Arsip Penulis: Parjuangan Radyarto Siregar

avatar Tidak diketahui

Tentang Parjuangan Radyarto Siregar

GSM

MENGASIHI MUSUH


Saat Teduh……………

Nyanyian KJ. No. 392:1. “Ku berbahagia”
“Ku berbahagia yakin teguh, Yesus abadi kepunyaanku
Aku warisNya ‘ku ditebus, ciptaan baru Rohul Kudus
Aku bernyanyi bahagia, memuji Yesus selamanya
Aku bernyanyi bahagia, memuji Yesus selamanya.

Pembacaan Firman
Pagi : Keluaran 23:1-13.
Malam : Yohanes 3:16-21.

Renungan: Lukas 6:27.
Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu.

Mengasihi atau mengampuni saudara sendiripun terkadang sulit kita lakukan, apalagi mengasihi musuh. Tetapi sebagai orang yang percaya dan pengikut Tuhan Yesus, kita diperintahkan agar mengasihi musuh kita, karena :

(1) Sebagai manusia, kita ingin dikasihi, jika berbuat salah ingin di ampuni, ingin dihargai. Ini semua kebutuhan kita sebagai manusia. Oleh karena itu firman Tuhan memberi kepada kita pertimbangan logis, jika kamu ingin dikasihi, kamu juga harus mengasihi, jika kamu ingin dimaafkan, kamu juga harus memaafkan. Apa yang ingin orang lain perbuat padamu, perbuatlah juga demikian (ay. 31).

(2) Dengan mengasihi musuh, Tuhan mau menegaskan kepada kita bahwa jika kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, dan jika kita hanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita, apakah jasamu? (ay. 32-32). Hal yang sama juga dijelaskan : Jika seterumu lapar, berilah ia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air (Amsal 25:21). Dengan demikian engkau akan menimbun bara di atas kepalanya, dan Tuhan akan membalas itu kepadamu (ay. 22).

(3) Bapa di sorga murah hati, maka sudah sepatutnya kita, anak-anakNya juga murah hati, yaitu dengan mengasihi musuh, mengampuni mereka yang telah berkali-kali bahkan bertahun-tahun menyakit kita dan dengan demikian kita akan menjadi anak-anak Bapa, upah kita besar di sorga. Amin.

Berdoa

Bernyanyi BE. No. 327:2. Aut na saribu hali ganda
Hupuji Ho, o Debatangku! Mauliate au di Ho
Dibaen sude na nilehonMu di au huhut huboto do
Las do rohaM di endengki marhitehite Jesus i.

Doa Bapa kami – Amin.

KASIHILAH SESAMAMU !


Saat Teduh……….

Nyanyian KJ. No. 364:1. “Berserah kepada Yesus”
Berserah kepada Yesus tubuh, roh dan jiwaku
Kukasihi, kupercaya, ku ikuti Dia t’rus
Aku berserah, aku berserah
KepadaMu Jurus’lamat aku berserah.

Pembacaan Firman
Pagi : 1 Raja-raja 3:5-15.
Malam : Wahyu 11:15-19.

Renungan: Roma 13:10a.
Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia.

Seorang filsup Yunani Kuno bernama Hipokrates, memahami pentingnya mengikuti prinsip-prinsip moral dalam menerapkan pengobatan. Ia juga dikenang sebagai penulis, yang sampai sekarang masih digunakan sebagai panduan etika untuk para ilmuan. Salah satu konsep penting dari pemikirannya adalah “untuk tidak berbuat jahat”. Hal itu mengandung arti bahwa setiap orang diarahkan melakukan apa yang baik dan bermanfaat untuk orang lain. Prinsip untuk tidak berbuat jahat itu juga mencakup hubungan kita dengan sesama dalam kehidupan sehari-hari. Kebaikan bahkan menjadi pusat dari ajaran Perjanjian Baru tentang hal mengasihi sesama. Dalam pandangannya tentang hukum Allah, Rasul Paulus melihat bahwa kasihlah yang menjadi alasan di balik banyak perintah Alkitab: “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia; karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Rom. 13:10).
Ketika kita mengikut Yesus Kristus Juruselamat kita dari hari ke hari, kita pun dihadapkan pada beragam pilihan yang akan mempengaruhi kehidupan orang lain. Saat mempertimbangkan tindakan yang akan kita ambil, kita harus bertanya kepada diri sendiri, “Apakah tindakan ini mencerminkan kepedulian Kristus kepada sesama, ataukah aku hanya mementingkan diriku sendiri?” Kepekaan seperti itu akan menjadi wujud dari kasih Kristus yang rindu untuk memulihkan orang-orang yang sedang terpuruk dan membantu mereka yang sedang membutuhkan pertolongan.Amin.

