Arsip Kategori: Lain-lain

Iman dan Perbuatan


Suatu hari seorang utusan malaikat dan tentara iblis berjalan bersama mereka bertanya satu sama lain.
“Kira2 lebih banyakan mana ya pengikut kristus ataukah pengikut iblis??” tanya tentara iblis
“Untuk mengetahui jawabanya, gimana kalau kita survey saja selama satu bulan kegiatan manusia” balas malaikat.
“Ok setuju, kalu begitu kita mulai survey hari Minggu besok ya..” kata tentara iblis
“Okelah kalu begitu” jawab Malaikat.
Keesokan harinya mulailah keduanya berjalan untuk melakukan survey, dan mereka memulai survey dari gereja yang besar. Disana didapati begitu banyak manusia yang sangat semangat beribadah, menyanyi bersorak sorai memuji Tuhan. Malaikat merasa lega dia berkata dalam hatinya “Syukurlah ternyata gereja pertama tidak mengecewakan masih banyak juga ternyata manusia yang mau ikut Tuhan.” Berikutnya didatangi gereja gereja lain dan hasilnya pun tetap sama, hampir semua gereja yang didatangi menunjukkan hasil yang optimal dan malaikat pun merasa puas dan senang.
Hari berikutnya Si Iblis dan Malikat melanjutkan surveynya dan baru setengah jalan tiba tiba terdengarlah oleh mereka “Maaf nyonya, ampuuunnn… ampuni saya, saya bukan yang mengambil uang nyonya..” setelah keduanya mendekati sumber suara itu ternyata seorang anak kecil sedang menagis menahan sakit pukulan karena dituduh mengambil uang milik majikanya, yang ternyata majikanya adalah salah seorang yang datang dalam persekutuan gereja kemarin.
Melihat hal itu malaikat menjadi sedih..
Hari berikutnya lagi mereka melanjutkan misinya, mereka berjalan lagi dan tiba-tiba mereka melihat kejadian yang hampir sama dimana anak-anak Tuhan yang dijumpai mereka begitu bersemangat beribadah di hari Minggu ternyata di hari-hari biasa tidak sedikit dari anak-anak Tuhan yang melakukan kegiatan-kegiatan yang menyedihkan hati Tuhan..
Malaikat pun sangat sedih..
“Kalau begitu mana yang lebih banyak pengikutnya hai malaikat, Iblis ataukah Tuhan??” tiba tiba pertanyaan si Iblis mengejutkan Malaikat yang sedang bersedih.
“Ternyata masih tetap banyak ya pengikut Tuhan pada tiap Hari Minggu Saja,, Selebihnya kamu dapat melihatnya sendiri..” jawab Malaikat dengan sedihnya..
Teman-teman,, setelah membaca ilustrasi diatas kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwasanya Tuhan tidak menginginkan kita hanya datang padaNya tiap Hari Minggu dengan bungkusan diri yang semu.
Tuhan inginkan Kita menjadi pribadi pribadi yang bisa mengenalkan namaNya kepada dunia dengan perbuatan nyata kita kepada sesama.
Kita adalah gambaranNya, marilah kita tunjukkan, kita kenalkan Dia kepada mereka yang belum percaya melalui tindakan nyata kita, agar namaNya semakin dipermuliakan di Bumi dan di Sorga.

Memperbesar Kapasitas


Lukas 12:31
Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.

Seorang karyawan muda berdoa tiap hari sejak ia tahu ada undian berhadiah mobil jaguar pada sebuah bank. Kebetulan ia punya rekening di bank itu. Ia berdoa sambil memaksa Tuhan mengabulkan permintaannya. Pada akhirnya ia memiliki mobil jaguar itu. Ia membayar pajak undian dengan berhutang pada bank. Suatu hari mobilnya harus di-service dan ada penggantian spare-part yang menghabiskan biaya belasan juta. Terpaksa ia harus memakai kartu kreditnya untuk membayar tagihan. Keesokannya ia sakit karena stres dan seringkali hanya makan ‘makanan seadanya’ untuk menghemat uang.

Mobil mewah, jabatan bagus, status sosial, gaji besar, pernikahan dan sebagainya. Kita semua pasti menginginkannya. Jika kapasitas kita tidak memadai untuk mendapatkan hal-hal tersebut, nasib kita akan sama seperti karyawan tadi. Tuhan ingin agar umat-Nya hidup bahagia, namun jika kapasitas mereka tidak mampu menampung berkat besar, hidup malah akan menderita – bukannya bahagia.

Tuhan hanya akan mempercayakan perkara-perkara besar pada mereka yang siap, pada mereka yang selalu berusaha memperbesar kapasitas, hidup berkarakter sesuai dengan buah Roh, dan hidup dengan aturan main yang Tuhan telah atur dalam Alkitab. Seberapa besar kapasitas Anda saat ini? Jika kapasitas kita sudah besar di mata Tuhan, tanpa harus meminta – Dia pasti akan memberikan hal-hal luar biasa pada kita.

