Arsip

Si Kikir dan Si Gila


Seorang yang dikenal amat kikir, suatu hari sedang duduk di pintu kedainya sambil menikmati secangkir kopi. Seorang gila menghampirinya dan meminta sedikit uang untuk membeli yoghurt.

Pedagang kikir itu berusaha mengacuhkannya tetapi si gila tetap tak mau pergi dan malah membuat keramaian.
Orang-orang yang lewat dan melihat hal itu lalu menawarinya uang. Tapi si gila bersikeras bahwa ia hanya menginginkan uang dari si kikir.
Akhirnya, si kikir memberinya sedikit uang receh untuk membeli yoghurt. Si gila kemudian meminta tambahan uang untuk membeli roti yang akan dimakannya bersama yoghurt itu. Pedagang kikir itu tentu saja sudah tak boleh membiarkan hal ini, dan ia tegas-tegas menolaknya.

Malamnya, orang kikir itu bermimpi. Dalam mimpinya, ia telah berjalan di dalam surga. Tempatnya sangatlah indah, penuh dengan sungai, pepohonan, dan bunga-bungaan. Setelah beberapa saat berjalan di sana, ia merasa lapar. Ia keheranan, di tengah semua keindahan surga, ia tak melihat sedikit pun makanan.

Ketika itu, muncullah seorang pemuda bewajah tampan bercahaya.
Si kikir bertanya kepadanya, “Apakah ini benar-benar surga?” Pemuda itu mengiyakan. “Lalu, di mana gerangan segala makanan dan hidangan surga yang telah sering aku dengar itu?” tanya orang kikir itu lagi.

Pemuda tampan itu permisi sebentar. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa semangkuk yoghurt. Pedagang kikir lalu meminta roti untuk dimakan bersama yoghurt tapi pemuda itu menjawab, “Yang engkau kirimkan kemari hanyalah yoghurt ini saja.

Seandainya engkau mengirimkan roti, tentu sekarang aku dapat menyuguhkanmu roti juga. Yang engkau tuai di sini adalah apa yang engkau tanam sewaktu di dunia.”

Si kikir terbangun dari mimpinya. Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Sejak saat itu ia menjadi salah seorang yang paling pemurah di kotanya. Diberikannya makanan kepada setiap pengemis dan orang miskin yang dijumpainya.

Nasi Kotak


Hari ini saya mendengar sebuah kisah mengharukan dari seorang teman. Ada seorang nenek setiap hari membuat nasi kotak kasih. Satu kotak nasi seharga enam ribu rupiah, dalam nasi kotak tersebut berisi daging dan empat jenis sayuran, keseluruhan nasi kotak ini terlihat mewah.

Teman saya bertanya kepada nenek itu, “Mengapa Anda jual nasi kotak itu begitu murah?”

Nenek itu berkata, sekarang situasi ekonomi sedang lesu, sangat sulit mencari uang. Banyak anak kecil tidak memiliki uang jajan untuk membeli makanan, ataupun membayar uang sekolah. Sedangkan orang dewasa sangat sulit mendapatkan pekerjaan, walaupun sudah mendapatkan pekerjaan gajinya juga sangat minim.

Oleh karenanya Nenek sangat berharap bisa membuat kelompok pekerja menghabiskan uang yang paling minim, bisa menikmati nasi kotak yang bergizi. Dia juga sangat berharap orang lain bisa meniru tindakannya, agar lebih banyak orang lagi yang bisa memberikan perhatian kepada kaum buruh dan pekerja tingkat menengah bawah.
“Lantas, berapakah modal Nenek untuk membuat satu kotak nasi? Jika uangnya tidak mencukupi siapa yang mendukung Nenek?” tanya teman saya.

Nenek itu berkata, “Sekarang ini harga barang terus naik, modal untuk membuat satu kotak nasi sebesar sepuluh ribu rupiah, berapa uang yang Nenek miliki maka sebanyak itu nasi kotak yang akan Nenek buat. Jika uang hasil penjualan tidak mencukupi, maka dia akan mengambil uang bulanan dari anaknya untuk menutupi kekurangan itu.
Akhirnya teman saya itu bertanya lagi, “Apakah keluarga Nenek mendukung kebaikan ini?”