Berdoa

Bernyanyi BE. No. 319:2. Sai tiop ma tanganku
Sai sesa nasa dosa, ale Amang! Ho, na marholong roha, asi rohaM!
Paias ma rohangku na ramun i; pagirgir au, mamuji Ho, Tuhanki.

Doa Bapa kami – Amin.

KASIH


Saat Teduh……….

Nyanyian KJ. No. 26:1. “Mampirlah dengar doaku”
Mampirlah dengar doaku, Yesus Penebus
Orang lain Kau hampiri jangan jalan t’rus
Yesus, Tuhan dengar doaku
Orang lain Kau hampiri jangan jalan t’rus

Pembacaan Firman
Pagi : Hakim-hakim 2:10-23.
Malam : 1 Petrus 2:21-25.

Renungan: 1 Korintus 13:4.
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Ketika Ibu Teresa menerima hadiah nobel, beliau ditanya “apa yang dapat kita lakukan untuk mendorong perdamaian dunia?” Jawabnya, “Pulanglah dan kasihi keluargamu.” Raja Salomo dalam Amsal 3:3 “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu”, dan Paulus mengatakan, Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (Eps 4:32). Secara alami kasih itu bersifat ramah, murah hati, hangat, dan baik. Kasih yang murah hati dan rela menolong, simpatik dan memahami orang lain. Kasih itu lemah lembut, adil, dan bijaksana, dan hanya ingin mengusahakan kebaikan bagi orang lain.

Menerima kelemahan dan kelebihan orang lain. Tidak iri terhadap keuntungan orang lain, dan tidak menginginkan kepunyaan sesama. Tidak cemburu dan tidak menolak orang lain karena apa yang dimilikinya. Kasih sifatnya tidak suka gila hormat, tidak angkuh, sombong atau tinggi hati. Tidak melakukan perbuatan yang tidak terpuji, atau yang bertentangan dengan apa yang benar. Kasih mampu menahan diri, tenggang rasa, dan sabar dalam segala keadaan. Kasih tidak mencari-cari kesalahan. Hiduplah dalam kasih dengan mengenakan baju yang paling mahal yaitu: kasih. Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.Amin.

Berdoa

Bernyanyi BE. No. 309:4. Raphon Tuhan Jesus i
Hupasahat ma tongtong saluhut langkaku. Tu Tuhanku na tongtong, mian di rohangku
Manang aha pe hubaen, Ho hupangasahon. Ale Tuhan! Tulus baen saluhutna, Amen.

Doa Bapa kami – Amin.

ORANG YANG LEMAH DIKUATKAN


Saat Teduh……………

Nyanyian NKB. No. 3:1. “Terpujilah Allah”
Terpujilah Allah, hikmatNya besar, begitu kasihNya ‘tuk dunia cemar
Sehingga di b’rilah PutraNya kudus, mengangkat manusia serta menebus
Pujilah, pujilah! Buatlah dunia bergemar, bergemar mendengar suaraNya
Dapatkanlah Allah demi PutraNya, b’ri puji padaNya sebab hikmatNya.

Pembacaan Firman
Pagi : Ulangan 19:14-21.
Malam : 1 Petrus 1:13-17.

Renungan: Yesaya 35:3.
Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah

Nats di atas mengambarkan bahwa tangan yang lemah lesu berbicara tentang orang-orang yang sudah tidak mampu melakukan hal apapun, yaitu orang-orang yang sudah mengalami masalah berat dan sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sementara itu lutut yang goyah menggambarkan orang-orang yang sudah tidak dapat berdiri dan bangkit karena masalah yang ia hadapi.