Perbesar terlebih dahulu kapasitas Anda dalam Tuhan, maka Iapun akan mencurahkan berkat-Nya atas Anda.

Harta Warisan


Dua bersaudara dari keluarga yang berkecukupan. Setelah kematian kedua orang tuanya, mereka kini harus membagi harta warisan yang ditinggalkan. Namun setelah harta tersebut dibagikan, kedua bersaudara ini tidak pernah hidup rukun dan damai. Sang kakak menuding bahwa adiknya mewarisi lebih banyak dari yang dimilikinya. Sang adik juga menuding hal yang sama terhadap kakaknya, bahwa sang kakak memiliki harta warisan lebih banyak dari yang diwarisinya. Keduanya saling menuding bahwa pembagian harta tersebut tidaklah adil dan seimbang.

Mereka sudah melewati berbagai proses hukum, namun tetap saja persoalan mereka tak dapat diatasi secara memuaskan. Semua nasihat tak pernah berhasil. Semua keputusan seakan tawar. Keduanya tak dapat menerima semua nasihat dan keputusan yang diberikan.

Setelah mencari dan mencari akhirnya mereka menemukan seorang guru yang bijak. Kedua bersaudara tersebut datang ke hadapannya dengan harapan bahwa duri yang selama ini menusuk daging dan menghancurkan hubungan persaudaraan mereka dapat dikeluarkan.

Sang bijak bertanya kepada sang kakak, “Anda yakin bahwa harta yang dimiliki adikmu melebihi warisan yang engkau terima?” Sang kakak dengan penuh yakin menjawab, “Sungguh demikian!”

Sang bijak lalu berpaling kepada sang adik dan mengulangi pertanyaan yang sama, “Anda yakin bahwa kakakmu mewarisi harta peninggalan orang tua lebih dari pada yang anda peroleh?” Dengan keyakinan yang sama sang adik menjawab, “Ya demikianlah!”

Sang bijak lalu memberikan sebuah perintah kepada keduanya, “Kumpulkan semua harta yang telah diterima masing-masing dan serahkan itu kepada yang lain.” Sang kakak menyerahkan semua harta warisan yang diperolehnya kepada adiknya, demikian pula sang adik menyerahkan harta warisan yang diperolehnya kepada sang kakak. Dan sejak itu tak ada lagi pertentangan karena harta warisan di antara mereka berdua.

Kita senantiasa mengira bahwa nasib orang lain selalu lebih baik dari diri sendiri, bahwa orang lain lebih diberkati Tuhan dari pada diri kita sendiri. Kita lupa bahwa Tuhan mencintai setiap insan dengan cinta yang sama. Kita mungkin hanya mampu melihat berkat yang kelihatan yang dimiliki orang lain, namun lupa untuk melihat berkat-berkat berlimpah yang diberikan Tuhan atas diri kita namun sulit dilihat oleh kasat mata.

Lihatlah dirimu dari sudut pandangan yang lain, maka anda akan dipenuhi keharuan dan rasa syukur yang mendalam. Tuhan mencintaimu!

Berdiri Teguh Dalam Iman


Ibrani 4 : 14 – 16

Ada seorang yang paling gemar berpetualang, dan ia melakukannya seorang diri; ia tidak suka ditemani atau didampingi oleh orang lain. Dan lokasi yang jadi kesukaannya adalah hutan belantara. Setiap kali ia melakukan perjalanannya, ia tidak pernah melupakan alat ini; yaitu KOMPAS. Karena itu, ia berusaha menjaganya, jangan sampai alat tersebut hilang atau pun tercecer.

Kali ini ia mengambil keputusan untuk merambah hutan belantara yang sangat menantang dengan alamnya yang keras dan buas. Dan sebelum ia memasuki kawasan tersebut, ia terlebih dahulu melapor di pos penjagaan. Sebenarnya agak berat petugas memberi izin kepadanya karena ia tidak membawa pendamping bahkan menolak untuk didampingi. Namun karena ia sudah dikenal, maka petugas jaga mempersilahkan dengan satu ketentuan bahwa jika dalam waktu 3-5 hari ia tidak keluar dari hutan tersebut maka itu tandanya ia sedang mengalami kesulitan dan membutuhkan pertolongan dari seorang pandu yang mengenal kondisi dari belantara tersebut. Ia pun menyetujui hal tersebut bahkan ia memberi jaminan bahwa dalam tempo 3 hari ia akan keluar dari belantara tersebut tanpa mengalami kesulitan.