Nenek itu mengatakan, putranya pernah menasehatinya untuk menikmati hari tua, tanpa perlu bersusah payah setiap hari membuat nasi kotak. Sibuk bekerja dari siang hingga malam. Tetapi putranya melihat nenek melakukan hal ini dengan riang gembira, akhirnya dia mendukung keinginan Nenek.

Nenek itu menambahkan, perbuatan baik bisa dan boleh dilakukan setiap orang. Asalkan semua orang bersedia mengorbankan sedikit rasa kasih, maka masyarakat ini semakin lama makin mempunyai harapan.

Seorang Ibu negara AS pernah mengatakan, “Ada orang yang memberikan waktu, ada orang yang menyumbangkan uang, ada yang menyediakan teknik dan relasi mereka, ada pula yang benar-benar mengorbankan jiwa dan raganya. Dapat dikatakan setiap orang memiliki sesuatu yang bisa didermakan. Jiwa dan kasih kesemuanya ini disulut dan membara dari lubuk hati kebaikan.”

Ketika kita hidup di tengah-tengah masyarakat, mungkin bisa merasakan realitas masyarakat, lingkungan yang dingin tidak ada kepedulian. Juga mungkin sekarang ini kita tidak bisa mengubah apapun, juga tidak bisa menuntut orang lain untuk meniru kita. Tetapi kita bisa mengubah diri kita sendiri.

Jika semua orang bisa berpikir pada sudut kebaikan, bisa lebih dulu memikirkan orang lain sebelum melakukan sesuatu, maka dunia ini akan lebih indah, sumber dari kebaikan ini akan terus mengalir selamanya. (Wen Qi/The Epoch Times)

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” (Galatia 6:10)

Kolabarasi Iman dan Perbuatan


Seorang pria sedang mendayung perahu ditemani oleh seorang anak. Anak itu melihat ada tulisan pada dayung yang dipakai itu, di satu dayung terukir tulisan “Iman” dan dayung lainnya tertulis “Perbuatan“.
Anak itupun bertanya maksud dari tulisan-tulisan itu. “Dayung ini harus digunakan bersama-sama, jika satu dayung saja yang digunakan dan yang lain tidak, maka perahu hanya berputar-putar dan tidak akan sampai ke tempat tujuan”.

Namun jika kedua dayung digunakan bersama, maka perahu itu dapat berlayar dengan cepat” jelas pria tersebut. “Satu dayung saja tanpa dayung yang lain tidak akan membawa Anda sampai ke suatu tempat, begitu pula dengan Iman dan Perbuatan, jika digunakan bersama-sama akan menghasilkan kemajuan.”

Iman dan Perbuatan harus bekerja bersama. Banyak orang menyatakan betapa berimannya mereka, tetapi apakah mereka telah membuktikannya dalam perbuatan mereka?

Sebaliknya, ada banyak orang juga yang hebat dalam perbuatan, sayangnya mereka tidak mengarahkan iman mereka kepada Yesus Kristus.

Iman tanpa Perbuatan pada hakekatnya adalah mati; Perbuatan tanpa Iman adalah sia-sia.

Yakobus 2:14~26

(Baca Matius 7:24~27; Yakobus 3:13; 1 Yohanes 3:17~18 & 23)

Tuhan Mengasihiku, Tuhan Mengujiku


Tuhan selalu mengasihi umatnya yang sedang mengalami cobaan. Ia akan selalu memberikan pertolongan jika kita memanjatkan doa kepadaNya. Ia akan mengangkat kita dari sebuah masalah dan memberikan kecukupan. Tapi Ia akan memberikan ujian kepada umatNya, apakah ia layak memperoleh semua kecukupan yang diberikanNya.

Berikut dibawah ini sebuah pengakuan yang disampaikan oleh seorang yang percaya kepada Yesus Kristus tentang pengalaman pribadinya.

Sebut saja namaku C. Awalnya aku berasal dari keluarga sederhana, dimana ayahku telah meninggal dunia dan ibuku hanya seorang bidan biasa. Ia membanting tulang sekuat tenaga untuk menhidupi keluarganya. Ibuku seorang yang sangat tekun berdoa, ke gereja bahkan ia menjadi pelatih koor di sebuah gereja.

