Kekuatan Lidah


Minggu XV Setelah Trinitatis, 13 September 2015

Yakobus 3:1-12
Lidah adalah anggota tubuh yang tersembunyi dan tidak dapat dilihat oleh orang lain dan lidahlah yang mengecap rasa makanan yang masuk ke dalam mulut. Ada empat rasa yang mampu dikecap oleh lidah, yaitu: manis, pahit, asam dan asin ditambah rasa pembakaran yaitu pedas. Namun sama seperti pengecap rasa, demikian juga kemampuannya untuk mengeluarkan kata-kata. Setiap kata yang dikeluarkan mengandung makna tersendiri.

Sedih, sukacita, kutuk maupun berkat semua dihasilkan oleh lidah di dalam mulut manusia. Begitu kuatnya kemampuan lidah untuk mengeluarkan kata-kata demikian juga pengaruhnya kepada para pendengar, sehingga setiap untaian kata yang dikeluarkan menghasilkan nuansa yang berbeda di dalam hati para pendengarnya.

Dalam ayat kita saat ini, lidah digambarkan memiliki kemampuan yang luar biasa, bahkan jelas dinyatakan bahwa lidah adalah unsur yang paling buas dari seluruh tubuh manusia, yang tidak dapat ditakhlukkan, bahkan justru mempengaruhi segi-segi kehidupan manusia itu sendiri.

1. Lidah sebagai penentu arah pola kehidupan.
Yakobus menerangkan dengan baik bagaimana lidah mengendalikan pola kehidupan manusia. Ia menggambarkan seperti kekang pada mulut kuda sehingga ia dapat menurut dan mengikuti arahan yang diberikan. Lidah juga digambarkan seperti kemudi yang kecil pada sebuah kapal yang besar. Hal ini juga yang dikatakan oleh Yesus Kristus dalam Matius 12:34 ketika ia mengecam orang-orang Farisi tentang perkataan mereka yang tidak sesuai dengan perbuatan mereka, Yesus berkata: “… karena yang diucapkan mulut meluap dari hati”. Karena itu tidaklah salah jika dikatakan “ucapanmu adalah doamu, dan doamu adalah perkataanmu”.

2. Lidah sebagai pembakar.
Tidak dapat dipungkiri, karena sebuah kata banyak orang yang berbuat baik, karena sebuah kata banyak orang yang berbuat jahat. Setiap kalimat yang dikeluarkan oleh mulut, tentu menghasilkan stimulus yang berbeda pada setiap orang. Kalimat akan menggugah orang lain untuk berbuat baik atau berbuat jahat. Karena itu, nats saat ini mengajak kita untuk terus berkata-kata dalam hal yang baik, sehingga setiap telinga yang mendengar akan tergugah hatinya untuk berbuat hal yang baik juga. Demikianlah lidah yang diciptakan Allah dapat kita pergunakan untuk hal yang baik. Firman Tuhan berkata: “beritakanlah Kabar Baik”, maka salah satu sarana yang harus kita pergunakan untuk pemberitaan itu adalah lidah kita sendiri, sehingga orang yang percaya diminta untuk terus bersaksi akan perbuatan Allah yang besar. Amin.

(Pdt. Kadir Manullang-HKBP Taman Adiyasa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s