Singkat cerita,
Hari pertama semuanya berjalan biasa-biasa saja. Satu demi satu rintangan ia dapat lalui. Hari kedua pun demikian. Tetapi pada hari yang ketika, ia bertemu dengan seekor harimau yang nampak kelaparan. Baginya, situasi seperti ini sudah menjadi hal yang biasa. Ia tahu apa yang harus dia lakukan. Tetapi ketika ia melangkah mundur, tiba-tiba kakinya terperosok dan ia pun jatuh ke dalam jurang yang cukup dalam. Kompas yang menjadi andalannya pun hancur karena terbentur batu. Untuk beberapa jam, ia tak sadarkan diri. Dan saat ia sadar, ia berusaha untuk bangun namun ia tidak mampu karena kakinya terjepit di antara bebatuan. Ia terus berusaha, mengerahkan seluruh tenaganya namun usahanya sia-sia.

Hari keempat berlalu, demikian juga hari kelima dan seterusnya. Ia tidak bisa lagi berbuat apa-apa dan sekarang ia pasrah menerima nasibnya.

Tapi apa yang terjadi di pos jaga. Petugas mulai merasa kuatir tentang kondisi sang petualang. Ia tahu bahwa telah terjadi sesuatu sehingga sang petualang tidak bisa keluar dari belantara tersebut. Karena itu diutuslah seorang pandu untuk mencari jejak sang petualang. Dan sebagai seorang pandu, ia tahu tempat mana yang paling rawan dan ke tempat itulah yang ia tuju. Ia pun menemukan sang petualang dalam kondisi yang sekarat; haus, lapar dan penuh dengan luka, bahkan tubuhnya sudah sangat lemah karena telah kehilangan banyak darah.

Saudaraku..
Sadarkah kita bahwa kisah ini menunjuk pada realita hidup kita sebagai manusia yang berdosa. Kita jatuh, bahkan terjatuh ke dalam jurang yang paling dalam. Kondisi saudara dan saya sebelum mengenal Kristus dan berjumpa dengan Kristus tidak lebih dari sang petualang yang sedang sekarat dan tak dapat berbuat apa-apa lagi. Kita harus jujur mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang kita miliki untuk dapat kita dijadikan sebagai andalan kembali ke sorga. Dosa membelenggu kehidupan kita; ia menindih hidup saudara dan saya dari kiri-kanan, muka-belakang bahkan dari atas dan dari bawah. Dan dalam kondisi seperti ini, apa yang dapat kita buat? Tidak ada yang bisa kita buat! Kita hanya bisa berharap belas kasihan.

Dan di sinilah hebatnya iman Kristen.
Seisi sorga gelisah memikirkan keselamatan saudara dan saya. Karena itu, sorga menyapa bumi: “di manakah engkau?”. Yesus Kristus telah melintasi semua langit, Ia turun dari sorga; Ia masuk ke dalam jurang yang paling dalam, yang dalam Credo Apostolicum dikatakan: “turun ke dalam kerajaan maut”. Ya….Ia turun ke tempat di mana saudara dan saya berada. Ia masuk ke tempat itu, untuk mengangkat kita dari sana.

Di sinilah hebatnya iman Kristen!
Bukan manusia yang mencari Allah, tetapi Allah yang mencari manusia.
Allah tahu….
Allah mengerti, bahwa kita dalam kondisi sekarat karena dosa. Allah turut merasakan kondisi saudara dan saya. Ia merasakan kelemahan-kelemahan saudara dan saya.
Kondisi saudara dan saya seperti seorang yang sudah kehilangan banyak darah, dan kita butuh transfusi darah segar dan darah yang sehat. Kita butuh darah yang tidak terkontaminasi oleh dosa. Dan darah itu adalah DARAH YESUS, darah yang memberi kehidupan baru dan oleh darah itu kita menjadi sembuh.

Di sinilah hebatnya iman Kristen!
Allah tidak butuh korban darah dari manusia. Allah kita bukanlah Allah yang sedang sekarat dan butuh perhatian dari saudara dan saya. Allah kita adalah Allah yang hebat, yang rela mengorbankan diriNya untuk menebus hutang dosa kita. Allah kita adalah Allah yang hebat, Allah yang merelakan darahNya ditumpahkan untuk menyucikan segala noda dan dosa.

Saudaraku…
Inilah yang saya hendak tekankan agar anda tidak ragu atas iman anda yaitu bahwa Yesus adalah Imam Besar yang punya kapabilitas untuk menolong dan menyelamatkan hidup anda. Yesus sanggup menolong anda; seberat dan sebesar apapun dosa anda.
Persoalannya adalah: apakah anda mau atau tidak?

Karena itu, tumbuhkan keberanianmu untuk terus datang….datang dan terus datang kepadaNya.

Di tengah berbagai persoalan yang membelenggu kehidupan bahkan ketika kita jatuh karena melakukan dosa; jangan hukum dirimu lalu menjauhi Tuhan. Tapi bangkitlah dengan iman, dan percayalah bahwa darahNya berkuasa menyucikan anda dari segala noda dan dosa.