Ia merupakan contoh hidup yang paling dekat dalam hidupku tentang

seorang manusia yang hidupnya mengandalkan kepada Yesus Kristus. Ketika ayahku meninggal Ia tidak meninggalkan banyak harta, hanya sebuah rumah secukupnya. Itu pun cukup untu berteduh bagi kami berdua.

Dalam masa kesusahan tersebut kami berdua selalu berdoa dulu kepada Yesus Kristus untuk membimbing kami dalam melangkah. Walaupun kami susah secara ekonomi tapi hati kami tidaklah susah karena merasa ada seorang BAPA yang selalu menjaga dan melindungi mendengarkan segala keluh kesah kami. Ia merupakan sumber penghiburan bagi kami. Ia selalu memberikan jalan keluar terhadap segala permasalahan yang kami hadapi.

Semuanya serba cukup walaupun dalam keadaan hidup sederhana. Maksudnya kami bisa makan minum secukupnya 3 hari sehari, badan selalu sehat tidak ada penyakit parah yang kami derita, kebutuhan sehari hari selalu tersedia walaupun sederhan. Kami tidak komplain akan hal ini.

Setelah beberapa tahun menjalani hidup berdua saja. Aku berhasil menyelesaikan kuliahku dan meraih gelar sederhana. Hal ini disambut tangis bahagia oleh ibuku dan keluarga besarku. Sepertinya jerih payah dan ketabahan hidup ini telah terbalaskan semua. Yesus Kristus tampaknya memberikan kasih karunia kepada kehidupan kami berdua.

Seusai menyelesaikan sekolah, akupun mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan penanaman modal luar negri. Karierku berkembang dengan pesat semuanya berjalan dengan mulus dan sepertinya Yesus Kristus selalu menjaga dan melimpahkan semua berkat kepada kami. Perekonomian kami membaik, aku bisa memperbaiki rumah yang sederhana dulu bahkan bisa mengendarai mobil yang harganya ratusan juta rupiah. Padahal mempunyai mobil mewah hanyalah merupakan impian saja.

Di balik perbaikan perekonomian yang besar itu sebenarnya ada gejolak batin dalam diri ini. Aku memperoleh ke kayaan itu sebenarnya melanggar ajaran Tuhan. Aku bisa demikian cepat kaya karena melakukan kolusi dengan relasi perusahaanku. Aku melakukan up grade dari harga sebenarnya. Up grade harga itu yang demikian besar aku bagi dua dengan relasi tersebut.

Aku menjadi gelisah. Apakah hal ini yang diinginkan oleh Yesus Kristus dalam hidupku. Hatiku mulai menjerit dan menangis. Terlebih lagi setelah kusadari bahwa aku belakangan ini semakin jarang pergi ke gereja atau membaca firman Tuhan.

Hal ini disebabkan kesibukan ku dalam bekerja. Aku bekerja dari pagi hingga larut malam. Sabtu – Minggu sering berada diluar kota dan luar negeri untuk tugasku. Untuk membuka Alkitab dan berdoa di malam untuk mengucap syukur semakin susah. Karena diri ini terlalu lelah untuk melakukan hal itu. Bila melihat tempat tidur, diri ini inginnya tidur dan bila badan menyentuh busa tempat tidur. Langsung pless…. Tidur pulas.

Hatiku semakin merasa sakit dan sedih. Kenapa ketika secara materi bercukupan, aku merasa semakin jauh dengan Tuhan Yesus ? Ia seperti jauh, tidak seperti seorang BAPA yang selalu menjaga dan memperhatikan anaknya. Ia tidak seperti BAPA yang selalu melindungi diriku. Aku pun menangis. Ini semua salahku dan aku menyadari kalau aku ini tidak sanggup untuk menanggung beban tanggung jawab yang diberikan Yesus Kristus kepadaku.

Ia memberikan ilmu dan kesempatan bagi diriku untuk bisa memperbaiki kehidupan sesuai dengan ajaran Tuhan ternyata tidak bisa aku pertanggung jawabkan. Aku sangat merindukan kehadiran Yesus Kristus seperti dulu, seperti aku masih susah. Ia sungguh dekat dengan kami sekeluarga.

Aku pun memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku karena merasa tidak memperoleh ketenangan. Tapi keinginan ini mendapat tentangan dari ibuku.

