MENJADI PELOPOR KEBAIKAN DALAM IMAN


MINGGU XVIII SETELAH TRINITATIS, 20 OKTOBER 2019
Yohanes 4:21-26

Perikop ini adalah bahagian dari perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria. Menurut sejarah, orang-orang Samaria (yang berada di sisi Israel Utara) tidak dapat bersatu dengan bangsa Yahudi, sebab mereka telah bercampur dengan bangsa Asyur. Itu sebabnya mereka dianggap kafir oleh bangsa Yahudi. Tetapi dialog Yesus dengan perempuan Samaria ini menyatakan bahwa keselamatan itu berlaku bagi seluruh bangsa. Keselamatan yang universal ini dinyatakan Yesus. Yesus menekankan bahwa keselamatan itu terletak di dalam dua hal, yaitu: Roh dan Kebenaran.

  1. Umat yang diselamatkan tidak lagi dibatasi atau waktu-waktu tertentu atau arah tertentu dalam beribadah, tetapi ia akan beribadah dalam segala waktu, bahkan seluruh waktunya akan diberikan untuk ibadahnya kepada Tuhan. Ibadah tidak lagi diukur kepada arah tertentu (kiblat), tetapi berfokus kepada hati dan roh.
  2. Di sisi lain, Yesus juga mengangkat mengenai kebenaran. Kebenaran merupakan simbol dari hukum. Hukum dunia dapat dibelokkan, sehingga kebenaran tidak lagi nampak dalam hukum, tetapi umat Tuhan harus menunjukkan kebenaran tersebut melalui tindakan yang benar. Itu sebabnya perbuatan orang yang beriman bukan di dasarkan pada hukum yang berlaku, tetapi berdasar kepada pemahaman akan kebenaran Allah.

Kedua hal ini nampaknya menjadi ketentuan yang berlaku dalam mengimani Tuhan. Seolah-olah menjadi bebas, tetapi pada dasarnya bukan kebebasan yang tidak terbatas. Tetapi ukurannya adalah kebenaran Allah. Pemahaman ini melahirkan paham baru bagi umat Kristen. Ibadah tidak lagi berpatok kepada jam dan tempat tertentu, atau aturan-aturan mengenai pakaian, kebersihan dan arah altar (kiblat), tetapi semua telah mengarah kepada hati yang dipimpin oleh Roh yang benar. Itu sebabnya dikatakan “gereja bukanlah gedungnya, tetapi orangnya”.

Sama halnya dengan kebenaran. Menjalankan hukum Taurat belum tentu menuju kebenaran dan kesalehan hidup, tetapi setiap orang yang hidup benar, pasti akan menjalankan hukum taurat tersebut tanpa ditakut-takuti oleh hukuman. Itu sebabnya seseorang berkata: “Dalam beragama janganlah mencari surga yang benar, sebab dapat membawa kepada Allah yang salah. Tetapi carilah Allah yang benar, maka kita akan mendapat surga yang benar”. Karena itu, hiduplah di dalam Tuhan, agar kita menjalani jalan yang benar, bukan sebaliknya. Maka ibadah kita adalah totalitas kehidupan yang kita persembahkan kepada Allah. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s