Arsip Kategori: Ibadah Minggu

PUASA


Minggu IV Setelah Trinitatis
Allah Bapa – Anak dan Roh Kudus

Topik:
Mangolu dibagasan haunduhon tu Debata
(Hidup dalam ketaatan kepada Allah)

Warna Tutup Altar : Hijau (Na ratarata)
Warna Pertumbuhan dan Kasih

Tuhan memberi partumbuhan dan memelihara umatNya
Ev. Ester 5:1-8.
Ep. Markus 12:13-27.

PUASA
Puasa yang dikehendaki Allah adalah “merendahkan diri” dan “mewujudkan keadilan” kepada sesama, mewujudkan “cinta kasih” dan kepedulian kepada sesama terutama kepada mereka yang menderita. Bila hal itu dilakukan maka ada berkat Tuhan yang pasti diterima, yaitu: pengharapan di tengah kesesakan dan pergumulan. Terjalinnya hubungan yang baik dengan Tuhan. Ada pengharapan di dalam Tuhan, pertolongan Tuhan serta jaminan keberhasilan dan keselamatan (Yes 58:6-14). Jadi puasa bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum. Puasa juga bukan sekedar memenuhi Hukum Agama. Namun lebih dari itu semua bahwa Puasa adalah kesediaan untuk bertobat dan merendahkan diri di hadapan Allah yang ditandai dengan mewujudkan keadilan, cinta kasih dan kepeduliaan terhadap sesama manusia.

Kebahagiaan Orang Yang Dibenarkan Tuhan


MINGGU II TRINITATIS, 30 JUNI 2019
{Mazmur 32: 1-11}

Seperti apa perasaan orang yang menyimpan dosa dalam dirinya? Mungkin ia akan merasa bersalah, atau merasa diri munafik. Bisa juga ia merasa takut jika dosanya diketahui orang lain. Namun yang pasti, tak ada anak Tuhan yang tahan berlama-lama menyimpan dosa. Pemazmur pernah mengalami rasa tertekan yang luar biasa saat ia menyimpan dosa di dalam dirinya. Akibatnya ia seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Baru pada saat membuka diri di hadapan Tuhan dan mengaku dosa, pemazmur mengalami kelegaan (ayat 5).

Mazmur ini unik. Pada saat yang sama ada pengakuan dosa, tetapi sekaligus pernyataan bahagia. Mazmur-mazmur “bahagia” (mis. Mzm. 1, 106, 112, 119, 128) pada umumnya mendasarkan kebahagiaan pada mempercayai atau menaati firman Tuhan. Namun mazmur ini justru menyatakan bahwa kebahagiaan sejati adalah anugerah Allah yang Maha Pengampun, dimana kita dibenarkan. Kebahagiaan hanya masalah pilihan. Setiap manusia sepanjang zaman berusaha dengan segala daya upaya untuk mendapatkan kebahagiaan hidup. Bahkan ada yang bekerja tanpa mengenal waktu dan menomorduakan keluarga agar meraih promosi jabatan, karena mereka berpikir bahwa kebahagiaan akan didapatkan jika mereka bergelimang harta dan meraih kedudukan tinggi. Setelah meraih semua itu, bukan kebahagiaan yang ia dapatkan namun penyakit karena stress dan bekerja terlalu keras. Lalu dimanakah kebahagiaan?

Sesungguhnya kebahagiaan bukanlah hal yang sulit digapai oleh manusia. Daud sudah membuktikan. Ia menemukan kebahagiaan bukan dalam kekayaan, kedudukan, dan kekuasaan yang ia miliki namun dalam pilihan bijak yang ia tetapkan. Ia memilih untuk bertobat dan mohon ampun dari Allah maka ia menemukan kebahagiaan (1-2, 5). Orang yang menyadari dosanya namun tidak bertobat tidak akan mengalami kedamaian hati namun justru tekanan (3-4). Ia juga memilih untuk menggantungkan hidupnya kepada Allah (7). Walaupun tekanan dan kesulitan tetap melandanya, ia tidak sendiri sebab Allahlah tempat perlindungannya (6). Yang terakhir ia memilih untuk menaati perintah Allah (8) bukan seperti kuda atau bagal yang terkenal senang membangkang.

Pilihannya yang terakhir adalah sangat tepat sebab orang fasik akan mengalami derita bukan selalu secara fisik, namun yang pasti secara hati dan jiwa karena hanya orang yang sudah dipulihkan hubungannya dengan Allah yang akan merasakan damai sejahtera yang sesungguhnya (10). Kebahagiaan yang diajarkan oleh Daud kepada kita adalah kebahagiaan yang sejati sebab tidak tergantung dari situasi dan kondisi dirinya, masyarakat sekitar maupun lingkungannya. Bencana dan derita apa pun boleh menimpa kita namun karena pilihan, kitia tetap dapat bersukacita dan bersorak-sorai bersama denganNya (11). Amin.