Ia merasa jerih payah menyekolahiku baru terbalaskan. Ia ingin menikmati hari tuanya dengan serba kecukupan. Oh, Tuhan ternyata engkau juga menguji iman ibuku. Engkau mengijinkan si iblis untuk menguji kesetian ibuku dengan harta dan kemulian.

Aku pun menangis dan memohon ampun kepada Tuhan. Janganlah diriMu memberikan suatu pencobaan yang melebihi kemampuan dari umat yang percaya kepadaMu. Aku mencoba dengan berdoa agar ibuku mau tersadar kembali dan hidup sesuai dengan ajaran Tuhan.

Doa yang ku panjatkan kepada Yesus Kristus membuahkan hasil ibuku mulai menyadari kalau kehidupan kami seperti tanah gersang yang merindukan hujan. Tidak ada artinya kekayaan yang melimpah bila hati kami menderita. Akhirnya ia menyetujui permintaanku untuk mundur dari tempat bekerja.

Aku pun memulai hidup dengan usaha kecil kecilan dalam berbisnis. Susah memang dan penghasilannya kecil serta tidak tetap. Tapi hati kami selalu berada dalam ketenangan dan merasakan kembali kedekatan dengan Tuhan Yesus. Ia seperti BAPA yang menjaga dan melindungi anaknya.

Berdasarkan pengalaman ini, aku pun jadi teringat akan sepenggal kalimat dari Doa Bapa Kami…. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya…

Arti Sebuah HARAPAN


Dahulu, ada seorang pengusaha yang cukup berhasil di kota ini. Ketika sang suami jatuh sakit, satu per satu pabrik mereka dijual. Harta mereka terkuras untuk berbagai biaya pengobatan. Hingga mereka harus pindah ke pinggiran kota dan membuka rumah makan sederhana. Sang suami pun telah tiada.

Beberapa tahun kemudian, rumah makan itu pun harus berganti rupa menjadi warung makan yang lebih kecil sebelah pasar. Setelah lama tak mendengar kabarnya, kini setiap malam tampak sang istri dibantu oleh anak dan menantunya menggelar tikar berjualan lesehan di alun-alun kota. Cucunya sudah beberapa. Orang-orang pun masih mengenal masa lalunya yang berkelimpahan. Namun, ia tak kehilangan senyumnya yang tegar saat meladeni para pembeli.

Wahai ibu, bagaimana kau sedemikian kuat?

“Harapan nak! Jangan kehilangan harapan. Bukankah seorang guru dunia pernah berujar, karena harapanlah seorang ibu menyusui anaknya. Karena harapanlah kita menanam pohon meski kita tahu kita tak kan sempat memetik buahnya yang ranum bertahun-tahun kemudian. Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia”.

Roma 5:2 mengatakan,” Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kitamalah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Perkataan Ibu Teresa


Inilah perkataan yang diucapkan ibu Teresa sebelum kematiannya :

Kalau saya memungut seseorang yang lapar dari jalan, saya beri dia sepiring nasi, sepotong roti. Tetapi seseorang yang hatinya tertutup, yang merasa tidak dibutuhkan, tidak dikasihi, dalam ketakutan, seseorang yang telah dibuang dari masyarakat – kemiskinan spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk diatasi.”

Mereka yang miskin secara materi bisa menjadi orang yang indah.

Pada suatu petang kami pergi keluar, dan memungut empat orang dari jalan. Dan salah satu dari mereka ada dalam kondisi yang sangat buruk.

Saya memberitahu para suster : “Kalian merawat yang tiga; saya akan merawat orang itu yang kelihatan paling buruk.”

Maka saya melakukan untuk dia segala sesuatu yang dapat dilakukan, dengan kasih tentunya. Saya taruh dia di tempat tidur dan ia memegang tangan saya sementara ia hanya mengatakan satu kata : ”Terima kasih” lalu ia meninggal.

Saya tidak bisa tidak harus memeriksa hati nurani saya sendiri. Dan saya bertanya : ”Apa yang akan saya katakan, seandainya saya menjadi dia ?” dan jawaban saya sederhana sekali. Saya mungkin berusaha mencari sedikit perhatian untuk diriku sendiri.

Mungkin saya berkata : ”Saya lapar, saya hampir mati, saya kedinginan, saya kesakitan, atau lainnya”. Tetapi ia memberi saya jauh lebih banyak ia memberi saya ucapan syukur atas dasar kasih. Dan ia mati dengan senyum di wajahnya.

