Tenanglah, dalam rasa takut Tuhan selalu ada


Minggu VIII Setelah Trinitatis, 10 Agustus 2014
Matius 14:22-33

Banyak hal yang menyebabkan kita takut, misalnya kegelapan, terombang-ambing karena gelombang, takut pada hantu, dan lain-lain. Pergumulan, kesulitan ekonomi, sakit penyakit, dan kematian membuat seolah-olah kita berjalan dalam kegelapan. Cobaan, ketidakpastian dan keragu-raguan dapat membuat kita terombang-ambing dalam jalan kehidupan kita.

Rasa takut, kegalauan, tiada harapan, sikap pesimisme dan apatis bagaikan ‘hantu’ yang menakut-nakuti kita. Ini semua menjadi musuh keberanian kita menghadapi dan menjalani kehidupan ini. Sesungguhnya Tuhan tidak begitu mempermasalahkan adanya rasa takut pada diri setiap manusia. Sebab rasa takut sesuatu yang alamiah yang tidak seorang pun tidak memilikinya, semua orang mengalaminya. Letak persoalan murid-murid atau yang disayangkan oleh Yesus dari para murid adalah keraguan dan kebimbangan hatinya meskipun Yesus telah mengatakan: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Kita sering seperti Petrus. Yesus telah mengatakan ‘Tenanglah! Aku ini, jangan takut! Tetapi kita masih ragu, bimbang. Petrus masih ragu dan bimbang pada perkataan Yesus, ia meminta lebih: ‘Apabila engkau itu, suruhlah aku datang kepadaMu”. Yesus telah berkata: ‘Aku akan menyertai engkau senantiasa sampai pada akhir zaman’, namun kita sering meminta bukti-bukti, ‘mana tandanya Tuhan’, ‘mana buktinya Tuhan’, ‘jika benar, mengapa aku begini dan begitu’? Ketika kita sering dan sangat banyak meminta lebih dari apa yang Tuhan berikan dan jaminkan, sebenarnya kita masih ragu dan bimbang pada Tuhan. Itulah yang disayangkan Yesus pada Petrus, sampai-sampai Yesus berkata: ‘”Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Jaminan yang Tuhan berikan tidak pernah kurang. Bila Ia mengatakan ‘Tenanglah!’, maka hidup kita akan tenang. Tidak perlu kita meminta selebihnya.

Tidak dapat kita pungkiri, meskipun kita sudah lama menjadi orang Kristen, menamakan diri pengikut Kristus, bahkan ada yang mengkleim pengikutNya yang sejati, namun ada saatnya kita memiliki rasa takut. Sekaliber Elia pun masih memiliki rasa takut pada Izebeel, sekaliber Petrus pun dia masih punya rasa takut. Itu alamiah, dan itu bisa datang kapan saja. Tetapi ketika FirmanNya mengajak kita untuk tetap tenang, ketika Yesus mengatakan ‘Tenanglah! Maka jangan ada lagi rasa ragu, jangan ada lagi rasa bimbang, sebab Dia yang berkata itu mengalahkan rasa takut kita. Firman dan suara Yesus haruslah membangkitkan rasa berani kita menggantikan rasa takut tadi. Bisa saja kesulitan hidup membuat kita takut, kuatir akan kebutuhan makanan dan minuman, urusan sekolah anak-anak, persoalan pekerjaan, pemenuhan kebutuhan sosial dan adat, tuntutan zaman, kewajiban-kewajiban sebagai warga jemaat, dll. Namun, janganlah rasa takut itu membuat kita tidak berani menjalani kehidupan ini. Tuhan menegur Elia karena rasa takutnya membuat dia melarikan diri dari jalan kehidupannya. Dia mengurung diri di dalam gua. Padahal masih banyak hal-hal yang boleh ia lakukan demi masa depan bangsanya. Sesungguhnya tangan Tuhan selalu terulur sekalipun di saat mengalami ketakutan. Mari datang padaNya, bersama Dia kita akan tenang dan damai. Amin! (SP)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s