Ingat: di mata Tuhan, diri anda sangat berharga.

Menjadi Manusia Baru di Dalam Tuhan


MINGGU TRINITATIS, 27 MEI 2018

(Yehezkiel 36:25-28)

Yehezkiel adalah seorang nabi yang dipakai oleh Allah untuk menyampaikan Firman-Nya di masa pembuangan, yakni dalam pembuangan ke Babel 597/587. Pembuangan ini terjadi disebabkan dosa bangsa itu, di mana bangsa itu telah meninggalkan Allah karena berpaling kepada ilah duniawi. Oleh karena itu pembuangan yang terjadi adalah bentuk hukuman Allah kepada bangsa Israel. Dalam masa pembuangan itu, Allah mengajarkan kepada bangsa Israel tentang kekudusan-Nya melalui para nabi, dan mengajarkan bahwa mereka akan dibebaskan oleh Allah hanya jika mereka telah meninggalkan dosa mereka. Mereka akan bebas bukan karena kekuatan militer, bukan karena pemberontakan tetapi mereka akan bebas atas kehendak Allah. Dalam nats ini dijelaskan bahwa pembebasan itu adalah inisiatif Allah sendiri (ay.22), yang dilakukan-Nya dengan cara menebus dosa mereka dan menyucikannya (ay.25); Allah menebus dosa manusia dan melupakan pelanggaran mereka karena kasih-Nya yang besar, memberikan hati yang baru dan roh yang baru (ay. 26-27), memberikan mereka tempat tinggal dan makanan (Kesejahteraan; ay.28). Pembebasan atau kemerdekaan yang diberikan oleh Allah adalah pembebasan secara holistik, bukan hanya aspek politik namun secara politik, ekonomi, dan spiritualitas.

Allah adalah kudus, sehingga Dia saja yang dapat menguduskan manusia, dan melalui roh yang diberikan-Nya kepada manusia itu akan menuntun manusia untuk mengenal dan hidup di dalam kekudusan-Nya. Kekudusan itu adalah awal dari pembebasan yang diberikan oleh Allah bagi setiap orang, sehingga tidak mungkin untuk mendapatkan pembebasan apabila roh Allah tidak berdiam dalam diri manusia.

Realitas yang terjadi pada saat ini adalah banyak orang yang meninggalkan Allah demi mendapatkan kebutuhan di dalam hidupnya. Menjalani hidup dengan keinginan diri sendiri, sehingga sering prinsip “jalan pintas dianggap pantas” untuk dilakukan. Dalam kehidupan sekarang banyak ditemukan keluarga yang tidak rukun, yang tidak setia dengan pasangan, mendewakan uang, dan sebagainya. Bisa saja dunia ini memberikan kekuatan secara politik, ekonomi, namun tanpa spiritualitas itu akan masuk ke dalam kesia-siaan; hanya Allah yang dapat memberikannya agar tidak menjadi kesia-siaan. Menjadi manusia baru di dalam Tuhan dinyatakan dengan kehidupan yang terlebih dahulu mengutamakan apa yang menjadi kehendak Allah, bukan diri sendiri, dan itu hanya didapatkan melalui tuntunan Roh Allah sendiri. Selamat Minggu Trinitatis.
(Pdt. Riki Rikardo Simanjuntak)

Memperingati 100 Tahun Wafatnya I.L. Nommensen


(23 Mei 1918 – 23 Mei 2018)

DETIK-DETIK KEPERGIAN NOMMENSEN

Rabu, 22 Mei 1918, jelang pukul tujuh malam, suasana senyap mewarnai Pargodungan Sigumpar. Rumah kediaman Nommensen di samping gereja juga sepi. Sepeninggal kunjungan misionaris Steinsick dan Nyonya Brinskscmidt sore tadi, kondisi kesehatan Nommensen tampak semakin buruk. Ia terbaring lemah di tempat tidur. Ia mengeluhkan dadanya yang sesak sehingga susah menarik napas, tubuhnya pun sakit seperti dirobek-robek.

Anak dan menantu yang menungguinya kelihatan cemas. Nommensen minta dipijat, namun diurungkannya lagi karena tubuhnya terasa sakit. Sesekali Nommensen menyeret langkahnya menuju kamar kerja. Ia duduk termenung di kursi dekat meja tulisnya tengah memikirkan kedua putrinya yang berada di Eropah. “Mereka akan hidup tanpa ayah dan ibu,” ujarnya lemah, nyaris bergumam.

Nommensen sudah sepuh, 84 tahun, kesehatannya naik-turun; terkadang sehat, tetapi setelah itu sakit lagi. Begitu seterusnya, sehingga terkesan keadaannya tidak menentu.

Menantunya menghibur, “Kami, semampu yang kami bisa akan mengurus mereka,” katanya.