Lalu ada seorang laki-laki yang kami pungut dari selokan, sebagian badannya sudah dimakan ulat, dan setelah kami bawa dia ke rumah perawatan ia hanya berkata : “Saya telah hidup seperti hewan di jalan, tetapi saya akan mati seperti malaikat, dikasihi dan dipedulikan.”

Lalu, setelah kami selesai membuang semua ulat dari tubuhnya, yang ia katakan dengan senyum ialah : “Ibu, saya akan pulang kepada Tuhan” – lalu ia mati.

Begitu indah melihat orang yang dengan jiwa besar tidak mempersalahkan siapapun, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Seperti malaikat, inilah jiwa yang besar dari orang-orang yang kaya secara rohani sedangkan miskin secara materi.

* Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
* Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
* Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
* Hidup adalah tantangan, hadapi itu.
* Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
* Hidup adalah pertandingan, jalani itu.
* Hidup adalah mahal, jaga itu.
* Hidup adalah kekayaan, simpan itu.
* Hidup adalah kasih, nikmati itu.
* Hidup adalah janji, genapi itu.
* Hidup adalah kesusahan, atasi itu.
* Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.
* Hidup adalah perjuangan, terima itu.
* Hidup adalah tragedi, hadapi itu.
* Hidup adalah petualangan, lewati itu.
* Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.
* Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.

Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu.

TUHAN SANG PEMILIK


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji nama-Nya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-14:1 Puji Hamu Jahowa Tutu
Puji hamu Jahowa tutu, Pardengganbasa, Parasiroha salelengna i. Pardengganbasa i, parasiroha i.

PEMBACAAN FIRMAN
Kis. 17:24-28 (Pagi)
Yes. 11:6-8 (Malam)

RENUNGAN
Mazmur 24:1-2
Mazmur Daud. Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.”

TUHAN SANG PEMILIK
Ayat renungan di atas merupakan bagian pujian Daud, di mana Mazmur 24 ini sering dibacakan sebagai pengatar ibadah orang Yahudi. Sekaligus sebagai pengingat apakah kita sudah layak atau tidak masuk ke rumah ibadah. Ayat renungan hari ini menegaskan kembali bahwa Tuhanlah pemilik tunggal alam semesta beserta seluruh isinya. Melalui ayat ini raja Daud yang sangat merasakan kehadiran dan pertolongan Tuhan dalam kehidupannya mengingatkan kita bahwa Allah berkuasa mengatur alam semesta ini, baik apapun yang terjadi di seluruh muka bumi ini, baik di daratan maupun di lautan juga di dalam tanah maupun di dalam air.

Sebagai konsekuensi pengakuan ini, kita sebagai pengikut Yesus harus mematuhi aturan yang diberikan Sang Pemilik alam semesta ini supaya bisa berkarya selama hidup di dunia ini. Melalui Firman-Nya yang bisa kita temukan dengan jelas dan rinci dalam Alkitab, kita harus terus meningkatkan keimanan kita dengan selalu membaca Alkitab setiap harinya. Sangat banyak rahasia-rahasia Tuhan yang bisa kita temukan di dalam Alkitab tersebut. Dalam Pengkhotbah 1:9 dengan jelas dikatakan “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari”. Mengapa kita harus sadar benar akan konsep bahwa Tuhan adalah Sang Pemilik alam semesta ini? Karena kita sebagai manusia ciptaan-Nya tidak berjalan sendiri tetapi selalu dipelihara dan dijaga oleh Sang Pemilik. Jadi, tidak ada asalan bagi kita untuk mengeluh dan mengkhawatirkan akan kehidupan di dunia ini, apalagi ketika kita mengalami permasalahan atau cobaan. Ingat! Tetaplah tegar menghadapinya karena Sang Pemilik akan segera menolong kita sepanjang kita percaya kepada-Nya. Amin.

BERDOA

BERNYANYI KJ-460:1 Jika Jiwaku Berdoa
Jika jiwaku berdoa kepada-Mu Tuhanku, ajar aku t’rima saja pemberian tangan-Mu. Dan mengaku s’perti Yesus di depan sengsara-Nya. Jangan kehendakku Bapa, kehendak-Mu, jadilah.

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI
Amin-amin-amin