Kita harus membantu orang yang memerlukan dukungan, terutama orang yang sudah tidak memiliki pengharapan, yang sudah tidak mungkin bangkit lagi. Sebagai anak-anak Tuhan, tugas kitalah untuk menguatkan mereka. Kita terpanggil harus dengan nyata membantu orang yang membutuhkan. Tugas kita tidak cukup hanya berdoa, tetapi menuntun orang tersebut melalui perkataan kita, perbuatan kita, atau dengan cara-cara lainnya, sesuai kemampuan kita. Kita harus menguatkan orang-orang yang lemah dan membutuhkan kita. Jangan justru menghakimi dan membuat orang-orang tersebut hilang pengharapan. Jadilah sama seperti Kristus yang memberikan solusi kepada mereka, sehingga mereka menemukan jalan keluar dalam hidupnya. Kita harus berusaha mendorong mereka agar tidak putus asa, dan harus berusaha untuk meguatkan iman mereka agar mampu berdiri teguh dalam Tuhan. Percayalah kepada Tuhan dengan sepenuh hati, sebab Ia selalu berpihak kepada orang yang lemah. Amin.

Berdoa.

Bernyanyi BE. No. 309:1. Raphon Tuhan Jesus i
Raphon Tuhan Jesus i, pungka ulaonmu. Ingkon tu Ibana i, parguruhononmu
Baen Ibana donganmi, hehe dohot modom. Dege ma bogasNa i, rohami pahohom.

Doa Bapa kami – Amin

ORDINARY DAYS


Topik: Hidup Kudus di Hadapan Allah
(Ngolu na Marhabadiaon di Jolo ni Debata)

Warna Tutup Altar : Hijau (Na Ratarata)
Warna kehidupan dan pertumbuhan. Lambang perilaku kehidupan orang Kristen yang telah penebusan dan keselamatan dari Tuhan Allah.

Ev. Wahyu 22:12-17
Ep. Keluaran 15:12-18

ORDINARY DAYS
Trinitatis adalah Minggu terakhir yang dirayakan oleh Gereja sesuai dengan tahun liturgi. Kesempurnaan Tuhan melalui seluruh karyaNya telah nyata. Seluruhnya ditutup melalui minggu Trinitatis. Dengan kesempurnaan itu maka Allah mengutus manusia untuk berangkat dan mewartakan Injil melalui seluruh segi kehidupannya, baik pikirannya dan tugas-tugasnya, termasuk kepada pekerjaan yang harus dilakukannya. Dalam minggu setelah Trinitatis ini, kita akan membicarakan mengenai seluruh kegiatan, perjuangan, perasaan dan situasi di tengah-tengah manusia. Ini adalah minggu yang paling panjang di antara seluruh tahun liturgi yang ada. Karena berbicara mengenai kemanusiaan, maka minggu-minggu ini sering disebut dengan Minggu Ordinary (minggu biasa). Umumnya seluruh pesta-pesta Gereja, baik pesta menabur, menuai, pembangunan dan pesta lainnya dilaksanakan pada Minggu-minggu ini. Simbol yang sering dipakai dalam minggu-minggu ini adalah simbol triangle Trinity, atau Tries et Concordia. Dalam simbol ini digambarkan tiga kepribadian yang menyatu dan tidak terpisahkan. Dengan disempurnakannya seluruh rencana dan rancangan Allah kepada manusia, maka manusia telah siap untuk menghadapi tantangan yang akan datang. Melalui minggu ordinary ini, kita diajak untuk terus bertahan dalam iman kepada Allah, bukan dalam ketenangan, tetapi justru dalam menghadapi tantangan yang telah berdiri dihadapannya. Itu sebabnya pada minggu ordinary ini ditutup dengan Minggu Mortuorum dimana manusia mengenang akan kematiannya. Segala kehidupan akan berakhir pada kematian, namun akan lahir kembali dalam sebuah kehidupan.

DI DASARI KEMULIAAN ALLAH


Saat Teduh……………

Nyanyian KJ. No. 376:1. “Ikut di Kau saja Tuhan”
Ikut di Kau saja Tuhan, jalan damai bagiku
Aku s’lamat dan sentosa hanya oleh darahMu
Aku ingin ikut di Kau dan mengabdi padaMu
Dalam di Kau Juru s’lamat, ‘ku bahagia penuh.

