Arsip Kategori: Lain-lain

Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN)


Pada Forum G-20 di Pitsburg, Amerika Serikat dan COP 15 di Copenhagen tahun 2009, Indonesia telah meratifikasi konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa – Bangsa. Indonesia bersama-sama anggota masyarakat Internasional berupaya mencegah meningkatnya konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfir. Indonesia berkomitmen akan menurunkan emisi GRK sebesar 26% dengan upaya sendiri atau sampai dengan 41% pada 2020 dengan dukungan Internasional. Pembangunan rendah karbon merupakan agenda baru secara bertahap telah kita adaptasi melalui Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2015 untuk menuju Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur, dimana diproyeksikan pada tahun 2025 pendapatan per kapita sekitar 14.250-15.500 $ US dengan pertumbuhan riil 7-8%.

Untuk menuju Indonesia yang mandiri, maju, adil, makmur pada tahun 2025, pembangunan ekonomi sangat diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan (Pro-Growth) tanpa harus mengorbankan lingkungan (Pro-Environment). Pertumbuhan ekonomi meningkat untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi meningkat untuk menciptakan lapangan pekerjaan (Pro-Job), dengan adanya lapangan kerja diperlukan untuk meningkatkan pendapatan per kapita (Pro-Poor). Salah satu dari 8 agenda ekonomi khusus di bidang kehutanan adalah “GERAKAN INDONESIA BERSIH” dilakukan dengan mempertahankan Hutan Alam yanng masih baik dan memanfaatkan kayu dari hutan tanaman lestari serta merehabilitasi hutan dan lahan yang telah rusak.

Pemanasan global bukan merupakan fenomena alam biasa akan tetapi dikarenakan oleh aktivitas manusia yang tidak terkendali meng-emisi Gas Rumah Kaca ke atmosfer yang mengakibatkan temperatur atmosfer global meningkat. Emisi Gas Rumah Kaca/Green House Glasses (GHG’s) bersumber dari : (1). Emisi Energi 65%, Penggunaan Energi 24%, Transportasi 14%, Bangunan 8%, Industri 14% dan penggunaan energi lainnya 5%, (2). Non Emisi Energi 35% dari Penggunaan Lahan 18%, Pertanian 14%, Sampah 3%. Dampak pemanasan global nyata terjadi di se antero dunia termasuk Indonesia, apabila tidak segera dikendalikan dipastikan bumi akan terperangkap dalam Gas Rumah Kaca yang mengakibatkan terjadinya : Penurunan persediaan pangan, menipisnya persediaan air, kerusakan ekosistem, kondisi cuaca yang sangat ekstrim dan terjadinya resiko dari perubahan besar yang bersifat mendadak.

