Pertobatan menuju Keselamatan


Minggu XX Setelah Trinitatis, 18 Oktober 2015

Yeremia 8:4-7
Yeremia memberitakan pertobatan kepada bangsa Israel. Kata Ibrani yang dipakai menyebut “Bertobat!” adalah Syuv artinya berbalik kembali atau berbalik dari dosa pada Allah. Sedangkan bahasa Yunani memakai kata metanoia yang artinya memperbaiki kesalahan dengan perubahan pola pikir, ada penyesalan dan sikap kerendahan untuk untuk berbalik. Pertobatan sangat penting karena itu merupakan syarat mutlak untuk memperoleh keselamatan. Yeremia mendapat penglihatan dari Tuhan tentang kehancuran bangsa Israel akibat dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Di tengah pemberitaannya, dia menghadapi para nabi palsu yang menubuatkan damai sejahtera. Kedegilan bangsa itu yang tidak jujur, terus melakukan kejahatan, dan praktik keagamaan yang keliru. Mengapa bangsa Israel tidak mau berpaling dan bangkit? Sedangkan orang yang jatuh bangkit dan burung pun tahu kembali ke tempatnya, sedangkan Israel tidak.
Pertobatan adalah menuju keselamatan. Kali ini, bangsa Israel sulit untuk bertobat karena mereka memiliki kedangkalan terhadap firman Tuhan (ayat 7-8). Mereka berpikir telah bertindak dengan bijaksana namun justru mereka telah melakukan yang tidak disukai oleh Tuhan. Mengingat peristiwa Singkil-Aceh dan HKBP Keroncong Permai di Banten, mengajak semua pihak untuk berpikir jernih apakah tindakan kekerasan merupakan sebuah perbuatan yang dikehendaki Tuhan atau justru kejijikan di hadapan Tuhan? Seringkali umat jatuh kepada tindakan dan cara-cara yang dianggap sebuah kebenaran, padahal justru membawa kepada sesat pikir. Oleh karena itu, para pemberita pun harus jernih untuk memberitakan agar tidak jatuh kepada ajaran sesat.

Yesus berkata: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapaku yang di sorga” (Mat. 7:21). Bangkit berseru memanggil Tuhan sambil angkat pedang bukanlah kehendak Bapa. Kehendak Bapa adalah kasih, mengampuni, sukacita, perdamaian, dan seterusnya. Oleh karena itu seruan Yeremia agar umat bertobat dari kedangkalan dan sesat pikir menuju kepada kehendak Bapa yang sejati sangat relevan bagi kehidupan berbangsa Indonesia di tengah keberagaman ini. (Pdt. Rudi Saut Mampe Pardede)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s