Sangkar Burung Kosong


Ada seorang bapak di kota kecil dan ia mau beribadah di suatu tempat agak jauh dari kota. Setelah tiba di gereja, Ia membawa sebuah sangkar burung kosong yang sudah reyot, kotor tak terurus, dan menepatkannya di dekat altar. Alis mata orang yang melihatnya mulai terangkat dan bertanya-tanya.

Bapak tersebut rupanya adalah penginjil yang diundang untuk berkhotbah pada hari minggu itu. Bapak itu mulai menjelaskan tentang sangkar burung tersebut. Dalam perjalanan saya ke sini tadi, saya bertemu dengan seorang anak kecil melangkah berlenggang sambil mengayun-ayunkan sangkar burung ini. Didalamnya terdapat 3 ekor anak burung pipit (*amporik*), meringkuk kedinginan dan ketakutan.

Saya berhenti dan bertanya kepada anak tersebut : Apa yang kamu bawa, anakku?.
Jawab anak itu: Ah, cuma burung-burung kecil? Apa yang akan kamu lakukan terhadap burung-burung pipit yang kecil itu? Anak itu menjawab : “Akan saya bawa pulang dan saya pakai mainan. Saya suka mencabuti bulunya, dan pasti mereka akan ribut kesakitan, dan itu menyenangkan. Ya, tapi cuma sebentar. Burung pipit ini kan kecil, bulunya pasti cepat habis.

Sayapun berkata:” Lalu kalau sudah habis, mau kamu apakan lagi ?
Anak tersebut menjawab:” Saya punya dua ekor kucing di rumah. Mereka sangat suka makan daging. Apalagi daging burung kecil begini. Lucu-kan melihat burung-burung kecil yang sudah tidak berbulu mencoba menghindar dari kucing. Kucingku pasti dapat dengan mudah memakan mereka ?

Saya terdiam sesaat, lalu saya tanyakan pada anak itu lagi: ” Anakku, bolehkah saya beli burung-burung itu ?
Anak tersebut menatap saya dengan tercengang, lalu jawabnya: Bapak jangan main-main. Siapa yang mau burung pipit kecil yang beginian? Burung ini tidak dapat bernyanyi, rupanya juga tidak menarik. Ini burung biasa, tidak ada istimewanya. Apa menariknya untuk Bapak? Berapa? Si Anak memandang saya dengan tajam, lalu sambil tersenyum menantang katanya: Sepuluh ribu?

Saya berikan uang sepuluh ribu kepadanya, dan anak itupun meninggalkan burung pipit tersebut beserta dengan sangkar burungnya dan segera lari menghilang sambil berteriak-teriak kegirangan. Saya lalu melanjutkan perjalanan, dan sesampai di suatu tempat (sada huta) yang banyak pohon serta rimbun daunnya. Saya berhenti, dan saya lepaskan ketiga anak burung pipit tadi. Nah sampai di sini, jelaslah sudah perihal awal kandang burung yang diletakkan di dekat altar ini.

Kemudian Sang Bapak melanjutkan kotbahnya sebagai berikut: Suatu hari, Setan dan Yesus ngobrol berdua. Setan baru saja datang dari Taman Eden dan lalu menyombongkan diri, katanya: Yesus, aku baru saja menguasai sebuah dunia yang penuh dengan manusia. Aku sudah siapkan berbagai bujukan bagi mereka dan pasti mereka tidak akan dapat menghindar. Pasti mereka akan termakan dengan segala tipu dayaku?

Tanya Yesus kepadanya: Akan kau apakan mereka?
Si Setan berkata, “”Pokoknya aku akan menikmati semuanya. Pasti mengasyikkan. Aku akan membujuk mereka supaya kawin cerai, saling selingkuh, saling membenci, saling mencederai dan saling bunuh. Aku akan membujuk mereka untuk menjadi pemabuk, perokok, saling caci, saling hujat. Aku akan membantu mereka untuk menemukan dan merakit bom agar lebih mudah bagi mereka untuk saling bunuh.

“Terus, kalau sudah begitu, apa yang akan kamu lakukan? kata Yesus dengan lembut.

Si setan berkata, “Aku akan binasakan mereka ! Berapa yang kamu minta untuk menebus mereka? tanya Yesus. Si setan pun berkata, “Jangan bercanda. Kamu tidak akan suka mereka. Mereka itu tidak baik. Kenapa kamu tertarik dengan mereka? Aku yakin mereka akan membenci kamu! Mereka akan meludahi kamu, mencercamu, dan bahkan akan membunuhmu. Yakinlah, kamu tidak akan tertarik dengan mereka.?

Berapa? tanya Yesus lagi, lebih mendesak
Setan menatap Yesus tajam lalu katanya sinis:? “Murah, cuma cukup air mataMu dan darahMu!”
Dan Yesus pun membayarnya dengan tunai.

Bapak itupun mengakhiri kotbahnya.

NN. di revisi sesuai kondisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s