Minggu IV Setelah Trinitatis, 13 Juli 2014
Matius 13:1-9,18-23
Rahasia tentang Kerajaan Allah-Sorga dan tentang kebenaran-kebenaran rohani sering Yesus terangkan, jelaskan dengan memakai perumpamaan (perbandingan, ibarat, kiasan dan lukisan). Hal ini dipertanyakan oleh murid-murid kepada Yesus: “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” Yesus menjawab: “Kepadamu (murid-murid-orang percaya) diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.” Jawaban Yesus ini mengkritik kehidupan orang banyak yang munafik yang tidak percaya kepada perkataan Yesus, yang mengeraskan hatinya, karena sekalipun melihat, tetapi mereka tidak melihat, sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.
Sebab hati telah menebal, telinga berat mendengar, mata melekat tertutup, hatinya tidak mengerti (ay. 10-17 bnd Yes. 6:9,10). Gagal memahami, mengerti, mengenal Yesus, berarti gagal mengerti akan perumpamaan Yesus. Karena barangsiapa yang tetap tidak menyadari, mengenal, percaya siapa Yesus sesungguhnya, atau tetap tidak mengetahui sifat karunia yang dibawa oleh Yesus bagi seluruh umat manusia, maka bagi orang itu Yesus tetap ditolak dan rahasia Kerajaan Allah-Sorga akan tetap tinggal rahasia walaupun sangat banyak Pengajaran, perumpamaan yang di dengar dari Yesus. Kepada orang luar, segala sesuatu Yesus sampaikan dalam perumpamaan. Bagi mereka, seluruh pelayanan, pengajaran, perumpamaan, mujizat yang dilakukan Yesus tetap tinggal sebagai cerita biasa, duniawi saja yang tidak mempunyai makna, arti karena tidak memahami, mengerti apa yang mereka lihat dan mereka dengar terlebioh tidak mempercayai.
Setelah Yesus memberi jawaban siapakah saudaraNya laki-laki, Perempuan dan ibuNya, yaitu: “Siapa pun yang melakukan kehendak BapaKu di sorga” (12:50), Yesus naik ke perahu dan duduk, sedang orang banyak berada di tepi pantai. Yesus menyampaikan tujuh Perumpamaan dalam Matius 13 ini, yaitu: “Seorang Penabur, lalang diantara gandum, biji sesawi, ragi yang diaduk dalam tepung, harta terpendam, mutiara yang berharga dan tentang pukat nelayan.” Seluruh perumpamaan Yesus juga menggambarkan keadaan Kerajaan Allah dan sikap kehidupan manusia di dunia ini. Dalam perumpamaan tentang seorang penabur, adalah menggambarkan Yesus sendiri selaku Penabur benih (juga para Pemberita Injil), yaitu Injil keselamatan di dunia ini dan manusia di dunia ini digolongkan dalam empat golongan dalam mendengar, melihat dan mengerti tentang Kerajaan Allah dan Benih Injil keselamatan yang di dalam Yesus. Ketujuh Perumpamaan Yesus ini juga menggambarkan ketujuh jemaat di Asia Kecil (Why. 2, 3). Benih yang ditabur Yesus, Pemberita Injil adalah Firman Allah, tetapi benih itu ada yang jatuh di pinggir jalan lalu burung memakannya habis. Ada jatuh ke tanah yang berbatu-batu lalu tumbuh tetapi tidak berakar dan menjadi layu, kereing karena tidak tahan panasnya terik matahari. Sebagian jatuh ditengah semak duri dan sama-sama tumbuh, tetapi semak duri menghempit Benih sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik dan berbuah beratus-ratus, berpuluh-puluh kali lipat. Hati, pikiran, perasaan manusia digambarkan dengan keempat hal tersebut dalam mengakui perbuatan, kedahsyatan, keadilan, kekuatan, berkat Allah terlebih dalam mendengarkan Firman Allah. Bisa jadi Firman Allah di dengar, tetapi tidak dimengerti sama sekali, lalu iblis, kejahatan dapat merampas, menggagalkan Firman itu berbuah. Segera menerima dengan gembira tetapi tidak berakar, hanya sesaat bertahan oleh karena penindasan, penganiayaan melayukan, mengeringkan Firman bahkan menjadi murtad. Firman di dengar tetapi hidupnya dipenuhi rasa kekuatiran akan hal-hal duniawi dan kekayaan sesaat sehingga duniawi, kekayaan menjadi semak duri yang dapat menghimpit Firman itu. Firman yang jatuh di tanah yang baik adalah orang yang mendengar dan mengerti sehingga dapat berbuah beratus, berpuluh kali lipat dan iblis, kejahatan, penindasan-penganiayaan, kekuatiran tidak memiliki kekuatan, tempat untuk menghimpit. Saban Minggu kita mendengar, menerima: “Berbahagialah orang yang mendengar Firman Allah serta memeliharanya.” Digolongan manakah hati, pikiran, perasaan kita dalam mendengar Firman Allah? Apakah kita sudah termasuk orang yang berbahagia karena telah mendengar, mengerti, memelihara, membuahkan Firman Allah? (Pdt. Leonard Sigalingging, STh).