Perubahan iklim merupakan urusan global, masyarakat internasional memiliki kepentingan untuk melindungi hutan tropis Indonesia sebagai paru-paru dunia dan kita sendiri memiliki kepentingan untuk menjaga kelestariannya agar terhindar dari bencana alam seperti: Banjir bandang, kekeringan berkepanjangan dan tanah longsor yang dewasa ini sering terjadi. Sudah selayaknya negara industri maju peng-emisi terbesar dunia yang tidak memiliki hutan memberi kompensasi bantuan dan kerjasama kepada Indonesia dan negara berkembang lainnya untuk melestarikan dan merehabilitasi hutan dalam rangka antisipasi dampak pemanasan global. Indonesia berkomitmen akan menurunkan emisi sampai dengan 26% tanpa bantuan luar negeri (Bussiness as usual) atau 41% dengan bantuan pendanaan dari luar negeri pada tahun 2020. Dampak dan penyebab perubahan iklim telah kita pahami bersama, hal yang paling penting adalah merubah keadaan dengan aksi nyata, yang paling efektif dan murah dengan melakukan penanaman pohon secara masal. Sebagai perwujudan komitmen Indonesia dalam antisipasi perubahan iklim, Presiden RI pada peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) tahun 2009, di Padalarang Provinsi Jawa Barat, mengamanatkan: untuk menyelenggarakan Gerakan Penanaman minimal Satu Milyar Pohon setiap tahun yang diselenggarakan secara nasional dengan melibatkan seluruh komponen bangsa dalam rangka rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta antisipasi dampak perubahan iklim global.
Lahan kritis yang berada di dalam kawasan hutan negara maupun diluar kawasan hutan negara masih sangat luas. Di dalam kawasan, rehabilitasi hutan dilakukan dengan penanaman pohon pada kawasan hutan dengan fungsi konservasi, fungsi lindung dan fungsi produksi. Di luar kawasan, penanaman pohon dilakukan di wilayah pedesaan (rural-area) untuk pembangunan dan pengembangan hutan rakyat, dan tidak kalah pentingnya penanaman pohon di wilayah perkotaan (urban-area) untuk pembangunan dan pengembangan hutan kota tidak terkecuali penghijauan lingkungan kota. Pesatnya pembangunan sarana-prasarana fisik perkotaan mengakibatkan menyatunya, sentra perdagangan, kawasan industri, pusat perkantoran, pusat pendidikan, terminal transportasi (darat, udara, laut) dan wilayah pemukiman masyarakat yang saling dihubungkan dengan jaringan trasportasi, telekomunikasi, listrik yang melembaga menjadi wilayah perkotaan. Pembangunan perkotaan yang hanya mengedepankan pembangunan fisik wilayah dan mengutamakan pertumbuhan ekonomi cenderung mengorbankan aspek lingkungan dengan menghilangkan bentang alam hamparan pepohonan pada ruang terbuka hijau sebagai paru-paru wilayah perkotaan. Di satu sisi, pesatnya penggunaan teknologi industri, transportasi dan pemanfaatan pendingin udara, secara signifikan telah menghasilkan polutan dan material organik beracun lainnya yang secara signifikan telah meningkatkan pencemaran udara wilayah perkotaan. Di sisi lain, minimnya hamparan alami pepohonan yang berfungsi sebagai paru-paru kota secara signifikan telah menurunkan kemampuan penyerapan CO, CO2, debu timbal dan bahan organik beracun lainnya. Kondisi tersebut apabila tidak ditangani akan terjadi “Ironi Pembangunan Perkotaan” wilayah perkotaan maju pesat secara fisik-ekonomi namun mengalami kemunduran dari aspek ekologis. Masyarakat perkotaan terperangkap dalam lingkungan hidup yang tidak sehat (banjir, udara panas, polusi udara dan air tanah, wabah penyakit, bau menyengat tidak sedap dll) yang telah kita ciptakan sendiri. Alhasil, biaya lingkungan (environment-cost) yang dikeluarkan jauh lebih besar dari keuntungan yang diperoleh (advantage-gain).

Akar permasalahan terjadinya ironi pembangunan perkotaan adalah dis-harmonisasi pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) versus pembangunan sarana-prasarana fisik perkotaan lainnya. Idealnya, ruang terbuka hijau wilayah perkotaan minimal 30 % dari luas Kabupaten/Kota dan luas Hutan Kota minimal 10 % dari luas Kabupaten/Kota yang menjadi bagian dari ruang terbuka hijau. Hutan Kota merupakan salah satu komponen penting dari ruang terbuka hijau dan keberadaannya sangat strategis untuk menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem wilayah perkotaan. Sepuluh tahun terakhir, kesadaran masyarakat akan arti penting hutan kota meningkat. Keberadaan hutan kota ditengah-tengah masyarakat perkotaan sangat dirasakan utamanya masyarakat urban di kota-kota besar. Hal tersebut ditandai dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten/Kota membangun dan mengembangkan Hutan Kota pada ruang terbuka hijau. Bahkan ada kebijakan pemerintah Kabupaten/Kota me-refungsi bangunan fisik pada ruang terbuka hijau yang tidak sesuai peruntukannya menjadi Hutan Kota. Mengingat keterbatasan dan tingginya nilai ekonomi lahan perkotaan, maka bentuk Hutan Kota dapat disesuaikan dengan ketersediaan lahan yang ada, tentunya tanpa mengurangi tujuan & fungsi Hutan Kota.

