Siapa yang masuk dalam perhentian?


Ibrani 4:9-10
Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentianNya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaanNya.

PANGGILAN BERIBADAH:
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji namaNya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE. 262:2 Jahowa Tuhanki
Urupi au mandok na patut dohononku. Asa ture hudok na roa oromonku
Tung baen ma au gomos mandok na patut i. Margogo ma antong baen dohot hatangki.

PEMBACAAN FIRMAN : Yehezkiel 32:17-32

SIAPA YANG MASUK DALAM PERHENTIAN?

Kitab Ibrani berisi “nasehat untuk masuk ke tempat perhentian”, bukan mengenai menguduskan hari Sabat . Memasuki perhentian berarti beristirahat dari segala pekerjaan dan jerih, payah. Seperti Allah berhenti dari pekerjaan penciptaan pada hari ketujuh. Bagaimana agar kita tidak ketinggalan mewarisi bagian di dalamnya? “Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorangpun di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.”(Ib. 4:1).

Kitab Ibrani mengingatkan kita “agar jangan sampai melakukan kesalahan yang fatal seperti bangsa Israel. Ketidaksetiaan yang mengakitabatkan kegagalan bangsa Israel memasuki tempat perhentian manjadi pelajaran yang sangat berharga buat kita. Dalam ayat 6 dituliskan bahwa “ada sejumlah orang yang akan masuk ke tempat perhentian itu. Sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaksetiaan dan ketidaktaatan mereka. Pertanyaanya apakah kita sudah melakukan yang terbaik bagi Tuhan dalam hidup ini ? (NKB 199:1). Karena arah hidup kita ditentukan cara hidup kita. Allah telah mempersiapkan tempat perhentian bagi kita.

Untuk itu mari kita berlomba-lomba dalam ketekunan melakukan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, untuk mendapatkan mahkota perhentian yang telah Tuhan siapkan bagi kita. (Ib. 12:1). Tempat perhentian yang akan kita warisi kelak abadi adanya, penuh dengan sukacita. Perhentian itu, sudah, sedang dan terus berlangsung sampai sempurna pada saat kedatangan Yesus yang keduakali-Nya (Ib. 4:7-8; 13:14). Bagi orang-orang percaya, tersedia perhentian abadi di surga (Yoh. 14:1-3; Ib. 11:10,16). Memasuki perhentian yang terakhir, berarti berhenti bekerja dan menderita dan mengambil bagian dalam perhentian Allah dalam sukacita dan dalam persekutuan dengan Allah dan orang-orang kudus dalam kehidupan kekal. Amin!

BERDOA

BERNYANYI KJ. 37b:4 BATU KARANG YANG TEGUH
Bila tiba saatnya kutinggalkan dunia dan Kaupanggil diriku ke hadapan takhtaMu
Batu Karang yang teguh, Kau tempatku berteduh.

DOA BAPA KAMI

Menyanyikan BE. 36:1 Pasupasu Hami
Pasupasu hami O Debatanami, sai sondanghon bohiMi tu na pungu on sude.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s