Nommensen hanya terdiam. Ia bangkit membuka lemari, menunjukkan sesuatu yang akan digunakan untuk keperluan kedua putrinya manakala ia sudah tiada.

Anak dan menantunya merasa iba namun tak bisa berbuat apa-apa. Melihat penderitaan Nommensen, mereka hanya bisa berdoa agar Tuhan menjemput orangtua yang mereka sayangi apabila masanya untuk menutup mata memang sudah tiba.

Malam semakin larut. Kepada anak dan menantunya Nommensen berpesan agar menyampaikan salamnya kepada orang-orang yang ia kasihi. Anaknya berkata, “Kami masih mengharapkan ayah tinggal bersama kami.”

“Saya juga berharap begitu. Tetapi, Tuhan kali ini berkehendak lain,” sahut Nommensen. Ia duduk lalu berdoa, “Jesus, Jesus! Berikan hamba-Mu ini ketenangan …”

Menjelang pagi kondisi kesehatan Nommensen semakin buruk. Napasnya satu-satu. Denyut nadinya pun semakin lemah. Ia kembali duduk dan berdoa, “Tuhan, jiwaku kuserahkan kepada-Mu,” katanya lalu merebahkan diri.

Bola matanya bergerak ke atas seakan menatap kemuliaan Allah. Matanya tiba-tiba terpejam, tubuhnya bergetar pelan, lalu diam; diam untuk selama-lamanya.

Nommensen wafat pada Kamis pagi, 23 Mei 1918 tatkala lonceng gereja berdentang bersama semburat matahari yang semburat di ufuk timur.

Kematian Nommensen menyebar dengan cepat. Tanah Batak berduka. Sigumpar penuh sesak dengan jemaat, pendeta, misionaris, dan pejabat teras Belanda. Jasad Nommensen dibawa ke gereja sebelum dimakamkan di lokasi Pargodungan Sigumpar pada Jumat sore, 24 Mei 1918.

Nommensen menghabiskan lebih dari separuh usianya, yaitu 57 tahun, mengabdikan diri menyebarkan agama Kristen di Tanah Batak. Karyanya besar dan layak dikenang. Dengan demikian genaplah ikrar Nommensen saat menginjakkan kakinya di bukit Siatas Barita, Silindung pada November 1863, tatkala ia berdoa, “Tuhan, hidup atau mati, biarlah aku hidup di tengah-tengah bangsa ini utuk menyebarkan firman-Mu. Amin!”

NOMMENSEN, SANG RASUL BATAK

Banyak tokoh penjelajah yang begitu diagungkan dalam sejarah. Sebut saja Cristopher Colombus penemu Benua Amerika, Vasco da Gama penemu India, atau Cheng Ho pemimpin ekspedisi yang meninggalkan jejak di berbagai tempat di Nusantara dan Benua Asia. Namun, siapa pun tokoh itu, bagi suku Batak tidak sebanding apa-apa dengan Ingwer Ludwig Nommensen.

Siapakah Nommensen?

Nommensen adalah seorang misionaris RMG (Rheinische Missionsgesellschaft) asal Jerman yang mengabdikan hidupnya untuk Pakabaran Injil di Tanah Batak, dari tahun 1861 sampai dengan 1918.

Melalui tuntunannya suku Batak mampu melepaskan diri dari zaman kegelapan sehingga menjadi suku yang maju dan beradab sebagaimana dikenal sekarang. Suku Batak menghormati Nommensen layaknya seorang rasul, dijuluki “Rasul Batak,” serta diberi sapaan “Ompu I”, sapaan tertinggi dalam hierarki kekerabatan dalam budaya Batak.

Di sisi lain, suku Batak adalah “temuan” yang baik bagi Nommensen untuk menyampaikan Berita Keselamatan, sebab suku Batak adalah suku bangsa terbesar ketiga dari lapisan penduduk Indonesia setelah Jawa dan Sunda. Karya agung Nommensen menjelma dalam komunitas HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), gereja muda terbesar di dunia, serta lembaga keagamaan terbesar ketiga di Indonesia setelah Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah. Sejatinya Nommensen bukan hanya milik HKBP, juga berbagai demonasi gereja yang berakar dari HKBP, juga milik bangsa, meski tak pernah disinggung dalam sejarah nasional.

DARI NORSTRAND KE TANAH BATAK

Nommensen lahir pada 6 Februari 1834 di sebuah pulau kecil Norstrand, yang kala itu masuk dalam bagian Denmark Selatan di Kepulauan Frisia Utara, berbatasan dengan bagian utara Jerman di lepas pantai Laut Utara.

Nommensen lahir di tengah keluarga miskin dan hidup menderita. Pada usia 8 tahun ia ikut mencari nafkah sebagai penggembala dan pada usia 10 tahun menjadi buruh tani bagi para tetangga.