• Hutan Kota dapat berbentuk jalur mengikuti alur ruang terbuka hijau sepanjang jalan tol, sepadan sungai, rel kereta api, sepadan pantai dll.
• Pada komplek pemukiman, perkantoran, perdagangan, tempat peribadatan, lingkungan sekolah dll pembangunan Hutan Kota dapat berbentuk menyebar/terpencar sesuai dengan ketersediaan ruang terbuka hijau yang tidak luas dan sporadis.
• Pada kawasan industri, tempat rekreasi, bandara, pelabuhan dan fasilitas umum lainnya yang memiliki ruang terbuka hijau cukup luas dapat berbentuk hamparan hutan kota buatan (artificial forest) yang fungsinya menyerupai fungsi hutan alami.
Jenis pohon pembangunan Hutan Kota yang dipilih harus memiliki karakteristik spesifik sesuai dengan tujuan, fungsi Hutan Kota dan lokasi pembangunan Hutan Kota di kawasan pemukiman, industri, rekreasi, pelestarian plasma nutfah, kawasan perlindungan setempat. Karakteristik pohon yang dipilih adalah jenis pohon yang secara alamiah memiliki kemampuan untuk: penghasil oksigen, penyerap karbondioksida, pengikat polusi udara, peresap air tanah, penahan angin, peredam kebisingan, penghasil bunga/buah yang digemari satwa, bentuk pohon yang indah dan unik, memiliki perakaran kuat, tidak mudah patah.

Gerakan Penanaman Satu Milyar Pohon merupakan gerakan nasional yang harus kita sukseskan dalam rangka untuk rehabilitasi hutan dan lahan kritis diseluruh wilayah Indonesia dan sebagai komitmen dan kepedulian Bangsa Indonesia dalam antisipasi dampak perubahan iklim. Gerakan Penanaman Satu Milyar Pohon diperlukan upaya, kesungguhan, terus menerus dan keterlibatan seluruh komponen masyarakat. Oleh karena itu, kesadaran akan arti penting menanam pohon dan semangat masyarakat untuk menanam pohon senantiasa ditingkatkan. Disamping itu, hal yang sangat penting adalah penyediaan bibit yang memadai dan terjangkau masyarakat di propinsi, kabupaten/kota sampai ke desa-desa diseluruh Indonesia. Untuk mensukseskan aksi Penanaman Satu Milyar Pohon, diharapkan:

  • Ompui Eporus secara terus menerus menghimbau di tingkat pimpinan, Distrik, Resort dan Uluan ikut berkontribusi melaksanakan Penanaman Satu Milyar Pohon.

Untuk memastikan keberhasilan penanaman, adalah agar supaya : pohon yang telah ditanam dipelihara, dirawat dan disulam apabila ada yang mati serta dijaga agar tumbuh seperti yang diharapkan (reforestation and regreening). Disamping itu, menjaga hutan yang masih bagus dari pembalakan liar (combat illegal logging ), mencegah perambahan kawasan hutan (avoid deforestation ), mencegah kebakaran (avoid forest fire )dan gangguan lain yang dapat merusak kelestarian hutan serta hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga dan mengelola lahan gambut dengan baik.
Bumi yang kita tempati ini harus dijaga dan akan kita wariskan kepada generasi mendatang. Untuk merehabilitasi hutan dan lahan yang telah rusak perlu dilakukan penanaman pohon yang harus menjadi suatu gerakan penanaman diseluruh pelosok tanah air yang dilakukan sepanjang tahun dengan melibatkan seluruh komponen bangsa. Kita harus optimis, apabila gerakan penanaman minimal satu milyar pohon setiap tahun dengan sungguh-sungguh maka tiga puluh tahun mendatang indonesia akan berubah total menjadi negara yang memiliki hutan baik dan lingkungan hijau untuk meningkatkan kesejahterakan masyarakat Indonesia sendiri dan dapat menjadi sumbangan dunia dalam upaya antisipasi perubahan iklim dan pemanasan global.Dan diharapkan kepada kita seluruhnya Tanam lah 25 pohon per orang selama hidup, dengan gerakan ini kita akan merasakan manfaatnya.