Pembacaan Firman
Pagi : Keluaran 2:11-22.
Malam : Kisah Para Rasul 10:34-42.

Renungan: 1 Korintus 10:31.
Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah

Setiap manusia dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi alat-Nya sesuai dengan keberadaan dirinya. Setiap tugas yang dilakukannya baik sebagai seorang anak, pelajar, orangtua, guru, pekerja, hamba Tuhan dan sebagainya, kelak kita harus mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhan seperti tertulis dalam Roma 14:12 “ Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah”. Betapa malunya kita di hadapan Tuhan bila selama hidup di dunia kita tidak melakukan apa-apa bagi Tuhan, padahal Tuhan telah memperlengkapi kita dengan karunia dan talenta yang bermacam –macam. Godaan duniawi sering membawa kita jauh dari Tuhan sehingga setiap perkataan , perbuatan , sikap dan bahkan pikiran kita justru tidak menjadi berkat bagi orang lain terutama untuk Menjadi Kemuliaan Tuhan. Semua itu yang haruslah kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Kalau hari ini kita tergerak untuk berbuat kebaikan bagi orang lain, entah melalui senyum, ucapan, kasih yang menolong, lakukanlah dan jangan tunda sampai besok, karena setiap hari ada berkatnya sendiri dari Tuhan. Rasul Petrus berkata: “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya”. (1 Pet 5: 10). Siapkah kita untuk mempertanggungjawabkan semua tugas kita di dunia di hadapan Tuhan kalau hari ini kita meninggal ? Jangan tunda lagi apapun yang kita lakukan dengan dasar untuk Kemuliaan Tuhan. Amin.

Berdoa

Bernyanyi BE. No. 304:3. O Jesus Panondang
Jesus, pargogoi ma au sadari on, sai padao ma dosa sian rohangkon
Asa hu ihuthon hataMi tongtong, jala hupasangap ho di tano on.

Doa Bapa kami – Amin.

ARUS HIDUP


Saat Teduh……………

Nyanyian KJ. No. 3:1. “Kami Puji dengan Riang”
Kami puji dengan riang di Kau Allah yang besar
Bagai bunga t’rima siang hati kami pun mekar
Kabut dosa dan derita kebimbangan t’lah lenyap
Sumber suka yang abadi b’ri sinarMu menyerap

Pembacaan Firman
Pagi : Kejadian 31:43-55.
Malam : Kisah P Rasul 10:28-33.

Renungan: Ibrani 2:1.
Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.

Perjalanan Hidup semakin menderu oleh pesatnya jaman. Akankah kita mengikuti arus atau kita melawan arus? Jika kita hanya mengikuti arus, kita akan sama seperti air yang mengalir ke tempat yang lebih rendah. Namun ketahuilah, bila kita mengikuti arus hidup yang sedemikian rupa, kita akan berada di tempat yang paling rendah di hadapan Allah. Dunia bisa saja meninabobokkan kita agar terbuai arus hidup duniawi. Tetapi Nats kali ini mengajak kita lebih teliti untuk memperhatikan apa yang telah kita dengar. Artinya, untuk menangkal berbagai pengaruh duniawi, baiklah kita menggunakan ketelitian untuk bukan saja mendengar, tetapi “memperhatikan” dalam artian melakukan apa yang telah difirmankan oleh Tuhan dalam tatanan kehidupan baik dalam keluarga, lingkungan, pekerjaan, bernegara dan berbangsa. Firman Tuhan mengatakan, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya (2 Tim 4:3).” Dengan meneladani kehidupan Tuhan Yesus serta menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepadaNya. Janganlah kita khawatir bila dalam menjalani hidup terkadang harus melawan arus, apapun pergumulan hidup kita saat ini. Marilah kita berpegang teguh pada firman Tuhan dengan tidak menyimpang dari kebenaran firmanNya. Amin.

Berdoa.

Bernyanyi BE. No. 301:6. Las situtu rohangku
Marguru tu Tuhanku ma au di sasude; ditogu Debatangku ma au tu na ture
Sai pasupasu ma ulaon ni tanganku, sude sibahenonku, o Tuhan Debata.

Doa Bapa kami – Amin.