WAKTU DALAM TAHUN LITURGI


Ini adalah Minggu dimana kita merayakan Natal hari yang ke-enam. Namun pada saat ini kita akan membahas mengenai waktu dalam tahun liturgi. Mari kita mengulang pertanyaan pada Malam Natal “mengapa Natal sudah dirayakan pada tanggal 24 Desember, sedang Natal sesungguhnya jatuh pada tanggal 25 Desember?” Tradisi ini lahir dari Yahudi, dimana perubahan hari jatuh pada pukul 6 sore. Yahudi menggunakan ayat dalam Kitab Kejadian sebagai perubahan hari: “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari …” (Kejadian 1) menarik bukan? Jika kita memahami bahwa perubahan tanggal jatuh pada pukul 12 malam, tetapi tidak demikian dengan tahun liturgi gereja. Pada pukul 6 sore tema liturgy untuk esok telah dimulai. Seluruh Gereja baik Katolik maupun Protestan (Luther dan Calvin) menggunakan pembagian waktu dari tradisi Yahudi, di mana pergantian hari tidak terjadi pada pukul 12 malam, tetapi terjadi pada pukul 6 sore. Tradisi ini dipakai juga oleh HKBP, itu sebabnya gereja-gereja akan membunyikan loncengnya pada hari Sabtu pukul 6 sore sebagai tanda “buka sabat” dan membunyikan kembali loncengnya pada pukul 6 sore di hari Minggu sebagai tanda “tutup sabat”. Maka hari Sabat dimulai pada hari Sabtu pukul 6 sore dan berakhir pada hari Minggu pukul 6 sore. Mari kita ingat peristiwa kematian Yesus Kristus, ketika Yesus telah mati pada pukul 2 sore, maka tidak lama lagi Yesus harus diturunkan, karena sabat akan dimulai, yaitu pada pukul 6 sore (bnd. Markus 15:42). Itu sebabnya Yusuf Arimatea berusaha keras untuk meminta mayat Yesus agar dikuburkan sebelum malam tiba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s