St.Drs.Manonggor Sihombing, M.Si
Mantan Kepala BB.TAHURA BANTEN

Tata Ibadah Arisan, disadur dari Buku Ibadah Harian, edisi Mei – Juni 2018


Tata Ibadah Arisan (Bahasa Indonesia)
L : Liturgi; J: Jemaat; S: Semua

1. Saat Teduh

2. Bernyanyi KJ No. 355: 1-2 “Yesus Memanggil”
Yesus memanggil, “Mari seg’ra!” Ikutlah jalan s’lamat baka; jangan sesat, dengar sabda-Nya, “Hai marilah seg’ra!” Sungguh, nanti kita ‘kan senang, bebas dosa hati pun tent’ram. Bersama Yesus dalam terang di rumah yang kekal.
Hai marilah, kecil dan besar, biar hatimu girang benar. Pilihlah Yesus jangan gentar. Hai mari datanglah! Sungguh, nanti kita ‘kan senang, bebas dosa hati pun tent’ram. Bersama Yesus dalam terang di rumah yang kekal.

3. Invocatio – Doa
L : Di dalam Nama Allah Bapa, dan Nama Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus, dan dalam Nama Roh Kudus yang menciptakan langit dan bumi.
S : Amin
L : TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.
J : Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.
L : Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,
J : tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;
L : sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Haleluya
Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah kami, kami berkumpul saat ini di tengah-tengah persekutuan dan perkumpulan yang telah Engkau jadikan bagi kami, kami mengucap syukur kepada-Mu sebab sesungguhnya telah kami rasakan tuntunan dan penyertaan Tuhan dalam hidup kami. Tidak ada yang dapat memberikan hal yang begitu besarnya kepada kami, hanya karena kasih dan anugerah-Mulah yang membuat kami dalam keadaan sehat sampai saat ini. Karena itu kami meminta, berikanlah berkat-Mu kepada kami yang berkumpul saat ini di dalam nama Putra-Mu Yesus Kristus Tuhan kami.
S : Amin

4. Bernyanyi KJ No. 362: 1 “Aku milikMu, Yesus, Tuhanku”
Aku milik-Mu, Yesus, Tuhanku; kudengar suara-Mu. ‘Ku merindukan datang mendekat dan diraih oleh-Mu. Raih daku dan dekatkanlah pada kaki salib-Mu. Raih Daku, raih dan dekatkanlah ke sisi-Mu, Tuhanku.

5. Mazmur Pujian. Mazmur 98: 1-9
L : Marilah kita membaca Firman Tuhan yaitu dari Kitab Mazmur 98: 1-9.
Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
J : TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa.
L : Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.
J : Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!
L: Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring,
J : dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN!
L : Biarlah gemuruh laut serta isinya, dunia serta yang diam di dalamnya!
J : Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersorak-sorai bersama-sama
L : di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kebenaran. Demikian Firman Tuhan. Berbahagialah orang yang mendengar Firman Allah serta memeliharanya.
S : Amin.

6. Bernyanyi KJ No. 57: 1 “Yesus, Lihat umat-Mu”
Yesus, lihat umat-Mu, yang mendamba Kau berfirman, dan arahkan pada-Mu, hati dan seluruh ind’ra, hingga kami yang di dunia, Kau dekatkan pada sorga.

7. Renungan

8. Bernyanyi KJ No. 363: 4 “Bagi Yesus Kuserahkan”
O, betapa mengagumkan! Maharaja semesta. Mau memanggilku sahabat; aku dilindungi-Nya! Bagi Yesus semuanya aku dilindungi-Nya!. Bagi Yesus semuanya; aku dilindungi-Nya!

9. Doa Syafaat

10. Bernyanyi KJ No. 370: 1 — “Ku Mau Berjalan Dengan Jurus’lamatku” (Persembahan)
‘Ku mau berjalan dengan Jurus’lamatku, di lembah berbunga dan berair sejuk. Ya, ke mana juga aku mau mengikut-Nya.
Sampai aku tiba di neg’ri baka.
Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus; ‘ku tetap mendengar dan mengikut-Nya.
Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus; ya, ke mana juga ‘ku mengikut-Nya!
‘Ku mau berjalan dengan Jurus’lamatku di lembah gelap, di badai yang menderu. Aku takkan takut di bahaya apa pun,
bila ‘ku dibimbing tangan Tuhanku.
Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus; ‘ku tetap mendengar dan Mengikut-Nya. Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus; ya, ke mana Juga ‘ku mengikut-Nya!