Pada usia 12 tahun Nommensen mengalami patah kaki akibat ditabrak kereta kuda. Menurut dokter kakinya harus diamputasi. Ia berdoa minta kesembuhan dari Tuhan serta bernazar, apabila Tuhan mengabulkan doanya maka ia akan mengabdikan seluruh hidupnya bagi Pekabaran Injil di kalangan pelbegu. Doanya didengar Tuhan. Penyakitnya sembuh tanpa harus diamputasi.

Nommensen mengikuti pendidikan teologia di Seminari Zending Lutheran RMG di Barmen pada tahun 1857 dan ditahbiskan sebagai pendeta pada 13 Oktober 1861. Misi Pekabaran Injil ke Tanah Batak dimulai. Pada 1 November 1861 ia berangkat dari Barmen ke Amsterdam Belanda untuk menemui Kongsi Witteven Ermelo yang telah memberangkatkan Pdt Gerrit van Asselt dan Pdt Betz ke Sumatera. Ia juga menemui Dr N. van der Took yang telah mempelajari bahasa Batak yang juga mempelajari hasil penelitian para ahli dan penulis seperti Junghun dan Raffles.

Nommensen menuju Niewendiep untuk bergabung dengan penumpang lainnya di kapal Pertinox. Dari sana, pada 24 Desember 1861, kapal Pertinox berlayar menuju Sumatera melalui sisi benua Amerika (Brasil) dan perairan laut ujung selatan Benua Afrika (Cape of Good Hope). Dalam perjalanan melelahkan penuh bahaya ––142 hari lamanya–– Nommensen tiba di Padang pada 16 Mei 1862.

Nommensen tinggal beberapa lama di Padang sebelum bertolak dan tiba di Sibolga pada 23 Juni 1862. Ia kemudian meneruskan perjalanannya dan tiba di Barus pada 25 Juni 1862. Pemerintah kolonial Belanda dalam hal ini oleh residen yang berkedudukan di Sibolga tidak mengijinkan Nommensen memasuki Tanah Batak (Toba) dengan alasan keamanan. Selama di Barus ia mempelajari bahasa Batak dan bahasa Melayu, terutama mengenai adat istiadat Batak. Ia sangat mahfum, tanpa pendekatan budaya, pekerjaannya akan sia-sia belaka.

Pada 30 Agustus 1862 Nommensen berkordinasi dengan empat misionaris pendahulu di Sipirok. Mereka adalah Gerrit van Asselt dan Betz (utusan Zending Ermelo Belanda) serta Heine dan Klammer (utusan Zending RMG yang sama dengan Nommensen). Pada tahun 1863 Nommensen ditempatkan di Pos Parausorat.

Nommensen sangat kukuh pada nazarnya untuk mengabarkan Injil di kalangan pelbegu. Apalagi, selama di Barus, Sipirok, dan Parausorat ia melihat perkembangan Pekabaran Injil sangat lamban karena sebagian besar penduduknya sudah memeluk Islam. Kegigihannya untuk mengabarkan Injil di Tanah Batak membuat pemerintah Hindia Belanda di Batavia bersikap lunak. Mereka mengijinkan Nommensen memasuki Tanah Batak yang masih tertutup dan merdeka dari penaklukan Belanda. (Dengan sendirinya Nommensenlah satu-satunya misionaris pertama yang berani memasuki dan berdiam di tengah suku Batak dengan resiko yang sangat besar; sampai mempertaruhkan nyawa).

Pada 7 November 1863 Nommensen meninggalkan Parausorat menuju Silindung. Ia didampingi Panrau, seorang Dayak Kristen yang menemaninya sejak dari Padang. Ia menempuh jalur Simangambat, Silantom, Batunadua, Sigotom dalam perjalanan selama 4 hari yang melelahkan, kemudian tiba di puncak bukit Siatas Barita pada 11 November 1863.

Nommensen menebar pandang ke lembah Silindung. Ia bersimpuh dan berdoa: “Tuhan, hidup atau mati, biarlah aku hidup di tengah-tengah bangsa ini untuk menyebarkan firman-Mu. Amin!”

Doa singkat inilah yang kelak dikenal dalam sejarah Zending sebagai motivasi bagi misionaris dan pelayan Tuhan dalam misi Pekabaran Injil di kalangan suku Batak mulai dari Silindung, Humbang, Toba, Samosir bahkan ke puak Batak lainnya di Simalungun, Karo, dan Pakpak.

MISIONARIS SUPRANASIONAL

Penemuan Benua Amerika oleh Columbus pada tahun 1492 dan pembukaan segala benua melalui gerakan imperialisme dan kolonialisme telah membuka daerah yang sangat luas bagi Pekabaran Injil atau zending. Pekabaran Injil mendapat minat yang sangat besar pada akhir abad ke-18 di Inggris dan terutama di Belanda dan Jerman pada abad ke-19.

