Menyukakan Tuhan


Minggu XIX Setelah Trinitatis, 26 Oktober 2014
1 Tesalonika 2:1-8
Telah sekian lama kita menjadi Kristen, percaya kepada Kristus. Kita mengkleim diri kita sendiri sebagai pengikut Kristus. Pertanyaan bagi kita semua, apakah kita menyukakan hati Tuhan. Sama halnya ketika ditanyakan, sebagai anak apakah kita menyukakan hati orangtua? Tentu pertanyaan ini berlaku juga untuk semua orang, apakah kita menjadi kesukaan bagi sesama kita? Rasul Paulus berusaha menjadikan hidupnya, pelayanannya menjadi kesukaan bagi Tuhan. Pertama-tama Rasul Paulus menerima pelayanan yang ia kerjakan datangnya dari Tuhan. Pelayanan itu bukan karena dia memang pantas untuk tugas pelayanan itu, tetapi karena Allah melayakkannya.

Pemahaman ini berlaku untuk kita semua. Ketika kita melayani melalui gereja dan tentu lewat pekerjaan kita, sesungguhnya Allah melayakkah kita, dia memperkenankan kita untuk tugas itu. Ketika kita secara khusus ambil bagian dalam pelayanan di gereja, marilah kita lihat sebagai anugerah bahwa Allah melayakkan kita.

Dalam tugas pelayanannya Rasul Paulus selalu berusaha dan berjuang bagaimana sikapnya, ucapannya, gaya hidupnya, metode pelayanannya dan perjumpaannya dengan setiap jemaat dapat menyukakan hati Tuhan. Nasihat dan peringatannya pun tidak memandang muka, tidak sekedar bermulut manis, tidak sekedar menyenangkan manusia, semua ia lakukan untuk menyukakan hati Tuhan. Bagaimana dengan pelayanan dan pekerjaan kita. Sesungguhnya secara teologis pekerjaan kita adalah pelayanan kita bagi pekerjaan Tuhan. Dimana pun Tuhan tempatkan kita bekerja, di sanalah kita melayani. Apapun jenis pekerjaan kita, itulah jenis pelayanan yang kita kerjakan. Marilah kita lakukan demi menyukakan hati Tuhan. Pemazmur melihat ketika kita bekerja atau melayani dengan baik, tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak berdiri di jalan orang berdosa, tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaanya adalah Taurat Tuhan dan merenungkan Taurat itu siang dan malam maka kita disebut berbahagia. Taurat bagi orang Yahudi adalah bukti cinta kasih Allah bagi mereka. Bagi yang merenungkannya siang dan malam akan beroleh kebahagiaan. Hidupnya bagaikan pohon yang ditanam di tepi aliran sungai, yang berbuah pada musimnya. Setiap orang yang merenungkan firman Tuhan dan mengalami perjumpaan dengan Kristus siang dan malam, dipastikan mengalami kebahagiaan sorgawi, berbeda dengan kebahagiaan duniawi yang sifatnya sementara dan terbatas. Marilah melayani lewat berbagai pekerjaan baik yang kita lakukan demi menyukakan hati Tuhan, maka kita akan mengalami kebahagiaan dalam Tuhan. Amin!
(Pdt. Singhan Pardede)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s