11. Doa Penutup (Doa Bapa Kami – Berkat) Menyanyikan: Amin-Amin-Amin.

Partording Ni Acara Arisan, dari Buku Ibadah Harian edisi Mei – Juni 2018


Partording Ni Acara Arisan (Bahasa Batak)
L : Liturgi; R: Ruas; S: Sude

1. Pangaradeon

2. Marende BE No. 14: 1-2 “Puji Hamu Jahowa Tutu”
Puji hamu Jahowa tutu, Pardengganbasa, parasiroha salelengna i. Pardengganbasa i, parasiroha i.
Ingot tongtong, ale tondingkon, Sude na denggan na dipasonggop Debata tu ho. Denggan basaNa do na pangoluhon ho.

3. Invocatio – Doa
L : Marhitehite Goar ni Debata Ama dohot Goar ni AnakNa Tuhan Jesus Kristus dohot Goar ni Tondi Parbadia na tumompa langit dohot tano on.
S : Amen
L : Parasi roha jala pardengganbasa do Jahowa, lambat tarrimas jala parasiroha godang.
R : Ndang tongtong Ibana manorui, jala ndang gotos rohana saleleng ni lelengna.
L : Ndang dibahen tu hita hombar tu angka dosanta, jala ndang dibaloshon tu hita hombar tu angka hajahatonta.
R : Ai songon dao ni langit sian tano on do gogo ni asi ni rohana di angka na mangkabiari Ibana.
L : Songon dao ni habinsaran sian hasundutan dipadao Ibana sian hita angka pangalaosintai. Haleluya!
Martangiang ma hita: Ale Tuhan Debata, na marpungu do hami dibagasan punguan na pinajongjongMon, mandok mauliate do rohanami tu Ho ai tongtong do diiringiring Ho hami sahat tu sadari on. Ale Tuhan, ndang adong sipangasahonon nami di ngolu on, ia so holan pangurupion dohot panogunoguonMu di hami. Antong, i do na hupangido hami sian Ho di na marsaor hami dohot Ho di partangiangan on, asa urupi jala togutogu hami mandalani ngolunami marhitehite Tuhan Jesus Kristus Tuhannami.
R : Amin

4. Marende BE No. 471 : 3 “Hupilit Jesus Donganki”
Rohangku baen ingananMi, patiur ma langkangku, Huhatindangkon ma disi: Ho Jesus palitongku. Di Ho ngolungku ro diajalhu Jesus di Ho au mate, mangolu. Di Ho ngolungku ro diajalhu, Jesus di Ho au mate, mangolu.

5. Pamujion Tu Debata (Psalmen 98: 1-9)
L : Endehon hamu ma di Jahowa ende na imbaru sada, ai nunga dipambahen Ibana angka halongangan; nunga ditumpahi siamunna i dohot tanganna na badia i Ibana.
R : Nunga dipabotohon Jahowa hatuaonna i, nunga dipapatar Ibana hatigoranna i di adopan ni angka parbegu.
L : Nunga diingot Ibana asi ni rohana dohot hasintonganna tu bagas ni Israel, nunga diida luhut ujung ni tano on hatuaon ni Debatanta.
R: Marsuraksurak ma ho, ale sandok tano on, mangolophon Jahowa, pangiar ma soaram marolopolop, jala marende ma hamu.
L : Puji hamu ma Jahowa, marangkup arbap, mardongan arbap dohot soara ni ende!
R : Marolopolop ma hamu di jolo ni Raja Jahowa, mardongan sarune dohot soara ni sangka.
L : Mardorom ma laut ro di isina, portibi on ro di pangisina i.
R: Martopaptopap ma angka batang aek, rap marolopolop ma angka dolok.
L : Dijolo ni Jahowa, ai nunga ro Ibana laho manguhum tano on, uhumonna ma portibi on marhitehite hatigoran dohot angka bangso marhitehite hasintongan.
Ido sahatna. Martua do na tumangihon Hata ni Debata jala na umpeopsa
S : Amen

6. Marende BE No. 30 : 1 “Jesus Lehon Hatorangan”
Jesus lehon hatorangan, Hapistaran mangantusi hataMi. Lehon mata na marnida, dohot roha na umboto dalanMi. Asa tongtong maradophon. BohiMi mardalan hami, Asa digomgomi TondiMi ma hami.

