Dengarlah, Tuhan berbicara


PANGGILAN BERIBADAH
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji namaNya setiap hari. Amin.

BERNYANYI BE-424:3 Soara ni Tondi
Tangihon hataNa, parguru ma i. rajumi ruasmu ginomgomNa i. dompakkon Tuhanmu, pargogo do i.
Manesa, pamalum sude dosami.

PEMBACAAN FIRMAN, Kis. 19:1-7

Ulangan 6:4
Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu Esa!

Dengarlah, Tuhan Berbicara

Ul. 6:4 dan seterusnya sering disebut sebagai kredo (pengakuan iman) bangsa Israel terhadap keesaan Allah dan segala perbuatan-Nya bagi bangsa tersebut. Kredo ini dibuka dengan kata syema (dengarlah). Ini sungguh menarik. Di dalam urusan kredo, telinga ternyata berada pada posisi sentral. Tidak heran jika dalam Perjanjian Baru, Yesus kerap mengatakan:
“siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar.” Paulus juga berkata: “Jadi, iman timbul dari pendengaran” (Rm. 10:17). Jelas sudah, iman bukan soal pengucapan belaka, tetapi proses pendengaran dan perenungan terhadap kebaikan dan kebesaran Allah. Dari situ kita jadi tahu untuk hidup di dalam kerendahan hati.

Bagaimana dengan kita? Sejauh mana kita menggunakan telinga dalam merespons perbuatan Allah? Kita memang bertelinga, tetapi mungkin tak mendengar dengan jelas. Karena tak mendengar dengan jelas, komunikasi sering jadi kacau. Begitu juga dalam berhubungan dengan Allah. Telinga sentral sekali fungsinya. Iman memang bukan soal bicara. Iman soal pendengaran dan perbuatan. Sedikit bicara, banyak bekerja. Kesaksian iman yang paling kuat dan efektif itu bukan kata-kata, melainkan perbuatan di dalam belas kasih. Di tengah dunia yang semakin bising ini, kita memang tertantang untuk menggunakan telinga dengan baik dan benar. Ke mana kita arahkan telinga kita akan menentukan pola pikir dan pola laku. Oleh sebab itu, arahkanlah telinga kepada Tuhan, kepada firman-Nya. Dengarlah pengajaran dan perintah-Nya, dengar dan gumulkan. Sebab, berbahagialah orang yang mendengarkan firman Tuhan dan memeliharanya. Selamat mendengar.

BERDOA

BERNYANYI : KJ 353:1 Sungguh Lembut Tuhan Yesus Memanggil
Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil, memanggil aku dan kau.
Lihatlah Dia prihatin menungu, menunggu aku dank au.
Hai mari datanglah, kau yang sesat mari datanglah!
Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil, “Kau yang sesat, marilah!”

DOA BAPA KAMI
BERNYANYI : No. 20:5 ‘Paian ma di hami’
On pe, O Tuhannami tumpahi HataMi. Masuk tu rohanami paian ma disi.

Tinggalkan komentar