Pdt. Ricky P Tambunan

Alfa dan Omega


Topik: Kebahagiaan Orang yang Dibenarkan Tuhan
(Martua Halak na Pinintoran ni Debata)
Warna Tutup Altar : Hijau (Na Ratarata)
Warna kehidupan dan pertumbuhan. Lambang perilaku kehidupan orang Kristen yang telah penebusan dan keselamatan dari Tuhan Allah.

Ev. Mazmur 32:1-11
Ep. Roma 10:4-12

Alfa dan Omega
Alfa dan Omega adalah huruf pertama dan terakhir dalam alphabet Yunani. Misalkan dalam alphabet kita saat ini adalah huruf A dan Z. Simbol ini adalah gambaran dari kitab Wahyu 22:13 yang berkata: “Aku adalah Alfa dan Omega, yang pertama dan yang terkemudian, yang awal dan yang akhir”. Namun dalam penggambarannya, Alfa dan Omega tidaklah terpisah, ia harus digambarkan bersatu dan tidak terpisah. Hal ini merujuk kepada Pribadi Yesus yang sempurna. Ia telah ada pada awalnya, dan Ia juga yang akan datang pada akhir dunia ini. Gambar ini pertama sekali dilukiskan pada tameng tentara Roma. Alfa digambarkan pada posisi sebelah kiri dan Omega digambarkan pada posisi kanan, sedang ditengah-tengah digambarkan simbol Chi-Ro yang menyimbolkan Yesus Kristus itu sendiri. Hal ini menjadi tradisi pada gereja mula-mula untuk tetap menggambarkan Alfa, Chi-Ro dan Omega didepan jemaat (pada Altar). Tradisi ini masih dapat kita lihat sampai saat ini. Seluruh meja Altar gereja biasanya dilengkapi dengan tiga simbol ini. Untuk tetap menjaga pribadi Yesus pada simbol ini, maka ketika Chi-Ro tidak disertakan, penulisan Alfa dan Omega harus dilukiskan satu kepribadian, menggambarkan pribadi Yesus yang awal dan yang terkemudian.

ORDINARY DAYS


Topik: Hidup Kudus di Hadapan Allah
(Ngolu na Marhabadiaon di Jolo ni Debata)

Warna Tutup Altar : Hijau (Na Ratarata)
Warna kehidupan dan pertumbuhan. Lambang perilaku kehidupan orang Kristen yang telah penebusan dan keselamatan dari Tuhan Allah.

Ev. Wahyu 22:12-17
Ep. Keluaran 15:12-18

ORDINARY DAYS
Trinitatis adalah Minggu terakhir yang dirayakan oleh Gereja sesuai dengan tahun liturgi. Kesempurnaan Tuhan melalui seluruh karyaNya telah nyata. Seluruhnya ditutup melalui minggu Trinitatis. Dengan kesempurnaan itu maka Allah mengutus manusia untuk berangkat dan mewartakan Injil melalui seluruh segi kehidupannya, baik pikirannya dan tugas-tugasnya, termasuk kepada pekerjaan yang harus dilakukannya. Dalam minggu setelah Trinitatis ini, kita akan membicarakan mengenai seluruh kegiatan, perjuangan, perasaan dan situasi di tengah-tengah manusia. Ini adalah minggu yang paling panjang di antara seluruh tahun liturgi yang ada. Karena berbicara mengenai kemanusiaan, maka minggu-minggu ini sering disebut dengan Minggu Ordinary (minggu biasa). Umumnya seluruh pesta-pesta Gereja, baik pesta menabur, menuai, pembangunan dan pesta lainnya dilaksanakan pada Minggu-minggu ini. Simbol yang sering dipakai dalam minggu-minggu ini adalah simbol triangle Trinity, atau Tries et Concordia. Dalam simbol ini digambarkan tiga kepribadian yang menyatu dan tidak terpisahkan. Dengan disempurnakannya seluruh rencana dan rancangan Allah kepada manusia, maka manusia telah siap untuk menghadapi tantangan yang akan datang. Melalui minggu ordinary ini, kita diajak untuk terus bertahan dalam iman kepada Allah, bukan dalam ketenangan, tetapi justru dalam menghadapi tantangan yang telah berdiri dihadapannya. Itu sebabnya pada minggu ordinary ini ditutup dengan Minggu Mortuorum dimana manusia mengenang akan kematiannya. Segala kehidupan akan berakhir pada kematian, namun akan lahir kembali dalam sebuah kehidupan.

Iman yang Menyelamatkan


Topik: Iman yang Menyelamatkan
(Haporseaon na Manghorhon Haluaon)

Warna Tutup Altar : Hijau (Na Ratarata)
Warna kehidupan dan pertumbuhan. Lambang perilaku kehidupan orang Kristen yang telah penebusan dan keselamatan dari Tuhan Allah.