7. Renungan

8. Marende BE No. 115 : 3 “Tuhan Debata”
Sai parbadiai, Sai tongtong rajai. Ale Tondi Porbadia, rohanami asa ria, mangoloi hataM Hombar tu rohaM.

9. Tangiang Pangondianon.

10. Marende BE No. 435 : 1 … “Marolopolop Tondingki” (Pelean)
Marolopolop tondingki ai naung di tobus Jesus i.
Hamu sude, bege ma i, sai las ro hangku mandok i.
Sonang ni tingki i, dung jumpang Jesus Tuhanki. Tondi na mangajari au, tarbaen marlasni roha au ! Sonang ni tingki i, dung jumpang Jesus Tuhanki.
Dihaol holongna rohangki, tung na so boi be mago i.
MataNa do manatap au, pinggolNa tumangihon au.
Sonang ni tingki i, Dung jumpang Jesus Tuhanki. Tondi na mangajari au, tarbaen marlasni roha au ! Sonang ni tingki i, dung jumpang Jesus Tuhanki.
Tu Jesus sahat ngolungki saleleng ni lelengna i.
Rap dohot au endehon ma, endengku na imbaru da.
Sonang ni tingki i, Dung jumpang Jesus Tuhanki. Tondi na mangajari au, tarbaen marlasni roha au ! Sonang ni tingki i, dung jumpang Jesus Tuhanki.

11. Tangiang Ale Amanami – Pasupasu – Mangendehon: Amen-Amen-Amen.

MANGKOK TANPA ALAS


Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis.

Sang raja menyapa pengemis ini, “Apa yang engkau inginkan dariku?”
Si pengemis itu tersenyum dan berkata, “Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba.”

Sang raja terkejut, ia merasa tertantang, “Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!”

Maka sang pengemis berkata, “Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa.”

Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis. Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang pengemis. “Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Aku adalah raja yang paling berkuasa dan kaya-raya.”

Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis
itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah,”Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan.”

Bukan main! Raja menjadi geram mendengar ‘tantangan’ pengemis dihadapannya. Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas!

Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah.

Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh
perbendaharaan kerajaan: emas, intan berlian, telah habis dilahap mangkuk sedekah itu.

Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang. Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis, ternyata dia bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya, “Sebelum berlalu dari
tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?”

Pengemis itu menjawab sambil tersenyum, “Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas.
Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya”. Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah
mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu.

Semuanya hilang, emas, intan, berlian yang masuk dalam mangkuk yang tak beralas itu. Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hilang dalam proses untuk mendapatkan keinginan.
Begitu seterusnya, selalu datang keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan.” Anak cucumu kelak mengatakan: power tends to corrupt; kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak.

Raja itu bertanya lagi, “Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?”
Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Tuhan. Jika engkau pandai bersyukur, Tuhan akan menambah hikmat padamu,” Ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang.

Petunjuk Pelaksanaan Ibadah Harian Keluarga


1. Mengambil sikap saat teduh
2. Pemimpin ibadah membacakan, “Panggilan beribadah: Kita Hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin!”
3. Menyanyikan pujian bersama sesuai lagu yang ditentukan
4. Membaca Firman Tuhan (salah seorang anggota keluarga yang telah ditentukan), dengan berkata: Bacaan Firman Tuhan tertulis pada …, marilah kita membacanya secara responsoria
5. Pemimpin ibadah membacakan ayat renungan dengan berkata, “Ayat Firman Tuhan yang menjadi renungan bagi kita pada hari ini tertulis dalam …“ (membaca ayat bagian kanan atas)
6. Pemimpin ibadah melanjutkan dengan pembacaan penjelasan ayat renungan
7. Pembacaan penjelasan ayat renungan diakhiri dengan kata, “Amin!” Kemudian dilanjutkan dengan berdoa oleh salah seorang anggota keluarga)
8. Setelah selesai berdoa, pemimpin ibadah kembali mengajak bernyayi
9. Selesai bernyanyi, pemimpin ibadah mengajak bersama-sama mengucapkan Doa Bapa Kami
10. Setelah, “Amin!” Semua menyanyikan lagu nyanyian bagian akhir
11. Ibadah selesai
12. Seluruh anggota keluarga bersalaman dalam kehangatan berjumpa dalam Tuhan!

