kepalanya saat melewati kerumunan mahasiswa yang sedang nongkrong.

Tapi satu hal yang membuatku konyol.. aku tidak tahu namanya ! dan dengan terpaksa aku memberi jawaban ‘kosong’ pada pertanyaan ke-10 ini.

Ujian pun berakhir, satu per satu lembar jawaban pun dikumpulkan ke tangan dosen itu. Sambil menyodorkan kertas jawaban, aku memberanikan bertanya kepadanya kenapa ia memberi ‘pertanyaan aneh’ itu, serta seberapa pentingkah pertanyaan itu dalam ujian kali ini.

Justru ini adalah pertanyaan terpenting dalam ujian kali ini” katanya. Beberapa mahasiswa pun ikut memperhatikan ketika dosen itu berbicara.

Pertanyaan ini memiliki bobot tertinggi dari pada 9 pertanyaan yang lainnya, jika anda tidak mampu menjawabnya, sudah pasti nilai anda hanya C atau D !

Semua berdecak, aku bertanya kepadanya lagi, “Kenapa Pak ?”

Kata dosen itu sambil tersenyum, “Hanya yang peduli pada orang-orang sekitarnya saja yang pantas jadi dokter.” Ia lalu pergi membawa tumpukan kertas-kertas jawaban ujian itu.

Selamat hari Guru bagi para guru di sekolah, dosen di tempat kuliah dan juga buat para guru yang di rumah, yang dengan tekun mengajari anak-anak kita

Ruang kosong


Ayat bacaan: Yesaya 59:2

“tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”

Ketika saya kecil, saya pernah menangkap seekor lebah dalam botol. Saya ingat persis ketika itu saya sangat terpesona melihat gerakan terbangnya ke segala arah dalam botol itu. Betapa anggun dan indah terbangnya, seperti sebuah tarian gembira. Saat ini ketika saya mengingat hal tersebut, sebenarnya tidak ada tarian disana. Lebah tersebut mungkin sedang kalut, terbang mencari jalan keluar yang hasilnya sia-sia. Jika tutup botol tidak dibuka, cepat atau lambat lebah tersebut akan mati lemas kehabisan oksigen.

Banyak orang yang merasa kesepian, meskipun dia sedang berada ditengah-tengah gemerlap pesta. Tekanan demikian berasal dari sebuah ruang hampa di hati manusia. Bagian hati yang sunyi, sepi dan senyap, kosong dan hampa. Banyak orang yang mencoba lepas dari hal tersebut dengan lari pada hal-hal yang mereka pikir bisa melepaskan diri mereka dari kehampaan. Pesta narkoba, free sex, clubbing, dugem, kekerasan dan sejenisnya, sering menjadi pelarian. Tapi, sama seperti lebah diatas, sebenarnya tidak ada pesta apalagi sukacita. Ketika semuanya selesai, mereka akan kembali berhadapan dengan kehampaan.

Francis Blaise Pascal, seorang ahli fisika pernah berkata bahwa dalam hati manusia terdapat ruang kosong yang tak dapat diisi oleh apapun. Bagian ini seharusnya adalah milik Yesus. Hanya Yesus yang mampu memberikan sukacita terus menerus, memberikan rasa damai dan nyaman yang sesungguhnya. “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.” (Kis 2:28). Jika bagian itu masih kosong, mungkin itu disebabkan oleh dosa-dosa kita. Ya, kita bisa terpisah dari Tuhan kala kita dilingkupi dosa-dosa. Lihat ketika Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden, dosa memisahkan mereka dari Tuhan. Jika saat ini ruang hampa dalam hati anda terasa begitu menyiksa, bertobatlah, dan terima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi anda. Dan nikmati sukacita, damai sejahtera dan kasih karunia berkelimpahan mengalir dari ruang di hati anda yang tidak lagi hampa.

Hanya Yesus yang sanggup mengisi kekosongan dalam hati kita dan melimpahi kita dengan sukacita tanpa henti.