PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji namaNya setiap hari. Amin.
BERNYANYI BE-694:1 Jesus Ho nampuna au
Jesus Ho nampuna au dohot na adong di au. Gogo dohot hosangki (sahat ma tu tanganMi) 2x.
PEMBACAAN FIRMAN, 1 Sam. 2:21-25
Matius 28:18-19
Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus
Yesus Berkuasa!
Nas ini merupakan Amanat Agung untuk dilaksanakan oleh Gereja, saudara dan saya. Sebagian orang memahami Amanat Agung ini sebagai tugas pengkristenan yang terpisah dari sikap kepedulian terhadap sesama maupun gaya hidup kita sehari-hari.
Seolah-olah semangat menginjili itu dilakukan dengan menjaring sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan realita kehidupan dan gaya hidup orang Kristen. Nilai-nilai kepedulian ini pun sepertinya terkungkung juga oleh dinding-dinding gereja dengan begitu banyak peraturan maupun keegoisan pribadi dan kelompok. Memberitakan injil itu memang dapat dilakukan dalam dua bentuk yaitu ke luar dan ke dalam. Tapi sederhananya dapat dilakukan, pertama dengan mencerminkan cara hidup kita yang berbeda dari dunia ini. Melalui itu Injil pun dapat disampaikan kepada orang lain. Kedua, dengan mengasihi saudara-saudara kita yang bukan non-kristen dalam arti siapa saja tetap kita mengasihi mereka. Kedua cara ini jika dilakukan dalam keseharian bisa member dampak yang baik bagi dunia.
Memberitakan Injil juga menuntut sebuah sikap solidaritas yaitu bagaimana kita bersikap solider kepada orang yang miskin, berdosa, sakit, menderita, tertawan, dan sebagainya. Yesus terlebih dahulu telah menunjukkan hal itu kepada para murid, dunia ini, dan kita semua melalui hidupnya. Dia bergerak mengunjungi orang miskin, kecil, lemah, berdosa, dan mereka yang terpinggirkan supaya mereka juga beroleh keselamatan. Yesus berkata:”Aku datang bukan mencari orang yang benar tapi orang yang berdosa”, supaya mereka selamat. Puncak rasa solidaritas Yesus adalah salib. Sikap solider inilah yang sangat dihormati Gandhi. Bahkan dalam hidupnya, Gandhi meneladani apa yang diperbuat oleh Yesus. Apa yang dilakukan Gandhi menjadi tamparan bagi kita yang tidak mau meneladani Yesus. Saya pikir memberitakan Injil itu secara sederhana dapat dimulai dengan meneladani Yesus dalam kehidupan sehari-hari bagaimana kita mempraktikkan cara hidup Yesus, bagaimana hidup dalam kasih, dan bersikap solider terhadap sesama.
BERDOA
BERNYANYI : KJ- 428:1 Lihatlah sekelilingmu
Lihatlah sekelilingmu, pandanglah ke ladang-ladang yang menguning dan sudah matang, sudah matang untuk dituai!
Lihatlah sekelilingmu, pandanglah ke ladang-ladang yang menguning dan sudang matang, sudah matang untuk dituai!
DOA BAPA KAMI
BERNYANYI : BE No. 20:5 ‘Paian ma di hami’
On pe, O Tuhannami tumpahi HataMi. Masuk tu rohanami paian ma disi.