Amin


Amin dalam bahasa Ibrani: אָמֵן, Standar amen Tiberias ʾāmēn; bahasa Yunani: ἀμήν, amen; Arab: آمين‎/أٰمِيْنَ, ʾāmīn; bahasa Inggris: Amen) merupakan sebuah kata yang dalam bahasa Ibrani berarti pasti atau tentu. Kata ini menjadi jawaban liturgis yang dengannya para penyembah mengidentifikasi diri dengan doa pujian atau doa permohonan sebelumnya. Kata ini diucapkan di belakang ucapan-ucapan yang khidmat, misalnya ucapan berkat atau memuliakan Allah.[ Kata Amin tersebut sering mengawali wacana Yesus dalam Injil Yohanes dan merupakan ungkapan keyakinan Yesus akan kekuasaan-Nya. menggunakan kata ini untuk menekankan ucapan-Nya. Kata Amin juga sering dipakai sebagai penutup doa. Jika di dalam doa, kata ini berarti “Allah pasti mendengarkan doa ini”.

Dalam Perjanjian Lama, kata Amin dipakai untuk sebuah ungkapan persetujuan (1 Raj 1:36; Yer 11:5), ungkapan mengumpat (Bil 5:22; Ul 27:15-26 dan lain-lain); juga dipakai untuk ungkapan pengukuhan (Yer 28:6). Dalam arti akhir dipakai sebagai pujian Allah, dalam sebuah doksologi atau sebuah permohonan (1Taw 16:36; dan penutupan Kitab Mazm pertama dan ke empat; (Mazm 1:1-4:8). Dalam PB, ungkapan persetujuan dalam upacara liturgi (1Kor 14:16; Wahy 5:14). Diungkapkan pula dalam penutupan doa dan doksologi (Mis.: Rom 1:25; 9:5; 11-36) bukan sebagai persetujuan, melainkan sebagai permohonan, agar dipenuhi perjanjian-perjanjian Tuhan. Yesus sendiri adalah satu-satunya yang mendahului putusannya dengan ~A. (: sungguh demikian) dan dengan demikian Yesus menjamin kebenaran sebutannya dengan kata ~A. itu.

Sebongkah emas bertemu dengan sebongkah tanah


Emas berkata pada tanah, “Coba lihat pada dirimu, suram dan lemah, apakah engkau memiliki cahaya mengkilat seperti aku…….?
Apakah engkau berharga seperti aku……. ?”

Tanah menggelengkan kepala dan menjawab, “Aku bisa menumbuhkan bunga dan buah, bisa menumbuhkan rumput dan pohon, bisa menumbuhkan tanaman dan banyak yg lain, apakah kamu bisa……. ?”

Emas pun terdiam seribu bahasa……

Dlm hidup ini banyak orang yang seperti emas, berharga, menyilaukan tetapi tdk bermanfaat bagi sesama.

Sukses dlm karir, rupawan dlm paras, tapi sukar membantu apalagi peduli.

Tapi ada juga yg seperti tanah. Posisi biasa saja, bersahaja namun ringan tangan siap membantu kapanpun.

Makna dari kehidupan bukan terletak pada seberapa bernilainya diri kita, tetapi seberapa besar bermanfaatnya kita bagi orang lain.

Jika keberadaan kita dapat menjadi berkah bagi banyak orang, barulah kita benar- benar bernilai.

Apalah gunanya kesuksesan bila itu tidak membawa manfaat bagi orang disekeliling kita.

Apalah arti kemakmuran bila tidak berbagi pada yg membutuhkan.

Apalah arti kepintaran bila tidak memberi inspirasi di sekeliling kita.

Karena hidup adalah proses, ada saatnya kita memberi dan ada saatnya kita menerima.

Amsal 11:25
Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.