Keadaan ini lahir dari kesadaran baru di bidang pembangunan rohani usai Barat melampaui masa gelap Revolusi Perancis dan kejatuhan Napoleon pada tahun 1815. Abad ke-19 kemudian dikenal sebagai “Abad Pekabaran Injil” bersamaan dengan kemenangan Injil di benua-benua kafir.

Serupa Gereja, Pekabaran Injil pada perkembangannya lebih bersifat supranasional, artinya, badan zending yang mengirim utusannya tidak harus berasal dari bangsa penjajah bersangkutan. Maka, ketika Indonesia di bawah jajahan Belanda, bukan hanya badan zending Belanda saja yang memberitakan Injil di Indonesia, tetapi juga badan zending yang berasal dari Amerika, Swiss, dan Jerman.

Misionaris perintis pertama ke Tanah Batak berasal dari Inggris bernama Burton dan Ward. Utusan Babtist Chruch England, ini berkunjung ke Silindung pada Juli 1824 namun kehadiran mereka ditolak raja-raja dan penduduk Silindung.

Dua utusan Gereja Boston Amerika berusaha masuk ke Tanah Batak melalui Adiankoting. Naas, mereka dibunuh Raja Panggalamei di Desa Sisangkak Adiankoting pada 28 Juli 1834. (Konon, tubuh kedua pendeta itu dimakan setelah dibunuh, sehingga di kemudian hari ada cap negatif orang Batak yang kanibalis).

Misionaris yang datang menyusul adalah Gerrit van Asselt. Utusan Ds Witteven dari Kota Ermelo Belanda, ini tiba di Sumatera dan berpos di Sipirok pada Mei 1856 . Badan zending yang mengutus van Asselt sangat kecil bahkan karena tidak memiliki dana memadai membuat van Asselt membiayai sendiri tugas-tugasnya sebagai penginjil. Ia bekerja sebagai opzighter (pelaksana) pembangunan jalan di Sibolga kemudian opziener (administrator) gudang kopi milik Belanda di Sipirok. Meski tidak membuahkan hasil yang optimal, peran van Asselt dianggap penting sebab di tangannyalah orang Batak pertama dibabtis sebagai orang Kristen, yaitu Jakobus Pohan dan Simon Petrus.

Kongsi Witteven Ermelo kemudian mengirimkan beberapa misionaris untuk mendampingi van Asselt, mereka adalah FG Betz, Dammerboer, Koster, dan van Dallen. Mereka juga bisa disebut “Penginjil Tukang” karena mengabarkan Injil sembari bekerja sebagai tukang; untuk membiayai pekerjaannya sebagai penginjil.

Pekabaran Injil di Tanah Batak membawa sukacita tersendiri dengan bergabungnya RMG yang berpusat di Barmen, Jerman dengan Ds Witteven yang berpusat di Ermelo, Belanda.

Sejak berdiri pada 23 September 1828, RMG telah mengabarkan Injil ke berbagai belahan dunia, dataran luas dan suku-suku bangsa yang besar seperti di Afrika dan Tiongkok. Pada tahun 1836 RMG sudah bekerja di Indonesia yaitu di Kalimantan.

Dua peristiwa penting mewarnai masuknya Pekabaran Injil ke Tanah Batak. Pertama Perang Banjar yang dipimpin Pangeran Hidayat di Kalimantan Tenggara (1859) Perang Banjar adalah perlawanan rakyat Kalimantan Tenggara terhadap Belanda. Peristiwa yang menelan banyak korban jiwa, termasuk pendeta dan keluarga pendeta, memaksa misionaris Klammer tertahan di Batavia.

Kedua, ketertarikan Pimpinan RMG Friedrich Fabri terhadap Tanah Batak usai melihat dokumen penelitian Dr N van der Took mengenai suku Batak, dalam kunjungan Fabri ke Amsterdam pada tahun 1860.

Atas dua peristiwa tersebut Fabri mengutus van Hoefen yang tadinya bertugas di Banjarmasin mengunjungi Tanah Batak. Berdasarkan laporan van Hoefen, Fabri kemudian mengutus Heine bersama Klammer yang tertahan di Batavia untuk menjalankan misi ke Tanah Batak. Mereka tiba di Sibolga pada 17 Agustus 1861 dan memilih Sipirok sebagai pos pelayanan.

Klammer dan Heine melakukan koordinasi dengan van Asselt dan Betz. Keempat misionaris supranasional ini melakukan pembagian tugas pada 7 Oktober 1861. Heine dan van Asselt berangkat ke wilayah Pahae kemudian menempati pos masing-masing di Sigompulon dan Pangaloan. Betz mendapat tugas di tempat yang sudah dibuka sebelumnya, yaitu di Bungabondar, dan Klammer di Sipirok.
Koordinasi pembagian tugas ini kemudian dikenal sebagai hari jadi HKBP.

