Pilih mana: Percaya Yesus atau tidak?


Minggu V Setelah Trinitatis, 05 Juli 2015

Markus 6:1-13

Yesus selama di dunia ini banyak melakukan pengajaran kepada para murid dan orang banyak, mengusir roh jahat dan menyembuhkan orang sakit. Setelah peristiwa mujizat di rumah Yairus yaitu bangkitnya puterinya dari kematian dan perempuan yang sembuh dari sakit pendarahannya, Yesus berangkat ke kampung halaman-Nya yaitu Nazaret.
Yesus sengaja pergi ke Nazaret. Dia tidak hanya sekedar melakukan pekerjaan yang telah diuraikan di atas di kampung halaman-Nya, tapi lebih mengajar para murid yang mengikuti-Nya dengan kelak menunjuk ketidakpercayaan orang sekampung-Nya dan bedanya dengan orang yang percaya.

Seperti biasanya, Yesus mengajar di Bait suci. Mereka semua takjub terhadap hikmat dan mujizat yang diperbuat-Nya. Tapi semuanya itu tidak membawa mereka kepada pertobatan dan menjadi orang yang percaya. Justru mereka mengkonfirmasi segalanya kepada penampilan luar-Nya yaitu siapa Dia, orangtua-Nya, profesi orangtua-Nya dan akhirnya menolak untuk percaya. Markus memakai kata skandalizomai yang diterjemahkan LAI “mereka tergoncang imannya” dan tiba kepada tidak percaya. Ketidakpercayaan mereka mengakibatkan hanya sedikit yang disembuhkan, yaitu mereka yang mau datang kepada-Nya.

Kendati ada orang yang tidak percaya, pekerjaan Yesus berjalan terus. Dia mengutus berdua-dua. Kepada para murid yang diutus-Nya diberikan beberapa syarat dalam pengutusan tersebut. Pengutusan ini lebih menunjukkan bahwa Yesus adalah Sang Pemberi. Kini Israel dapat mengamati bahwa Dia tidak hanya menerima karunia surgawi, justru Dia Sumber dan Pemiliknya. Tuhan akan memelihara hidup para murid-Nya. Dia memang belum pernah meminta apa pun bagi diri-Nya sendiri. Sebaliknya, Dia menuntut supaya orang menjamu para murid-Nya. Dia juga hendak mendidik para murid-Nya untuk percaya menjalankan pengutusan tersebut, karena Tuhanlah yang mengutus mereka.

Yesus menjawab atas ketidakpercayaan orang Nazaret dan yang menolak para murid, Dia memberikan perintah agar mengibaskan debu dari kaki mereka, dari rumah yang menolak mereka. Artinya, niscaya penghuni kota, desa, atau rumah itu akan tetap berada di luar Kerajaan Allah. Tindakan mengibaskan itu menunjukkan bahwa mereka tahu betul tentang Injil itu, tapi mereka tidak percaya dan menolaknya. Sungguh tidak dapat dipercaya kalau mereka tidak percaya padahal sudah melihat perbuatan-perbuatan-Nya. Saudara, apakah yang membuatmu gusar dalam hidup ini? Dapatkah saudara mengimani perkataan Tuhan bagi kita yang mengatakan: “Jangan takut! Percaya sajalah!” (Pdt. Rudi SM Pardede)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s