Berdiri Teguh Dalam Iman


Ibrani 4 : 14 – 16

Ada seorang yang paling gemar berpetualang, dan ia melakukannya seorang diri; ia tidak suka ditemani atau didampingi oleh orang lain. Dan lokasi yang jadi kesukaannya adalah hutan belantara. Setiap kali ia melakukan perjalanannya, ia tidak pernah melupakan alat ini; yaitu KOMPAS. Karena itu, ia berusaha menjaganya, jangan sampai alat tersebut hilang atau pun tercecer.

Kali ini ia mengambil keputusan untuk merambah hutan belantara yang sangat menantang dengan alamnya yang keras dan buas. Dan sebelum ia memasuki kawasan tersebut, ia terlebih dahulu melapor di pos penjagaan. Sebenarnya agak berat petugas memberi izin kepadanya karena ia tidak membawa pendamping bahkan menolak untuk didampingi. Namun karena ia sudah dikenal, maka petugas jaga mempersilahkan dengan satu ketentuan bahwa jika dalam waktu 3-5 hari ia tidak keluar dari hutan tersebut maka itu tandanya ia sedang mengalami kesulitan dan membutuhkan pertolongan dari seorang pandu yang mengenal kondisi dari belantara tersebut. Ia pun menyetujui hal tersebut bahkan ia memberi jaminan bahwa dalam tempo 3 hari ia akan keluar dari belantara tersebut tanpa mengalami kesulitan.

Singkat cerita,
Hari pertama semuanya berjalan biasa-biasa saja. Satu demi satu rintangan ia dapat lalui. Hari kedua pun demikian. Tetapi pada hari yang ketika, ia bertemu dengan seekor harimau yang nampak kelaparan. Baginya, situasi seperti ini sudah menjadi hal yang biasa. Ia tahu apa yang harus dia lakukan. Tetapi ketika ia melangkah mundur, tiba-tiba kakinya terperosok dan ia pun jatuh ke dalam jurang yang cukup dalam. Kompas yang menjadi andalannya pun hancur karena terbentur batu. Untuk beberapa jam, ia tak sadarkan diri. Dan saat ia sadar, ia berusaha untuk bangun namun ia tidak mampu karena kakinya terjepit di antara bebatuan. Ia terus berusaha, mengerahkan seluruh tenaganya namun usahanya sia-sia.

Hari keempat berlalu, demikian juga hari kelima dan seterusnya. Ia tidak bisa lagi berbuat apa-apa dan sekarang ia pasrah menerima nasibnya.

Tapi apa yang terjadi di pos jaga. Petugas mulai merasa kuatir tentang kondisi sang petualang. Ia tahu bahwa telah terjadi sesuatu sehingga sang petualang tidak bisa keluar dari belantara tersebut. Karena itu diutuslah seorang pandu untuk mencari jejak sang petualang. Dan sebagai seorang pandu, ia tahu tempat mana yang paling rawan dan ke tempat itulah yang ia tuju. Ia pun menemukan sang petualang dalam kondisi yang sekarat; haus, lapar dan penuh dengan luka, bahkan tubuhnya sudah sangat lemah karena telah kehilangan banyak darah.

Saudaraku..
Sadarkah kita bahwa kisah ini menunjuk pada realita hidup kita sebagai manusia yang berdosa. Kita jatuh, bahkan terjatuh ke dalam jurang yang paling dalam. Kondisi saudara dan saya sebelum mengenal Kristus dan berjumpa dengan Kristus tidak lebih dari sang petualang yang sedang sekarat dan tak dapat berbuat apa-apa lagi. Kita harus jujur mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang kita miliki untuk dapat kita dijadikan sebagai andalan kembali ke sorga. Dosa membelenggu kehidupan kita; ia menindih hidup saudara dan saya dari kiri-kanan, muka-belakang bahkan dari atas dan dari bawah. Dan dalam kondisi seperti ini, apa yang dapat kita buat? Tidak ada yang bisa kita buat! Kita hanya bisa berharap belas kasihan.

Dan di sinilah hebatnya iman Kristen.
Seisi sorga gelisah memikirkan keselamatan saudara dan saya. Karena itu, sorga menyapa bumi: “di manakah engkau?”. Yesus Kristus telah melintasi semua langit, Ia turun dari sorga; Ia masuk ke dalam jurang yang paling dalam, yang dalam Credo Apostolicum dikatakan: “turun ke dalam kerajaan maut”. Ya….Ia turun ke tempat di mana saudara dan saya berada. Ia masuk ke tempat itu, untuk mengangkat kita dari sana.

Di sinilah hebatnya iman Kristen!
Bukan manusia yang mencari Allah, tetapi Allah yang mencari manusia.
Allah tahu….
Allah mengerti, bahwa kita dalam kondisi sekarat karena dosa. Allah turut merasakan kondisi saudara dan saya. Ia merasakan kelemahan-kelemahan saudara dan saya.
Kondisi saudara dan saya seperti seorang yang sudah kehilangan banyak darah, dan kita butuh transfusi darah segar dan darah yang sehat. Kita butuh darah yang tidak terkontaminasi oleh dosa. Dan darah itu adalah DARAH YESUS, darah yang memberi kehidupan baru dan oleh darah itu kita menjadi sembuh.

Di sinilah hebatnya iman Kristen!
Allah tidak butuh korban darah dari manusia. Allah kita bukanlah Allah yang sedang sekarat dan butuh perhatian dari saudara dan saya. Allah kita adalah Allah yang hebat, yang rela mengorbankan diriNya untuk menebus hutang dosa kita. Allah kita adalah Allah yang hebat, Allah yang merelakan darahNya ditumpahkan untuk menyucikan segala noda dan dosa.

Saudaraku…
Inilah yang saya hendak tekankan agar anda tidak ragu atas iman anda yaitu bahwa Yesus adalah Imam Besar yang punya kapabilitas untuk menolong dan menyelamatkan hidup anda. Yesus sanggup menolong anda; seberat dan sebesar apapun dosa anda.
Persoalannya adalah: apakah anda mau atau tidak?

Karena itu, tumbuhkan keberanianmu untuk terus datang….datang dan terus datang kepadaNya.

Di tengah berbagai persoalan yang membelenggu kehidupan bahkan ketika kita jatuh karena melakukan dosa; jangan hukum dirimu lalu menjauhi Tuhan. Tapi bangkitlah dengan iman, dan percayalah bahwa darahNya berkuasa menyucikan anda dari segala noda dan dosa.

Ingat: di mata Tuhan, diri anda sangat berharga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s