Ev. Kejadian 22:1-12
Ep. Ibrani 11:7-12

TRINITATIS
Minggu Trinitatis ini adalah minggu yang menutup pada Easter Tide, tetapi sekaligus Minggu pembuka dalam Minggu Ordinary (Biasa). Theologia Trinitatis ini adalah paham yang paling banyak diserang oleh agama lain terhadap Kekristenan. Uniknya Kristen memahami dengan baik mengenai Trinitatis ini, namun sulit untuk menjelaskan, tidak heran jika pemahaman mengenai Trinitatis ini tidak dapat diterima secara logika. Tetapi itulah hakekat Tuhan kita. Ulangan 6:4 berkata: “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa!” Lalu dari manakah Tritunggal ini? Dari Kejadian kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Roh (sifat 1), lalu Ia berfirman (sifat 2) untuk menciptakan segala sesuatunya, dan Firman itu menjadi manusia (sifat 3) itulah yang dikatakan Yohanes 1:14. Tetapi semuanya itu adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sebab sejak awal, Allah telah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Gambar dan rupa yang dimaksud bukanlah wajah, tetapi eksistensi manusia yang sesungguhnya serupa dengan Allah-Imago Dei (Citra Allah). Citra Allah yang memiliki logos/Firman (logika-Ilmu), citra Allah yang memiliki Roh (dapat hidup dan bergerak) dan Citra Allah yang memiliki daging (berbentuk secara fisik), dalam citra Allah inilah manusia menjadi satu kesatuan yang utuh, yang berkehendak (berfikir logika) yang hidup (bergerak) dan yang berkarya (dapat menjadikan sesuatu sebab memiliki fisik). Inilah tiga citra yang menyatu di dalam satu manusia utuh yang disebut dengan Imago Dei.

PENTAKOST


Senin, 10 Juni 2019

Topik: Mengenal Roh yang Berasal dari Allah
(Mananda Tondi na sian Debata)

Warna Tutup Altar : Merah (Na Rara)
Warna simbol darah dan api, lambang semangat dalam memuji dan bersyukur kepada Tuhan.

Ev. 1 Yohanes 4:1-6
Ep. Zefanya 3:9-13

PENTAKOST
Burung Merpati dan Lidah Api

Kita semua mengetahui bahwa simbol burung merpati adalah simbol dari Roh Kudus. Namun banyak yang belum mengetahui mengapa harus burung merpati? Dalam Kejadian 1:2 jelas dikatakan bahwa “Roh Allah melayang-layang…” Gereja mula-mula menggambarkan “melayang-layang” tersebut dalam bentuk burung. Namun semua menjadi jelas ketika peristiwa pembaptisan Yesus terjadi di sungai Yordan, di mana Roh Allah menampakkan diri dalam bentuk Burung Merpati (Matius 3:16). Sedangkan 12 lidah api adalah gambaran dari ke-12 murid Yesus yang menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta. Mengapa 12? pada saat itu Matias telah diangkat untuk menggantikan Yudas Iskariot yang mati bunuh diri. Lidah api memiliki banyak pengertian, dapat diartikan sebagai semangat yang berkobar, atau dapat juga diartikan dengan pemberitaan Firman yang berapi-api, atau mungkin juga dapat diartikan sebagai “pemurni emas dengan cara dibakar”. Tetapi semuanya itu menunjukkan kepada Roh Kudus.

THIRD EASTER TIDE


Pentakost
Pada Minggu ketiga dalam Easter Tide ini, kita sampai kepada pencurahan Roh Kudus. Setelah seluruh doa Exaudi dikumandangkan, pada akhirnya Allah mengutus RohNya untuk terus mendampingi umat yang percaya dalam perjalanan hidupnya. Kata Pentakosta bukanlah berarti “kedatangan Roh Kudus”, namun Pentakosta adalah kata bilangan dalam bahasa Latin. Pentakosta sendiri memiliki arti “Lima Puluh”. Karena itu, Pentakosta berarti hari yang ke lima puluh terhitung sejak Paskah. Sebenarnya tradisi hari ke lima puluh sudah ada sebelum Yesus Kristus lahir. Ini adalah tradisi Yahudi untuk merayakan hasil panen. Perayaan itu sendiri dilaksanakan selama tujuh Minggu terhitung sejak paskah, dan minggu yang ke tujuh dirayakan pesta Shavout (Ulangan 16:10). Berbeda dengan tradisi Yahudi, umat Kristen lebih memfokuskan makna kepada turunnya Roh Kudus. Sebab pada hari inilah janji Yesus Kristus untuk memberikan Roh penghibur itu benar-benar digenapkan (Lukas 24:49). Peristiwa turunnya Roh Kudus terjadi pada hari yang sama dimana orang-orang Yahudi merayakan Shavout, itulah sebabnya dalam Kisah Para Rasul diterangkan banyak orang yang berbeda suku dan bangsa datang kepasar, sedang para murid Yesus menerima Roh Kudus pada sebuah gedung di ruangan atas. Dan disanalah pewartaan Firman terjadi (khotbah Petrus) dimana 3.000 jiwa bertobat (Kis. 2:41). Itulah sebabnya, ketika Pesta Pentakosta, kita juga merayakan hari lahirnya Pekabaran Injil (Zending).