Salib bagi Kaum Perempuan HKBP Serpong


Perempuan HKBP Serpong memaknai salib untuk menggelorakan semangat melawan kekerasan dalam rangka tahun 2015 sebagai Tahun Perempuan HKBP

Tiga Teori Klasik tentang Salib
Salib seringkali menjadi bahan perdebatan dan didebatkan. Salib bagi sebagian orang dianggap rendah. Sebaliknya Alkitab menyaksikan bahwa salib merupakan sebuah kekuatan. Tidak sedikit orang yang hidup mereka disemangati bahkan digelorakan untuk pikul salib demi memberitakan Kristus yang tersalib, mati, bangkit dan naik ke sorga di dalam kehidupan mereka.

Dalam rangka memperingati perayaan Paskah di bulan April, sekaligus Tahun Perempuan HKBP di tahun 2015, kaum perempuan HKBP Serpong mencoba memaknai salib secara baru, untuk menggelorakan semangat melawan segala bentuk kekerasan, sebagai salah satu bentuk pelayanan di Gereja HKBP Serpong. Alangkah baiknya jika kita perhatikan beberapa teori klasik mengenai salib.
Tiga teori klasik tentang pendamaian Yesus di kayu salib. Pertama, teori Kristus sebagai Pemenang (Christ the Victor theory). Teori pendamaian ini mengkisahkan perhelatan dramatis antara Tuhan dengan Iblis. Keilahian Yesus tersembunyi jauh di dalam kemanusiaan Yesus lalu Iblis menangkap umpan kemanusiaan Yesus tapi disaat bersamaan keilahian Yesus terikut. Dalam pertempuran tersebut, Kristus menang atas iblis. Teori ini mengandung dua kebenaran bahwa Tuhan Allah menang atas Iblis bukan dengan menggunakan pemaksaan atau kekerasan tetapi dengan hikmat yang dianggap bodoh karena Yesus tersalib. Kedua, kebenaran lainnya yaitu Iblis menggunakan kekerasan tapi akhirnya merusak atau menderita kekalahan.

Kedua, teori pengudusan (satisfaction). Teori ini dirumuskan uskup Anselmus dalam bukunya Cur Deus Homo? (Mengapa Allah menjadi Manusia), yang memaparkan alasan Yesus menjadi manusia. Manusia yang telah melanggar perintah Allah maka sudah sepantasnya manusia itu dihukum karena turut telah menghinakan kemuliaan Tuhan. Oleh karena kasih Allah dan manusia tidak dapat membebaskan dirinya dari hukuman tersebut, maka Yesus berkorban sebagai pendamaian antara Allah dengan manusia.

Ketiga, teori pengaruh moral (moral influence). Pemikiran Abelardus menolong kita untuk melihat bahwa salib itu adalah tanda bukti kasih Allah kepada manusia dan dunia ini. Kristus telah menunjukkan kasih-Nya dan kita diundang untuk meresponnya agar mengalami perubahan diri semakin lebih baik. Ketiga teori ini memang tidak lahir secara sekaligus, tanpa mengenyampingkan perdebatan di dalamnya, diakui bahwa ketiga teori ini membantu umat untuk memaknai karya Yesus turun ke dunia.

Memaknai Salib dalam dunia Kekerasan
Apa yang dialami oleh Yesus di kayu salib, sangat sulit untuk mengatakan bahwa itu bukanlah sebuah kekerasan. Migliore meyakini bahwa kematian Yesus di salib adalah kekerasan dan Yesus menjadi korban dari tindakan kekerasan tersebut. Dia menyebut kematian Yesus di salib memberi tiga pengaruh bagi dunia kita yang penuh kekerasan, yaitu: pertama, Kristus mati untuk menyadarkan dan menggetarkan batin kita bahwa kekerasan itu membawa dunia ini menuju ke kebinasaan. Kedua, Kristus mati untuk menyadarkan bahwa kasih Allah itu nyata menyembuhkan bentuk-bentuk kekerasan dan memberi ruang pengampunan bagi para pelaku kekerasan. Ketiga, Kristus mati untuk membuka pikiran kita untuk meninggalkan dunia kekerasan menuju dunia baru yang penuh kedamaian. Artinya, kekerasan itu benar-benar sesuatu hal yang buruk bagi diri sendiri, orang lain, hubungan kita dengan Allah dan dunia ini. Salib itu merupakan visi Allah agar dunia ini jauh dari tindakan kekerasan. Untuk itu salib menjadi sebuah pergerakan melawan kekerasan yang dilakukan oleh Yesus dengan cara nir-kekerasan.

Visi Allah di salib sangat jelas yaitu agar dunia jauh dari tindakan kekerasan. Kekerasan dapat saja terjadi di dalam rumah, lingkungan kita tinggal, masyarakat maupun gereja. Catatan tindakan kekerasan yang terjadi baik kepada anak-anak, perempuan, orang miskin dan sebagainya sangat tinggi, fakta ini membuktikan bahwa kekerasan merupakan sebuah masalah yang serius. Galtung menyebut ada enam dimensi dari kekerasan tersebut. Pertama, kekerasan dalam bentuk fisik dan psikologis. Kedua, pengaruh yang ditimbulkannya yaitu antara yang positif dan negatif. Ketiga, apakah ada atau tidak objek yang terluka. Keempat, apakah ada atau tidak subjek yang melakukannya. Kelima, apakah kekerasan itu sengaja dilakukan atau tidak. Keenam, apakah kekerasan itu bersifat latent (tersembunyi, gejala yang dapat terwujud dan tidak) atau manifest (kekerasan yang sudah tampak). Galtung juga membedakan kekerasan yang dilakukan secara personal maupun struktural. Mengenal dimensi kekerasan itu diharapkan kita dapat mencegah, memutus, dan menyembuhkan segala bentuk kekerasan

Kaum Perempuan HKBP Serpong sebagai Duta Pendamaian
Tahun 2015 ini HKBP menerapkan sebagai Tahun Perempuan. Melalui tulisan sederhana ini dicoba digelorakan bagaimana perempuan HKBP menyuarakan “Hentikan kekerasan!” dan mau menjadi duta-duta pendamaian. Catatan fakta-fakta tindakan kekerasan yang terjadi di gereja dan masyarakat luas, Nolan melihat di masa postmodernisme ini, ada kehausan mendalam akan spritualitas yang dapat memberikan sebuah kepastian dan keamanan. Kehausan spiritual yang diisi dengan berbagai bentuk spiritual yang salah maka hasilnya bukan memutus rantai kekerasan tersebut, justru semakin memelihara kekerasan tersebut. Bentuk spiritual yang salah yaotu seperti: ingin membalas dendam, keegoisan yang berpusat pada diri sendiri, ketertarikan kepada kekuatan dunia dengan magisnya dan sebagainya. Saran Nolan yaitu agar setiap umat memilih Spiritualitas Yesus, salah satunya dengan memikul salib, sebagai cara memutus kekerasan dan membawa pendamaian bagi dunia ini. Kaum perempuan HKBP Serpong kiranya dapat menjadi Duta Pendamaian yang dapat memutus rantai kekerasan dan memberikan pendamaian. Beberapa saran yang dapat dilakukan untuk memutus kekerasan itu diantaranya adalah dengan mau mengampuni, melawan kekerasan dengan nir-kekerasan, menghidupi spiritualitas Yesus, dan mendalami kesatuan atau ketunggalan kita terhadap sesame, diri sendiri, alam ciptaan dan Tuhan Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s