BERKEMBANG DAN BERBUAH

Nommensen bukannya tak sadar atas bahaya dan resiko terparah karena ia hidup di tengah suku yang penuh permusuhan, penuh curiga, keras kepala, dan sukar menerima perubahan. Bukan saja dicerca dan ditolak, ia bahkan nyaris terbunuh. Perlahan-lahan, dengan memita perlindungan dari Tuhan dan tingkat kesabaran yang tinggi tak kenal putus asa, Nommensen berhasil menyebarkan agama Kristen di Tanah Batak.

Nommensen memiliki strategi yang cakap melalui pendekatan sosial budaya, mendirikan sekolah, mengupayakan kesehatan melalui balai-balai pengobatan, serta meningkatkan kesejahteraan jemaat melalui pertanian dan peternakan, serta meminjamkan modal. Sekolah-sekolah yang didirikan bukan hanya untuk mendidik penginjil pribumi tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan guru di sekolah mulai dari sekolah dasar, menengah, dan kejuruan.

Periode 1863 – 1881 dicatat sebagai peletakan dasar-dasar pertama Pekabaran Injil oleh Nommensen di Silindung dan Humbang. Tahapan ini dimulai dengan berdirinya jemaat kecil di Huta Dame yang dibangun pada 12 Juni 1864. Jemaat-jemaat yang baru pun semakin bertumbuh, sehingga untuk menampung aktivitas terkait maka Nommensen memindahkan pos ke Pearaja (Kantor Pusat HKBP sekarang) pada tahun 1872. Sejumlah misionaris didatangkan dari Jerman. Sekolah zending bagi pribumi dibuka di Pansurnapitu dan Simorangkir.

Periode ini juga ditandai dengan penerjemahan kitab-kitab dasar untuk jemaat oleh Nommensen, yaitu Katekismus Kecil (1874) dan Perjanjian Baru (1878). Tata gereja yang pengaruhnya paling dalam serta lama karena berlaku sampai tahun 1930, diberlakukan mula-mula pada tahun 1881. Pada tahun ini juga Nommensen ditetapkan RMG sebagai Ephorus Huria Batak (kemudian HKBP).

Periode 1881-1901 ditandai dengan semakin banyaknya jemaat yang didirikan di Toba dan daerah-daerah kawasan Danau Toba. Misionaris juga semakin bertambah-tambah, begitu juga halnya dengan pendeta pribumi dengan ditahbiskannya pendeta-pendeta pertama pada tahun 1885.

Pada tahun 1890 Nommensen menetap di Sigumpar setelah sebelumnya berpos di Laguboti. Alasan memilih Sigumpar karena letaknya strategis untuk menjangkau wilayah Uluan dan Pulau Samosir.

Pada tahun 1903 Nommensen memimpin sendiri Pekabaran Injil hingga ke Simalungun. Di tangan misionaris dan pendeta pribumi yang cakap Pekabaran Injil semakin berkembang ke Tanah Dairi dan Sumatera Timur. Dengan kepemimpinan yang kuat, pekerja yang banyak, latihan pengantar-pengantar jemaat yang cukup sejak awal, maka lama kelamaan Gereja Kristus di Tanah Batak tumbuh berkembang dan berbuah menjadi Gereja muda yang paling besar di dunia. Atas pengabdian Nommensen, ia menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Bonn pada tahun 1904.

Nommensen meninggal dunia pada 23 Mei 1918 dalam usia 84 tahun setelah mengabdikan diri di Tanah Batak selama 57 tahun. Pekabaran Injil yang dirintis Nommensen tidak pernah berhenti, bahkan jemaat yang dituntunnya dari kekelaman kini menyebar ke seantero Indonessia dan penjuru dunia.

Bukan hanya jemaat HKBP yang setia mengenang dirinya. Orang-orang Batak Kristen dan beberapa denominasi gereja yang berakar dari HKBP juga tetap mengagumi, menghormati, dan menjadikannya teladan.

Lilin terang telah menerangi kegelapan di kalangan suku Batak, semoga tak pernah padam akan tetapi senantiasa bersinar dan abadi sepanjang masa.

(Tulisan ini diolah dari berbagai sumber).

Seksi Kesehatan 2018-2020


Dibawah Naungan Dewan Diakonia
Pendamping St. Sondang br Aritonang

dr. Riris Anita Tarihoran.T.M.Kes
Zr. Riama Doloksaribu, S.Kep,MM
St. Alberto Sihombing
St. Sertina br Simamora
dr. Mercy Panjaitan,SpPk
dr. Novariani Girsang
dr. Sumihar Sihaloho
dr. Rudyhard Hutagalung, Sp.KJ
dr. Marlisye Marpaung, M.Ked (Ped) Sp.A
Ns. Erawaty Dahlia Manik, S.kep
Ns. Titin Panjaitan
Bd. Marnita Munthe
Mangara Manurung